Showing posts with label puizi. Show all posts
Showing posts with label puizi. Show all posts

Tuesday, 5 December 2023

the treasure



The tale of a broken heart always has a purpose to shed tears down your eyes

It is built above bitter memories which accommodate someones untold story

Those who love drama, always find one within themselves 

Each of us have stories to tell or to keep or to live in

All of them bear some emotions which become the energy that keeps our story running

Each emotion will later attract like-minded and together we form a hobbies or entertainment 

Even the most negative emotions, can be turned into entertainment if we manage to form a focused group discussion 

Like the broken wings by the hand of gibran, Layla majnun and khusrau syirin by the hand of nizami, or Bliqis by the hand of qabbani

All of which playing around human emotions in a tragedy called love

Yet human manage to enjoy it and even reproduce and digging it up like a fundamental manuscript to understand human being

The bitter taste of love somehow being addictive

Issit because how shallow human life is?

A random baghdadi once said, "I was running away from my love afraid of getting killed, but i guess i was killed anyway."

"Running away from death, is another form of death"

"Pain is the begining and the end of all things"

When the heart is hurt so much, that pain becomes the only thing that keep a man is alive

the most beautiful story always comes from the most painful part of history

Humans ability to play with feeling never ceased to amaze me

no wonder a man can even declared in the most audacity:

أشهد أن لا إمرأة إلا أنتِ

by the end of the day, no complain can be found in one's poem or story or pocket diary

the tragedy is what makes him feel alive

no matter how painful, no matter how broken, no matter how terrible the damage is

no sacrifice makes him less

the destruction just makes him more and more alive

like what Rumi said, "it is in a ruin, someone usually found treasure"

i guess i've found mine.

@flutteur

Monday, 21 June 2021

zaztrawan

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Kita merindukan ia yang pergi

Mengenang masa lalu dan ingin mengulanginya lagi

Merangkak di atas setiap ingatan seperti bayi

Tertawa, tersenyum, merenung, menangis

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Meski pertemuan tak akan terjadi lagi

Namun ia mendatangimu dalam setiap mimpi

Dalam setiap lamunan di siang hari

Dalam setiap obrolan dengan kawan-kawan saat ini

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Kita berpikir ini waktunya pergi

Tidak ada lagi nilai dalam hubungan yang terus dipertahankan

Namun dalam sepersekian detika ia berpaling pergi

Dan menemukan jalannya sendiri lagi

Kita menyadari betapa kita menginginkannya sehidup semati

Tanpa sedikitpun memerdulikan soal kemungkinan-kemungkinan

Tanpa sedikitpun memerhatikan apakah kebersamaan ini bernilai atau tidak

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Bahkan dalam permusuhan paling epik dalam sejarah

Dua pihak yang saling berhadapan hanya aka berhadapan karena dua ideologi yang saling terikat

Terikat dalam perbedaan yang fatal

Terikat dalam dua hal berbeda namun slaing bertabrakan

Maka permusuhan sejatinya adalah pertemanan

Yang diwarnai kemarahan alih-alih kehangatan

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Bahkan kematian sepertinya tak benar-benar memisahkan

Jika orang melihat kematian sebagai mimpi buruk keharmonisan

Sejatinya kematian justru menyatukan yang terpisah

Menyatukan yang lupa agar mengingat

Mengubah kekesalan jadi kerinduan

Kesibukan jadi waktu yang didedikasikan

Pertemuan terencana

Menjadi kehadiran tanpa jeda

Dalam hati para pecinta

 

in memoriam, naqib musawa

Senin, 21/06/2021 (H+3)

Thursday, 10 June 2021

Jika mereka peduli, lalu kau apa?

