Duduk di padang rumput itu sendirian, Iblis memandang bunga yang hangus digenggamnya. Boleh jadi kita mendengar burung-burung itu bernyanyi dari atas pohon tempat Iblis berteduh. Namun asap terlihat dari telinga Iblis, nyanyian merdu burung bulbul adalah caci-maki kutukan terhadap Iblis yang diam.
Senja berubah malam begitu cepat. Begitu menatap langit, bulan sabit sudah melayang dalam kegelapan. Tak ada bintang kecuali satu. Setidaknya hanya itu yang bisa Iblis lihat.
Angin berhembus. Mengancurkan kelopak bunga yang hangus itu. Iblis hanya menatapnya membisu. Tak satupun fenomena alam yang terjadi sekitarnya membuat tubuh merah itu bergeming. Ia bagai batu hasil pahatan Tuhan yang tak dipamerkan. Dibiarkan berdebu di gudang semesta. Satu-satunya suara adalah sepi. Satu-satunya cahaya adalah amarah yang membara.
Tuesday, 24 July 2018
the absolute freedom
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
Sejak manusia kuno menggambar perburuannya di goa, para penulis berusaha merekam pengalaman diri--fisik atau jiwa--lewat karya. Ada yang sek...
-
Setiap perpisahan selalu diwarnai dengan keraguan atau keyakinan. Antara kemungkinan dan kepastian. Apakah jumpa atau dadah selamanya. Antar...
-
Mungkin untuk orang Indonesia, punya luka bekas peluru adalah sesuatu yang jarang. Wajar jika dibanggakan, negeri kita adem-ayem sejak 98. M...