Tuesday, 5 December 2023
the treasure
Monday, 21 June 2021
zaztrawan
Semuanya
tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?
Kita
merindukan ia yang pergi
Mengenang
masa lalu dan ingin mengulanginya lagi
Merangkak
di atas setiap ingatan seperti bayi
Tertawa,
tersenyum, merenung, menangis
Semuanya
tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?
Meski
pertemuan tak akan terjadi lagi
Namun ia
mendatangimu dalam setiap mimpi
Dalam
setiap lamunan di siang hari
Dalam
setiap obrolan dengan kawan-kawan saat ini
Semuanya
tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?
Kita
berpikir ini waktunya pergi
Tidak ada
lagi nilai dalam hubungan yang terus dipertahankan
Namun dalam
sepersekian detika ia berpaling pergi
Dan
menemukan jalannya sendiri lagi
Kita
menyadari betapa kita menginginkannya sehidup semati
Tanpa
sedikitpun memerdulikan soal kemungkinan-kemungkinan
Tanpa
sedikitpun memerhatikan apakah kebersamaan ini bernilai atau tidak
Semuanya
tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?
Bahkan
dalam permusuhan paling epik dalam sejarah
Dua pihak
yang saling berhadapan hanya aka berhadapan karena dua ideologi yang saling
terikat
Terikat
dalam perbedaan yang fatal
Terikat
dalam dua hal berbeda namun slaing bertabrakan
Maka
permusuhan sejatinya adalah pertemanan
Yang
diwarnai kemarahan alih-alih kehangatan
Semuanya
tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?
Bahkan
kematian sepertinya tak benar-benar memisahkan
Jika orang
melihat kematian sebagai mimpi buruk keharmonisan
Sejatinya
kematian justru menyatukan yang terpisah
Menyatukan
yang lupa agar mengingat
Mengubah kekesalan
jadi kerinduan
Kesibukan
jadi waktu yang didedikasikan
Pertemuan
terencana
Menjadi
kehadiran tanpa jeda
Dalam hati
para pecinta
in memoriam, naqib musawa
Senin, 21/06/2021 (H+3)
Thursday, 10 June 2021
Jika mereka peduli, lalu kau apa?
Di bawah terik bulan yang membakar hati kesepian
Gelapnya malam harusnya menyelimuti para penyair dengan
hangatnya keterasingan
Namun pantulan sinar matahari yang ragu-ragu
Justru membuka ruang para serigala menerkam rasa sepi dengan
tatapan yang buas
Kita adalah anak-anak waktu yang durhaka
Melawan takdir dan maju mundur
Dari masa depan ke masa lalu
Tanpa rasa malu
Kita adalah hamba-hamba yang memberontak
Di hadapan petunjuk yang jelas kita menulis ulang setiap
aturan
Berasaskan prasangka, hitungan matematika, logika yang tak
sempurna
Lalu kepada Sang Tuan kita menghadap
Berdiri, tidak berlutut
Memandang tajam ke depan, tidak menunduk
Berjabat tangan dengan tegas seakan semuanya setara
Rerumputan tertawa melihat tingkah yang tak ada kasta
Betapa setiap otak diracuni kesombongan zaman dan peradaban
Kita budak-budak nafsu yang cemburu
Kecemburuan yang menyelimuti dirinya dengan jubah rasa
Bahwa rasa adalah anugera dan sebuah petunjuk yang agung
Tidak perlu diragukan lagi
Namun apakah setiap orang memilikinya?
Juga tak perlu diragukan bahwa jawabannya tidak
Setiap rasa menuntun kita pada jalan halus kemurnian dan wewangian
Bukan ke medan perang dan tempat pembuangan kotoran
Kotoran manusia yaitu benci, serakah, dengki, dan kesombongan
Kita anak-anak bodoh yang menolak untuk keluar dari gubuk
kecil kedunguan
Gubuk yang temboknya dianyam kata-kata manis para durjana
Durjana yang mengoreksi setiap ayat dari pesan Tuhan kepada
Nabinya
Durjana yang memenggal kepala para pecinta dengan hati yang indah
Durjana yang membungkam mulut-mulut penyair agar tak lagi
menyanyikan Nama-Nya
Durjana yang memenjarakan manusia dalam lingkaran setan
kebudayaan dan norma-norma tak berhati
Durjanana yang berdiri di atas mayat-mayat intelektual
dengan panji kebenaran parsial di tangannya
Ah… habis kata-kataku dicuri para durjana
Tak lagi aku bias membaca keadaan yang makin runyam dan
bising
Hilang sudah harapan sebuah negara yang harmonis tempat
kijang makan dengan tenang di samping serigala
Hilang sudah masa depan anak bangsa
Apa yang disebut dosa kini sebuah rekreasi
Tempat mereka yang terasing dan dibuang mendapat peluk kasih
sayang
Tuan, kalau boleh aku bertanya
Apakah dibenarkan, aku bersimpuh tanpa sepotong baju di
tubuhku?