Di bawah terik bulan yang membakar hati kesepian

Gelapnya malam harusnya menyelimuti para penyair dengan hangatnya keterasingan

Namun pantulan sinar matahari yang ragu-ragu

Justru membuka ruang para serigala menerkam rasa sepi dengan tatapan yang buas

 

Kita adalah anak-anak waktu yang durhaka

Melawan takdir dan maju mundur

Dari masa depan ke masa lalu

Tanpa rasa malu

 

Kita adalah hamba-hamba yang memberontak

Di hadapan petunjuk yang jelas kita menulis ulang setiap aturan

Berasaskan prasangka, hitungan matematika, logika yang tak sempurna

Lalu kepada Sang Tuan kita menghadap

Berdiri, tidak berlutut

Memandang tajam ke depan, tidak menunduk

Berjabat tangan dengan tegas seakan semuanya setara

Rerumputan tertawa melihat tingkah yang tak ada kasta

Betapa setiap otak diracuni kesombongan zaman dan peradaban

 

Kita budak-budak nafsu yang cemburu

Kecemburuan yang menyelimuti dirinya dengan jubah rasa

Bahwa rasa adalah anugera dan sebuah petunjuk yang agung

Tidak perlu diragukan lagi

Namun apakah setiap orang memilikinya?

Juga tak perlu diragukan bahwa jawabannya tidak

Setiap rasa menuntun kita pada jalan halus kemurnian dan wewangian

Bukan ke medan perang dan tempat pembuangan kotoran

Kotoran manusia yaitu benci, serakah, dengki, dan kesombongan

 

Kita anak-anak bodoh yang menolak untuk keluar dari gubuk kecil kedunguan

Gubuk yang temboknya dianyam kata-kata manis para durjana

Durjana yang mengoreksi setiap ayat dari pesan Tuhan kepada Nabinya

Durjana yang memenggal kepala para pecinta dengan  hati yang indah

Durjana yang membungkam mulut-mulut penyair agar tak lagi menyanyikan Nama-Nya

Durjana yang memenjarakan manusia dalam lingkaran setan kebudayaan dan norma-norma tak berhati

Durjanana yang berdiri di atas mayat-mayat intelektual dengan panji kebenaran parsial di tangannya

Ah… habis kata-kataku dicuri para durjana

 

Tak lagi aku bias membaca keadaan yang makin runyam dan bising

Hilang sudah harapan sebuah negara yang harmonis tempat kijang makan dengan tenang di samping serigala

Hilang sudah masa depan anak bangsa

Apa yang disebut dosa kini sebuah rekreasi

Tempat mereka yang terasing dan dibuang mendapat peluk kasih sayang


Tuan, kalau boleh aku bertanya

Apakah dibenarkan, aku bersimpuh tanpa sepotong baju di tubuhku?

Sebab semua hak milikku dirampas mereka yang peduli padaku

Jika kepedulian mereka berwujud perampasan

Maka apa sebutan yang tepat bagi aksimu

Yang sejak awal memberikan semuanya?

 

//10/06/2021

Thursday, 9 May 2019

Tiga Ribu Tahun Perasaan

Aku memiliki sebuah bintang penyesalan
Yang memancarkan kekecewaan
Sejauh tiga ribu tahun aku punya perasaan
Ia duduk tepat di atas dadaku
Menghisap rokok dan meminum kopi
Tanpa peduli seberapa rapuh hati yang di dudukinya

Suatu hari aku meminta bos memberiku perintah
Dan senjata
Karena sejak hati itu hancur
Tak ada lagi lagu dan film
Yang bisa membuatku merasa

Hari itu tidak ada lagi yang berharga
Teman, keluarga, dan jalan-jalan sempit di Hamra
Aku sudah relakan semuanya
Tinggal tunggu hari tanpa dosa
Untuk melepas pelatuk di setiap kepala

Apa arti hidup?
Mungkin kalian tahu jawabannya
Tapi jujur saja, aku sudah bosan mendengar pertanyaan itu
Di hadapan cermin aku bertanya
Tidakkah kau marah?
Ketika diberi tanpa kau pinta
Lalu dituntut untuk menjaga

