Showing posts with label kelakar. Show all posts
Showing posts with label kelakar. Show all posts

Sunday, 6 August 2023

Setangkai Kenangan

Di pelataran cinta kutancapkan setangkai kenangan. Rumput yang bergoyang santai sudah kaku membeku. Bisa apa? Realitas meruntuhkan topeng kekasih di dalam dada.

Sebuah kisah penuh suka cita adalah halusinasi yang diperjual belikan rumah produksi. Seperti muka yang lebih jadi iklan ketimbang barang pribadi. Di tangan mereka, air mata pun sebatas hiburan saja.

Gang-gang basah menggenang harapan yang sebenarnya. Bukan kesuksesan dan kerajaan, sekedar kebaikan sederhana di simpang jalan.

Kakek bersurban mengingatkanku pada aksi yang terbuang. Oleh dilema yang terlena memakan waktu mencari identitas di alam hayal. Sibuk berpikir dan berjalan dengan slogan pencarian.

Apa sebenarnya yang dicari? Sebuah ketenangan yang tak bisa kita bagi.

Berbagi. Kata yang tak lagi terucap juga tak terlihat.

Ungkapan muak dan amarah bukanlah niat untuk berbagi. Lagi-lagi sebuah ketenangan yang memabukkan.

Syair-syair itu dilemparkan ke tong sampah tatkala mata dirabunkan dari tangan teman kita.
Mawar itu kini terbakar. Oleh sinar mentari sebab air mata tak melindunginya lagi.

Tuesday, 4 July 2023

international women's day?

Dalam keseharian kita mengenal tragedi pelecehan dan perendahan. Tak dinyana, inilah dunia yang dihasilkannya: penuh dendam, haus akan kompetisi, tak akan merasa cukup atas apa yang dimiliki. Perang berkecamuk bagai hilir mudik pelanggan Jumat Hitam. Sementara jiwa yang lembut meringkuk, menghindari udara yang mencekik, berlindung di balik bayang-bayang ibu-nya.

Sosok wanita, tanpa perlu dikenal akan selalu menopang apapun yang akhirnya kita kenal. Dalam puncak tahtanya sebagai ibu, "Bagaimana bisa, wahai ibu, aku menjadi ayah namun tak pernah dewasa," seru Nizar dalam suratnya. Wanita itu, hanya dengan keberadaannya yang jauh, mampu membuat rokok-pun membosankan bagi sang pujangga.

Mendengar Nizar, Qais mengganti nama, lalu pergi ke hutan meratapi kegagalannya menjadi waras. Baginya, ia adalah pecundang yang bahkan gagal memahami dalamnya makna ibu yang ia lihat dalam diri Layla. Layla berusaha menghiburnya namun terus diusir Majnun. Hanya kematian Layla yang mampu menarik Majnun dari kegilaannya, lalu merangkak memeluk batu nisan, dan mengundang malaikat kematian. "Bangkitkan aku dalam pengasingan dari dunia ini."

Nizami memerhatikan Majnun dari jauh, dan tertawa. Akhirnya ia belajar, bahwa meski semua cerita disampaikan dari lisan Majnun, namun intinya adalah Layla. Maka ia taruh nama wanita mendahului nama pria. Karena memang begitu adanya.

Wanita-wanita tidak menjadikan cv sebagai riwayat hidupnya, di atas sejarah kemanusiaan-lah mereka meninggalkan jejak kakinya.

Terkutuklah jiwa yang lupa. Ia yang kehilangan kasih sayang wanita, mengalami patah tulang punggung yang parah. Jiwanya meronta bagai seorang anak di samping kuburan ibunya. Tak ada gagak yang mampu menandingi perih suara teriakkannya.

Ingatkan aku, tanpa menyebut nama Tuhan, bahwa wanitalah bumi ini; wanitalah senyum ini; wanitalah hati ini.

Thursday, 10 June 2021

Jika mereka peduli, lalu kau apa?

Di bawah terik bulan yang membakar hati kesepian

Gelapnya malam harusnya menyelimuti para penyair dengan hangatnya keterasingan

Namun pantulan sinar matahari yang ragu-ragu

Justru membuka ruang para serigala menerkam rasa sepi dengan tatapan yang buas

 

Kita adalah anak-anak waktu yang durhaka

Melawan takdir dan maju mundur

Dari masa depan ke masa lalu

Tanpa rasa malu

 

Kita adalah hamba-hamba yang memberontak

Di hadapan petunjuk yang jelas kita menulis ulang setiap aturan

Berasaskan prasangka, hitungan matematika, logika yang tak sempurna

Lalu kepada Sang Tuan kita menghadap

Berdiri, tidak berlutut

Memandang tajam ke depan, tidak menunduk

Berjabat tangan dengan tegas seakan semuanya setara

Rerumputan tertawa melihat tingkah yang tak ada kasta

Betapa setiap otak diracuni kesombongan zaman dan peradaban

 

Kita budak-budak nafsu yang cemburu

Kecemburuan yang menyelimuti dirinya dengan jubah rasa

Bahwa rasa adalah anugera dan sebuah petunjuk yang agung

Tidak perlu diragukan lagi

Namun apakah setiap orang memilikinya?

