Showing posts with label per-anu-an. Show all posts
Showing posts with label per-anu-an. Show all posts

Thursday, 15 February 2018

Valentine-ku

The most beautiful word on the lips of mankind is the word “Mother,” and the most beautiful call is the call of “My mother.” (Lalu deskripsi menggunakan seisi dunia tentang sosok ibu) –Khalil Gibran

Dulu pernah ada tantangan. Waktu masih menjadi calon kadet wartawan, untuk menulis tentang sosok ibu. Untuk membuat pembacanya, merasa kurang membalas kebaikan ibunya; membuat yang baca ingin menelepon ibunya; membuat mereka yang merantau mendadak galau dan nangis mengingat ibunya; dan seterusnya, dan seterusnya.

Aku lupa sudah apa yang kutulis. Tapi, kami (aku tak sendirian) gagal, itu yang kuingat. Gagal maksudnya redaktur tak puas.

Bos meminta kita menulis sesuatu yang memantik rasa. Bukan deskripsi tentang ibu sedang apa, dia suka apa, dia bagaimana. “Cukup satu kalimat atau paragraf yang buat pembaca menyadari hal besar dalam sosok ibu, lewat hal-hal unnoticed darinya.” Begitulah kura-kura.

Kemarin, ketika kelas lagi-lagi gagal menjaga pikiranku, aku ingat ibu dan menulis:

Aku duduk di samping-mu. Lalu merebahkan kepalaku di pangkuan-mu yang sedang menonton TV. Saat itu, dan hanya saat itu, aku benar-benar berkata: Persetan kau dunia.

Untuk Valentine-ku, ibu.

__________

Kamis Pagi, 15 Feb

Saturday, 13 January 2018

A Tribute for Nella Kharisma

Mendekat, dan berbisiklah di telingaku
Bawa aku kembali ke masa itu
Cerita tentang senja
Tentang taman dan tikar
Cahaya yang sederhana
Menghangatkan hati kita dengan tawa

Berbisiklah, di telingaku
Padamkan api ini
Damaikan ego yang cemburu
Dengan kabar, dan pertanyaan basa-basi
Yang menggelitik
Yang buat aku ingin mengkritik

Berbisiklah, di telingaku
Dengan nafas-nafas pendek
Yang hangat dan penuh hasrat
Yang memberatkan hati
Dengan ambisi dan mimpi

Berbisiklah, di telingaku
Dengan kalimat yang tak sempurna
Terpotong tangis yang sedu
Dengan air mata yang bermuara
Dan membasahi hatiku

Berbisiklah, di telingaku
Rangkul aku
Dan kita ikuti irama itu
Di bawah cahaya biru
Katakan di telingaku
Dam dudi dam aku padamu.

Sunday, 28 May 2017

Antara tahu dan tidak tahu

Teringat sebuah malam di kamar berisi empat orang. Kami bertiga perokok, satu toleran sama rokok. Maksudnya bukan dari aktifis anti-rokok yang bakal bangunin teman perokoknya dengan ceramah dari mulai isu kesehatan, ekonomi, sampai agama.

Biasanya aku tegas mengambil garis perokok dan non-perokok. Penganut mazhab kondisionalis memang harus tunduk pada situasi kondisi. Bukan semau hati atau seenak akal.

Malam itu, posisi duduk, hawa, dan jiwa lagi asik menikmati satu film. Sebuah karya yang bikin mulut tak kuat pingin hisap rokok. Bagi kami para perokok, menghisap lintingan tembakau tidak melulu soal candu. Tapi sering kali soal perasaan, momen, atau bahkan penghambaan.

Friday, 3 February 2017

Prematur Cinta

Apa yang kita tahu soal cinta selain pengorbanan dan kelemahan?

Jatuh cinta menjadi sebuah kebodohan yang perlahan disadari korbannya. Setidaknya itulah yang kita dapatkan dari beragam pengalaman yang terdengar dan terlihat.

“Dalam cinta terdapat hasrat, sedangkan persahabatan hanya mengenal kedamaian”

Thursday, 19 January 2017

Merokok adalah Berpuisi

Tulisan tentang penggusuran tak harus ditulis di tkp, bisa aja di angkot pas pulangnya. Begitu juga tulisan tentang gejolak rindu perokok, belum tentu ditulis saat merokok, belum tentu dia perokok, juga belum tentu dihujam rindu!

Sendu itu ketika perokok sendirian di pinggir jalan atau balkon asrama. Tengah malam mengolah rasa menjadi karya. Namun, ditengah tengah malam menjepit rokok di bibirnya tanpa korek yang sanggup menyala. Semua tidur, dan tak ada yang bisa digunakan mengganti api.

Panjang Umur Nasi Goreng

Seorang Kanada pernah berkata bahwa Indonesia lebih bebas daripada negara sekaliber Amerika. Eksistensi kita dipinggir jalan dengan modal dan ijasah pas-pasan cukup untuk menghidupi keluarga.

Kita bisa menyebrang dimanapun diinginkan. Merokok dimanapun. Dan olah tanah jadi apapun asal mampu.

Ini warna negara yang mau saya bilang terbaik atau tidak, nyatanya cuma soal lebih terbiasa atau tidak.

Nama Seorang Tas

Setelah dua tahun berpisah, akhirnya dua sahabat bertemu kembali.

Di satu kamar yang sesak oleh asap rokok:

“Gue kenal kayaknya tas itu”, temannya yang baru pulang merantau tak mengganti tas selama tiga tahun. Dan dia ingat itu.

“Oiya? Siapa namanya bro?”

“Asep”, becandaan itu diladeni.

“Bukan bego. Gausah sok kenal. Namanya Nuh”

Selinting Persahabatan

Untuk apa merokok?

Itu pertanyaan lucu buatku. Karena ketimbang menjawabnya, aku selalu tertawa.

Untuk apa keliling pasar ber-ac untuk memilih warna dan merk pakaian? Untuk apa bercermin lama-lama? Untuk apa menghabiskan uang banyak makan di warung ber-ac ketika ibu juga memasak? Untuk apa memasang alarm tengah malam untuk kuota malam? Untuk apa membeli waktu berlari di atas mesin ketika bisa berlari di lapangan atau komplek sekitar? Untuk apa bermain game ketika berbincang dengan sesama lebih berkesan?

the absolute freedom

i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...