Aku tahu ini soal ujian anak-anak Adam
Sejak masa ketiadaan nabi yang mencerahkan
Sebuah masa transisi dari kesatuan,
Menuju kemajemukkan
Aku percaya itu adalah sejarah yang hilang

Aku memiliki bintang penyesalan
Memancarkan kekecewaan
Sampai jarak tiga ribu tahun perasaan
Ia duduk di atas dadaku menghisap rokok
Dan meminum kopi

///

Dan kepada Tuhan aku memohon
Tarik aku dari arus kuat keinginan
Yang tak berujung kecuali pada penyesalan

Reality Bites
Empat Mei 2019

Tuesday, 7 May 2019

Gawat

Gila, jantungku menggila
Ia tidak berdetak dengan irama
Sebagaimana harusnya

Iya, angin musim semi itu dingin
Menusuk sampai menggigil
Ini awal fajar, gigilanku tak wajar

Namun tak selalu
Bisa saja tenang dan nyaman
Seperti merasakan kehangatan
Tebak! Tebak kenapa begitu! Harusnya kau tahu!

Sudah kutenggak dan aku kembung
Senyum-Mu dalam secangkir bening
Rasa-ku tumpul
Sampai cemberut, pun ku-minum!

Raut wajah-Mu akan kurebut cuma-cuma
Jangan takut! Pasang harga setinggi-tingginya!
Rendah pun, kubeli dengan harga diri!

Kau bukan barang yang bisa dibeli
Namun nyatanya begini,
Ku-rogoh kocek
Dan lemparkan air mata

Lengkung bibir itu
Terlihat bekasnya
Di dinding hatiku

Hati ini keras seperti batu
Kau seniman yang memahat
Nama-nama di mukanya
Bukan nama-ku, nama-Mu, nama-Nya

Tapi Anjing, Babi, Sempak
Kata penuh rasa
Pembebas prasangka

Tuhan! (Sebagai Satu-Satunya Telinga)
Jangan kasih dia bahagia!
Agar terbiasa dengan bahaya
Karena dunia-Mu itu fana
Dan kalimat-ku nyata

Venus Cleopatra dan Layla
Minggir kau semua!
Sang Nona mau lewat!
Bersepatu kalimat
Bergaun hakikat
Bermahkota anti karat
Bertabur pujian tanpa syarat!

2018

Venus

Venus
Putri Malu yang berkata
Dan bermaksud lain
Kata-kata-Nya abadi bersama waktu
Makna-makna lahir bergenerasi
Bukti
Pikiran-Nya disembahkan
Untuk seluruh ruang dan waktu

Wujud-Nya dipuji-puji
Malu-Nya membuatku terus mengaji

"Puji-lah Aku
Sebab itu untukmu"

Seorang penyair
Mengorbankan dirinya
Dalam kata-kata
Mengangkat dan menyelamatkan
Kekasihnya

Di hadapan pendengar
Yang memuja pengorbanan
Ia tersenyum
Dalam kenikmatan Cinta.

2018

Saturday, 4 May 2019

Orang dalem

Semburat kegelapan di garis samudera tidak lagi menakutkanku
Malam, datanglah
Aroma kegelisahanmu adalah kenikmatanku saat ini
Aku masih tidak tahu apa yang akan terjadi Ketidak-pastian memang selalu pasti
Tak ada akal maupun doa yang melampauinya
Tapi malam ini
Hatiku sudah membuka keresahannya
Pada mereka yang selalu mendengar dan menjawab
Dalam kegelapan yang membutakan ketenangan
Aku berjalan di atas kalimat (kata hilang)
Yang diterima Tuhan tanpa perantara

November2018

Gondrong

Sisa-sisa pemberontakan itu kini menanam benih kembali. Disiram kisah mereka yang baru saja mati. Dipupuk target cita yang lebih tinggi lagi.

Setiap potong tubuh martir menjadi arwah yang membawa laporan kepada tuhan. Atas apa yang terjadi dan disaksikan. Meski tuhan sudah tahu ia tetap mendengarkan. Sebab begitulah penciptaan ini berjalan. Tuhan pun konsisten pada apa yang ia tetapkan.