Juga tak perlu diragukan bahwa jawabannya tidak

Setiap rasa menuntun kita pada jalan halus kemurnian dan wewangian

Bukan ke medan perang dan tempat pembuangan kotoran

Kotoran manusia yaitu benci, serakah, dengki, dan kesombongan

 

Kita anak-anak bodoh yang menolak untuk keluar dari gubuk kecil kedunguan

Gubuk yang temboknya dianyam kata-kata manis para durjana

Durjana yang mengoreksi setiap ayat dari pesan Tuhan kepada Nabinya

Durjana yang memenggal kepala para pecinta dengan  hati yang indah

Durjana yang membungkam mulut-mulut penyair agar tak lagi menyanyikan Nama-Nya

Durjana yang memenjarakan manusia dalam lingkaran setan kebudayaan dan norma-norma tak berhati

Durjanana yang berdiri di atas mayat-mayat intelektual dengan panji kebenaran parsial di tangannya

Ah… habis kata-kataku dicuri para durjana

 

Tak lagi aku bias membaca keadaan yang makin runyam dan bising

Hilang sudah harapan sebuah negara yang harmonis tempat kijang makan dengan tenang di samping serigala

Hilang sudah masa depan anak bangsa

Apa yang disebut dosa kini sebuah rekreasi

Tempat mereka yang terasing dan dibuang mendapat peluk kasih sayang


Tuan, kalau boleh aku bertanya

Apakah dibenarkan, aku bersimpuh tanpa sepotong baju di tubuhku?

Sebab semua hak milikku dirampas mereka yang peduli padaku

Jika kepedulian mereka berwujud perampasan

Maka apa sebutan yang tepat bagi aksimu

Yang sejak awal memberikan semuanya?

 

//10/06/2021

Wednesday, 1 May 2019

debatable

Tuhan.

Menurut Karen Armstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan, Ia adalah fenomena atau konsep atau keyakinan yang diciptakan (atau ditemukan?) manusia sejak jaman pra sejarah untuk memahami kejadian-kejadian disekitarnya. Tuhan dalam berbagai bentuk dan namanya sudah diciptakan (atau dikenal?) oleh manusia meski Ia hadir sebagai kesimpulan semata; dalam arti, buah pikiran, bukan Ia yang secara eksistensi sudah ada dan dirasakan dalam bentuk aslinya sebelum diketahui namanya dan bentuknya atau sifa-sifatnya. Dan terlepas perbedaan prasangka nama dan bentuk Tuhan, semuanya menyatu dalam keyakinan (atau kesepakatan) yang sama: bahwa Ia lah awal, atau sebab (dari apapun itu yang sedang kita berusaha pahami).

Hal paling dasar yang membuat munculnya hipotesa-hipotesa berbeda, berkembang, saling tikam dan membunuh satu sama lain soal Tuhan adalah: keber-ada-annya yang tak dapat ditangkap lima indera kita. Sebab semua hal dalam alam materi atau fisik ini sudah atau bisa dinamai dan didefinisi berdasarkan kadarnya atau realitasnya sendiri. Batu adalah sekumpul tanah yang mengeras, air adalah benda cair bening dan membuat basah, angin adalah dorongan di ruang kosong dan cenderung dingin, kuda adalah sesuatu yang hidup berkaki empat terlihat ringan berlari dan bisa ditunggangi, manusia adalah hewan berakal atau kita, dst. Tak satupun komponen yang bisa ditangkap lima indera kita mungkin untuk disebut Tuhan. Sebab mereka sudah ada atau bisa didefinisikan sendiri berdasarkan kapasitasnya, yang ujung-ujungnya ketawan dan bisa disepakati, sama sekali tidak cocok dengan bayang-bayang Tuhan dalam benak manusia.

Namun kepastian yang diberikan Indera bahwa tak satupun di alam materi ini adalah Tuhan tidak membuat satupun peradaban manusia berhenti mengatakan Tuhan itu ada. Seperti yang gue katakan di atas, ide-ide tentang Tuhan terus bergerak, berkembang bahkan sampai tahap membunuh satu sama lain. Hei, perang “Atas Nama Tuhan” tak hanya terjadi di atas tanah dan berjilid-jilid menumpahkan darah. Perang yang sedang kita (termasuk saya) lakukan sekarang adalah yang paling sadis, tak tahu diri, tak kenal lelah, belum selesai, dan tak akan pernah selesai. Kita sedang bertempur di alam ide. Pertumpahan darah itu hanya pernak-pernik sejarah. Kita lah yang palling punya andil dalam terjadinya perang-perang fisik serupa sekarang atau di masa depan (kalau itu masih jadi trend. Semoga tidak).

///

Dalam membicarakan Tuhan, tidak adil jika gue langsung membahasnya begitu saja. Karena tak peduli sebanyak apapun referensi dan pembanding yang saya gunakan, ujung-ujungnya pasti jadi opini, atau, subjektif. Karena ya tadi itu, Tuhan tak dapat ditemukan Indera (atau tak memiliki keistimewaan material yang dapat didefinisikan, sebagaimana yang jadi objek penelitian sains). Jadi tak ada batas pastinya sehingga tak pernah bisa dibilang objektif. Dan menurut sudut pandang sains, tak bisa dibuktikan, atau hipotesa semata (opini yang terstruktur).

