Monday, 4 December 2023
the absolute freedom
Sunday, 6 August 2023
Setangkai Kenangan
Mawar itu kini terbakar. Oleh sinar mentari sebab air mata tak melindunginya lagi.
Yusuf dan Wanita Tua
Monday, 31 July 2023
Asam Garam Yahudi Lebanon
”Bagi banyak orang, ‘Yahudi Lebanon’ tak
lebih dari sebuah konsep. Namun nyatanya, Yahudi pernah hidup berdampingan
dengan populasi Kristen dan Muslim—mereka bahkan berbagi kursi kekuasaan di
parlemen. Beirut, Tripoli, Saida, dan Hasbaya adalah kota yang dulu mereka
sebut rumah. Natal dan Idul Fitri adalah momen yang mereka rayakan bersama
tetangganya.” —Nadine Mazloum, StepFeed.
Boleh dikatakan bangsa Yahudi konsisten hijrah
dari ribuan tahun lalu. Kota ke kota, kerajaan ke kerajaan, negara ke negara.
Hingga saat ini, tercatat ada 14 juta diaspora Yahudi di dunia—tercecer di
sana-sini. Satu-dua cerita juga mengabarkan keberadaan mereka di Indonesia.
Tapi mungkin sulit mendengarnya dengan suka cita di negara kita. Mengingat
sudah 70 tahunan isu Yahudi agak sensitif bagi komunitas muslim kebanyakan—sejak
berdirinya Israel.
Jika ditanya dari mana asal mereka, paling
tidak menurut sejarah, tentu saja sekitaran Timur Tengah. Sebagai turunan Yakub
atau Jacob atau Israel, setidaknya kita tahu ia pernah tinggal di Kanaan
atau Palestina masa kini. Kisah-kisah mereka selama masa kenabian Muhammad saw
juga tidak sedikit. Maka mereka pernah ada di bilangan Madinah.
Lebanon-pun punya kesaksiannya sendiri.
Sebuah bangunan tua di kota Saida—yang kini jadi rumah bagi imigran Suriah dan
Palestina—dulunya berfungsi sebagai sinagog. Termasuk sinagog tertua di dunia,
yang dibangun tahun 833 M. Sinagog ini berdiri di atas reruntuhan kuil yang
hancur tahun 66 sebelum masehi. Konon, Jesus pernah berceramah di sana. Jadi
setidaknya kita bisa berasumsi, bahwa yahudi sudah ada di Lebanon sejauh
ingatan sejarah kita tentang bangsa-nya Rostchild ini.
Namun berbeda dengan negara Arab lainnya, kita
masih bisa merayakan perbedaan bersama yahudi di Lebanon. Lepas tumbangnya
dinasti Ottoman, Perancis mendapat jatah Lebanon untuk diduduki. Di bawah
mandatnya, Lebanon yang masih seperti kumpulan komunitas agama ingin berdaulat.
Maka untuk menghindari konflik politik, Lebanon di bawah kekuasaan Perancis
untuk pertama kali melakukan sensus penduduk. Sesuai hasilnya, Kristen Maronit
mendapat jatah kursi presiden sebagai mayoritas utama. Kemudian Muslim Sunni
dapat jatah perdana menteri, dan Muslim Syiah juru bicara parlemen. Sisanya,
ada 15 sekte lagi yang terhitung sebagai bagian dari Lebanon mendapat jatah
kursi di parlemen dengan jumlah berdasarkan kuantitas penganutnya. Dari situ,
dikhususkan satu kursi perwakilan untuk tiga sekte ter-sedikit di Lebanon,
salah satunya, sekte yahudi.
Lima tahun setelah Lebanon merdeka dari
Perancis, Israel tercipta (1948). Kemarahan negara-bangsa Arab merasuki
penduduk Yahudinya dengan ketakutan dan ancaman. Bangsa Yahudi untuk kesekian
kalinya hijrah. Tujuan utama terpecah dua: Israel dan Eropa-Amerika. Namun ada
tujuan alternatif: Lebanon. Sejak berdirinya Israel, Lebanon adalah
satu-satunya negara Arab yang tercatat mengalami kenaikan populasi Yahudi di
dalam perbatasannya. Buku The Jews of Beirut mencatat pada tahun 1950,
kurang lebih 10.000 orang yahudi masuk ke Lebanon dari Suriah, Iraq, dan
sekitarnya. Dengan menjadi satu-satunnya negara Arab yang dipimpin Kristen
(Maronit), juga kenyataan bahwa dominasi politiknya tak dipegang satu golongan—boleh
dikatakan, epitome Bhinneka Tunggal Ika yang sebenarnya—Lebanon jadi
negara paling ramah yahudi di kawasan.
