Showing posts with label zaztrawan. Show all posts
Showing posts with label zaztrawan. Show all posts

Monday, 21 June 2021

zaztrawan

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Kita merindukan ia yang pergi

Mengenang masa lalu dan ingin mengulanginya lagi

Merangkak di atas setiap ingatan seperti bayi

Tertawa, tersenyum, merenung, menangis

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Meski pertemuan tak akan terjadi lagi

Namun ia mendatangimu dalam setiap mimpi

Dalam setiap lamunan di siang hari

Dalam setiap obrolan dengan kawan-kawan saat ini

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Kita berpikir ini waktunya pergi

Tidak ada lagi nilai dalam hubungan yang terus dipertahankan

Namun dalam sepersekian detika ia berpaling pergi

Dan menemukan jalannya sendiri lagi

Kita menyadari betapa kita menginginkannya sehidup semati

Tanpa sedikitpun memerdulikan soal kemungkinan-kemungkinan

Tanpa sedikitpun memerhatikan apakah kebersamaan ini bernilai atau tidak

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Bahkan dalam permusuhan paling epik dalam sejarah

Dua pihak yang saling berhadapan hanya aka berhadapan karena dua ideologi yang saling terikat

Terikat dalam perbedaan yang fatal

Terikat dalam dua hal berbeda namun slaing bertabrakan

Maka permusuhan sejatinya adalah pertemanan

Yang diwarnai kemarahan alih-alih kehangatan

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Bahkan kematian sepertinya tak benar-benar memisahkan

Jika orang melihat kematian sebagai mimpi buruk keharmonisan

Sejatinya kematian justru menyatukan yang terpisah

Menyatukan yang lupa agar mengingat

Mengubah kekesalan jadi kerinduan

Kesibukan jadi waktu yang didedikasikan

Pertemuan terencana

Menjadi kehadiran tanpa jeda

Dalam hati para pecinta

 

in memoriam, naqib musawa

Senin, 21/06/2021 (H+3)

Sunday, 5 May 2019

Lana Yang Ikhlas



Lana tersenyum di atas ranjang. Ia berbaring, tak menunjukan keinginan untuk terbangun.
/
Sementara itu, Raef berdiri, berjalan kesana kemari, berbicara pada Lana dengan kesal sejak 15 menitan yang lalu. Raef ingin Lana mengerti dan mengeluarkan tenaganya untuk bangun. Namun Lana seperti enggan, meski ia tahu ia bisa. Dan bukan sifat Raef untuk membuat seseorang melakukan sesuatu yang bukan dari kehendaknya. Ia hanya bisa mengomel.
/
"Raef, terlalu banyak waktu kuhabiskan sudah tanpa menemukan jawaban atas pertanyaanku. Sekarang aku tahu waktuku akan habis. Dan anehnya, aku tak menyesali pertanyaan yang menggantung itu. Akhirnya aku menemukan kepastian dari akhir semua ini. Terjawab atau pun tidak, aku takkan memiliki pertanyaan lagi -- setelah ini. Dan terima kasih, telah menghabiskan waktumu bersamaku. Setidaknya untuk pertama dan terakhir, aku diperlakukan secara normal dan layak. Kau tak bertambah pintar karena itu, kau tahu? Jadi lanjutkan sekolahmu."
/
Raef melihat sorot mata Lana, dan ia tahu bahwa ini saatnya untuk menyerah. Percuma. Tapi saat itu, adalah senyum paling bahagia yang pernah ia lihat dari wajah sahabatnya.
/
"Aku tak tahu siapa yang gila saat ini," benak Raef.
/
This is the Last Supper. The last thing that make you feel that you're alive. Make you realize that you are you this whole time. You are Him at the same time. You're right to say, "See you next time."
/
Its not the end. Nothing, is the end.