Sebab semua hak milikku dirampas mereka yang peduli padaku
Jika kepedulian mereka berwujud perampasan
Maka apa sebutan yang tepat bagi aksimu
Yang sejak awal memberikan semuanya?
//10/06/2021
Thursday, 9 May 2019
Tiga Ribu Tahun Perasaan
Yang memancarkan kekecewaan
Sejauh tiga ribu tahun aku punya perasaan
Ia duduk tepat di atas dadaku
Menghisap rokok dan meminum kopi
Tanpa peduli seberapa rapuh hati yang di dudukinya
Suatu hari aku meminta bos memberiku perintah
Dan senjata
Karena sejak hati itu hancur
Tak ada lagi lagu dan film
Yang bisa membuatku merasa
Hari itu tidak ada lagi yang berharga
Teman, keluarga, dan jalan-jalan sempit di Hamra
Aku sudah relakan semuanya
Tinggal tunggu hari tanpa dosa
Untuk melepas pelatuk di setiap kepala
Apa arti hidup?
Mungkin kalian tahu jawabannya
Tapi jujur saja, aku sudah bosan mendengar pertanyaan itu
Di hadapan cermin aku bertanya
Tidakkah kau marah?
Ketika diberi tanpa kau pinta
Lalu dituntut untuk menjaga
Aku tahu ini soal ujian anak-anak Adam
Sejak masa ketiadaan nabi yang mencerahkan
Sebuah masa transisi dari kesatuan,
Menuju kemajemukkan
Aku percaya itu adalah sejarah yang hilang
Aku memiliki bintang penyesalan
Memancarkan kekecewaan
Sampai jarak tiga ribu tahun perasaan
Ia duduk di atas dadaku menghisap rokok
Dan meminum kopi
///
Dan kepada Tuhan aku memohon
Tarik aku dari arus kuat keinginan
Yang tak berujung kecuali pada penyesalan
Reality Bites
Empat Mei 2019
Tuesday, 7 May 2019
Gawat
Ia tidak berdetak dengan irama
Sebagaimana harusnya
Iya, angin musim semi itu dingin
Menusuk sampai menggigil
Ini awal fajar, gigilanku tak wajar
Namun tak selalu
Bisa saja tenang dan nyaman
Seperti merasakan kehangatan
Tebak! Tebak kenapa begitu! Harusnya kau tahu!
Sudah kutenggak dan aku kembung
Senyum-Mu dalam secangkir bening
Rasa-ku tumpul
Sampai cemberut, pun ku-minum!
Raut wajah-Mu akan kurebut cuma-cuma
Jangan takut! Pasang harga setinggi-tingginya!
Rendah pun, kubeli dengan harga diri!
Kau bukan barang yang bisa dibeli
Namun nyatanya begini,
Ku-rogoh kocek
Dan lemparkan air mata
Lengkung bibir itu
Terlihat bekasnya
Di dinding hatiku
Hati ini keras seperti batu
Kau seniman yang memahat
Nama-nama di mukanya
Bukan nama-ku, nama-Mu, nama-Nya
Tapi Anjing, Babi, Sempak
Kata penuh rasa
Pembebas prasangka
Tuhan! (Sebagai Satu-Satunya Telinga)
Jangan kasih dia bahagia!
Agar terbiasa dengan bahaya
Karena dunia-Mu itu fana
Dan kalimat-ku nyata
Venus Cleopatra dan Layla
Minggir kau semua!
Sang Nona mau lewat!
Bersepatu kalimat
Bergaun hakikat
Bermahkota anti karat
Bertabur pujian tanpa syarat!