Beirut menampung paling banyak Yahudi pada
masanya. Di samping rumah megah Perdana Menteri Saad Hariri ada kawasan yang
dulu jadi pusatnya Yahudi—sebuah jalan bernama Wadi Abu Jamil. Di kawasan yang
membelah pemukiman Kristen dan Muslim ini, pernah berdiri sekolah, pertokoan,
juga sinagog Yahudi. Dalam film dokumenter BBC Arabic tahun 2006
berjudul Yahud Lubnani, Mokhtar Itani, penulis buku Our Beirut
bercerita, “Mereka (Yahudi) dulu dianggap
bagian dari komunitas Arab Lebanon yang menganut agama Yahudi atau
pengikut Musa. Sama seperti Muslim yang mengikuti Islam dan Muhammad, atau
Kristen yang mengikuti Isa. Mereka bagian dari penduduk Beirut yang jadi
orang-orang terdekat kita. Bahkan, mereka banyak memiliki posisi penting. Ada
seorang Rabbi namanya Solomon. Dia adalah ahli sunnat paling terkenal di
kalangan Muslim saat itu.” Itani juga mengingat tentang Dokter Nassim Chams,
seorang Yahudi yang diberi julukan “Penyembuh Kaum Miskin” (The Healer of
The Poor). Ia mendapat tempat khusus di hati masyarakat Beirut atas
dedikasinya melayani orang sakit tanpa memungut biaya apapun, bagi
siapapun—terlepas agama, ras, dan kebangsaannya.
Secara politik, keberagaman agama yang
membangun pemerintahan Lebanon meniscayakan perlindungan setiap sekte yang
terlibat dalam kekuasaan. Hal ini juga tertulis jelas di konstitusi yang
tersedia di situs resmi kepresidenan: C) Lebanon adalah republik parlementer
demokratis yang menghormati kebebasan publik, khususnya kebebasan pendapat dan
kepercayaan, dan menjunjung keadilan sosial serta kesamaan hak dan kewajiban
bagi seluruh warganegaranya tanpa diskriminasi (pembedaan).
Gelombang migrasi pertama yang membuat
Lebanon sepi Yahudi adalah perang Arab-Israel tahun 1967. Perang ini mulai mengaburkan pandangan
masyarakat Lebanon atas perbedaan Yahudi dan Zionis. Di tambah merangsek
masuknya pengungsi dan militan Palestina ke Beirut. Pada satu masa, penduduk
Yahudi mau tak mau membagi atapnya tak hanya dengan sesama warga Lebanonnya,
tapi juga Palestina. Sinagog mereka bahkan sempat menjadi pengungsian Palestina
ketika perang berkecamuk. Banyak orang bersaksi bahwa terjadi penculikan sampai
pembunuhan warga Yahudi oleh militan Palestina. Ketika di saat bersamaan juga
banyak yang bercerita bahwa Yaser Arafat, sempat jadi pahlawan Yahudi karena
menggunakan pengaruhnya menyelamatkan beberapa keluarga Yahudi dari
kesalahpahaman. Namun pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa ketakutan dan
ketidak-aman-an lebih nyata dari kedamaiannya. Itu sebabnya pada akhir 1975,
tercatat kurang dari 1.000 Yahudi bermukim di Lebanon. Di kemudian hari, Perang
Sipil dan perang dengan Israel tahun 1982 membuat makin banyak yang
meninggalkan Lebanon—yang jumlahnya kini masih diperdebatkan antara 200 sampai
40 orang.
Orientasi Zionis
Seniman New York asal Lebanon, Rola
Khayyat, membuat dokumenter berjudul From Brooklyn to Beirut, yang
menceritakan kisah-kisah diaspora Yahudi di negarannya. Dalam wawancara dengan
StepFeed, menurutnya komunitas Yahudi Lebanon di Brooklyn cukup mencolok
ketimbang minoritas lain di sekitarnya. “Mereka selalu menolak membaur
sepenuhnya. Cukup keras kepala memelihara identitas, budaya, dan nilai-nilai
Timur Tengah yang mereka dapat di Lebanon.”
Ketika ditanya soal bagaimana mereka melihat
hubunganya dengan Lebanon, salah satu narasumber berkata, “Lebanon adalah
sebuah kebudayaan. Yahudi adalah sebuah agama. Tak ada kontradiksi bagi
keduanya.” Rola juga mengatakan semua narasumbernya berbicara bahasa Arab
sefasih dirinya.
Di permulaan abad 20, komunitas Yahudi
Lebanon kurang aktif dalam politik dan tak melibatkan diri di perseteruan
antara komunitas agama lainnya. Secara umum, komunitas ini cenderung mendukung
Nasionalisme Lebanon, dan menempel pada penguasa Perancis. Ketika di saat
bersamaan, Perancis pada masa itu tidak simpatik pada ide berdirinya negara
Yahudi yang dicanangkan rivalnya, Kerajaan Inggris. Komunitas ini juga apatis
terhadap ide tersebut. Memang ada segelintir pemuka komunitasnya yang antusias
menyuarakan Zionisme, dengan beberapa dukungan di sana-sini. Sekolah Yahudi
terbesar di Beirut, yang didirikan Alliance IsraƩlite Universelle asal
Paris juga dengan aktif bicara soal Zionisme. Namun catatan Jewish Agency, organisasi
internasional yang menghubungkan Yahudi di dunia menyesali kurangnya “gairah
nasional” dari sejawatnya di Lebanon. Lebanon juga tidak mengirim delegasi ke World
Zionist Congress.
