Mawar itu kini terbakar. Oleh sinar mentari sebab air mata tak melindunginya lagi.
Sunday, 6 August 2023
Setangkai Kenangan
Mawar itu kini terbakar. Oleh sinar mentari sebab air mata tak melindunginya lagi.
Thursday, 10 June 2021
Jika mereka peduli, lalu kau apa?
Di bawah terik bulan yang membakar hati kesepian
Gelapnya malam harusnya menyelimuti para penyair dengan
hangatnya keterasingan
Namun pantulan sinar matahari yang ragu-ragu
Justru membuka ruang para serigala menerkam rasa sepi dengan
tatapan yang buas
Kita adalah anak-anak waktu yang durhaka
Melawan takdir dan maju mundur
Dari masa depan ke masa lalu
Tanpa rasa malu
Kita adalah hamba-hamba yang memberontak
Di hadapan petunjuk yang jelas kita menulis ulang setiap
aturan
Berasaskan prasangka, hitungan matematika, logika yang tak
sempurna
Lalu kepada Sang Tuan kita menghadap
Berdiri, tidak berlutut
Memandang tajam ke depan, tidak menunduk
Berjabat tangan dengan tegas seakan semuanya setara
Rerumputan tertawa melihat tingkah yang tak ada kasta
Betapa setiap otak diracuni kesombongan zaman dan peradaban
Kita budak-budak nafsu yang cemburu
Kecemburuan yang menyelimuti dirinya dengan jubah rasa
Bahwa rasa adalah anugera dan sebuah petunjuk yang agung
Tidak perlu diragukan lagi
Namun apakah setiap orang memilikinya?
Juga tak perlu diragukan bahwa jawabannya tidak
Setiap rasa menuntun kita pada jalan halus kemurnian dan wewangian
Bukan ke medan perang dan tempat pembuangan kotoran
Kotoran manusia yaitu benci, serakah, dengki, dan kesombongan
Kita anak-anak bodoh yang menolak untuk keluar dari gubuk
kecil kedunguan
Gubuk yang temboknya dianyam kata-kata manis para durjana
Durjana yang mengoreksi setiap ayat dari pesan Tuhan kepada
Nabinya
Durjana yang memenggal kepala para pecinta dengan hati yang indah
Durjana yang membungkam mulut-mulut penyair agar tak lagi
menyanyikan Nama-Nya
Durjana yang memenjarakan manusia dalam lingkaran setan
kebudayaan dan norma-norma tak berhati
Durjanana yang berdiri di atas mayat-mayat intelektual
dengan panji kebenaran parsial di tangannya
Ah… habis kata-kataku dicuri para durjana
Tak lagi aku bias membaca keadaan yang makin runyam dan
bising
Hilang sudah harapan sebuah negara yang harmonis tempat
kijang makan dengan tenang di samping serigala
Hilang sudah masa depan anak bangsa
Apa yang disebut dosa kini sebuah rekreasi
Tempat mereka yang terasing dan dibuang mendapat peluk kasih
sayang
Tuan, kalau boleh aku bertanya
Apakah dibenarkan, aku bersimpuh tanpa sepotong baju di
tubuhku?
Sebab semua hak milikku dirampas mereka yang peduli padaku
Jika kepedulian mereka berwujud perampasan
Maka apa sebutan yang tepat bagi aksimu
Yang sejak awal memberikan semuanya?
//10/06/2021
Saturday, 1 May 2021
Aku tak paham bahasamu
Tubuh ini
rata bagai aspal. Aku berbaring dan diratakan oleh tekanan yang yang tak
terlihat, seperti sedang ngecat tembok saja. Di atasnya dua bola kecil yang
terhubung ssebuah garis solid berputar, mengingatkanku pada atom.
Dengan perasaan
visual itu, aku terpejam dan tak ada energi selain di kepala. Daya di sekujur
tubuh berlari perlahan dari bawah ke atas, dan berkumpul di kepala, otak. Tidak
ada pusing yang terasa, hanya denyut energi yang jelas terasa menggumpal di
pusat kepala.