Oktober2018

Senyum Neli



Gambar ini pertama kali dibuat berbulan-bulan silam. Berawal dari iseng, siapa sangka akan sangat mahal harganya.
/
Namanya Neli. Ia seorang anak bos restoran yang tak pernah makan di restorannya sendiri. Bangsat memang pengusaha itu. Dia tahu apa yang dimasukkan ke dalam bumbu rahasianya. Aku tak tahu. Jadi tak bisa cerita.
/
Neli anak yang baik... Suka menolong dan rajin menabung. Dia terlahir dengan takdir jatah warisan sekian M totalnya. Dan dia jadi lebih kaya lagi karena jarang menghambur-hamburkan uang ketika mau lebaran -- untuk beli baju misalnya. Ia humble, begitu bahasa mahasiswa-nya.
/
Neli lebih suka menghabiskan waktu di luar, berjalan kaki dari satu halte Transjakarta ke halte lainnya. Ia menolak pakai mobil. Macet, katanya. Daripada macet sendirian kan mending rame-rame di bus. Kegiatan ini membuat Neli lebih mudah bergaul dengan setiap orang. Neli banyak mengobrol dengan beragam kelas masyarakat sampai ia cukup menunjukkan tanda-tanda ke-kiri-an tanpa perlu membaca Das Kapital. Bagaimana lebih detailnya tanya saja pada Neli.
/
Satu hari, Neli sedang berjalan menikmati langit Jakarta yang mendung. Trotoar sekitaran Monas kan gede tuh. Neli suka sekali jalan disitu, apalagi dalam keadaan mendung. Tapi karena sudah satu putaran, Neli mulai keringatan dan ngos-ngosan. Akhirnya ia putuskan untuk rehat sejenak di salah satu halte, sambil nyebat dulu.

/
Duduk di sebelahnya seorang berpakaian serba putih yang terlihat khusyuk. Mulutnya komat-kamit tak terdengar apa yang diucapkan. Matanya menunduk melihat ke selebaran yang dipegangnya. Neli tak tahu kenapa ia memperhatikan orang asing di sebelahnya itu. Tak lama, si orang berpakaian putih seperti sadar sedang diperhatikan dan balik menatap Neli. Tiba-tiba ia geleng-geleng kepala dan berucap, "Kamu cantik, tapi tak berkerudung. Apa artinya?" lalu pergi begitu saja. Entah apa yang merasuki pikiran Neli, pokoknya dia kaget. Tak percaya apa yang di dengarnya. Sela beberapa detik, setelah semuanha kembali terasa normal, ada yang hilang dari Neli: semangatnya. Hari itu, seorang tak dikenal baru saja geleng-geleng kepala begitu melihatnya. Sejak itu, kita semua kehilangan senyum Neli.
/
Entah bagaimana ia sekarang. Aku tak tahu di mana Neli.

Oktober2018

Saturday, 4 May 2019

Kacau

Aku meneteskan mata tanpa air
Mendengar telinganya sampai ke suara
Lentik itu memang kelewat bulu mata
Tak kuasa kutatap putih yang sangat kulit
Menawannya juga senyum sekali
Aspal terlihat indah berjalan di atas kakinya
Gila
Oksigen menghirupnya, demi kehidupan
Pohon menebang dan memakannya
Anjing-anjing terus meneriakkan namanya
Betapa cinta agung itu
Ah
Sanggup sudah tak aku lagi
Ketika matahari berjemur di bawah teriknya
Aku pusing, melayang, dan semua baru terlihat normal
Sediakala seperti.

Juni2018

Wednesday, 1 May 2019

Tepat Sekali

Tepat sekali
Ya
Terima kasih
Di masa penuh amarah dan susah
Ini
Saat aku terjepit
Di antara dua tebing
Terima kasih
Telah memberikan pepatah bijak
Telah menyuruhku untuk bersabar!

Ketika bom itu tinggal dua detik
Terima kasih
Menyarankanku rehat
Sejenak
Ya
Terimakasih
Memang benar-benar saat yang tepat
Untuk tidak meledak!

Malam Minggu, H-3 Seminar Gibran


KBRI, Lebanon

Pejalan kaki dan pejalan mimpi

Ada dua tipe manusia di dunia ini: mereka yang ingin mendengar cerita sebanyak-banyaknya, berinteraksi dengan sebanyak-banyaknya manusia, ingin melihat perbedaan dan perubahan tiada henti, terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, seakan mati adalah diam di satu tempat, dan ingin melihat dunia dari luar dirinya. Dan mereka yang ingin memiliki dan dimiliki oleh sebuah cerita, yang kesederhanaan dan kebiasaan adalah rumahnya, ketenangan adalah adrenalinnya, kegelisahan adalah kematiannya, dan ingin melihat dunia dari dalam dirinya, dari ceritanya sendiri.