Dilema Maghen Abraham
Selesai dibangun tahun 1925, Sinagog Maghen
Abraham jadi semacam masjid agung bagi penganut Yahudi di Beirut dan
sekitarnya. Terletak di Wadi Abu Jamil, sinagog ini terseret badai perang sipil
tahun 1975. Dan ketika Israel memburu Palestine Liberation Organization
(PLO) sampai ke Beirut, ironisnya, bombardir udara itu juga menghancurkan
Maghen Abraham yang sudah kosong waktu itu. Pasalnya, ada kabar bahwa PLO
memelindungi kawasan tersebut.
Tahun 2009, gagasan untuk merenovasi Maghen
Abraham jadi perbincangan hangat. Isaac Arazi, perwakilan komunitas Yahudi
setempat mulai menggalang dana dari diaspora Yahudi Lebanon di Eropa-Amerika.
Yang menarik, dukungan datang dari hampir seluruh komponen politik—bahkan
Hizbullah sebagai musuh bebuyutan Israel mengeluarkan press release
mengenai hal ini. “Ini (Maghen Abraham) adalah tempat ibadaha, dan kami
menyambut pemugarannya,” kata Sekjen Hizbullah, Hasan Nasrallah.
Bloomberg melansir Perdana Menteri Fouad
Siniora mengatakan, “Kami menghormati agama Yahudi seperti menghormati agama
Kristen. Satu-satunya masalah kami adalah dengan Israel.”
Namun sepuluh tahun pasca renovasi, lampu
Maghen Abraham belum juga dinyalakan. Pagarnya terkunci dengan penjagaan ketat
militer di sekitarnya. Seorang muslim, Bassam al-Hout, pengacara komunitas
Yahudi Lebanon mengatakan hanya ada dua rabbi di Lebanon dan membantah
adanya rencana Maghen Abraham beroperasi kembali.
The Israelite Community—begitu dokumen negara menyebutnya, nama yang sudah bertahun-tahun
dilobi untuk diganti sebagai upaya menjaraki diri mereka dengan negara Israel—kini
hidup dalam bayang-bayang sejarah Lebanon. Sulitnya memastikan keberadaan
mereka, dan mundurnya komunitas ini dari aktifitas politik seperti parlemen
membuat ingatan atasnya perlahan pudar. Sejak awal berdiri Israel
mendeklarasikan diri sebagai Negara Yahudi. Dan fakta ini membuat makin
kaburnya batas pembeda antara penganut Yahudi dan luka yang disebabkan Israel
pada penduduk Lebanon. Selain itu, kondisi politik dan keamanan yang belum
stabil menghantui tak hanya komunitas Yahudi, namun seluruh komponen
masyarakat. Sehingga aktifitas sekte yang cukup besar seperti eksis kembalinya
penganut Yahudi berpotensi meledakkan tensi yang lama dijaga. Dan pernyataan
resmi di atas kertas tak lebih dari sekedar pernyataan—tak berpengaruh di
jalanan.
Kini media dan masyarakat Lebanon mulai
menggunakan kalimat-kalimat nostalgia ketika berbicara soal tetangga Yahudinya.
“Alain Abadi biasa duduk di teras, memainkan gitarnya dan bernyanyi. Dia akrab
dengan tetangganya, dan sangat sembrono,” kata Berthe Mamo, mantan penduduk
Wadi Abu Jamil, mengenang tetangga Yahudinya.
“Apa aku berharap kembali ke Beirut? Tentu
saja! Di Facebook, aku selalu bicara soal Lebanon. Aku masih punya teman
di sana dan tak bisa melupakan mereka. Aku hidup 35 tahun di sana!” kata Alain
Abadi, yang kini tinggal di Tel Aviv mengikuti kemauan ibunya, ketika
diwawancara BBC.
23-27 April 2019
Berkenalan Dengan Druze
Sebagai salah satu kelompok agama yang
resmi diakui negara, Druze mendapat jatah delapan kursi dari total 128 kursi di
parlemen. Juga dengan perkiraan jumlah penganut 5,2 persen total penduduk
Lebanon, Kepala Staff Umum (Chief of General Staff—kepemimpinan militer) harus
dari komunitas Druze.
Druze adalah gerakan keagamaan yang lahir
di Mesir pada masa Kekhalifahan Mamluk (Fatimiyah) awal abad ke-11. Ahli mistik
Ismaili (denominasi Syiah), Hamzah bin Ali dan Muhammad Ad-Darazi datang dari
Persia dan memulai sebuah majlis eksklusif untuk kalangan bangsawan dan
intelektual dengan dukungan Khalifah Al-Hakim. Majlis ini terbentuk dari sebuah
ambisi menyatukan seluruh agama dan manusia dalam sebuah ajaran tauhid yang
paripurna (unitarian, muwahhid). Tiga nilai utama yang jadi fokus adalah
monoteisme (tauhid), tunduk pada Tuhan, dan keadilan sosial.