Dengan sensai
visual itu, aku merasa telanjang. Telanjang dan lemah. Anehnya, meski nyatanya
dalam keadaan berpakaian rapi, aku merasa telanjang. Namun meski perasaan itu
lebih nyata dari pakaian yang secara sadar masih kupakai dan terasa menyentuh
kulit, aku tak malu. Mungkin, masih mungkin, karena saat itu ketelanjangan ini
hanya aku hadapkan pada Tuhan yang kutahu tak bermata. Di saat itu, ketelanjangan
ini tak membuatku malu, hanya membuatku lebih jujur pada-Nya.
Momen seperti
itu sering muncul namun baru pertama kali aku merasakannya senyata malam ini. Seperti
biasa, dunia dan kehidupan adalah pemantiknya. Tapi bukan sekedar karena aku ada
di dunia dan masih hidup, tapi lebih karena aku benar-benar tertarik gravitasi segala
yang ada di dalamnya sampai tercipta jarak antara aku dan Dia yang Entah Siapa.
Dalam keadaan
telentang, dan perasaan telanjang dan gepeng, aku berkeluh kesah. Meminta maaf
dan marah. Menuntut dan pasrah.
“Aku tak
paham bahasa sholat, bahasa ibadah. Aku tak paham bahasa yang digunakan setiap
orang disekitarku. Yang kutahu, sekarang kau mendengarku. Apakah ini hukuman? Apakah
ini tanda bahwa kau telah berpaling dariku?”
Aku berusaha
yakin kau mendengarkan namun tak mendapat kepastian. Untuk membuktikan aku tak
mampu. Apakah keyakinan harus dibuktikan? Mungkin tidak perlu. Lalu bagaimana
dengan kesadaran bahwa “aku tidak tahu” yang bersanding sejajar dengan
keyakinan di hatiku?
Tuesday, 16 March 2021
Anak-anak Prasangka
Api kemarahan selalu gagal menghanguskan kesadaranku. Sebagai
keturunan Ibrahim aku melangkah di atas kayu bakar sambil menguap. Kulewati amarah
yang menatapku gusar, menuju selimut tempat perdamaian bersemayam.
Seperempat abad sudah api itu menikmati damainya kehidupan. Tak
menyulutku menjadi abu. Jika kau ingin melihat kekuatan yang ia simpan, silakan
nyalakan. Di hadapan dunia, kehidupan yang memuakkan, tak kutemukan selain
tatapan yang menjijikan. Tak peduli berubah seperti apapun ia, ribuan kali akan
kupalingkan muka, dan meniggalkannya dengan perasaan remeh.
Kita adalah anak-anak prasangka. Dari prasangka kita temukan
harapan. Pikiran kita semua dipenuhi utopia yang berbeda-beda, namun sama-sama
kita berjalan ke arahnya—setidaknya berusaha ke sana. Agama, filsafat hidup,
mimpi, semua bertumpu di pundak harapan. Dari sana Tuhan menunjukkan wajah-Nya
yang paling optimis—kadang ambisius, kadang ramah.
Cobaan, katanya datang dari atas. Sebuah upaya pemurnian. Semacam
sekolah militer. Halah, aku terbiasa dengan harapan. Kupikir itu hal yang
diperlukan. Tapi boleh lah kita sedikit rendah diri, dan menyadari kesalahan
sendiri. Tak ada cobaan tanpa sebab. Tak peduli sesuci apapun kau pikir jiwamu
sehingga tak mungkin musibah datang darinya, Tuhan jauh lebih suci dan tinggi. Cobaan,
sakit kepala, sesak di dada itu hanyalah akibat dari sebab yang hubungan timbal
baliknya sudah dituliskan-Nya. Kita adalah tamu yang membuka pintu dan mau-tak-mau
menerima jamuan apapun di dalamnya. Jamuan seperti apa yang ada di setiap pintu
itu terserah Penerima Tamu. Pintu mana yang kau buka, itu sepenuhnya pilihanmu.
Itu sebabnya ilmu tentang diri sangat diperlukan. Itu sebabnya
pelajaran logika—tentang bagaiama cara berpikir dengan struktur dan pradigma
yang tepat—sangat diperlukan. Karena pengenalan tentang diri menyelamatkan kita
dari saling-tuding atas suatu masalah—yang kadang berakhir pada telunjuk jari
menghadap langit dan menyalahkan Tuhan.
