Showing posts with label bercerita. Show all posts
Showing posts with label bercerita. Show all posts

Sunday, 5 May 2019

Lana Yang Ikhlas



Lana tersenyum di atas ranjang. Ia berbaring, tak menunjukan keinginan untuk terbangun.
/
Sementara itu, Raef berdiri, berjalan kesana kemari, berbicara pada Lana dengan kesal sejak 15 menitan yang lalu. Raef ingin Lana mengerti dan mengeluarkan tenaganya untuk bangun. Namun Lana seperti enggan, meski ia tahu ia bisa. Dan bukan sifat Raef untuk membuat seseorang melakukan sesuatu yang bukan dari kehendaknya. Ia hanya bisa mengomel.
/
"Raef, terlalu banyak waktu kuhabiskan sudah tanpa menemukan jawaban atas pertanyaanku. Sekarang aku tahu waktuku akan habis. Dan anehnya, aku tak menyesali pertanyaan yang menggantung itu. Akhirnya aku menemukan kepastian dari akhir semua ini. Terjawab atau pun tidak, aku takkan memiliki pertanyaan lagi -- setelah ini. Dan terima kasih, telah menghabiskan waktumu bersamaku. Setidaknya untuk pertama dan terakhir, aku diperlakukan secara normal dan layak. Kau tak bertambah pintar karena itu, kau tahu? Jadi lanjutkan sekolahmu."
/
Raef melihat sorot mata Lana, dan ia tahu bahwa ini saatnya untuk menyerah. Percuma. Tapi saat itu, adalah senyum paling bahagia yang pernah ia lihat dari wajah sahabatnya.
/
"Aku tak tahu siapa yang gila saat ini," benak Raef.
/
This is the Last Supper. The last thing that make you feel that you're alive. Make you realize that you are you this whole time. You are Him at the same time. You're right to say, "See you next time."
/
Its not the end. Nothing, is the end.

Oktober2018

Senyum Neli



Gambar ini pertama kali dibuat berbulan-bulan silam. Berawal dari iseng, siapa sangka akan sangat mahal harganya.
/
Namanya Neli. Ia seorang anak bos restoran yang tak pernah makan di restorannya sendiri. Bangsat memang pengusaha itu. Dia tahu apa yang dimasukkan ke dalam bumbu rahasianya. Aku tak tahu. Jadi tak bisa cerita.
/
Neli anak yang baik... Suka menolong dan rajin menabung. Dia terlahir dengan takdir jatah warisan sekian M totalnya. Dan dia jadi lebih kaya lagi karena jarang menghambur-hamburkan uang ketika mau lebaran -- untuk beli baju misalnya. Ia humble, begitu bahasa mahasiswa-nya.
/
Neli lebih suka menghabiskan waktu di luar, berjalan kaki dari satu halte Transjakarta ke halte lainnya. Ia menolak pakai mobil. Macet, katanya. Daripada macet sendirian kan mending rame-rame di bus. Kegiatan ini membuat Neli lebih mudah bergaul dengan setiap orang. Neli banyak mengobrol dengan beragam kelas masyarakat sampai ia cukup menunjukkan tanda-tanda ke-kiri-an tanpa perlu membaca Das Kapital. Bagaimana lebih detailnya tanya saja pada Neli.
/
Satu hari, Neli sedang berjalan menikmati langit Jakarta yang mendung. Trotoar sekitaran Monas kan gede tuh. Neli suka sekali jalan disitu, apalagi dalam keadaan mendung. Tapi karena sudah satu putaran, Neli mulai keringatan dan ngos-ngosan. Akhirnya ia putuskan untuk rehat sejenak di salah satu halte, sambil nyebat dulu.