Pada masa ini, terjadi perpecahan antara
Hamzah dan Darazi. Pemikiran Darazi berkembang dari misi universal sampai beranggapan
bahwa Tuhan telah memanifestasikan diri-Nya dalam bentuk manusia, khususnya Ali
bin Abi Thalib dan keturunannnya (termasuk Khalifah Al-Hakim), serta dirinya
adalah “Pedang Keimanan”. Hamzah marah, dan menulis pernyataan bahwa Darazi
telah sesat, dan menolak penggunaan pedang untuk menyebarkan agama.
Tahun 1016, Darazi membuka dan mengenalkan
pemikirannya pada masyarakat. Namun gerakan Darazi ditolak dan menyulut protes
keras dari berbagai kalangan di Kairo. Darazi kemudian diusir dan dilarang
berceramah selama satu tahun. Tahun 1018, Darazi dibunuh karena ajarannya,
namun ada sumber yang mengatakan bahwa ia dieksekusi oleh khalifah.
Setahun setelah protes, giliran Hamzah yang
mendakwahkan doktrinnya. Kini gerakan ini mendapat dukungan penuh dari khalifah
yang langsung mengeluarkan dekrit kebebasan beragama. Dengan dukungan ini,
gerakan Hamzah (seterusnya akan disebut komunitas Druze) tersebar ke seantero
negeri.
Beberapa tahun kemudian, Al-Hakim
menghilang dalam sebuah perjalanan dan dipercaya oleh komunitas Druze telah moksa
bersama Hamzah dan tiga petinggi komunitas ke-haribaan-Nya. Namun ada dugaan
bahwa ia dibunuh oleh kakak perempuannya, Sitt Al-Mulk. Anak Al-Hakim yang
masih di bawah umur, Zahir menggantikan posisi ayahnya dan menjadikan Sitt
sebagai walinya. Sementara kepemimpinan Druze dipegang orang yang telah
ditunjuk Hamzah, Muqtana Bahauddin.
Komunitas Druze mengakui Zahir sebagai
khalifah, dan memandang Hamzah sebagai Imam (pemegang otoritas agama Islam
tertinggi yang meneruskan ajaran Nabi Muhammad). Tapi Zahir ingin komunitas
Druze juga menerimanya sebagai Imam. Banyak mata-mata dan propagandis dari sisa
pengikut Darazi lalu memasuki komunitas Druze dengan tujuan memecah dan
menjatuhkan reputasi komunitas ini. Penolakan permintaan khalifah dan aksi spionase
pengikut Darazi berujung pada baku hantam antara penguasa dan komunitas Druze.
Yang paling parah terjadi di Antioch di mana 5.000 pemimpin Druze tewas di
tangan militer. Persekusi ini berlangsung selama tujuh tahun, dan perlahan
komunitas Druze menutupi indentitasnya. Mereka yang selamat kebanyakan berpusat
di Lebanon Selatan dan Suriah.
Dua tahun pasca kematian Zahir (1036),
komunitas Druze baru bisa bernapas kembali dan bergerak secara terbuka—karena
khalifah yang baru punya hubungan erat dengan salah satu pemuka komunitas Druze.
Lalu pada tahun 1043, Bahauddin mendeklarasikan ‘penutupan ajaran’. Setelah 27
tahun mengajak manusia pada ajaran monoteisnya, mereka melihat sudah tak ada
lagi yang bisa dilakukan untuk menyatukan manusia. Maka Druze pun tak lagi
mengajarkan pahamnya dan tak lagi menerima pengikut baru, pun keluarnya
pengikut—yang sampai saat ini masih berlaku.
Saat ini di Lebanon, komunitas Druze
berpusat di Mount Lebanon dan beberapa bagian Lebanon Selatan. Jumlahnya
ditaksir sekitar 200.000 manusia. Tidak ada yang bisa menjadi Druze kecuali
lahir dari dua orang tua Druze. Secara tradisi, komunitas ini melarang
anggotanya menikah dengan komunitas luar.
Sesi ‘peribadatan’ mereka berlangsung sangat
rahasia. Khusus untuk keturunan Druze yang mendeklarasikan penyerahan diri pada
agama—dengan mengambil kelas khusus selama tiga bulan, dan membuktikan bahwa ia
jauh dari ‘tujuh dosa besar’. Sesi rahasia ini berlangsung pada malam Jumat di hilwah
(semacam masjid), di mana para kyai (mereka yang sudah menyerahkan dirinya pada
agama) bergumul dengan kitab ajarannya yang bernama Al-Hikma.