Apa yang terjadi, dan apa lagi tujuan yang lebih tinggi? Yang terjadi adalah perang dingin dalam hirarki. Dan yang lebih tinggi adalah pemusnahan instansi.

Genderang perang selanjutnya akan lebih besar dan menggema. Sebab sang jendral tak lagi maju dengan kekuatan yang sama. Tidak juga kurang dari sebelumnya. Waktu hanya mengajarinya bertambah tua. Bukan kembali muda.

Kemarahannya juga akan menyala lebih besar. Membuat siapapun yang tak menyangka ikut terbakar.

Kemenangan akan membuatnya menetap. Dan kekalahan hanya akan membuatnya kembali bersiap.

Tunggu. Silahkan tunggu aku.

Bukan juru selamat. Apalagi peniup trompet kiamat.

Gelombang dunia baru. Perkawinan hitam dan putih: abu-abu.

April2018

Di perjalanan

Hidup kita akan habis dalam penantian
Dari stasiun kota ke stasiun desa
Menyebarkan nama
Sampai dikira gila
Yang ditunggu tak datang jua
Padahal akal memaksa
Bahwa semua ini sia-sia
Sifat alam memang buat kecewa
Kita mati saja
Namun hati tak pernah melepaskan harapannya
Kita tak pernah melihatnya tertawa
Seperti bunga tidur semata
Tapi entah kenapa
Mata terus mencarinya
Seperti pernah jumpa sebelumnya
Sampai mulut iba dan ikut berkata
Matahari akan bersinar lagi dari sana
Tunggu saja!
Yah,
Geleng kepala saja lah.

Juli2018

Kacau

Aku meneteskan mata tanpa air
Mendengar telinganya sampai ke suara
Lentik itu memang kelewat bulu mata
Tak kuasa kutatap putih yang sangat kulit
Menawannya juga senyum sekali
Aspal terlihat indah berjalan di atas kakinya
Gila
Oksigen menghirupnya, demi kehidupan
Pohon menebang dan memakannya
Anjing-anjing terus meneriakkan namanya
Betapa cinta agung itu
Ah
Sanggup sudah tak aku lagi
Ketika matahari berjemur di bawah teriknya
Aku pusing, melayang, dan semua baru terlihat normal
Sediakala seperti.

Juni2018

Nostalgia

Angin Timur menyampaikan salam yang tak kukenal wajahnya
Mengingatkanku pada hari-hari pertama di Alexandria
Ketika semua masih biru
Tanpa hati yang cemburu abu-abu

Dengan barang bawaan seadanya, aku pamit pada burung Merpati. Aku yang terbang sekarang. Ijinkan aku untuk terjatuh. Setidaknya, matiku dalam pilihanku.

Musafir dari Aleppo berbaik hati memberuku roti
Mereka akan bermukim di Sidon
Ini yang terakhir kali
Aku janji
Katanya pada sisa kawanan Yahudi

"Sejarah ini milik kita seorang, tak peduli apa yang kau temukan di dalamnya. Itu sebabnya kau bisa temukan dirimu dalam kisah penjual roti di Andalusia. Kau tahu kenapa? Karena kau dan dia adalah manusia. Kalian berbagi satu nasib buruk yang sama ketika dilahirkan -- dilahirkan sebagai manusia. Maka satu-satunya cara untuk bertahan hidup, adalah menerima. Ya, menerima! Kata-kata tidak diberikan padamu untuk meminta. Sakarang aku ingin tanya, apa yang membuatmu pergi, anak muda?"

Aku tersenyum, katanya aku masih muda
Kek, aku pernah memelihara Merpati Putih dari Persia
Pada satu pagi buta,
Ia berkata:
Tu(h)an, kau adalah pengungsianku yang pertama dan terakhir kalinya.

