Showing posts with label kisah. Show all posts
Showing posts with label kisah. Show all posts

Sunday, 6 August 2023

Yusuf dan Wanita Tua

Legenda mengatakan bahwa ketika Yusuf sedang dilelanh di Mesir, semua orang memberi tawaran yang sangat tinggi untuk membeli wajah tampan itu. Mengenai kisah ini, Fariduddin Aththar dalam bukunya, Manthiqut-thair, menceritakan keberadaan wanita tua dalam kerumunan pembeli yang cukup menarik untuk disimak:
Seorang wanita tua yang keriput dalam kerumunan:
"Hei, biar aku yang membeli pria sombong ini!"
Dengan berteriak dia berbicara para makelar itu
sementara tangannya memegang benang.
"Tubuh dan ketampanannya membuatku gila
lihat semua benang di gelondongan yang telah kugulung!
Ambillah sebagai pembayaran dan juallah dia padaku.
Dan letakkan tangannya pada tanganku, dengan lembut!"
Pedagang itu tersenyum dan berkata, "Orang bodoh,
aku telah mendapat penawaran bernilai ratusan kali;
mutiara diantara segala permata ini bukan untukmu.
Wanita tua, apa yang bisa kulakukan dengan benangmu?"
"Aku tahu aku tidak akan memperoleh karunia ini,
tapi kawan dan lawan akan membuatku senang
mengatakan pada dunia, meskipun dengan malu-malu,
setidaknya dia tidak takut berusaha!"
Dalam syair lain dari Hubba, penyair wanita Turki, wanita tua ini kembali muncul:
Setiap orang memberikan apa pun yang dimilikinya
Karena dia ingin ikut berbagi nasib.
Kamu dan wanita tua itu sama dalam hal ini:
Apa yang ditawarkannya untuk kebahagiaan Yusuf?
Dia datang dengan dua tangan penuh benang
Dengan harapan dapat membeli wajah tampan itu.

Thursday, 22 March 2018

Kamu tidak tahu apa yang kamu baca

Aku pernah dimarahi seorang kawan karena hidup terlalu dibuat seperti mimpi. “Realistis dong!” katanya. Aku terlalu asik merangkai ide yang tak pernah jelas langkah dan arahnya. Buat ini buat itu.

Dalam kisah lain, kawanku menasehati yang lagi-lagi kukutip disini, “Kita ini budak keinginan mat,” bijaksana sekali.

///

Tadi sore di kelas, teman asal Somalia mengernyitkan matanya—seperti ada yang mengganjal, akalnya sedang mendidih.

Saat itu, kelas hukum Islam. Dosen menjelaskan persoalan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan berdasarkan apa yang diperintahkan agama—dari satu prespektif ulama tentunya. Kita sedang membahas hukum-hukum yang berkaitan dengan solat.

Menurut mazhab ini, sujud harus di atas tanah, jika tidak mungkin, baru keluar pengecualin-pengecualian sampai yang terakhir adalah sujud di atas punggung tangan. Seorang bertanya, “Gimana kalau kita punya anak, dan batu yang dibuat sujud itu diambilnya ketika kita sedang solat?”. Dosen menjawab, “Batalkan solatnya dan ambil batunya. Jika anak kita mungkin akan mengambilnya lagi, pegang di tangan selama solat dan letakkan ketika hendak sujud, lalu begitu sampai selesai.”

Kawan Somalia ini heran mendengarnya. Kenapa Tuhan sebegitu kekeuh dalam menekankan keinginannya pada manusia. Baginya, ini hanya masalah sujud yang simbolik. Menyembah-Nya pastilah perkara yang lebih dari sekedar syarat-syarat simbolik. Kenapa tidak dibiarkan saja dan lanjutkan solat? Lalu kenapa begitu banyak syarat yang begitu paten sehingga tidak mengikutinya adalah tidak sahnya sebuah solat? Tuhan, apakah hatiku tidak lebih berarti bagi-Mu dari tubuh lemah ini? Begitulah yang dia curhatkan padaku.

Aku berpikir sejenak.