Bagi Druze, reinkarnasi adalah bentuk dari
keadilan Tuhan. Sebagai kesempatan kedua bagi jiwa (khususnya yang mati muda)
untuk kembali ke dunia dan menyempurnakan dirinya sebelum benar-benar menyatu
dengan Tuhan.
Meski mengamini beberapa dogma Kristiani,
dan mengandung banyak pemikiran filsuf Yunani, sebagian besar sumber paham
Druze masih berasal dari Alquran dan hadis Nabi Muhammad (sebagaimana
akarnya dari Islam Ismaili). Hanya saja, mereka berusaha memperluas cakupan
firman dalam Alquran dengan melakukan tafsiran yang lebih universal—hal ini
bisa dipahami dari upaya pencetusnya menyatukan beragam aliran keagamaan dalam
kesepakatan ketuhanan yang satu. Sementara untuk kewajiban-kewajiban seperti
solat, puasa, dan zakat mereka melihatnya sebagai aktifitas jiwa dan sosial
ketimbang ritual simbolik. Akibatnya, banyak perdebatan di kalangan ulama
Muslim soal status ke-muslim-an anggota Druze. Namun konstitusi Lebanon tetap
memasukkan Druze dalam daftar pecahan Islam.
Komunitas Druze sendiri lebih senang
menyebut dirinya “Muwahhiduun” (Para Monoteis) ketimbang Muslim.
Sementara nama ‘Druze’ awal kali digunakan sejarawan dalam kaitan komunitas
dengan Muhammad Darazi—yang dalam teks-teks komunitas Druze kini disebut
seorang bidah dan sesat.
Cinta Lokasi Para Militan
Ketika audisi, Atris tertawa sinis dan berkata berkata, “Baiklah, jika anda bersikeras ingin saya bermain peran, saya ikuti. Tapi jika akhirnya saya hajar habis mereka, jangan mengeluh.”
Atris adalah seorang pemuda dari Bab el-Tebbaneh, sebuah kawasan yang didominasi Muslim Sunni, di kota Tripoli, Lebanon Utara. Atris bersama puluhan pemuda lainnya mendapat tawaran untuk bermain peran dalam sebuah teater komedi gelap berjudul “Love and War on the Rooftop”, versi parodi dari legenda Romeo Juliet, 2011 silam.
Pentas drama ini diinisiasi oleh Lea Baroudi dan timnya—sebuah Lembaga Sosial Masyarakat di bidang perdamaian dan pembangunan bernama MARCH.
Pemuda lain yang dipaksa menjadi aktor adalah Ali. Ia berasal dari Jabal Mohsen—tetangga Bab el-Tebbaneh—yang didominasi Alawi. Ketika audisi, Ali menaruh pistolnya di meja juri dan berkata, “Ok, sekarang anda harus jelaskan apa yang sedang anda lakukan di sini sebab saya sama sekali tak terpikirkan bisa menjadi seorang aktor.” Lea yang saat itu ikut jadi juri pun tertawa dan membalas, “Saya pikir anda bisa.”
Bab el-Tebbaneh dan Jabal Mohsen sudah saling tembak sejak perang sipil di Lebanon puluhan tahun lalu. Konflik berlatar sekte ini belakangan makin panas sejak perang di Suriah. Pemuda seperti Atris dan Ali sudah mengenal senjata sejak umur 15—bahkan lebih muda. Lupakan dulu soal sekolah dan memiliki rumah, Atris saja bisa dikatakan tak bernegara. Orang tuanya tak mampu mengurus administrasi kelahiran akibat kemiskinan—dan ia bukan satu-satunya. Jalan yang membelah dua kawasan ini (ironisnya) bernama “Syria Street”—adalah medan baku hantam yang paling akrab sebagai tempat mereka tumbuh.
Atris dan Ali—dua dari 100 pemuda yang ‘dipaksa’ mengikuti audisi—adalah juga veteran perang. Selain melawan tetangga sektenya, banyak dari mereka pernah ke Suriah baik bertarung bersama pemerintah maupun oposisi Suriah. Mereka kembali ke Lebanon karena satu dan lain hal. Namun jalan hidup sektarian yang keras sudah menjadi satu-satunya jalan hidup yang pernah mereka lalui—sampai MARCH datang menawarkan sebuah panggung.
“Semua pada awalnya berpartisipasi murni didorong rasa penasaran,” kata Lea di TEDxSciencesPo, Perancis. “Siapa sih orang-orang Beirut ini yang ingin orang sepertiku bermain peran?” tambahnya mengutip salah satu partisipan.
Menurut pengakuan Lea, tahap awal audisi adalah yang paling sulit. Terlambat dan harus disusul ke rumahnya bahkan secara harfiah ditarik dari tempat tidur, tensi antar partisipan yang masih sangat terasa—mengingat mereka sudah lahir bermusuhan, sampai pengecekan badan untuk mencegah masuknya senjata di pintu masuk. 16 aktor mantan-veteran yang lolos audisi lalu berlatih bersama selama tujuh bulan—dibimbing oleh beberapa profesional yang disewa MARCH. Setelah pentas yang dihadiri warga sekitar usai dan diabadikan dalam sebuah film dokumenter, efek positif mulai terasa dan muncul dorongan dari para aktor untuk tak hanya berdamai di atas paggung, namun dalam keseharian dan melibatkan lebih banyak orang lagi.