Pada puncak pencapaiannya, pengenalan diri tetap akan
mengantarkan air mata jatuh ke bumi. Tak apa, rasa sedih, senang, geram adalah
hal yang manusiawi. Barangkali, itulah bekal yang Tuhan berikan agar hidup tak
begitu hambar. Sudah banyak yang bersaksi bahwa rasa sakit justru membuatnya
merasa hidup. Itukan Cuma perkara sudut pandang. Mengenal diri memberikan salah
satu buah kebebasan paling penting dalam hidup: hilangnya penyesalan. Akhirnya aku
paham maksud Seorang Sufi yang bilang, “Rasa sesal melumpuhkan. Lempar dosa-dosamu
ke dalam ampunannya dan jangan berpikir kembali lagi.”
Memang apa yang lebih menyenangkan untuk dilihat Tuhan
sebagai pemberi kehidupan, selain para hamba yang merayakan setiap nafas dengan
rasa syukur dan gembira?
Jangan bawa para Rasul ke sini. Karena di majlis ini kita
hanya menyediakan secangkir kopi susu dan berbatang-batang rokok sebagai
hiburan. Kita tawarkan pun mereka takkan mau. Bagi para raja yang melepaskan
mahkotanya, pengabdian adalah segalanya. Merekalah yang berpuasa dari nikmatnya
bercengkrama, agar mereka yang bisu tak merasa kesepian.
Seandainya ada kesempatan untuk mengulang waktu, mungkin
akan kuambil. Tapi aku berharap saat itu malu hadir dan menatapku lamat-lamat.
Saturday, 4 May 2019
Nostalgia
Mengingatkanku pada hari-hari pertama di Alexandria
Ketika semua masih biru
Tanpa hati yang cemburu abu-abu
Dengan barang bawaan seadanya, aku pamit pada burung Merpati. Aku yang terbang sekarang. Ijinkan aku untuk terjatuh. Setidaknya, matiku dalam pilihanku.
Musafir dari Aleppo berbaik hati memberuku roti
Mereka akan bermukim di Sidon
Ini yang terakhir kali
Aku janji
Katanya pada sisa kawanan Yahudi
"Sejarah ini milik kita seorang, tak peduli apa yang kau temukan di dalamnya. Itu sebabnya kau bisa temukan dirimu dalam kisah penjual roti di Andalusia. Kau tahu kenapa? Karena kau dan dia adalah manusia. Kalian berbagi satu nasib buruk yang sama ketika dilahirkan -- dilahirkan sebagai manusia. Maka satu-satunya cara untuk bertahan hidup, adalah menerima. Ya, menerima! Kata-kata tidak diberikan padamu untuk meminta. Sakarang aku ingin tanya, apa yang membuatmu pergi, anak muda?"
Aku tersenyum, katanya aku masih muda
Kek, aku pernah memelihara Merpati Putih dari Persia
Pada satu pagi buta,
Ia berkata:
Tu(h)an, kau adalah pengungsianku yang pertama dan terakhir kalinya.
April2019
Wednesday, 1 May 2019
Tepat Sekali
Ya
Terima kasih
Di masa penuh amarah dan susah
Ini
Saat aku terjepit
Di antara dua tebing
Terima kasih
Telah memberikan pepatah bijak
Telah menyuruhku untuk bersabar!
Ketika bom itu tinggal dua detik
Terima kasih
Menyarankanku rehat
Sejenak
Ya
Terimakasih
Memang benar-benar saat yang tepat
Untuk tidak meledak!
Malam Minggu, H-3 Seminar Gibran
KBRI, Lebanon
Monday, 24 December 2018
Tsunami dan Hari Ibu
Sekarang tengah malam. Aku sedang menunaikan ibadah movie night bersama kawan, datang kabar yang bikin hati tak enak. Tsunami terjadi di pantai Anyer, Banten. Satu provinsi sebelah Jakarta. Jam 9 malam waktu Indonesia barat tadi -- tepat satu jam setelah aku memutuskan untuk menunda pengiriman kue. Aku masih belum tahu berapa yang mati, apalagi siapa. Dan tentunya aku bisa yakin, tak ada satupun orang yang kukenal di sana. Tapi sebagai ekspat beribu kilometer jauhnya dari tanah air, caraku memandang warga negara sendiri agak berbeda. Karena sekarang aku hanya bisa melihat ibu pertiwi dari jauh seperti melihat sebuah kumpulan pulau -- yang diberi nama sama: Indonesia. Tak ada orang yang terlihat, meski kenyataannya, setiap pulau punya warna kulit dan betuk wajah masing-masing.