2018
Venus
Putri Malu yang berkata
Dan bermaksud lain
Kata-kata-Nya abadi bersama waktu
Makna-makna lahir bergenerasi
Bukti
Pikiran-Nya disembahkan
Untuk seluruh ruang dan waktu
Wujud-Nya dipuji-puji
Malu-Nya membuatku terus mengaji
"Puji-lah Aku
Sebab itu untukmu"
Seorang penyair
Mengorbankan dirinya
Dalam kata-kata
Mengangkat dan menyelamatkan
Kekasihnya
Di hadapan pendengar
Yang memuja pengorbanan
Ia tersenyum
Dalam kenikmatan Cinta.
2018
Saturday, 4 May 2019
Orang dalem
Malam, datanglah
Aroma kegelisahanmu adalah kenikmatanku saat ini
Aku masih tidak tahu apa yang akan terjadi Ketidak-pastian memang selalu pasti
Tak ada akal maupun doa yang melampauinya
Tapi malam ini
Hatiku sudah membuka keresahannya
Pada mereka yang selalu mendengar dan menjawab
Dalam kegelapan yang membutakan ketenangan
Aku berjalan di atas kalimat (kata hilang)
Yang diterima Tuhan tanpa perantara
November2018
Gondrong
Setiap potong tubuh martir menjadi arwah yang membawa laporan kepada tuhan. Atas apa yang terjadi dan disaksikan. Meski tuhan sudah tahu ia tetap mendengarkan. Sebab begitulah penciptaan ini berjalan. Tuhan pun konsisten pada apa yang ia tetapkan.
Apa yang terjadi, dan apa lagi tujuan yang lebih tinggi? Yang terjadi adalah perang dingin dalam hirarki. Dan yang lebih tinggi adalah pemusnahan instansi.
Genderang perang selanjutnya akan lebih besar dan menggema. Sebab sang jendral tak lagi maju dengan kekuatan yang sama. Tidak juga kurang dari sebelumnya. Waktu hanya mengajarinya bertambah tua. Bukan kembali muda.
Kemarahannya juga akan menyala lebih besar. Membuat siapapun yang tak menyangka ikut terbakar.
Kemenangan akan membuatnya menetap. Dan kekalahan hanya akan membuatnya kembali bersiap.
Tunggu. Silahkan tunggu aku.
Bukan juru selamat. Apalagi peniup trompet kiamat.
Gelombang dunia baru. Perkawinan hitam dan putih: abu-abu.
April2018
Di perjalanan
Dari stasiun kota ke stasiun desa
Menyebarkan nama
Sampai dikira gila
Yang ditunggu tak datang jua
Padahal akal memaksa
Bahwa semua ini sia-sia
Sifat alam memang buat kecewa
Kita mati saja
Namun hati tak pernah melepaskan harapannya
Kita tak pernah melihatnya tertawa
Seperti bunga tidur semata
Tapi entah kenapa
Mata terus mencarinya
Seperti pernah jumpa sebelumnya
Sampai mulut iba dan ikut berkata
Matahari akan bersinar lagi dari sana
Tunggu saja!
Yah,
Geleng kepala saja lah.
Juli2018
Kacau
Mendengar telinganya sampai ke suara
Lentik itu memang kelewat bulu mata
Tak kuasa kutatap putih yang sangat kulit
Menawannya juga senyum sekali
Aspal terlihat indah berjalan di atas kakinya
Gila
Oksigen menghirupnya, demi kehidupan
Pohon menebang dan memakannya
Anjing-anjing terus meneriakkan namanya
Betapa cinta agung itu
Ah
Sanggup sudah tak aku lagi
Ketika matahari berjemur di bawah teriknya
Aku pusing, melayang, dan semua baru terlihat normal
Sediakala seperti.
Juni2018
Nostalgia
Mengingatkanku pada hari-hari pertama di Alexandria
Ketika semua masih biru
Tanpa hati yang cemburu abu-abu
Dengan barang bawaan seadanya, aku pamit pada burung Merpati. Aku yang terbang sekarang. Ijinkan aku untuk terjatuh. Setidaknya, matiku dalam pilihanku.