Kafe Budaya
Berawal dari bangunan terbengkalai yang penuh dengan lubang peluru tepat di atas Syria Street, MARCH bersama para veteran muda dari dua kawasan yang bermusuhan membangun sebuah kafe—yang sangat lekat dengan gaya hidup masyarakat Lebanon secara keseluruhan. Namannya “Kahwetna: Cafe bi Kaffak” (Kopi kita: kafe di genggamanmu).
Kafe ini selain menyambungkan kedua kawasan yang lama bermusuhan, juga mempekerjakan pemuda dari keuda belah pihak. Para aktor drama dan pemuda lain menemukan ruang kreatif untuk menyalurkan minat dan bakat mereka. Dari kafe ini, para alumni pentas drama yang lalu bersama MARCH mewadahi aktifitias berkarya dari mulai melukis, dansa, band sampai pembuatan video klipnya. Turnamen sepak bola juga pernah diadakan oleh Kahwetna, bahkan sampai menarik turun Lebanese Army (Angkatan Bersenjata Lebanon)—dalam upaya memperkecil jurang pemisah di antara mereka.
Sering menjadi bahan candaan juga di antara pengunjung dan pekerja, soal fakta bahwa mereka yang biasanya saling lempar peluru, kini saling lempar espresso.
Gerbang Emas
Setelah sekian bulan Kahwetna mengadakan berbagai pertunjukan seni dan budaya, tercetuslah proyek yang lebih besar lagi: refitalisasi Bab el-Dahab (Gerbang Emas).
Usut punya usut, Jabal Mohsen dan Bab el-Tebbaneh sebelum perang sipil tahun 70-an adalah satu kawasan bernama Bab el-Dahab. Disebut begitu, karena potensi ekonominya yang menjanjikan. Maka berkaca pada sejarahnya, warga sekitar yang sudah terjamah ide-ide perdamaian MARCH ingin kembali menyatukan dua kawasan ini.
Sejak 2016 sampai sekarang, proyek ini sudah berhasil menghidupkan kembali 200 pertokoan dengan bantuan 230 pekerja lokal di bilangan Syria Street dan Muhajareen Street. Mereka yang berpartisipasi dalam pembangunan banyak menerima bimbingan softskill dari Kahwetna. Efeknya pun mulai terlihat dari banyaknya toko yang menggunakan nama “el-Dahab” di atas pintunya.
Atris dan Ali masih terus berkarya dan memperluas cakupan perdamaian yang mereka rasakan di atas panggung. Berbagai macam pentas seni dan proyek terus berjalan sampai sekarang dan tersebar ke seluruh Lebanon. Sampai awal tahun ini, Lea Baroudi sebagai pendiri MARCH mendapat medali kehormatan Britania dari Ratu Elizabeth II. Sebuah penghargaan tahunan bagi mereka yang berkontribusi secara positif dan masif bagi masyarakat dalam berbagai bidang.
Toleransi: Penghinaan, Perbedaan, Kebiasaan
Orang tak dikenal membakar habis perpustaakaan milik Pendeta Kristen Ortodox di utara Lebanon, Tripoli. Pendeta Sarrouj dituduh telah melecehkan Islam, setelah ada yang menemukan artikel ‘sensitif’ dalam sebuah buku di perpustakaannya. Satu penjaga perpustakaan tertembak. Dan sekitar 50.000 buku lenyap setelah melayani kebutuhan publik sejak 1972.
Kejadian itu terjadi Januari 2014 silam. Di Tripoli yang punya populasi 80% muslim. Sebelumnya Pendeta sudah menemui para petinggi muslim setempat untuk klarifikasi. Dan akhirnya demonstrasi yang direncanakan, dibatalkan. Pasca pembakaran, aparat mengatakan Pendeta Sarrouj tak melakukan kesalahan apapun—bahwa artikel tersebut, tak ada hubungannya dengan pendeta. Saat konferensi pers, aparat berjanji “siapapun yang ingin menyulut perselisihan di Tripoli ditakdirkan masuk penjara, sebagaimana yang akan menimpa mereka para pembakar (perpustakaan pendeta)”.
Agustus 2018 seorang muslim ditemukan mati terpotong-potong di pinggir jalan kota Danniyeh, Lebanon Utara. Korban—Muhammed al-Dhaibi, awalnya terlibat adu mulut dengan penjaga toko kelontong soal kenaikan harga, kata saudaranya pada media. Muhammed secara spontan menyebut Tuhan dalam makiannya pada penjaga toko. Seorang Syeikh (Kyai), mendengar ucapan Muhammed dan menegurnya. Dan Syeikh-pun ikut terlibat perdebatan dengan Muhammed.