Kami hanya bisa melihat Indonesia dari luar, sebagai sebuah negara kepulauan yang besar. Cukup jauh jarak kita untuk tidak melihat siapa yang ada di pulau itu. Maka tsunami yang terjadi di Banten, Jawa -- pulauku, lantas memunculkan rasa yang memutar perut. Aku mual. Siapapun yang meninggal, aku merasakan kesedihan yang cukup signifikan. Sebab mereka semua sekarang tak terlihat berbeda -- bahkan tak terlihat. Yang bisa aku lihat hanya pulau tempat rinduku berpulang, bernama Indonesia.
Rencana kejutan sudah terlalu matang untuk dibatalkan. Besok, aku akan langsung menghadap wifi dan memesan kue untuk keluarga ibuku di Jakarta. Aku tak tahu apa yang lucu. Rasanya ingin tertawa tapi tak tahu kenapa.
Sebelumnya sudah terbayang jelas dibenakku, sore itu, saat memilah toko kue, gambaran ramainya tawa saudari-saudari ibuku mendapat kiriman kue dariku di Lebanon. Mereka pasti langsung meneleponku dan tenggelam dalam candaan keluarga seperti biasanya. Kini, bayangan itu sebenernya tak hilang. Hanya muncul sebuah gambaran alternatif yang hanya mungkin terjadi dalam benakku yang sedang kebingungan memilih rasa yang akan dipakainya: mereka memakan kue dengan bahagia namun tak bisa tertawa melihat berita di depan matanya.
Entah besok rasa apa yang akan muncul bersama kue itu. Meski kue dan tsunami adalah dua hal yang benar-benar tak ada hubungannya, tapi hatiku hanya satu. Dan tak peduli seluas apapun ia tumbuh, haru dan gembira masih terlalu besar untuk kurasakan bersamaan.
22-23 Des 18
Friday, 2 November 2018
Bahkan kita tak bisa melihat bumi
"Have you had a million reasons why you wishing never see the truth? Have you looked into the mirror and the problem staring back at you?"
Paralyzed, ATC.
Sejak beberapa tahun lalu, aku selalu menobatkan diri sebagai "pencari jawaban". Aku bertanya tentang banyak hal, meski tak semua hal. Hal-hal yang cukup fundamental seperti kehidupan, kematian, dan agama jadi buruan favoritku. Beragam pertanyaan sudah (kurasa) kutemukan jawabannya. Namun pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan sampai tahap tak ada lagi yang berarti. Pertanyaan yang kulontarkan bahkan kehilangan maknanya sebelum kutemukan jawabannya. Dan dalam arus santai yang tak berhenti itu, sejujurnya aku pun tak tahu apa yang sebenarnya ingin ku-cari tahu. Apa sebenarnya yang mengganggu pikiranku sehingga aku terus mengkritisi banyak hal? Apa yang ingin kuketahui?
Monday, 20 August 2018
Kata Wanita Tua
Atas mereka yang memikirkan masa depan
Memberatkan pikiran
Dengan instrumen waktu yang tak bisa dipatahkan
Sebagaimana yang terjadi sudah menjadi kutukan
Pun yang belum terjadi tetap tak bisa dikendalikan
Duduk di kedai minum itu aku tenggelam dalam perenungan
Sama seperti hari-hari sebelumnya, lamunan
Seorang wanita tua menegurku dengan sapaan
“Apa yang kau pikirkan?”
Kuceritakan tentang kebimbangan yang selama ini kurasakan
Juga kecemasan, akan manusia yang hanya peduli masa depan
Demi Tuhan,
“Jika mereka benar-benar hidup, tak akan ada yang kesepian!”