Musafir dari Aleppo berbaik hati memberuku roti
Mereka akan bermukim di Sidon
Ini yang terakhir kali
Aku janji
Katanya pada sisa kawanan Yahudi
"Sejarah ini milik kita seorang, tak peduli apa yang kau temukan di dalamnya. Itu sebabnya kau bisa temukan dirimu dalam kisah penjual roti di Andalusia. Kau tahu kenapa? Karena kau dan dia adalah manusia. Kalian berbagi satu nasib buruk yang sama ketika dilahirkan -- dilahirkan sebagai manusia. Maka satu-satunya cara untuk bertahan hidup, adalah menerima. Ya, menerima! Kata-kata tidak diberikan padamu untuk meminta. Sakarang aku ingin tanya, apa yang membuatmu pergi, anak muda?"
Aku tersenyum, katanya aku masih muda
Kek, aku pernah memelihara Merpati Putih dari Persia
Pada satu pagi buta,
Ia berkata:
Tu(h)an, kau adalah pengungsianku yang pertama dan terakhir kalinya.
April2019
Wednesday, 1 May 2019
Tepat Sekali
Ya
Terima kasih
Di masa penuh amarah dan susah
Ini
Saat aku terjepit
Di antara dua tebing
Terima kasih
Telah memberikan pepatah bijak
Telah menyuruhku untuk bersabar!
Ketika bom itu tinggal dua detik
Terima kasih
Menyarankanku rehat
Sejenak
Ya
Terimakasih
Memang benar-benar saat yang tepat
Untuk tidak meledak!
Malam Minggu, H-3 Seminar Gibran
KBRI, Lebanon
Monday, 20 August 2018
Kata Wanita Tua
Atas mereka yang memikirkan masa depan
Memberatkan pikiran
Dengan instrumen waktu yang tak bisa dipatahkan
Sebagaimana yang terjadi sudah menjadi kutukan
Pun yang belum terjadi tetap tak bisa dikendalikan
Duduk di kedai minum itu aku tenggelam dalam perenungan
Sama seperti hari-hari sebelumnya, lamunan
Seorang wanita tua menegurku dengan sapaan
“Apa yang kau pikirkan?”
Kuceritakan tentang kebimbangan yang selama ini kurasakan
Juga kecemasan, akan manusia yang hanya peduli masa depan
Demi Tuhan,
“Jika mereka benar-benar hidup, tak akan ada yang kesepian!”
Ia tersenyum. Senyum yang entah bagaimana memberi kehangatan
“Mimpi adalah hal yang tak terelakkan”
Jawabnya mengalihkan pandangan
Jauh ke depan
Kita semua adalah budak keinginan
Namun terlalu lama mengikutinya begitu menyesakkan
Maka keinginan itu tetap terasing, sebab tak ada yang tahan
Untuk lama-lama merasakan
Seandainya kau sabar barang sebentar, dengarkan apa yang ingin ia katakan
Sebagai manusia kita tak mungkin melepaskan
Pasung dunia bernama ruang dan waktu, sebagaimana wajarnya penciptaan
Namun hati tempat bersemayamnya keinginan
Tahu, dan terus mencari karena ia punya kenangan
Dengarkan
Apa yang ia ingin katakan
Yang ia inginkan
Kau akan menemukan tujuan
Sebuah tempat peristirahatan
Tempat semua tak lagi terasa asing dan melelahkan
Hati ini memiliki kenangan
Yang begitu ia dambakan
Dan hanya akal yang dapat menafsirkan
Petunjuk-petunjuk saat kau memulai perjalanan
Kelak di ujung jalan
Akan kau temukan
Sebuah persimpangan di mana akal tak bisa lagi diandalkan
Saat itulah Tuhan
Datang padamu dengan sebuah tawaran:
Ketenangan
Yang hanya bisa kau beli dengan kerinduan.
Wherever you are in the world, i’ll search for you
Beirut, 20 Agustus 2018
Monday, 26 March 2018
Muka Satu
Wajah ketemu wajah
Telanjang tanpa bayangan
Biaran setiap jengkal tubuh dan diri memancar
Sinar kebenarannya masing-masing
Mulut itu bisa wangi
Jangan kau muntahkan oli
Yang tidak melumaskan
Tapi membuat karatan
Bibir itu bisa dibuka dan ditutup
Bisa mengeluarkan suara dan rasa
Bisa dicium dan tercium
Belerang pun bisa dicium dan tercium
Namun tak terkontrol
Karena terbuka namun tak bisa ditutup
Kau yang marah dan dendam
Membendung air bah agar tak tumpah
Pelawan alam
Akan hancur juga kau pada waktunya
Terpujilah ledakan bintang yang tak abadi
Ia akan muncul dan hilang di malam lain
Tak menahan diri demi pujian
Tak tergesa ingin menghancurkan
Kita sering lupa
Memuji dan bersyukur pada pencipta
Yang menjadikan kematian atau kehancuran
Sebuah akhir
Juga awal
Di saat yang bersamaan.