Setelah meninggalkan toko, Muhammed dicegat Syeikh bersama dua saudaranya yang langsung membunuh korban dan membuang tubuhnya di sebuah jalan. Setelah investigasi, aparat mengatakan bahwa korban “menghina Syeikh dan Tuhan”. Tak lama, Syeikh dan saudaranya menyerahkan diri sambil menyatakan kebanggaan atas tindakannya, dilansir Al-Jadeed.
Akhir tahun kemarin, Hakim Jocelyne Matta lewat pengadilan Tripoli memvonis dua pemuda muslim untuk mempelajari Alquran. Sepuluh hari sebelumnya, dua anak ini memasuki sebuah gereja, menjatuhkan patung Mary di dalamnya, mencium patung tersebut dengan pose tidak senonoh. Mereka merekam aksi tersebut lalu menyebarkannya via WhatsApp.
Seperti Indonesia, Lebanon juga punya pasal penghinaan agama. Dalam Pasal 437 Hukum Pidana Lebanon menyatakan hukuman maksimal satu tahun penjara, bagi siapapun yang “menghina Tuhan di muka umum”. Namun sampai sekarang, belum ada satupun laporan yang mengatakan seseorang terjerat pasal tersebut.
Menurut survey Gallup, masyarakat Lebanon secara umum masih lebih toleran daripada Britania dan Jerman—jangan tanya negara Arab lainnya. Dalam merespon “Saya tidak keberatan seorang dari agama lain pindah ke sebelah rumah saya”, 76% responden menyatakan “sangat setuju”. Sementara Britania dan Jerman hanya 57%.
Selain itu, di saat bersamaan, untuk membayangkan tingkat relijiusitas masyarakat Lebanon, 82% responden muslim dan 86% responden kristen sepakat bahwa agama sangat penting dalam keseharian hidup mereka.
Sebagai contohnya kita bisa melihat paduan suara yatim-piatu muslim dari Imam Sadr Foundation, yang menyanyikan lagu natal di Gereja Saint Elie, Beirut, 2017 silam.
Atau Syeikh Khaled Yamout yang melantunkan azan dan kutipan Surat Maryam dalam sebuah acara untuk Perawan Mary di Gereja MƩdaille Miraculeuse, Beirut.
Meskipun perang sipil pernah menghancurkan Paris-nya Timur Tengah, Lebanon masih dikenal sebagai ruang bernapas pluralisme—khususnya pasca Musim Semi Arab. Selain memberi jatah kursi politik pada 18 sekte berbeda, pemerintah menjamin kebebasan melakukan ritual agama dan pembangunan rumah ibadah, selama tidak mengganggu ketertiban publik. Sampai sekarang, juga tidak ada laporan mengenai kekerasan atau diskriminasi yang berkaitan dengan keyakinan atau praktik keagamaan.
Mungkin itu sebabnya, puluhan warga dan pelajar Tripoli ikut membantu proses pembersihan lalu mengumpulkan bantuan untuk membangun perpustakan bersejarah Pendeta Sarrouj “lebih baik dari sebelumnya”.
“Saya meminta polisi menangkap mereka yang mengeluarkan fatwa dan memerintahkan penyerangan (perpustakaan), ketimbang fokus pada mereka yang melakukan penyerangan”, kata Syeikh Salem al-Rafei kepada media.
Bhinneka Tinggal di Neraka
Sebagai satu-satunya negara bangsa Arab di Timur Tengah yang memiliki presiden Kristen, Lebanon memang layak disebut “ruang bernapas pluralisme” bagi kawasan. Berawal dari pelabuhan Beirut yang menjadi pusat masuknya segala hal dari Eropa pada jaman Ottoman—termasuk agama, budaya, dan pencampuran ras. Pada abad 17-an, kawasan yang kini kita sebut Lebanon dikuasai seorang pangeran Druze, yang sempat diasingkan khalifah ke Italia, dan ikut menyaksikan perkembangan Renaisans. Kepulangannya ke Lebanon yang kembali berkuasa membawa sekaligus revolusi budaya dan intelektual tersebut. Selain mengenalkan mesin percetakan pertama di kawasan, ia juga mendukung para Jesuit Katolik membuka sekolah di seantero negeri. Ini adalah salah satu faktor yang mendasari kuatnya pondasi Kristiani di Lebanon kini.
Seiring berjalannya waktu, Perancis jadi semacam ibu asuh Lebanon pasca kejatuhan Ottoman. Keterikatan Perancis dengan Lebanon juga didasari hubungan politik mereka dengan populasi Kristen yang besar di sini. Sampai ketika beragam suku yang terpolarisasi agama di Lebanon menuntut kemerdekaannya, kubu Kristen Maronit yang cinta pada Perancis jelas tak ingin dirinya merdeka. Sementara dari kubu non-Kristen, lebih cenderung berpihak pada arabisme Suriah. Mereka ingin bergabung dengan Suriah. Resolusi atas konflik ini berakhir dengan kemerdekaan Lebanon sebagai negara independen.