///

Dalam membicarakan Tuhan, baik untuk memahaminya atau membedah kepastian nasibnya, baik ingin membuka wacana baru apalagi membahas wacana yang sudah ada, tak bisa kita lewatkan begitu saja ide-ide yang sudah lahir tentang Tuhan.

Oke, kata Nietzsche Tuhan telah mati, atau yang kini lebih populer, “Tuhan sudah dibunuh”. Tapi ide tentangnya masih ada dan akan terus ada. Karena jika menulis itu untuk abadi (kata Pram), dengan cara menjadikan eksistensi kita nir-ruang dan waktu, maka selama Tuhan masih disebut dalam tesis-tesis dan thread kaskus, ia pun masih ada.

Tidak mengabaikan ide-ide soal Tuhan yang ada. Maksudnya begini, tak ada yang bisa membuktikan keberadaan Tuhan, sama juga tak ada yang bisa membuktikan ketidak beradaannya. Semua masih ngawang di tahap duga-duga, hipotesa. Dengan kata lain, keberadaan atau ketiadaan Tuhan masih pada tahap kemungkinan. Dan membahasnya dari segi apapun tak akan mengurangi atau menambahkan kadar kemungkinan itu sendiri.

Argumen di atas, dengan Cuma-Cuma akan dibantah oleh teolog Islam. Sebab bersandar pada logika sederhana (sebab-akibat), semesta yang super menawan dan teratur ini tak mungkin rasanya muncul begitu saja. Sebab itu harus ada pemulainya. Ia yang berdiri paling awal dan punya kemampuan setara untuk menciptakan dunia yang belum dipahami sains secara keseluruhan ini. Ia yang memulai tapi tak dimulai sebab jika ia dimulai maka akan terjadi rantai penciptaan yang tak berujung—hal yang sukar diterima akal. Logika sederhana ini menamakan Tuhan sebagai keberadaan yang wajib (ada). Tuhan dengan segala kedigdayaan, kesempurnaan, kemampuan, kecerdasan, dan keabsolutannya bisa dikatakan adalah konsekuensi logis atas keberadaan kita. Namun, bagaimanapun, seperti yang penulis katakan, logika ini masih tetap sebuah pemikiran. Yang pembuktiannya adalah susunan logika itu sendiri. Bukan Tuhan sebagai objek yang dapat dirujuk di luar kesimpulan pemikiran. Dengan itu, masih bisa dibilang hipotesa.

///

Seorang dengan sudut pandang materialis akan memandang kisah Muhammad yang hampir bunuh diri pada malam pertama wahyu adalah sebuah kewajaran manusiawi. Sunni pun begitu. Sebab kenyataan bahwa Muhammad adalah manusia seperti kita tak bisa dibantah. Dan berpegang pada fakta ini semata cukup bagi mereka memegang teguh kemungkinan benar kisah itu—selain karena termaktub dalam kitab-kitab terpenting dan terpercaya kepercayaannya.

Seorang yang mengamini Tuhan sampai Islam dan punya sudut pandang seperti syiah, akan melihat kisah itu sebagai sebuah propaganda sejarah. Sebab dalam tradisi Islam sejarah kenabian diwariskan secara turun temurun, dan dikumpulkan lalu diuji oleh para perawi perihal kebenarannya. Sebab dalam sejarah perpisahan pola pikir syiah dan sunni memang sarat dengan politik. Sehingga kabar tentang pemalsuan riwayat (sebagai bibit sejarah) adalah wajar. Sebagai syiah, secara umum, tidak mempercayai Muhammad yang kebingungan menerima wahyu. Muhammad adalah manusia, namun istimewa—khusus. Perbedaan fundamental dalam meletakkan Muhammad sebagai (ke)manusia(an) di antara manusia lainnya adalah salah satu ciri syiah dalam teologinya. Kesempurnaan Muhammad sebagai manusia termasuk bebas dari kesalahan-kesalahan manusiawi. Itu kata mereka.

Seorang yang tidak mempercayai Tuhan dengan sudut pandang materialis, menerima kabar itu tentu tidak berarti apa-apa. Bahkan bisa jadi akan menjadi dalil penguat akan ketidak percayaannya pada Tuhan. Sebab hal yang disebut bisikan Tuhan kepada Muhammad, tak lebih dari ucapan Muhammad ketika “gilanya” sedang kambuh. Islamofobia pun begitu. Juga para muslim yang punya agenda khusus akan mengamini kisah ini sebagai nyata dengan tujuan merendahakn Nabi umat Islam—golongan ini yang disebut propagandis oleh syiah.

Penulis bergelut dengan kegalauan dalam hal ini: sebab kisahnya sama, namun bisa diinterpretasikan berbeda dengan argumen-argumennya masing-masing yang tak kalah kuat, baik dengan tujuan negatif maupun positif.