Kemarin, aku terbang ke alam ide bermain roman dengan para penulis kiri dari Amerika Latin. Aku mendapatkan satu hal: menulis adalah cara hidup bercinta dengan ruang dan waktu. Ada penulis yang bahkan mengatakan, “Menulis adalah bagian dari kehidupan, bahkan bagiku, bagian terpenting dari kehidupan.”

Menulis adalah romansa kehidupan dengan ruang dan waktu. Mereka yang menuliskan kisahnya, kisah orang lain, kisah fiktif, semuanya tak lepas dari pemandangan saat ini. Waktu sekarang—kehidupan, aku menyebutnya, adalah inspirasi atau faktor yang membuat penulis menulis. Mereka hidup di zamannya dan menyaksikan sesuatu, baik di dalam maupun luar dirinya. Lalu memutuskan untuk mengabadikannya lewat harapan yang belum terjadi, atau memori sebagai pengingat, atau sekedar membingkan waktu-nya saat itu agar mereka yang se-waktu dapat melihat dalam prespektif yang diharapkan sang penulis. Ia membuat batas-batas ruang dan waktunya sendiri ketika di saat bersamaan memuja ruang dan waktu-nya ketika menulis—lewat kata-kata.

The Creation of Adam by Michelangelo sebagai represntasi visual paling jos yang ada dibenak gue


Apa yang disaksikan dan dirasakan seakan  sayang sekali jika dilewatkan. Siapapun, harus melihatnya juga, kapanpun, dimanapun. Baik itu pengalaman waktu dan tempat yang buruk apalagi menggembirakan, penulis tak rela jika manusia tak juga menyadari pengalamannya. Ia akan membagikannya dengan gairah dan tulus dalam bentuk lembaran yang diperjual-belikan agar momen, tetap abadi.

Kata-kata bagaikan sang kekasih yang dipuja.

Penulis dan kata-nya adalah dua wujud yang terpisah dan berbeda. Namun kebersandingan keduanya adalah mutlak. Mereka tak bisa dipahami tanpa satu sama lain. Dan menulis sebagai pekerjaan, aksi, adalah rahim bagi keduanya.

Jika ada hipotesis sains yang mengatakan bahwa energi itu bisa disebut Tuhan yang menggerakkan dan menjadi satu-satunya alasan unsur di jagat ini berkontemplasi menjadi sesuatu yang beragam, maka menulis, yang menjadikan manusia penulis, dan kekosongan menjadi kata, maka menulis juga Tuhan itu sendiri.

///

Kufu. Dalam bahasa Arab, artinya perbandingan. Istilah ini aku kenal ketika kawan yang marah di awal tulisan, mengigngat betapa tidak tahu dirinya kita berharap jadi pacar selebgram.

Katanya, agama menyarankan kita mencari pasangan yang satu kufu, sebanding. Dalam artian satu kasta, satu lingkungan, satu digit rekening bank. Tepat sasaran sekali ini saran.

Kecocokan latar belakang memang kalau dipikir-pikir itu jadi pemoles lancarnya suatu hubungan. Karena jika yang dicari perbedaan pun, satu rumah saja sudah pasti beda manusianya. Jadi yang penting wadahnya sama dulu, isinya apa, tak masalah. Biar kali disejajarkan, terlihat serasi dan cocok. Dan perbedaan warna isi justru jadi penghias yang cantik. Walau tentu saja, kembali ke hukum alam, tidak ada yang tidak mungkin. Ini tidak mutlak, tapi, ya begitulah kura-kura.

Jatuh cinta yang absurd itu, yang tak kita pahami apa maksudnya dan kemana jalannya, memang menyulitkan. Apalagi ketika kita hati terlanjur dipinang oleh orang yang beda kufu. Entah apapun sisi apa dari diri sang kekasih yang bikin kita gegap-gempita.

Sebab kita ingin, namun tak bisa—atau setidaknya sangat sulit. Bisa jadi ini karena kebanyakan noonton film, khususnya India. Yang perjuangan melawan batas adalah bukti kecintaan. Padahal, berjuang pun tak sesempit melawan komunitas, kan?

Pokoknya ya begitulah. Aku mau berpuisi saja.