/
Duduk di sebelahnya seorang berpakaian serba putih yang terlihat khusyuk. Mulutnya komat-kamit tak terdengar apa yang diucapkan. Matanya menunduk melihat ke selebaran yang dipegangnya. Neli tak tahu kenapa ia memperhatikan orang asing di sebelahnya itu. Tak lama, si orang berpakaian putih seperti sadar sedang diperhatikan dan balik menatap Neli. Tiba-tiba ia geleng-geleng kepala dan berucap, "Kamu cantik, tapi tak berkerudung. Apa artinya?" lalu pergi begitu saja. Entah apa yang merasuki pikiran Neli, pokoknya dia kaget. Tak percaya apa yang di dengarnya. Sela beberapa detik, setelah semuanha kembali terasa normal, ada yang hilang dari Neli: semangatnya. Hari itu, seorang tak dikenal baru saja geleng-geleng kepala begitu melihatnya. Sejak itu, kita semua kehilangan senyum Neli.
/
Entah bagaimana ia sekarang. Aku tak tahu di mana Neli.

Oktober2018

Wednesday, 1 May 2019

Betah Terjepit

“Apa ada yang punya kata bijak buat orang yang lagi kejepit di antara dua tebing besar?”

Itu adalah pertanyaannya. Teman-teman di sekitar tertawa. Apa maksudnya? Benak mereka.

“Pertanyaanmu aneh seperti biasanya. Kita tak punya jawaban, juga seperti biasanya.”

Tongkrongan langsung mengalir ke arah pembicaraan lain. Seperti biasanya.

///

Pandanganku berubah. Aku tak lagi melihat banyak hal asik seperti biasanya. Sejak awal keputusan terbang ke Lebanon diambil tiba-tiba, aku mengenal perasaan itu. Sama seperti ketika aku tiba-tiba disuruh pergi ke Jogja oleh ayah. Untuk mengamati dan mengambil pelajaran dari kawannya yang membangun kampung filsafat. Tanpa tuntutan pencapaian yang jelas, ayahku menyuruhku pergi kesana membawa beberapa kawan. Aku bergetar, dan serasa ringan untuk bergerak. Seperti ketika kita bangun hari Sabtu setelah Senin sampai Jumat rutin olah raga di gym. Ya, seperti itu.

Ayahku tiba-tiba datang ke kamar di satu sore minggu tenang sebelum UAS semester empat. “Bagaimana kalau kau ke Lebanon tahun ini?”

“Bagaimana dengan kuliah?”

“Ya, di skip dulu. Kalo bisa cuti ya ambil cuti. Kalau tidak, ya tinggal saja, tak apa kan?” ia benar-benar tahu anaknya. Aku benci sekolah.

“Hahaha,” aku tahu mengapa aku tertawa saat itu. Tapi kalau kau tanya, aku tak tahu jawabannya. “Yah, tanya ibu dulu.” Kubilang. Aku tak ingin mengambil keputusan besar tanpa pertimbangannya.

Tak terbayang ibuku langsung sepakat. Ia lebih senang aku pergi jauh bertahun-tahun mempelajari ilmu yang ia percaya bermanfaat bagiku di masa depan—sampai hari pertemuan dengan Tuhan. Karena sejak SMA, aku sudah meminta agar diberi jalan merantau ke Timur Tengah untuk mengambil jurusan Islamic Science. Bukan karena aku punya minat di sana. Sebenarnya, karena aku butuh ruang untuk berpikir, dan hidup. Hidup yang aku tak tahu untuk apa. Makanya aku memikirkannya. Dan lari ribuan kilometer dari lingkungan sosial yang sudah mengenal apa kesukaanku, jadi sangat esensial. Sebab jika tidak, waktuku akan habis dimintai tolong menulis ini-itu atau membantu mengerjakan proyek-proyek media.

Dengan tawaranku untuk merantau mengambil Islamic Science ke Lebanon, orang tuaku senang. Sebab itulah dunia mereka. Maka ibuku langsung setuju tanpa pikir panjang. Bayangan airport sudah muncul di kepalaku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi disana. Seperti apa sekolahku sebenarnya. Apa saja potensi yang bisa aku gali disana. Siapa temanku nanti. Sore itu, aku sudah lupa dengan masa lalu dan masa itu. Pikiranku terbang jauh ke masa depan dengan segala kemungkinan yang muncul di pikiran. Benar-benar asik.