Bagi saya, yang fakta adalah Muhammad di atas gunung, dalam gua itu. Apa yang dirasakan dan bagaimana Muhammad merespon pengalamannya memiliki banyak versi. Yang, meski kelihatannya hanya permasalahan kecil, namun setiap versi yang bertentangan ini menjadi sangat fundamen pada gilirannya.

Melihat fenomena penginterpretasian sejarah ini, saya melihat satu hal yang pasti di luar eksistensi Muhammad dalam sejarah: keyakinan menentukan sudut pandang.

Setiap sudut pandang punya klaim kebenarannya masing-masing yang tak bisa dibantah—kecuali ketika hasil dari sudut pandang itu diklaim sebagai gambaran keseluruhan. Rumi sudah menjelaskan ini dengan apik lewat analogi gajahnya.

Dilema ini menguat sampai pada tahap keraguan dalam membaca sejarah. Sebab versi yang hanya segitu-segitu saja sekarang sudah diwarnai oleh pembedahan-pembedahan akademis seiring perkembangan ilmu pengetahuan. Argumen-argumen setiap sudut pandang dalam mengklaim kebenaran kejadiannya makin keren dan sulit untuk dibantah begitu saja. Jika dulu satu-satunya sumber sejarah adalah riwayat, kini analisis sejarah yang sudah tertulis dan tercetak beribu-ribu judul itu seakan membuat perujukan ke sumber asli (setiap versi) adalah ketidak-dewasaan pembaca. Kenapa seakan? Karena sebenarnya metode konservatif itu adalah logis. Namun analisa sejarah yang membantu memahami kejadian lewat beragam aspek pendekatan berdasarkan kemampuan peradaban kekinian pun bertumpu pada logika-logika yang masuk akal.

Dalam menyikapinya sulit untuk menemukan jalan tengah apalagi mengambil satu jalan saja. Sebab itu adalah ketidak adilan sejak dalam berpikir.

Lesley Hazelton berkata “Doubt is essential to faith”, penulis ingin merubahnya sedikit dalam konteks ini: faith is essential to read. Keyakinan/kepercayaan (baca: sudut pandang) sangat penting dalam membaca.

Memahami ini pun belum membantu kita untuk membaca dan menemukan kebenaran. Karena meskipun kita memutuskan untuk membaca semuanya yang ada—semua dengan segala sudut pandang yang ditawarkan dan argumen-argumennya—bagaimanapun, versi-versi berbeda tak akan muncul jika apa yang ingin diceritakan adalah kejadian dan pengalaman yang sama. Mereka sudah berbeda sejak kandungan.

Dalam pembahasan sunni dan syiah pun menjadi sangat rancu untuk mengatakan bahwa satu benar dan yang kedua hasil manipulasi. Sebab penghukuman itu lahir dari satu sudut pandang untuk melihat sudut pandang yang lainnya.

Beginilah jadinya jika ingin memahami Manusia—yang kompleks. Bahkan untuk sekedar membaca satu kejadiannya saja.

///

Mungkin, alternatif mendatangi Tuhan sebagai objek untuk membuktikannya adalah dengan ‘mengalami-Nya’. Mengalaminya dalam artian merasakan efek langsung dari keberadaan sebuah kesadaran dan keinginan diluar alam materi. Divine conciousness.

Sebagai contoh, sebuah interaksi non-verbal yang tak kita sangka-sangka akan mendapat respon entah dari mana, yang juga non-verbal.

Sebuah kisah sederhana dari teman saya, yang menderita insomnia selama setahun penuh tanpa ia berhasil ketahui sebabnya. Awalnya ia merasa pada puncak keimanannya sampai satu saat merasa sombong dengan membatin: cobaan seperti apapun, aku pasti kuat.

Bagai ketimpa durian montok langsung tidak berselang cukup lama cobaan itu datang. Ia tak bisa tidur sama sekali. Harus nunggu tubuh sangat lelah bukan pada waktunya yang membuat tidur jadi terpaksa dan setengah hati. Semua itu membuatnya frustasi sebab segala cara yang mungkin ditempuh untuk melawan insomnia ini sudah ditempuh, dan tak menghasilkan apa-apa. Akihrnya, ia menyerah untuk berusaha dan meredam emosinya yang sudah memuncak dan tak terkontrol akibat usaha yang tak membuahkan hasil, lalu berpaling pada Tuhan dan memohon bantuan dengan kesadarannya yang pasrah. Tak lama, jadwal tidurnya kembali normal—juga tanpa sebab yang ia usahakan sendiri.

Mungkin dengan asumsi bahwa Tuhan sering hadir dengan kondisi-kondisi serupa, untuk menyadarinya itu bukan perkara yang cukup remeh. Perlu sebuah kerendahan hati bahwa kita berada di bawah entitas yang jauh lebih tinggi dan pada hakikatnya, tak punya kuasa apapun. Baru saat itu, campur tangan Tuhan dalam sejarah kita bisa terlihat dengan jelas dan diingat sebagai pengalaman langsung berinteraksi dengan Tuhan.