Ia tersenyum. Senyum yang entah bagaimana memberi kehangatan
“Mimpi adalah hal yang tak terelakkan”
Jawabnya mengalihkan pandangan
Jauh ke depan
Kita semua adalah budak keinginan
Namun terlalu lama mengikutinya begitu menyesakkan
Maka keinginan itu tetap terasing, sebab tak ada yang tahan
Untuk lama-lama merasakan
Seandainya kau sabar barang sebentar, dengarkan apa yang ingin ia katakan
Sebagai manusia kita tak mungkin melepaskan
Pasung dunia bernama ruang dan waktu, sebagaimana wajarnya penciptaan
Namun hati tempat bersemayamnya keinginan
Tahu, dan terus mencari karena ia punya kenangan
Dengarkan
Apa yang ia ingin katakan
Yang ia inginkan
Kau akan menemukan tujuan
Sebuah tempat peristirahatan
Tempat semua tak lagi terasa asing dan melelahkan
Hati ini memiliki kenangan
Yang begitu ia dambakan
Dan hanya akal yang dapat menafsirkan
Petunjuk-petunjuk saat kau memulai perjalanan
Kelak di ujung jalan
Akan kau temukan
Sebuah persimpangan di mana akal tak bisa lagi diandalkan
Saat itulah Tuhan
Datang padamu dengan sebuah tawaran:
Ketenangan
Yang hanya bisa kau beli dengan kerinduan.
Wherever you are in the world, i’ll search for you
Beirut, 20 Agustus 2018
Friday, 3 August 2018
Luka Bakar di Punggungnya
Air mata mengalir begitu saja. Beragam memori tentang sekolah, peribadatan, dan kekecewaan raut wajah kerabat dekat membuat telinga ini tuli dari canda tawa kawan-kawan yang asik selfie di belakangku.
Saat itu aku memandang jauh kebawah. “Disini, aku berdiri di batas hidup dan mati.” Batinku. “Disini, adalah pilihan yang pasti jika aku ingin mengakhiri semuanya.” Angin begitu kencang menerpaku dari bawah.
Tuesday, 24 July 2018
Merindu Bersama Iblis
Senja berubah malam begitu cepat. Begitu menatap langit, bulan sabit sudah melayang dalam kegelapan. Tak ada bintang kecuali satu. Setidaknya hanya itu yang bisa Iblis lihat.
Angin berhembus. Mengancurkan kelopak bunga yang hangus itu. Iblis hanya menatapnya membisu. Tak satupun fenomena alam yang terjadi sekitarnya membuat tubuh merah itu bergeming. Ia bagai batu hasil pahatan Tuhan yang tak dipamerkan. Dibiarkan berdebu di gudang semesta. Satu-satunya suara adalah sepi. Satu-satunya cahaya adalah amarah yang membara.
Saturday, 17 March 2018
Meminta Manja
Agar tak sempat waktu
Mengenalkan kebencian
Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Kata-Mu hidup ini fana
Sayang sekali jika tidak bahagia
Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Agar akal dapat belajar
Dengan jujur adil dan tenang
Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Karena nyatanya perkara hati belum bisa kita taklukkan
Dan pembolak-balik hati, katanya itu Kamu, Tuhan
Tuhan, sibukkan hatiku dengan cinta
Bersihkan rumah-Mu
Dari kami manusia, yang tak tahu diri ketika bertamu
Musyarofie, malam minggu
Monday, 12 March 2018
Harmoncuk
Malam ini mendengkur. Kawan-kawanku tertidur. Dan aku tertimpa kerinduan. Karya-karya para maestro kata dan cerita, mengaduk malamku yang membuat kantuk tak tenang dan pergi.
Rindu ini, bukan atas sesuatu yang hilang, tapi hal yang justru belum pernah datang.
Apa yang pernah temanku bilang, masih terus terngiang sampai detik ini. "Mat, kita adalah tawanan keinginan".
Friday, 2 March 2018
Keluh Jiwa yang Kecil
Gugup dan geram penyebabnya
Karya adalah anak tanpa malam pertama
Ungkapan rasa yang berbahaya
Hak cipta memasung sastra
Mengikis ruang gerak pesan yang bercita-cita
Apa masalahnya?
Peradaban mendukung perubahan lewat rekening BCA
Tak lagi ada gelora
Sebab semangat dan rasa
Kini terhitung dalam lembaran uang semata
Kita tak lagi mengenal ketulusan yang menghina
Menghina perendahan, pemerkosaan, dan ke-congkak-an penjajah budaya
Puisi kita tak lagi sanggup untuk dibaca
Buku hanyalah nama x harga pasar di Gramedia.