April2019

Wednesday, 1 May 2019

Tepat Sekali

Tepat sekali
Ya
Terima kasih
Di masa penuh amarah dan susah
Ini
Saat aku terjepit
Di antara dua tebing
Terima kasih
Telah memberikan pepatah bijak
Telah menyuruhku untuk bersabar!

Ketika bom itu tinggal dua detik
Terima kasih
Menyarankanku rehat
Sejenak
Ya
Terimakasih
Memang benar-benar saat yang tepat
Untuk tidak meledak!

Malam Minggu, H-3 Seminar Gibran


KBRI, Lebanon

Monday, 20 August 2018

Kata Wanita Tua

Malam ini membuatku heran

Atas mereka yang memikirkan masa depan

Memberatkan pikiran

Dengan instrumen waktu yang tak bisa dipatahkan

Sebagaimana yang terjadi sudah menjadi kutukan

Pun yang belum terjadi tetap tak bisa dikendalikan



Duduk di kedai minum itu aku tenggelam dalam perenungan

Sama seperti hari-hari sebelumnya, lamunan

Seorang wanita tua menegurku dengan sapaan

“Apa yang kau pikirkan?”

Kuceritakan tentang kebimbangan yang selama ini kurasakan

Juga kecemasan, akan manusia yang hanya peduli masa depan

Demi Tuhan,

“Jika mereka benar-benar hidup, tak akan ada yang kesepian!”



Ia tersenyum. Senyum yang entah bagaimana memberi kehangatan

“Mimpi adalah hal yang tak terelakkan”

Jawabnya mengalihkan pandangan

Jauh ke depan



Kita semua adalah budak keinginan

Namun terlalu lama mengikutinya begitu menyesakkan

Maka keinginan itu tetap terasing, sebab tak ada yang tahan

Untuk lama-lama merasakan

Seandainya kau sabar barang sebentar, dengarkan apa yang ingin ia katakan



Sebagai manusia kita tak mungkin melepaskan

Pasung dunia bernama ruang dan waktu, sebagaimana wajarnya penciptaan

Namun hati tempat bersemayamnya keinginan

Tahu, dan terus mencari karena ia punya kenangan

Dengarkan

Apa yang ia ingin katakan

Yang ia inginkan

Kau akan menemukan tujuan

Sebuah tempat peristirahatan

Tempat semua tak lagi terasa asing dan melelahkan



Hati ini memiliki kenangan

Yang begitu ia dambakan

Dan hanya akal yang dapat menafsirkan

Petunjuk-petunjuk saat kau memulai perjalanan



Kelak di ujung jalan

Akan kau temukan

Sebuah persimpangan di mana akal tak bisa lagi diandalkan

Saat itulah Tuhan

Datang padamu dengan sebuah tawaran:

Ketenangan

Yang hanya bisa kau beli dengan kerinduan.


Wherever you are in the world, i’ll search for you


Beirut, 20 Agustus 2018

Monday, 26 March 2018

Muka Satu

Mari menertawakan kemunafikan kita, kawan

Wajah ketemu wajah

Telanjang tanpa bayangan

Biaran setiap jengkal tubuh dan diri memancar

Sinar kebenarannya masing-masing

Mulut itu bisa wangi

Jangan kau muntahkan oli

Yang tidak melumaskan

Tapi membuat karatan

Bibir itu bisa dibuka dan ditutup

Bisa mengeluarkan suara dan rasa

Bisa dicium dan tercium

Belerang pun bisa dicium dan tercium

Namun tak terkontrol

Karena terbuka namun tak bisa ditutup

Kau yang marah dan dendam

Membendung air bah agar tak tumpah

Pelawan alam

Akan hancur juga kau pada waktunya

Terpujilah ledakan bintang yang tak abadi

Ia akan muncul dan hilang di malam lain

Tak menahan diri demi pujian

Tak tergesa ingin menghancurkan

Kita sering lupa

Memuji dan bersyukur pada pencipta

Yang menjadikan kematian atau kehancuran

Sebuah akhir

Juga awal

Di saat yang bersamaan.