///

Sekarang sudah dua tahun aku di Lebanon. Tahun pertama habis untuk observasi. Uang beasiswaku selalu habis sebelum waktunya karena kupakai jalan-jalan. Ku jamah Lebanon dari selatan sampai utara. Memanfaatkan mahasiswa-mahasiwa yang berceceran di berbagai kampus, dan juga tentu saja, Google dan Maps.

Tahun pertama itu juga banyak terjadi perubahan dalam pikiranku. Karena sebagaimana tujuan awal, yang aku kejar di sini adalah ruang untuk berpikir. Di mana aku bisa berbicara seenaknya tanpa orang pahami, membaca apapun tanpa dituduh PKI, minum kopi sebanyak apapun karena aktifitas hanya ke kampus dan ke asrama. Tak ada kewajiban-kewajiban harian lain seperti mengantar ibu ke pasar, menjemput adik di sekolah, atau kewajiban luhur sebagai bagian dari sebuah lingkungan sosial semacam dakwah digital sampai gotong royong membersihkan masjid. Di Lebanon ini, terasing dari orag-orang yang mengenalku sejak lahir, benar-benar hanya ada aku, dan diriku. Mereka yang tak paham anjing atau jancuk berlalu-lalang di hadapanku bagai melihat orang gila. Hanya lewat sambil geleng-geleng kepala. Tak apa, keterasingan ini membuatku bebas mencari tahu apapun itu.

///

Tahun kedua fokusku sudah mulai mengerucut. Dulu, hal-hal baru selalu membuatku merinding dan tak kuat diam duduk. Aku harus langsung berdiri dan tak sabar merasakan pengalaman baru itu. Biasanya, saking senangnya, aku akan tidur dan berharap bangung di saat pengalaman baru itu akan dimulai. Walau lebih sering gairah itu malah membuat jantung berdetak lebih cepat, dan akhirnya tak bisa tidur.

Fokusku mengerucut. Ya, meski setahun aku sibuk menambah file foto di berbagai tempat-tempat baru, tahun ini, tak sebanyak tahun lalu. Seiring berjalannya petualanganku kesana kemari, dua hal terjadi yang tak aku sadari—dan merubah segalanya di tahun ini. Hal itu adalah: satu, hubunganku dengan kampus yang mulai retak. Aku rupanya terlalu sombong dengan keahlianku di bidang agama. Sudah dua puluh tahun aku mendapat pelajaran agama yang sama dan terus meningkat dari ayahku yang seorang ustad. Sebab itu aku tak terlalu memusingkan sekolah dan cenderung meremehkannya. Sialnya, aku tak menyangka bahwa belenggu bea siswa itu rupanya sangat mengerikan. Nanti kuceritakan.

Yang kedua, adalah terbentuknya sebuah lingkungan  sosial baru, yang mulai mengenalku berdasarkan interaksi kami. Baik di kafe-kafe ketika diskusi, di majlis doa KBRI ketika acara bulanan, bahkan di grup whatsapp perhimpunan yang formal. Aku, yang ingin menyembunyikan diri dari pandangan orang lain dan hidup dalam bayangan rutinitas, akhirnya terciduk. Dan mulailah datang beragam kewajiban-kewajiban sosial yang dijatuhkan oleh ikatan pertemanan sampai hutang moral. Sungguh tak terbayang ini akan terjadi.

///

Saat ini aku dipaksa untuk memilih diantara dua pilihan, karena keduanya bertentangan. Hal yang selama ini kulakukan bersamaan, rupanya makin jauh makin beda arah. Apakah aku harus mengikuti keinginanku dan meyelamatkan sekolah dengan rutinitas padat yang menggilas, ataukah kubiarkan sekolah ini hancur dan berjalan dengan diriku sendiri yang selalu bebas tanpa rencana?