Kebebasan? Bebas hanyalah kata sederhana yang tak punya makna tunggal. Setiap pengalaman dan perasaan manusia punya definisinya sendiri akan kebebasan. Orang pertama di atas akan menemukan kebebasan dalam perjalanannya di sebuah van menuju Suriah. Orang kedua justru menemukan kebebasannya dalam keamanan dan kenyamanan pelukan keluarga di rumahnya.

Ini yang sedang dipikirkan Albert di atap apartemen asramanya malam ini. Ia sedang merasakan kegelisahan yang mungkin sama dengan setiap manusia yang sudah mengenali posisinya saat ini—satu di antara dua tipe manusia.

Ia sudah hidup selama 22 tahun menjadi manusia tipe kedua. Hidupnya mudah, begitu kata temannya. Meski ia lebih suka menggunakan kata beruntung. Dari satu pijakan ke pijakan lain, dari nasib ke nasib yang lain, semua datang tak diduga. Tentu, semua kesempatan yang datang tak diundang itu tak jauh ia dapat dari jerih payah orang tuanya yang tak kaya—namun punya nama. Ayahnya yang terpandang dalam komunitasnya yang cukup besar memudahkan Albert untuk mendapat jaringan luas, yang pada gilirannya berubah menjadi tawaran-tawaran pengalaman yang kebanyakan orang perlu usaha lebih keras untuk mendapatkannya. Bahkan kini, ia hidup ratusan ribu kilometer dari rumahnya, dengan beasiswa penuh dan tanpa perlu melewati tes, pun karena jaringan orang tuanya di negeri ini.

Albert melihat dirinya sebagai petualang. Itu sebabnya ia merasa tersiksa dengan realitas yang dihadapinya kini. Sebab seorang pengemban beasiswa tentu tak bisa dengan leluasa begitu saja cabut dari kelas untuk menginap di satu kota asing beberapa hari dan kembali belajar tanpa dapat ancaman akan dikeluarkan atau dikirim pulang ke rumahnya. Gambaran yang ia bangun soal dirinya sendiri sejak beberapa tahun lalu justru adalah sosok yang paling asing bagi dunianya saat ini—sekolahnya. Ini, yang membuat Albert pergi ke atap di tengah malam akhir bulan Mei, menikmati sepoi angin malam musim panas dan diam menatap gemerlap kota. Ia sedang berdebat dengan moralnya sendiri, untuk memutuskan langkah apa yang akan dia ambil nanti pagi, ketika pintu asrama mulai dibuka. Apakah ia akan membawa tas dan berjalan lurus langsung menuju kampus seperti tadi pagi, atau dengan tas yang lebih berisi dari biasanya langsung belok ke kiri, menuju jalan raya tempat supir taksi menawarkan jasanya pada ia yang tak tahu mau kemana? Malam ini, bulan sabit yang ia pandangi akan menjadi saksi atas keputusannya.

//

Kadang aku berpikir kenapa harus memikirkan hal-hal magis seperti itu? Kenapa tidak memikirkan yang realistis saja seperti anak seusiaku kebanyakan. Misal bagaimana caranya aku bisa menggerakkan otot alis secara terpisah. Seperti Emilia Clarke yang dijuluki Eyebrows Queen. Dimana titik gerak otot alisnya ada tiga. Kanan, tengah, dan kiri. Sehingga ekspresi yang bisa ditunjukkan wajahnya akan jauh lebih berwarna dan kuat setiap warnanya.

Atau produk mana yang lebih menjanjikan dalam menumbuhkan bulu-bulu halus dari pipi sampai daguku ini? Minoxidil atau Wak Doyok? Testimoni online makin banyak makin rancu sebab tak pernah jelas mana yang lebih baik dari kedua produk itu untuk membuatku seperti Adam Levine.

Atau bagaimana caranya aku bisa mengontrol asap hasil hisapan vape—rokok elektronik itu. Lihat saja kawan-kawanku yang sangat profesional dalam seni menciptakan bentuk-bentuk asap itu. Sementara aku sudah bangga bisa membuat O dari kretek bangsa saja. Padahal waktuku banyak sekali terbuang memikirkan masalah sikologis adikku dan membangun pondasi filosofis dalam karya-karya tulisku yang bisa aku lakukan berlatih lebih keratif daripada sekadar menghembuskan asap tak berbentuk dari rokok.

Atau postingan instagram. Kenapa aku tidak pernah menyibukkan diri mencari tempat-tempat bersejarah atau bermakna dan mencari sudut pandangnya yang bagus agar akunku lebih banyak dikunjungi orang dan bisa cepat-cepat buka jasa endorse.