Untuk mereka yang asing-asing bau tai kucing
Dini hari Senin, 26 Maret 2018
Saturday, 17 March 2018
Meminta Manja
Agar tak sempat waktu
Mengenalkan kebencian
Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Kata-Mu hidup ini fana
Sayang sekali jika tidak bahagia
Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Agar akal dapat belajar
Dengan jujur adil dan tenang
Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Karena nyatanya perkara hati belum bisa kita taklukkan
Dan pembolak-balik hati, katanya itu Kamu, Tuhan
Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Bersihkan rumah-Mu
Dari kami manusia, yang tak tahu diri ketika bertamu
Musyarofie, malam minggu
Monday, 12 March 2018
Harmoncuk
Malam ini mendengkur. Kawan-kawanku tertidur. Dan aku tertimpa kerinduan. Karya-karya para maestro kata dan cerita, mengaduk malamku yang membuat kantuk tak tenang dan pergi.
Rindu ini, bukan atas sesuatu yang hilang, tapi hal yang justru belum pernah datang.
Apa yang pernah temanku bilang, masih terus terngiang sampai detik ini. "Mat, kita adalah tawanan keinginan".
Friday, 2 March 2018
Keluh Jiwa yang Kecil
Gugup dan geram penyebabnya
Karya adalah anak tanpa malam pertama
Ungkapan rasa yang berbahaya
Hak cipta memasung sastra
Mengikis ruang gerak pesan yang bercita-cita
Apa masalahnya?
Peradaban mendukung perubahan lewat rekening BCA
Tak lagi ada gelora
Sebab semangat dan rasa
Kini terhitung dalam lembaran uang semata
Kita tak lagi mengenal ketulusan yang menghina
Menghina perendahan, pemerkosaan, dan ke-congkak-an penjajah budaya
Puisi kita tak lagi sanggup untuk dibaca
Buku hanyalah nama x harga pasar di Gramedia.
__________
Entah kapan
Saturday, 13 January 2018
A Tribute for Nella Kharisma
Bawa aku kembali ke masa itu
Cerita tentang senja
Tentang taman dan tikar
Cahaya yang sederhana
Menghangatkan hati kita dengan tawa
Berbisiklah, di telingaku
Padamkan api ini
Damaikan ego yang cemburu
Dengan kabar, dan pertanyaan basa-basi
Yang menggelitik
Yang buat aku ingin mengkritik
Berbisiklah, di telingaku
Dengan nafas-nafas pendek
Yang hangat dan penuh hasrat
Yang memberatkan hati
Dengan ambisi dan mimpi
Berbisiklah, di telingaku
Dengan kalimat yang tak sempurna
Terpotong tangis yang sedu
Dengan air mata yang bermuara
Dan membasahi hatiku
Berbisiklah, di telingaku
Rangkul aku
Dan kita ikuti irama itu
Di bawah cahaya biru
Katakan di telingaku
Dam dudi dam aku padamu.
Saturday, 22 July 2017
Kepengen
Aku ingin bangun di pagi cerah
Dengan suara ayam dan ciutan burung di pohon samping rumah
Aku ingin bangun dengan sadar
Sadar bahwa hari ini akan mengasyikkan
Aku ingin bangun
Dengan saluran berita tanpa kabar-kabar kpk
Aku ingin menikmati sarapan itu dengan tenang dan senang
Tenang tanpa berita pemulung yang dirazia
the treasure
The tale of a broken heart always has a purpose to shed tears down your eyes It is built above bitter memories which accommodate someones un...
-
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
Di pelataran cinta kutancapkan setangkai kenangan. Rumput yang bergoyang santai sudah kaku membeku. Bisa apa? Realitas meruntuhkan topeng ke...
-
Gema takbir semalam tinggal mengisi lorong-lorong ingatan para pencari nafkah yang tidak mudik. Indonesia ini unik. Beragam tradisi mengisi...