Mahasiswi Lebanese University memainkan oud.[/caption]Barisan kolintang itu bermain dengan serasi. Mengiringi penyanyi pirang dari Beirut mendendangkan tembang Fairuz, “A’tiny Al-Nay”. Sebuah puisi mistis karangan maestro sastra asal Lebanon, Gibran Khalil Gibran.
Penampilan itu menandakan dibukanya kolaborasi acara Mahasiswa Indonesia dan Lebanon—Seminar International: Gibran From The Other Side of The World, Selasa, 27 Maret. Membahas sastra dan pengaruh Gibran di Indonesia, turut hadir pula seorang penulis muda asal Bandung, Asrie Tresnady.
Duduk di tengah panggung, Asrie menceritakan sepak terjang penerjemahan Gibran sampai efek tulisannya, pada karya-karya seniman di Indonesia.
“Dulu, nama penulis yang menerjemahkan Gibran meski karyanya sedikit tetap lebih punya nama ketimbang mereka yang banyak karya independennya. Tak peduli seberapa besar kesuksesan karya-karyanya.” Kata Asrie.