Dua pilihan ini membuat pikiranku sibuk sedemikian rupa sampai dada besar wanita Lebanon gagal megalihkan pikiranku seperti dulu. Meski tetap, sampai sekarang pun, tak kusangkal, demi Tuhan, mereka indah. Nuansa bangunan kuning dan jalanan dari susuan batu bata, dipadu romantisme Timur Tengah yang sangat sayu dalam hubungan sosial biasanya membuatku tak ingin pulang. Tapi kini, setiap panggilan habibi dan pesona para lentik bulu mata dan mancung yang hidup itu seperti angin lewat saja. Tak lagi menarik. Orang bilang aku sudah terbiasa. Oh tidak, cobalah datang sendiri.

Aku tak lagi sebergairah dulu. Tulisanku tak lagi berbicara padaku sebab aku sibuk mendikte setiap kata agar tulisan itu dapat diterima media dan menghasilkan uang, untuk membayar hutang. Buku-buku itu tak lagi bercerita padaku sebab aku sibuk menghabiskannya agar buku baru dapat kumulai untuk mengejar ketertinggalan pelajaran di kelas. Klasik.

Apapun pilihan jalan yanng kuambil, akan menjadi akhir dari perjalanan lainnya. Itu, adalah ketegangan yang nyata dalam setiap pilihan dalam hidup kita.

///

“Tadi pertanyaanmu apa? Kata bijak untuk orang yang terjepit?” Ali memecah lamunanku. Entah apa yang mereka bicarakan untuk kembali ke pertanyaanku barusan.

“Ya. Ada?” aku masih terperangkap dalam renunganku barusan.

“Gak ada, bung.” Kata Ali langsung. “Keluar kau dari jepitan itu.”

“Bagaimana? Aku tak tahu. Makanya cari kata bijak.”

“Kata bijak itu tak membantumu. Kau hanya akan terdiam lama di sana asik memikirkannya.”

Aku diam.

“Kalau terjepit, jangan berpikir, tapi melawan. Hancurkan tebing itu, atau bergerak sekuat tenaga untuk keluar.”

Yah, setidaknya, itupun bisa disebut kata bijak.

 

April, 2018

Friday, 2 November 2018

Bahkan kita tak bisa melihat bumi

"Have you had a million reasons why you wishing never see the truth? Have you looked into the mirror and the problem staring back at you?"
Paralyzed, ATC.

Sejak beberapa tahun lalu, aku selalu menobatkan diri sebagai "pencari jawaban". Aku bertanya tentang banyak hal, meski tak semua hal. Hal-hal yang cukup fundamental seperti kehidupan, kematian, dan agama jadi buruan favoritku. Beragam pertanyaan sudah (kurasa) kutemukan jawabannya. Namun pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan sampai tahap tak ada lagi yang berarti. Pertanyaan yang kulontarkan bahkan kehilangan maknanya sebelum kutemukan jawabannya. Dan dalam arus santai yang tak berhenti itu, sejujurnya aku pun tak tahu apa yang sebenarnya ingin ku-cari tahu. Apa sebenarnya yang mengganggu pikiranku sehingga aku terus mengkritisi banyak hal? Apa yang ingin kuketahui?

Friday, 3 August 2018

Sial, Harusnya Kita Berteman!

Apa yang terjadi setelah kematian tetap misteri. Tak peduli sekeras apa agama dan pemikiran berusaha memastikannya. Sebab sampai sekarang, tak ada satupun yang akan percaya jika seorang datang dan mengaku sebagai penjelahah kematian—dan mengabarkan apa yang terjadi di sana.

Maka sekarang aku penasaran, apakah mereka yang telah mati, hadir di sekitar kita tatkala kita mengingatnya? Aku tak peduli berdasarkan teori apapun itu—tentang jiwa, ruh, arwah, barzakh, bahkan astral—apakah mereka memandang wajah kita yang mengabarkan beragam ekspresi, ketika kita mengingat mereka?