Alfabet-ku hanya memiliki dua enam huruf
Aku selalu menggambar dunia dengannya
Berlagk seperti Tuhan
Sekarang, kutahu Ia cemburu
Sebab dua enam jumlah itu
Tak lagi berguna
Tangan kini dipasung hati
Hanya lima huruf yang terlihat mataku
Nama-mu yang terus mengejar nadiku

///

Aku tak biasa dengan sistem. Jadi biarkan setiap kata ini bercerita semaunya. Sahut-menyahut dengan kata sebelum, dan setelahnya. Sesuka hati. Bagai hidup ini yang tak pasti.

Thursday, 6 February 2014

Pangeran Persia dan Putri Armenia (3, tamat)



Para penasehat pun langsung berkumpul dan memikirkan solusinya. Setelah mendapat ide, mereka langsung menyampaikannya pada raja yang juga langsung memanggil Farhad. “kami berjanji tidak akan mencampuri hubunganmu dengan Syirin dengan satu syarat.” Kata raja.
                Si arsitek muda spontan melompat kegirangan dan menangis bahagia. “apapun yang raja agung minta!”
                “kami butuh terowongan bukit Bistun agar bisa pergi ke sisi sebelah sana dengan lebih cepat dan efisien.”
                Selama bertahun-tahun bukit Bistun menjadi tantangan berat. Bukit batu granit yang keras tidak memungkinkan dilakukannya penggalian trowongan disana. Belum pernah ada seorang pun yang sanggup mengatasi kesulitan medan ini. Khusrau tersenyum sendiri, setelah proyek ini dimulai, Farhad tidak mungkin bisa kembali lagi.

Saturday, 1 February 2014

Pangeran Persia dan Putri Armenia (2)


Dalam waktu singkat setelah mengenal Syirin, sebelum wafatnya, raja Hurmuz merasa senang dengan kecerdasan dan humor Syirin yang hidup, Syirin pun menikmati persahabatan dan perlindungan seorang ayah. Pasca wafatnya raja, Syirin makin kesepian. Pelayan-pelaya Khusrau yang dikirim ke rumah Syirin kurang bersahabat. Mereka yang pernah diolok-olok pangeran memandang Syirin rendah karena berbikir bahwa pangeran akan jatuh cinta padanya. Dibakar rasa cemburu mereka mulai berulah. Kadang-kadang dengan air mandi yang terlalu panas atau dingin, baju yang ‘tak sengaja’ dirobek, bahkan sampai bangkai di makanannya. Meskipun Syirin tidak curiga dan menganggapnya besar, tapi hari-harinya mulai hancur. Perlahan ia mulai merindukan negrinya.
                Akhirnya Syirin menyesali keputusannya lari dari rumah. Ia merasa bersalah pada bibinya. Baginya, tidak ada alasan untuk tetap tinggal di Persia. Apalagi dengan ketiadaan sang Pangeran. Maka dia berjanji pada diri sendiri untuk tidak lari lagi dari negrinya, dan ketika Syapur datang menjemputnya, ia sudah lebih dari siap.

Friday, 31 January 2014

Cak Noris, Kucing, dan Tuhan

Dalam dunia meme internasional, chuck noris adalah salah satu icon yang paling digemari. Entah apa yang ditawarkannya, tapi yang jelas ia menjadi salah satu pelawak sukses abad ini. Semoga kebaikannya dalam menghibur dan melepas penak orang-orang mendapat ganjaran setimpal.

Malam yang cerah. Seorang sahabat mempromosikan warung nasi kesukaannya. Disamping harga terjangkau dan rasa yang mengalahkan kedai junk food , tempat yang unik dan cara pemesanannya yang jarang memang anti-mainstream. Cocok dengan karakter kami, hehe.