Kerelaan. Di situ kata kuncinya.

 

Pdf Sejarah Tuhan di internet cuma setengah


April 2018

Monday, 24 December 2018

Tsunami dan Hari Ibu

Dua jam sudah sore ini aku memilah pilihan toko kue untuk memesan hadiah di hari ibu. Aku ingin kirimkan kejutan padanya dan tante-tanteku. Mereka sedang reuni di rumah paman di Jakarta. Sampai aku memutuskan untuk mengirimkannya besok, karena uang top-up di aplikasi prabayarnya baru bisa diisi nanti malam oleh kawanku. Dan itu sudah sangat terlambat untuk mengirim kue hari ini. Kelewat malam. Yasudah. Kubiarian kejutan ini telat sehari.

Sekarang tengah malam. Aku sedang menunaikan ibadah movie night bersama kawan, datang kabar yang bikin hati tak enak. Tsunami terjadi di pantai Anyer, Banten. Satu provinsi sebelah Jakarta. Jam 9 malam waktu Indonesia barat tadi -- tepat satu jam setelah aku memutuskan untuk menunda pengiriman kue. Aku masih belum tahu berapa yang mati, apalagi siapa. Dan tentunya aku bisa yakin, tak ada satupun orang yang kukenal di sana. Tapi sebagai ekspat beribu kilometer jauhnya dari tanah air, caraku memandang warga negara sendiri agak berbeda. Karena sekarang aku hanya bisa melihat ibu pertiwi dari jauh seperti melihat sebuah kumpulan pulau -- yang diberi nama sama: Indonesia. Tak ada orang yang terlihat, meski kenyataannya, setiap pulau punya warna kulit dan betuk wajah masing-masing.

Kami hanya bisa melihat Indonesia dari luar, sebagai sebuah negara kepulauan yang besar. Cukup jauh jarak kita untuk tidak melihat siapa yang ada di pulau itu. Maka tsunami yang terjadi di Banten, Jawa -- pulauku, lantas memunculkan rasa yang memutar perut. Aku mual. Siapapun yang meninggal, aku merasakan kesedihan yang cukup signifikan. Sebab mereka semua sekarang tak terlihat berbeda -- bahkan tak terlihat. Yang bisa aku lihat hanya pulau tempat rinduku berpulang, bernama Indonesia.

Rencana kejutan sudah terlalu matang untuk dibatalkan. Besok, aku akan langsung menghadap wifi dan memesan kue untuk keluarga ibuku di Jakarta. Aku tak tahu apa yang lucu. Rasanya ingin tertawa tapi tak tahu kenapa.

Sebelumnya sudah terbayang jelas dibenakku, sore itu, saat memilah toko kue, gambaran ramainya tawa saudari-saudari ibuku mendapat kiriman kue dariku di Lebanon. Mereka pasti langsung meneleponku dan tenggelam dalam candaan keluarga seperti biasanya. Kini, bayangan itu sebenernya tak hilang. Hanya muncul sebuah gambaran alternatif yang hanya mungkin terjadi dalam benakku yang sedang kebingungan memilih rasa yang akan dipakainya: mereka memakan kue dengan bahagia namun tak bisa tertawa melihat berita di depan matanya.

Entah besok rasa apa yang akan muncul bersama kue itu. Meski kue dan tsunami adalah dua hal yang benar-benar tak ada hubungannya, tapi hatiku hanya satu. Dan tak peduli seluas apapun ia tumbuh, haru dan gembira masih terlalu besar untuk kurasakan bersamaan.

22-23 Des 18

Friday, 2 November 2018

Bahkan kita tak bisa melihat bumi

"Have you had a million reasons why you wishing never see the truth? Have you looked into the mirror and the problem staring back at you?"
Paralyzed, ATC.

Sejak beberapa tahun lalu, aku selalu menobatkan diri sebagai "pencari jawaban". Aku bertanya tentang banyak hal, meski tak semua hal. Hal-hal yang cukup fundamental seperti kehidupan, kematian, dan agama jadi buruan favoritku. Beragam pertanyaan sudah (kurasa) kutemukan jawabannya. Namun pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan sampai tahap tak ada lagi yang berarti. Pertanyaan yang kulontarkan bahkan kehilangan maknanya sebelum kutemukan jawabannya. Dan dalam arus santai yang tak berhenti itu, sejujurnya aku pun tak tahu apa yang sebenarnya ingin ku-cari tahu. Apa sebenarnya yang mengganggu pikiranku sehingga aku terus mengkritisi banyak hal? Apa yang ingin kuketahui?

Sunday, 19 August 2018

Siapa Jon Snow? Siapa Kita?

Rob Stark kehilangan ayahnya di ibu kota dan sekejap naik tahta dengan total suara seluruh utara. Kini sebagai Raja di Utara, ia memimpin seluruh klan yang loyal pada keluarganya menuju selatan untuk menuntut darah mantan penguasa utara--ayahnya. Satu, dua, tiga season ia berlaga dan akhirnya mati dibunuh di pesta pernikahannya sendiri.