Sial, terlalu banyak waktuku terbuang memikirkan yang tidak-tidak.

Mei 2018

Friday, 3 August 2018

Sial, Harusnya Kita Berteman!

Apa yang terjadi setelah kematian tetap misteri. Tak peduli sekeras apa agama dan pemikiran berusaha memastikannya. Sebab sampai sekarang, tak ada satupun yang akan percaya jika seorang datang dan mengaku sebagai penjelahah kematian—dan mengabarkan apa yang terjadi di sana.

Maka sekarang aku penasaran, apakah mereka yang telah mati, hadir di sekitar kita tatkala kita mengingatnya? Aku tak peduli berdasarkan teori apapun itu—tentang jiwa, ruh, arwah, barzakh, bahkan astral—apakah mereka memandang wajah kita yang mengabarkan beragam ekspresi, ketika kita mengingat mereka?

Saturday, 17 March 2018

Meminta Manja

Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Agar tak sempat waktu
Mengenalkan kebencian

Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Kata-Mu hidup ini fana
Sayang sekali jika tidak bahagia

Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Agar akal dapat belajar
Dengan jujur adil dan tenang

Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Karena nyatanya perkara hati belum bisa kita taklukkan
Dan pembolak-balik hati, katanya itu Kamu, Tuhan

Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Bersihkan rumah-Mu
Dari kami manusia, yang tak tahu diri ketika bertamu

Musyarofie, malam minggu

Tuesday, 6 March 2018

Di Negeri Arab: Cerita Tentang Manusia

Aku terus berjalan. Melewati bangunan-bangunan tinggi tempat mereka tinggal. Lengkap dengan matahari senja yang lembut, dan nuansa sibuk pulang kerja.

Anak-anak kecil yang masih mengenakan seragam sekolah itu berteriak saling mengejar. Bermain, tawa mereka tak tertahan beban tugas dari gurunya. Memang, seberat apa beban sekolah jika dibanding hidup?

Aku berjalan di peradaban metropolitan. Ibu kota tepatnya. Di negara kecil yang terhimpit dua medan perang yang dipaksakan.

Bungkus Gorengan

Aku bertemu dengannya terakhir kali bulan lalu. Di peresmian bantuan kemanusiaan untuk korban banjir. Acara itu ramai sekali.

Orang-orang penting hadir. Mereka pakai rompi -- pelampung sih sebenarnya. Sebagai tanda atau pesan. Bahwa mereka bersama korban banjir -- bahwa satu derita untuk semua.

Ia tampil gagah sekali di antara para pejabat. Tanpanya, bantuan itu takkan turun. Hebat kan?

Friday, 2 March 2018

Tentang Dia

Di scene-scene film Bollywood, kita bisa melihat seorang pria tanpa payung. Berjalan tenang dengan satu pandangan yang menentukan arahnya. Tentu para piguran, entah bisa jadi ayah, ibu, saudara, teman, paman, bibi, sepupu yang patah hati; semuanya dari keluarga wanita. Mereka kaget melihat kehadiran pria yang di kenal. Di kenal memiliki kisahnya bersama sang wanita. Yang saat itu menangis di bawah naungan payung, merangkul anaknya, di hadapan pemakaman suaminya.

Kisah ini tidak sedramatis itu. Kalau pun hujan, si pria pasti bawa payung. Dan meskipun ia memilih waktu kemunculannya di saat pemakaman sang suami, tak mungkin ia menghampiri kekasihnya yang sedang berduka.

Monday, 19 February 2018

Valentine Bersama Martir

Hari itu valentine. ‘Entah kenapa’ aku malah mengunjungi pemakaman. Tempat tubuh para martir perang diabadikan lewat nisan dan pekarangan yang indah.


Sepi, bukan waktu ramainya memang. Berkat itu kehadiran seorang wanita muda dengan mudah mencuri perhatianku. Ia sendiri. Duduk di samping nisan, mematung dengan setangkai mawar di tangannya. Tak ada suara doa yang terdengar, bahkan mulut pun tak bergumam. Terlihat matanya memandang foto martir makam itu.



Luka Mimpi

Lubang hitam itu menjadi satu-satunya mimpi yang kurasakan. Baik dikala mata terpejam maupun melek di siang bolong.

Pasung keinginan, begitu aku terus memujinya. Pujian yang lahir dari tumpukan kutukan.