Untuk mereka yang asing-asing bau tai kucing


Dini hari Senin, 26 Maret 2018

Saturday, 17 March 2018

Meminta Manja

Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Agar tak sempat waktu
Mengenalkan kebencian

Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Kata-Mu hidup ini fana
Sayang sekali jika tidak bahagia

Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Agar akal dapat belajar
Dengan jujur adil dan tenang

Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Karena nyatanya perkara hati belum bisa kita taklukkan
Dan pembolak-balik hati, katanya itu Kamu, Tuhan

Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Bersihkan rumah-Mu
Dari kami manusia, yang tak tahu diri ketika bertamu

Musyarofie, malam minggu

Monday, 12 March 2018

Harmoncuk

Malam ini mendengkur. Tidak sendu, apalagi menangis. Tidak tersenyum, sebab aku berada dalam rumah. Kemilau bintang tak tertangkap retinaku.

Malam ini mendengkur. Kawan-kawanku tertidur. Dan aku tertimpa kerinduan. Karya-karya para maestro kata dan cerita, mengaduk malamku yang membuat kantuk tak tenang dan pergi.

Rindu ini, bukan atas sesuatu yang hilang, tapi hal yang justru belum pernah datang.

Apa yang pernah temanku bilang, masih terus terngiang sampai detik ini. "Mat, kita adalah tawanan keinginan".

Friday, 2 March 2018

Keluh Jiwa yang Kecil

Getar kertas di tangan pujangga
Gugup dan geram penyebabnya
Karya adalah anak tanpa malam pertama
Ungkapan rasa yang berbahaya
Hak cipta memasung sastra
Mengikis ruang gerak pesan yang bercita-cita
Apa masalahnya?
Peradaban mendukung perubahan lewat rekening BCA
Tak lagi ada gelora
Sebab semangat dan rasa
Kini terhitung dalam lembaran uang semata
Kita tak lagi mengenal ketulusan yang menghina
Menghina perendahan, pemerkosaan, dan ke-congkak-an penjajah budaya
Puisi kita tak lagi sanggup untuk dibaca
Buku hanyalah nama x harga pasar di Gramedia.

__________

Entah kapan

Saturday, 13 January 2018

A Tribute for Nella Kharisma

Mendekat, dan berbisiklah di telingaku
Bawa aku kembali ke masa itu
Cerita tentang senja
Tentang taman dan tikar
Cahaya yang sederhana
Menghangatkan hati kita dengan tawa

Berbisiklah, di telingaku
Padamkan api ini
Damaikan ego yang cemburu
Dengan kabar, dan pertanyaan basa-basi
Yang menggelitik
Yang buat aku ingin mengkritik

Berbisiklah, di telingaku
Dengan nafas-nafas pendek
Yang hangat dan penuh hasrat
Yang memberatkan hati
Dengan ambisi dan mimpi

Berbisiklah, di telingaku
Dengan kalimat yang tak sempurna
Terpotong tangis yang sedu
Dengan air mata yang bermuara
Dan membasahi hatiku

Berbisiklah, di telingaku
Rangkul aku
Dan kita ikuti irama itu
Di bawah cahaya biru
Katakan di telingaku
Dam dudi dam aku padamu.

Saturday, 22 July 2017

Kepengen

Aku ingin

Aku ingin bangun di pagi cerah

Dengan suara ayam dan ciutan burung di pohon samping rumah

Aku ingin bangun dengan sadar

Sadar bahwa hari ini akan mengasyikkan

Aku ingin bangun

Dengan saluran berita tanpa kabar-kabar kpk

Aku ingin menikmati sarapan itu dengan tenang dan senang

Tenang tanpa berita pemulung yang dirazia

Persimpangan Ombak

Aku mau menjelaskan ini

Kamu melihat itu

Aku mau menjelaskan itu

Kamu melihat ini

the treasure

The tale of a broken heart always has a purpose to shed tears down your eyes It is built above bitter memories which accommodate someones un...