Jon Snow, adik tiri Rob, dengan kesadaran penuh atas posisinya sebagai ‘anak haram’ tak sempat bermimpi semewah Rob untuk diakui sebagai pemimpin terhormat sebuah klan. Oleh sebab itu setiap ayunan pedangnya ketika berlatih menjadi ksatria didorong oleh mimpi yang lain: menjadi sukarelawan penjaga perbatasan—satpam kerajaan, atau bisa juga dibilang petugas imigrasi.

Friday, 1 June 2018

Berterima Kasih Pada Tulisan

Aku harus berterima kasih pada tulisan-tulisanku. Bukan apa-apa, mereka selama ini membantuku memahami diri sendiri—bahkan sampai membentuk siapapun diriku saat ini. Entah sudah berapa ratus ribu atau juta kata yang aku tulis dan rangkai, terlalu banyak untuk aku ingat semuanya. Biarlah pekerjaan mengingat kulepaskan pada jari-jari yanng makin lihai memilih huruf untuk membalas huruf sebelumnya. Pikiranku cukup memetik buahnya saja. Buah segar kontemplasi dari campuran air keadaan dan bibit pemikiran. Yang dikandung dengan lembut dan hangat oleh tanah keinginan dan hasrat.

Wednesday, 28 March 2018

Catatan Hutang Ketua Panitia



“Gaes, ada berita nih. Dengerin...” kalimat ini pasti pembuka kabar yang bikin pusing. Kalau tongkrongan sudah diintervensi urusan organisasi dan dipilomasi dengan lembaga negara.

Kami disini, kaum diaspora Indonesia di Lebanon. Alasannya beragam. Ada yang bekerja, belajar, atau bahkan sekedar pingin jalan-jalan tapi tak punya duit, jadi manfaatin beasiswa. Jumlah kami sedikit. Jadi, mau-tak-mau kami berteman; lucu-tak-lucu kami tertawa. Kapan lagi nongkrong sambil bicara lepas pakai bahasa ibu. Duh, bu, kami rindu.

Lebanon bukan negara sepuluh besar dalam daftar tempat yang Instagramable. Cuma ya daripada tidak ada, ya kan? Setidaknya masih terlihat sisa-sisa “Swiss of Middle East” di pusat-pusat kota. Kawasan bernuansa Eropa abad pertengahan seperti kota kecil Byblos masih pantas untuk latar selfie.

Hidup bersama orang asing dalam kultur baru bisa dipandang sebuah tantangan yang mengasyikkan. Tapi percaya atau tidak, energinya luar biasa. Paling tidak, berusaha untuk ngobrol satu jam dengan bahasa asing, mendorong otak bekerja lebih untuk merubah tatanan bahasa ibu yang biasa dipakai tanpa perlu konsentrasi. Orang asing kalau mabuk di sini, celotehnya pasti pakai bahasa ibunya. Tak perlu berpkir dia. Pemandangan biasa itu.

Thursday, 15 February 2018

Valentine-ku

The most beautiful word on the lips of mankind is the word “Mother,” and the most beautiful call is the call of “My mother.” (Lalu deskripsi menggunakan seisi dunia tentang sosok ibu) –Khalil Gibran

Dulu pernah ada tantangan. Waktu masih menjadi calon kadet wartawan, untuk menulis tentang sosok ibu. Untuk membuat pembacanya, merasa kurang membalas kebaikan ibunya; membuat yang baca ingin menelepon ibunya; membuat mereka yang merantau mendadak galau dan nangis mengingat ibunya; dan seterusnya, dan seterusnya.

Aku lupa sudah apa yang kutulis. Tapi, kami (aku tak sendirian) gagal, itu yang kuingat. Gagal maksudnya redaktur tak puas.

Bos meminta kita menulis sesuatu yang memantik rasa. Bukan deskripsi tentang ibu sedang apa, dia suka apa, dia bagaimana. “Cukup satu kalimat atau paragraf yang buat pembaca menyadari hal besar dalam sosok ibu, lewat hal-hal unnoticed darinya.” Begitulah kura-kura.

Kemarin, ketika kelas lagi-lagi gagal menjaga pikiranku, aku ingat ibu dan menulis:

Aku duduk di samping-mu. Lalu merebahkan kepalaku di pangkuan-mu yang sedang menonton TV. Saat itu, dan hanya saat itu, aku benar-benar berkata: Persetan kau dunia.

Untuk Valentine-ku, ibu.

__________

Kamis Pagi, 15 Feb

Sunday, 11 February 2018

Habis Baca Dilan: Sebuah Nonsense

[caption id="attachment_271" align="aligncenter" width="300"] Foto: Bedah buku “Dialog 100” oleh komunitas Jakatarub di Univ. Parahyangan, Bandung (sekitaran 2014). Buku yang bercerita tentang 100 kisah nyata toleransi. Benar-benar tidak ada hubungannya dengan tulisan ini. Kecuali keberadaan Pidi Baiq sebagai pembedah buku saat itu.[/caption]

Kawan saya si Syam-Menyeduh baru saja memposting curhatannya. Ia baru baca Dilan-nya Pidi Baiq di tengah pusaran angin topan ujian yang tak tahu diri dan maha tidak penting. Yah, saya pun baca, itu Dilan. Dapet linknya dari dia. Dan, inilah yang aku pikirkan.