__________
Entah kapan
Monday, 19 February 2018
Luka Mimpi
Pasung keinginan, begitu aku terus memujinya. Pujian yang lahir dari tumpukan kutukan.
Aku ingin begini, aku ingin begitu, bernyanyi seperti lagu pembuka anime Doraemon.
Sunday, 18 February 2018
The Bohemian, and The Money
Malam akhir pekan ini bangku-bangku banyak yang kosong. Sebabnya adalah musim dingin. Orang-orang lebih suka dikelonin.
Duduk sendirian di bawah temaram lampu bohlam; agak hangat setelah menenggak segelas anggur. Beban pikiran membuatnya tertunduk sejak awal.
Thursday, 15 February 2018
Valentine-ku
Dulu pernah ada tantangan. Waktu masih menjadi calon kadet wartawan, untuk menulis tentang sosok ibu. Untuk membuat pembacanya, merasa kurang membalas kebaikan ibunya; membuat yang baca ingin menelepon ibunya; membuat mereka yang merantau mendadak galau dan nangis mengingat ibunya; dan seterusnya, dan seterusnya.
Aku lupa sudah apa yang kutulis. Tapi, kami (aku tak sendirian) gagal, itu yang kuingat. Gagal maksudnya redaktur tak puas.
Bos meminta kita menulis sesuatu yang memantik rasa. Bukan deskripsi tentang ibu sedang apa, dia suka apa, dia bagaimana. “Cukup satu kalimat atau paragraf yang buat pembaca menyadari hal besar dalam sosok ibu, lewat hal-hal unnoticed darinya.” Begitulah kura-kura.
Kemarin, ketika kelas lagi-lagi gagal menjaga pikiranku, aku ingat ibu dan menulis:
Aku duduk di samping-mu. Lalu merebahkan kepalaku di pangkuan-mu yang sedang menonton TV. Saat itu, dan hanya saat itu, aku benar-benar berkata: Persetan kau dunia.
Untuk Valentine-ku, ibu.
__________
Kamis Pagi, 15 Feb
Sunday, 11 February 2018
Habis Baca Dilan: Sebuah Nonsense
Foto: Bedah buku “Dialog 100” oleh komunitas Jakatarub di Univ. Parahyangan, Bandung (sekitaran 2014). Buku yang bercerita tentang 100 kisah nyata toleransi. Benar-benar tidak ada hubungannya dengan tulisan ini. Kecuali keberadaan Pidi Baiq sebagai pembedah buku saat itu.[/caption]Kawan saya si Syam-Menyeduh baru saja memposting curhatannya. Ia baru baca Dilan-nya Pidi Baiq di tengah pusaran angin topan ujian yang tak tahu diri dan maha tidak penting. Yah, saya pun baca, itu Dilan. Dapet linknya dari dia. Dan, inilah yang aku pikirkan.
///
Kisah-kisah Dilan dan Milea yang diolah jadi novel oleh Pidi Baiq membuatku tersadar, bahwa masa lalu yang diingat, punya caranya sendiri untuk membuat kita belajar sesuatu sambil tertawa dan geleng-geleng kepala; bahkan ketika pelajaran itu nyatanya pahit!
Tuesday, 6 February 2018
Sebelah Mata: Mabuk Konflik
Dulu Indonesia seperti orang setengah tidur, sehingga setetes air cukup membuatnya melompat kaget.
Jokowi harus berterima kasih pada estafet pemerintah sebelumnya. Dosa mereka membuatnya terlihat suci hanya dengan sedikit gaya, visi, dan cara kerja yang berbeda.
Dan masyarakat harus lebih waspada. Sebab sakit hati terhadap pendahulu bisa membuat kita jatuh cinta pada sosok baru yang bertentangan. Kita harus sadar bahwa hubungan rakyat dengan pemerintah layaknya pelayan dan majikan. Bukan pacaran.
Thursday, 21 December 2017
Pelajaran dari Pengalaman Magang di DPR: Kembali kepada Diri Sendiri
the absolute freedom
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
Setiap perpisahan selalu diwarnai dengan keraguan atau keyakinan. Antara kemungkinan dan kepastian. Apakah jumpa atau dadah selamanya. Antar...
-
Sejak manusia kuno menggambar perburuannya di goa, para penulis berusaha merekam pengalaman diri--fisik atau jiwa--lewat karya. Ada yang sek...