Aku ingin begini, aku ingin begitu, bernyanyi seperti lagu pembuka anime Doraemon.

Suasana Pagi Condet

Kulihat masyarakat begitu antusias pada pagi hari, berusaha bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pangan. Supir angkot dengan wajah lesunya, ibu-ibu dengan anaknya yang mungil menuju pasar, pembersih lingkungan mulai menyapu ditengah-tengah jalan, para pedagang dengan rokok terselip disela-sela jari tangan, sembari menunggu pembeli datang.

Semuanya bersama satu kesatuan, bersosialisasi sebenar-benarnya, tanpa hape tanpa media sosial. Tawa riang, kadang sampai berkeringat antar sesama pejuang. Laki dan wanita membaur tanpa mempedulikan usia, menanyakan kabar keluarga, penghasilan sebelumnya, tagihan air, listrik, dan kebutuhan lainnya. Hidup mereka hidup sebagaimana harusnya, nyata di depan mata, walau raga kadang tak berdaya, namun dipaksakan seperti sediakala.

Sunday, 18 February 2018

The Bohemian, and The Money

The Bohemian. Tulisan itu menyala dengan lampu tali berwarna kuning.

Malam akhir pekan ini bangku-bangku banyak yang kosong. Sebabnya adalah musim dingin. Orang-orang lebih suka dikelonin.

Duduk sendirian di bawah temaram lampu bohlam; agak hangat setelah menenggak segelas anggur. Beban pikiran membuatnya tertunduk sejak awal.

Wednesday, 7 February 2018

Tentang lukaku, habis kena peluru

Mungkin untuk orang Indonesia, punya luka bekas peluru adalah sesuatu yang jarang. Wajar jika dibanggakan, negeri kita adem-ayem sejak 98. Masa reformasi pun beda dengan peperangan. Tetap jarang yang pernah kontak langsung dengan senjata.

Tapi, kalau tahu ceritanya si Omat, kekerenan bekas luka di lehernya akan hilang seketika.

Ia tertembak di Lebanon. Bukan karena hadir di medan perang, apalagi karena ikut membela Palestina, tapi sedang nonton parade.

Saturday, 13 January 2018

A Tribute for Nella Kharisma

Mendekat, dan berbisiklah di telingaku
Bawa aku kembali ke masa itu
Cerita tentang senja
Tentang taman dan tikar
Cahaya yang sederhana
Menghangatkan hati kita dengan tawa

Berbisiklah, di telingaku
Padamkan api ini
Damaikan ego yang cemburu
Dengan kabar, dan pertanyaan basa-basi
Yang menggelitik
Yang buat aku ingin mengkritik

Berbisiklah, di telingaku
Dengan nafas-nafas pendek
Yang hangat dan penuh hasrat
Yang memberatkan hati
Dengan ambisi dan mimpi

Berbisiklah, di telingaku
Dengan kalimat yang tak sempurna
Terpotong tangis yang sedu
Dengan air mata yang bermuara
Dan membasahi hatiku

Berbisiklah, di telingaku
Rangkul aku
Dan kita ikuti irama itu
Di bawah cahaya biru
Katakan di telingaku
Dam dudi dam aku padamu.

Saturday, 22 July 2017

Kepengen

Aku ingin

Aku ingin bangun di pagi cerah

Dengan suara ayam dan ciutan burung di pohon samping rumah

Aku ingin bangun dengan sadar

Sadar bahwa hari ini akan mengasyikkan

Aku ingin bangun

Dengan saluran berita tanpa kabar-kabar kpk

Aku ingin menikmati sarapan itu dengan tenang dan senang

Tenang tanpa berita pemulung yang dirazia

Persimpangan Ombak

Aku mau menjelaskan ini

Kamu melihat itu

Aku mau menjelaskan itu

Kamu melihat ini

Monday, 5 June 2017

Nilai Selewat Percakapan

Awal Juni, ketika matahari sedang terik-teriknya. Libur musim panas memindahkan kesibukan dari jalan raya ke pojok-pojok kota.

Semilir angin berdansa 


Di tengah manusia 


Lupa asa


Anak itu berjalan menyisir pantai. Dengan tas selempang berisi buku catatan dan kelakar Zarathustra. Kalau tak salah ia mencari pohon kelapa atau apapun untuk duduk berteduh.

Menyendiri lah bersama orang-orang


Yang menyendiri


Ucap sahabat di pagi hari

the absolute freedom

i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...