///

Kisah-kisah Dilan dan Milea yang diolah jadi novel oleh Pidi Baiq membuatku tersadar, bahwa masa lalu yang diingat, punya caranya sendiri untuk membuat kita belajar sesuatu sambil tertawa dan geleng-geleng kepala; bahkan ketika pelajaran itu nyatanya pahit!

Wednesday, 7 February 2018

Tentang lukaku, habis kena peluru

Mungkin untuk orang Indonesia, punya luka bekas peluru adalah sesuatu yang jarang. Wajar jika dibanggakan, negeri kita adem-ayem sejak 98. Masa reformasi pun beda dengan peperangan. Tetap jarang yang pernah kontak langsung dengan senjata.

Tapi, kalau tahu ceritanya si Omat, kekerenan bekas luka di lehernya akan hilang seketika.

Ia tertembak di Lebanon. Bukan karena hadir di medan perang, apalagi karena ikut membela Palestina, tapi sedang nonton parade.

Tuesday, 6 February 2018

Sebelah Mata: Mabuk Konflik

Setelah krisis figur pemerintah selama bertahun-tahun, Indonesia kini digadang-gadang dapat angin segar. Sinisme dan rasa muak, jijik, dan lelah terhadap pemerintah lama yang impoten membuat gairah si seksi Jokowi bikin masyarakat mendadak orgasme.

Dulu Indonesia seperti orang setengah tidur, sehingga setetes air cukup membuatnya melompat kaget.

Jokowi harus berterima kasih pada estafet pemerintah sebelumnya. Dosa mereka membuatnya terlihat suci hanya dengan sedikit gaya, visi, dan cara kerja yang berbeda.

Dan masyarakat harus lebih waspada. Sebab sakit hati terhadap pendahulu bisa membuat kita jatuh cinta pada sosok baru yang bertentangan. Kita harus sadar bahwa hubungan rakyat dengan pemerintah layaknya pelayan dan majikan. Bukan pacaran.

Saturday, 13 January 2018

A Tribute for Nella Kharisma

Mendekat, dan berbisiklah di telingaku
Bawa aku kembali ke masa itu
Cerita tentang senja
Tentang taman dan tikar
Cahaya yang sederhana
Menghangatkan hati kita dengan tawa

Berbisiklah, di telingaku
Padamkan api ini
Damaikan ego yang cemburu
Dengan kabar, dan pertanyaan basa-basi
Yang menggelitik
Yang buat aku ingin mengkritik

Berbisiklah, di telingaku
Dengan nafas-nafas pendek
Yang hangat dan penuh hasrat
Yang memberatkan hati
Dengan ambisi dan mimpi

Berbisiklah, di telingaku
Dengan kalimat yang tak sempurna
Terpotong tangis yang sedu
Dengan air mata yang bermuara
Dan membasahi hatiku

Berbisiklah, di telingaku
Rangkul aku
Dan kita ikuti irama itu
Di bawah cahaya biru
Katakan di telingaku
Dam dudi dam aku padamu.

Thursday, 21 December 2017

Pelajaran dari Pengalaman Magang di DPR: Kembali kepada Diri Sendiri

Dalam sebuah pertemuan dengan orang-orang baru, dapat dipastikan setiap orang memiliki stigma tertentu yang dilekatkan kepada orang tersebut. Adapun faktor-faktor yang melandasi adanya stigma itu ialah mulai dari gaya berpakaian dan berbicara, pola pikir, posisi dalam jabatan tertentu, dan sebagainya. Rentetan pengalaman kehidupan setiap individu melahirkan berbagai macam tafsir mengenai yang lain darinya (orang baru), sehingga mau tak mau secara sadar atau tak sadar sebuah persepsi mulai terbentuk ketika menemukan beberapa kesamaan orang satu dengan yang lainnya. Seperti pernyataan Levinas: “Relasi saya dengan orang lain sebagai sesama (manusia) memberikan makna pada relasi saya dengan semua orang lain lagi” (Being for the Other, Is It Righteous to Be?, hal 116). Hal inilah yang penulis rasakan –dengan situasi serta nuansa baru- ketika pertama kali mengikuti kegiatan magang perkuliahan di Dewan Perwakilan Rakyat.

Thursday, 30 November 2017

Melihat tanpa objek

Terbesit dalam sebuah diskusi lintas sekte tentang betapa kompleksnya manusia. Ini semua di sebabkan keterbatasan kita. Jika para ahli, yang mengecap pendidikan sedemikian panjang dan dalam saja masih berbeda pendapat satu sama lain, kita yang masih otw S1 dan masih bertaqlid dan mengambil pendapat ulama sana-sini bisa apa? Keterbatasan kita dalam mengambil pendapat yang ada dicampur keterbatasan memahami pendapat yang kita pilih ditambah keterbatasan pembuat atau pendapat itu sendiri. Keterbatasan x keterbatasan x keterbatasan = unlimited limitation.