Wednesday, 28 March 2018

Berita Acara: Seminar Gibran From The Other Side of The World

[caption id="attachment_336" width="350" align="alignleft"] Mahasiswi Lebanese University memainkan oud.[/caption]

Barisan kolintang itu bermain dengan serasi. Mengiringi penyanyi pirang dari Beirut mendendangkan tembang Fairuz, “A’tiny Al-Nay”. Sebuah puisi mistis karangan maestro sastra asal Lebanon, Gibran Khalil Gibran.

Penampilan itu menandakan dibukanya kolaborasi acara Mahasiswa Indonesia dan Lebanon—Seminar International: Gibran From The Other Side of The World, Selasa, 27 Maret. Membahas sastra dan pengaruh Gibran di Indonesia, turut hadir pula seorang penulis muda asal Bandung, Asrie Tresnady.

Duduk di tengah panggung, Asrie menceritakan sepak terjang penerjemahan Gibran sampai efek tulisannya, pada karya-karya seniman di Indonesia.

“Dulu, nama penulis yang menerjemahkan Gibran meski karyanya sedikit tetap lebih punya nama ketimbang mereka yang banyak karya independennya. Tak peduli seberapa besar kesuksesan karya-karyanya.” Kata Asrie.

Tuesday, 6 March 2018

Di Negeri Arab: Cerita Tentang Manusia

Aku terus berjalan. Melewati bangunan-bangunan tinggi tempat mereka tinggal. Lengkap dengan matahari senja yang lembut, dan nuansa sibuk pulang kerja.

Anak-anak kecil yang masih mengenakan seragam sekolah itu berteriak saling mengejar. Bermain, tawa mereka tak tertahan beban tugas dari gurunya. Memang, seberat apa beban sekolah jika dibanding hidup?

Aku berjalan di peradaban metropolitan. Ibu kota tepatnya. Di negara kecil yang terhimpit dua medan perang yang dipaksakan.

Monday, 19 February 2018

Suasana Pagi Condet

Kulihat masyarakat begitu antusias pada pagi hari, berusaha bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pangan. Supir angkot dengan wajah lesunya, ibu-ibu dengan anaknya yang mungil menuju pasar, pembersih lingkungan mulai menyapu ditengah-tengah jalan, para pedagang dengan rokok terselip disela-sela jari tangan, sembari menunggu pembeli datang.

Semuanya bersama satu kesatuan, bersosialisasi sebenar-benarnya, tanpa hape tanpa media sosial. Tawa riang, kadang sampai berkeringat antar sesama pejuang. Laki dan wanita membaur tanpa mempedulikan usia, menanyakan kabar keluarga, penghasilan sebelumnya, tagihan air, listrik, dan kebutuhan lainnya. Hidup mereka hidup sebagaimana harusnya, nyata di depan mata, walau raga kadang tak berdaya, namun dipaksakan seperti sediakala.

Thursday, 15 February 2018

Valentine-ku

The most beautiful word on the lips of mankind is the word “Mother,” and the most beautiful call is the call of “My mother.” (Lalu deskripsi menggunakan seisi dunia tentang sosok ibu) –Khalil Gibran

Dulu pernah ada tantangan. Waktu masih menjadi calon kadet wartawan, untuk menulis tentang sosok ibu. Untuk membuat pembacanya, merasa kurang membalas kebaikan ibunya; membuat yang baca ingin menelepon ibunya; membuat mereka yang merantau mendadak galau dan nangis mengingat ibunya; dan seterusnya, dan seterusnya.

Aku lupa sudah apa yang kutulis. Tapi, kami (aku tak sendirian) gagal, itu yang kuingat. Gagal maksudnya redaktur tak puas.

Bos meminta kita menulis sesuatu yang memantik rasa. Bukan deskripsi tentang ibu sedang apa, dia suka apa, dia bagaimana. “Cukup satu kalimat atau paragraf yang buat pembaca menyadari hal besar dalam sosok ibu, lewat hal-hal unnoticed darinya.” Begitulah kura-kura.