Kami duduk diteras depan bank yang sudah tutup sejak sore. Halaman parkir dan teras bank ini memang menjadi area makan yang di sajikan pemilik warung. Kami duduk. Setelah membicarakan makanan dan warung tersebut, seekor kucing datang. Dengan tatapan melas-nya, doi me-ngeong seakan meminta dikasihani. Memang itu tujuannya; makanan. Dalam benak tidak langsung kuptuskan untuk membaginya sedikit ayamku. Namun setelah berpikir yang agak berlebihan aku mulai memotong sedikit ayamku untuknya. Belum selesai, dari sebelah sudah dilempar sepotong daging yang langsung disantap oleh si kucing. Sahabatku mendahuluiku. Nah, puas? Makan yang zen sono. Batinku mengoceh. Tidak lama si kucing balik lagi. Wahh, kalo begini, dikasih ntar balik lagi, gak beres-beres akhirotu. Mau ngusir gak tega, kan gue bukan zionis. Batinku ngomel. Tidak sampai keputusan untuk membagi daging ayam kubuat, dari sebelah sudah dilempar daging ayam lagi. Sampai sini aku mulai berpikir. Seakan Tuhan memberiku shock- teraphy, aku tersadar. Beginilah aku dan kami. Aku yang secara tidak langsung mengatai si kucing “tidak tahu diri” jelas tidak berbeda dengannya. Muncul gambaran dalam benakku bagaimana aku, dan makhluk Tuhan yang lain terus meminta yang kami butuhkan dan inginkan dan terus meminta lagi walaupun sudah dipenuhi-Nya. Dan seperti kejadian tadi pula, tanpa “pikir panjang” Tuhan mengabulkannya lagi. Dan terus seperti itu sampai akhirnya kita tidak bisa meminta apa-apa lagi. Tamat. Maksudnya bukan Tuhan tidak bisa memberi lagi, tapi sudah bukan waktu dan tempat kita untuk meminta sesuatu dari Tuhan.

Sambil tersenyum menyadari kesamaanku dengan si kucing, aku menyesal. Bertekad untuk tidak lagi mengabaikan permintaan siapapun selama aku mampu, bahkan untuk seekor kucing sekalipun. Terima kasih kucing. Aku menunggu si kucing menghabiskan daging yang kedua agar aku dapat membalas yang tadi. Tapi si kucing malah pergi dengan daging keduanya. Hahaha, makin keras aku tersenyum. Mungkin ini teguran, pikirku. Agar kita tidak membuang kesempatan yang datang terus menerus. Tapi Tuhan tetap Tuhan, ia utus kembali si kucing tepat saat nasiku habis dengan ayam yang masih banyak dan sahabatku kehabisan jatahnya. Langsung kulempar sisa ayamku berharap si kucing memaafkanku. Baru ia dekati ayamku ia langsung pergi. Makin keras senyumku yang mulai tertawa. Tuh kan, ini teguran. Hahaha, terima kasih kucing. Terima kasih Tuhan. Dengan cepat sang kucing kembali, menggigit ayam dan lari pergi.

Disini dingin...
Malang, 8 Januari 2014

Thursday, 30 January 2014

Pangeran Persia dan Putri Armenia (1)


Khusrau dan Syirin

Alkisah, ada seorang pangeran persia bernama Khusrau. Ia memiliki saudara sepupu bernama Syapur. Suatu hari Syapur bercerita tentang sorang putri Armenia yang pernah dilihatnya. Khusrau sedemikian tergugah dan tertarik dengan penuturan memikat tentang putri itu sehingga ia pun jatuh cinta hanya dengan membayangkannya. Malahan, Syapur pun heran dengan gambaran yang dituturkannya. Tampaknya mustahil kalau ia telah mengemukakan gambaran demikian.
Disebrang sana, Syirin tidak tahu soal kisah penggemarnya yang dimabuk cinta. Ia pun tak akan peduli jika ia mengetahuinya. Pikirannya terlalu bebas untuk diusik oleh urusan pernikahan dan asmara semacam itu. Barangkali, semangat bebasnya inilah yang membuatnya begitu menarik. Ia dibesarkan sebagai satu-satunya pewaris tahta Armenia. Bibinya, Mahin, sang Ratu Agung tidak punya anak. Karenanya, Syirin pun diangkat sebagai penggantinya. Hal ini membuatnya harus mempelajari hal-hal yang tak lazim bagi sorang gadis, seperti berkuda, berburu, dan berbagai keterampilan kaum pria lainnya.

the absolute freedom

i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...