Seringkali dalam sebuah perbincangan, gue berusaha menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan keyakinan dan konsep-konsepnya. 

Itu hal yang lazim sebenernya, dan menurut gue perlu. Setiap orang harus punya landasan (logis) dalam keyakinannya. Maka dari itu keyakinan harus dihajar pertanyaan, untuk kemudian dilakukan pencarian jawaban dari keyakinan tsb. Tapi, jika tanpa pencarian, kita berusaha menjawab, itu jawaban datang dari mana? 

Pun seandainya akhirnya jawaban (hasil perenungan) yang keluar cukup memuaskan, dan masuk akal, pada akhirnya tanpa melakukan pencarian kembali pada sumber-sumber dasar keyakinan tsb, nilai jawaban itu terbatas pada interpretasi pribadi, sebuah pembenaran (yang sebenar dan klik apapun itu, tetap) subjektif. Kemungkinan bahwa jawaban tsb berbeda dengan jawaban keyakinan itu sebenernya tetep ada. Dan bisa jadi bertolak belakang. Dan ketika hal ini terjadi, atau ditemukan, keyakinan kita pastinya melenceng dari label yang kita bawa. Dan jatuhnya, kita adalah plagiator, atau pembajak hak cipta sang pencipta keyakinan. 

Jadi yang mau diutarakan itu opini tentang ideologi atau opini ideologi itu sendiri?

Tuesday, 5 September 2017

Ingin Jadi Teroris

Seorang guru berkata: anak itu tak mungkin jadi teroris.

Lucu. Bahkan teroris tak mau jadi sepertinya.

Setiap berita menunjukkan hasrat yang berbeda. Bahkan untuk penjagal berbaju hitam, hasrat mereka ada. Hanya berbeda.

Adakah teroris yang bernyanyi dengan senyap setiap malamnya? Berusaha menangis namun tak pernah bisa.

Mungkin ia terlalu sibuk membunuh dirinya. Hingga tak cukup waktu membunuh manusia tak berdosa.

Anak itu sehari becerita lewat pena-pena. Bahwa ia tak yakin, mana benar mana salah.

Berita-berita hanyalah mengabarkan hal-hal pasti. Pasti benar pasti salah. Dan dia diantaranya.

Baginya itu bukan pujian maupun kutukan. Hanya semilir angin yang tak berbobot sama seperti hari lainnya.

Satu hari ia pernah memuji para teroris bengis. Bahkan iri, akunya.

Hidup yang berwaktu setidaknya punya makna untuk dikejar. Namun hari-harinya hanya duduk diam depan meja belajar.

Tak pernah ada meja kantor yang terisi meski tak satupun absen walau sehari.

Sebab duduk orang-orang adalah terbang. Dan tidur para pekerja adalah mimpi.

Setidaknya, setiap insan punya sesuatu untuk dikejar. 

Dan anak itu, hanya diam tak mendengarkan.

Saturday, 22 July 2017

Sunday, 28 May 2017

​Mati Nikmat: Sebuah Deklarasi

Karena setiap manusia punya hak untuk mati dengan nikmat. Berangkat dari situ, aku menulis.

Banyak slogan kita dengar yang menyatakan mati dengan tenang, mati bahagia, mati sengsara, atau lainnya. Bukan dalam rangka ingin terlihat berbeda, tapi sloganku lahir justru dari sebuah duduk yang lama dan fokus tanpa pikiran tentang manusia lain. Ingin mati dengan nikmat, itu sebuah niat yang serius.

Mati dengan nikmat kulihat--dalam konteks hidup pribadi--sebagai tuntutan bagi keberadaanku. Kenikmatan yang berarti tak diusik perasaan-beban spiritual dan material. Tanpa diintervensi hubungan sosial. Untuk mati tanpa pikiran yang masih menarik kita kembali. Mati dengan perasaan kematian, bukan kehidupan yang akan dilepaskan. Mati tanpa memikirkan kehidupan sebelum kematian dan yang paling penting tanpa dihantui kehidupan setelah kematian.

Mati di saat yang bersamaan dengan kematian. Bisa diartikan juga untuk hidup di saat yang tepat untuk hidup.

Monday, 23 January 2017

Ketika tak bisa beli rokok

Uang adalah kekuatan. Pemikiran ini selain bepengaruh pada dunia perpolitikan manusia sampai ranah terkecil, tapi juga dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Merasa miskin adalah mimpi buruk bagi hampir seluruh manusia. Apalagi ketika seorang perokok tidak punya sepeser pun untuk beli sebatang rokok. Itu adalah parameter bagi dirinya atas kemiskinan. Tak peduli bahwa pada realitasnya, ketiadaan uang itu takkan membuatnya mati kelaparan sebab ia tinggal di rumah orang tua, atau saudara, atau asrama, atau sedang bersama teman-temannya. Pada titik ini bisa dilihat bahwa miskin dirasakan ketika kita tak punya lagi kekuatan—dalam bentuk uang—untuk melakukan kebebasannya, baikpun kebebasan merusak diri atau melawan norma.

the absolute freedom

i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...