Kemarin, ketika kelas lagi-lagi gagal menjaga pikiranku, aku ingat ibu dan menulis:

Aku duduk di samping-mu. Lalu merebahkan kepalaku di pangkuan-mu yang sedang menonton TV. Saat itu, dan hanya saat itu, aku benar-benar berkata: Persetan kau dunia.

Untuk Valentine-ku, ibu.

__________

Kamis Pagi, 15 Feb

Sunday, 11 February 2018

Habis Baca Dilan: Sebuah Nonsense

[caption id="attachment_271" align="aligncenter" width="300"] Foto: Bedah buku “Dialog 100” oleh komunitas Jakatarub di Univ. Parahyangan, Bandung (sekitaran 2014). Buku yang bercerita tentang 100 kisah nyata toleransi. Benar-benar tidak ada hubungannya dengan tulisan ini. Kecuali keberadaan Pidi Baiq sebagai pembedah buku saat itu.[/caption]

Kawan saya si Syam-Menyeduh baru saja memposting curhatannya. Ia baru baca Dilan-nya Pidi Baiq di tengah pusaran angin topan ujian yang tak tahu diri dan maha tidak penting. Yah, saya pun baca, itu Dilan. Dapet linknya dari dia. Dan, inilah yang aku pikirkan.

///

Kisah-kisah Dilan dan Milea yang diolah jadi novel oleh Pidi Baiq membuatku tersadar, bahwa masa lalu yang diingat, punya caranya sendiri untuk membuat kita belajar sesuatu sambil tertawa dan geleng-geleng kepala; bahkan ketika pelajaran itu nyatanya pahit!

Wednesday, 7 February 2018

Tentang lukaku, habis kena peluru

Mungkin untuk orang Indonesia, punya luka bekas peluru adalah sesuatu yang jarang. Wajar jika dibanggakan, negeri kita adem-ayem sejak 98. Masa reformasi pun beda dengan peperangan. Tetap jarang yang pernah kontak langsung dengan senjata.

Tapi, kalau tahu ceritanya si Omat, kekerenan bekas luka di lehernya akan hilang seketika.

Ia tertembak di Lebanon. Bukan karena hadir di medan perang, apalagi karena ikut membela Palestina, tapi sedang nonton parade.

Tuesday, 6 February 2018

Kesaksian Pengungsi

Bahkan kabar yang kita sebut propaganda takfiri pun tak selalu datang dari luar.

Di Suriah, tak sedikit masyarakatnya sendiri yang tak terlibat perang tapi berpikiran oposisi. Mereka sedikit banyak mengabarkan hal yang sama seperti yang dipercaya kebanyakan orang di Indonesia.

Saya bertanya pada seorang teman asal Damaskus. Sebelumnya ia sudah mengenalkan posisinya: bersama Assad dengan alasan yang cukup logis. Dengan melihat sejarah dan kondisi geopolitik secara luas. Ia berkata, "Assad bukan orang yang super baik dan benar, tapi dia terbaik diantara semua yang kita miliki saat ini".

Setelah berita bebasnya Aleppo mencuat, saya mendatanginya dan mengucap selamat. Ia tersenyum.

Lalu saya teringat seorang lain yang juga berasal dari Suriah. Ia bekerja di Lebanon untuk menghidupi keluarga di Suriah. Ia oposisi. Begitu ditanya soal kondisi negaranya, ia menceritakan soal pembantaian dsb. Persis seperti yang dipercaya kebanyakan Muslim Indonesia.

Thursday, 21 December 2017

Pelajaran dari Pengalaman Magang di DPR: Kembali kepada Diri Sendiri

Dalam sebuah pertemuan dengan orang-orang baru, dapat dipastikan setiap orang memiliki stigma tertentu yang dilekatkan kepada orang tersebut. Adapun faktor-faktor yang melandasi adanya stigma itu ialah mulai dari gaya berpakaian dan berbicara, pola pikir, posisi dalam jabatan tertentu, dan sebagainya. Rentetan pengalaman kehidupan setiap individu melahirkan berbagai macam tafsir mengenai yang lain darinya (orang baru), sehingga mau tak mau secara sadar atau tak sadar sebuah persepsi mulai terbentuk ketika menemukan beberapa kesamaan orang satu dengan yang lainnya. Seperti pernyataan Levinas: “Relasi saya dengan orang lain sebagai sesama (manusia) memberikan makna pada relasi saya dengan semua orang lain lagi” (Being for the Other, Is It Righteous to Be?, hal 116). Hal inilah yang penulis rasakan –dengan situasi serta nuansa baru- ketika pertama kali mengikuti kegiatan magang perkuliahan di Dewan Perwakilan Rakyat.

Saturday, 22 July 2017

Monday, 5 June 2017

Nilai Selewat Percakapan

Awal Juni, ketika matahari sedang terik-teriknya. Libur musim panas memindahkan kesibukan dari jalan raya ke pojok-pojok kota.

Semilir angin berdansa 


Di tengah manusia 


Lupa asa


Anak itu berjalan menyisir pantai. Dengan tas selempang berisi buku catatan dan kelakar Zarathustra. Kalau tak salah ia mencari pohon kelapa atau apapun untuk duduk berteduh.

Menyendiri lah bersama orang-orang


Yang menyendiri


Ucap sahabat di pagi hari

Sunday, 28 May 2017

Antara tahu dan tidak tahu

Teringat sebuah malam di kamar berisi empat orang. Kami bertiga perokok, satu toleran sama rokok. Maksudnya bukan dari aktifis anti-rokok yang bakal bangunin teman perokoknya dengan ceramah dari mulai isu kesehatan, ekonomi, sampai agama.

Biasanya aku tegas mengambil garis perokok dan non-perokok. Penganut mazhab kondisionalis memang harus tunduk pada situasi kondisi. Bukan semau hati atau seenak akal.

Malam itu, posisi duduk, hawa, dan jiwa lagi asik menikmati satu film. Sebuah karya yang bikin mulut tak kuat pingin hisap rokok. Bagi kami para perokok, menghisap lintingan tembakau tidak melulu soal candu. Tapi sering kali soal perasaan, momen, atau bahkan penghambaan.

Wednesday, 19 April 2017

Merangkum 5 Bulan 20 Tahun

Sebagai manusia aku pernah pecah. Jatuh ke tanah dan jadi puing berantakan.

Memang Rumi pernah bilang kalau manusia adalah pecahan cermin Tuhan. Saat itu aku terpaksa melupakannya dulu. Kalau pecahan pecah, bagaimana bisa bersatu dengan yang lain jika tidak sempurna.

Dalam pencarian puing-puing diri aku pakai mesin pencari di internet. Katanya sebuah puing menusuk turis bule di pesisir pantai mediterania. Lebih tepatnya, negeri Laban.

Tuesday, 18 April 2017

Bawalah Gitar ke Pemakamanku, Kata Rumi

Tentu aku tak bawa gitar ke pemakaman itu. Meski pengikut garis keras Rumi, rupanya tradisi masih lebih kuat mengikat. Pemberontakan budaya itu tersisa di pakaian saja. Aku datang dengan pakaian putih.

Sudut pandang kematianku sudah berubah. Kulihat kematian sebagai pembebas yang tak berkhianat. Jika hidup berarti harus berpihak pada perang atau damai, pada kelaparan atau kerakusan, pada pencuri ayam atau koruptor, maka lebih baik berpihak pada kematian. Ia tak dikotori pilihan suci, apalagi kotor.

Kok nuduh Takdir?

Tidak ada satupun dari kita yang memilih untuk hidup. Seandainya memilih, apakah kita akan tetap memilih hidup?

Selain itu, perkara rahim sampai nama semua bukan pilihan kita. Bahkan sampai umur satu atau dua tahun pakaian tidak kita pilih sendiri. Hanya Musa yang memilih sendiri asinya meski baru lahir.

Lambat laun kita mendewasa.

Sekolah pun dibangun demi mengisi hewan-hewan ini agar menunjukkan kemanusiaannya.

the absolute freedom

i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...