Resolusi itu bernama National Pact. Kesepakatan ini tidak tertulis, namun dipahami, disepakati, dan dipegang teguh secara serius oleh seluruh lapisan masyarakat. Isinya, kesepakatan pemberian kursi presiden pada partai dari agama Kristen Maronit; perdana menteri untuk partai dari Islam Sunni; ketua parlemen untuk partai Islam Syiah; staf umum militer untuk partai Druze; dalam kesepakatan juga termasuk kerelaan partai Muslim melepaskan mimpi persatuannya dengan Suriah, dan penerimaan partai Kristen atas identitas Lebanon sebagai negara bangsa Arab. Dalam konstitusi yang lahir setelahnya, tercatut bahwa Lebanon dibentuk dengan persatuan 18 sekte (12 sekte Kristen, empat Muslim, Druze, dan Yahudi). Dari sini, jatah pembagian 128 kursi parlemen dibagi antara kubu Kristen dan Islam dengan perbandingan 6:5. Menjadikan identitas Lebanon sebagai negara dengan pembagian kekuasaan berdasarkan kelompok agama.
Kesepakatan ini mengukuhkan citra Lebanon sebagai negara yang plural dan toleran. Tak butuh waktu lama, Lebanon mentransformasikan dirinya sebagai ikon utama pluralisme di Timur Tengah. Menjadi kiblat liberalisme dunia Arab dan pelarian bagi warga tetangga yang terlalu mendapat banyak aturan di negara asalnya. Dibalik semua keberagaman itu semua Lebanon juga memiliki kekuatan ekonomi yang sangat stabil, menjadikan Lebanon tempat yang menjajikan untuk mengadu nasib bagi siapapun.
Namun, tak berlangsung lama. Pada dekade 60-an, kubu Muslim mulai tak puas dengan alokasi kekuasaan di parlemen. Tingginya angka kelahiran Muslim dan tingginya angka imigrasi dari penduduk Kristen harusnya membalik keadaan. Ditambah lahirnya Israel yang menempel di perbatasan selatan Lebanon yang membakar tak hanya situasi politik di Lebanon, tapi seantero Arab. Pengungsi dari Palestina membludak sampai ke Beirut, dan akhirnya memicu perang sipil pada tahun 1975—yang berakhir tahun 1990. Perang berakhir dalam satu perjanjian yang disebut Taif – nama kota tempat perjanjian ini ditandatangani di KSA.
Pasca perang yang berlangsung hampir 20 tahun, yang sebenarnya murni konflik politik antar partai, para pihak yang bertikai bersepakat satu sama lain. Mereka yang sering disebut sendiri oleh masyarakat lebanon sebagai mafia perang melangkahkan kakinya menuju pemerintahan dan memulai dominasi politiknya. Mereka yang sebelumnya menggunakan seragam milter kini duduk nyaman mengenakan jas di pemerintahan.
Ketika tampuk kekuasaan di tangan mereka, para elite politik ini mulai mengambil keuntungan dari sekte agama yang mengangkat mereka ke meja pemerintahan sebagai wakil, dan tidak banyak yang memiliki nyali untuk membicarakan atau mengkritiknya. Para elite sepakat untuk membagi setiap sektor yang ada di Lebanon guna dimonopoli, mendominasi industri tertentu tanpa persaingan. Pada akhirnya korupsi meluas, perpecahan di dalam dan di luar tubuh pemerintahan, ketegangan sekterian, ekonomi semakin merosot, fasilitas publik tidak efisien, dan pertengkaran elit politk dalam membuat keputusan tentang isu-isu yang tidak ada hubungannya dengan kebutuhan warga Lebanon sama sekali.
Singkatnya, keberagaman sekterian yang dibenturkan dengan kepentingan politik adalah kanker yang terus merambat dalam tubuh Lebanon.
Tuesday, 4 July 2023
international women's day?
Saturday, 21 May 2022
Surat Bocah yang Marah
Kepada Tuhan kutulis tantangan ini. Kutunggu Kau di medan
perang, meski kita sudah berhadapan. Penolakanku pada penghambaanmu adalah
hasrat bebas yang kau berikan – tapi kubebaskan. Aku mempertanyakan segala
suruhan agar aku menjalaninya dengan keinginan: dengan bebas.
Orang bilang ini adalah nafsu yang berlebihan. Tapi di
mataku ini adalah jalan terang kebenaran. Tanpa keinginan untuk bebas,
bagaimana cara kita maju dan berkembang?
Harapanku satu: bahwa siapapun yang menang dalam pertempuran
ini, akan mengakui kekalahan dengan kehormatan. Mungkin sulit bagiku. Ego masih
besar, kau tahu itu.
Tapi perang yang terlihat Panjang mengurangi kekhawatiran. Aku
punya waktu untuk mengksatriakan diri. Bagaimana denganmu? Cukup beranikah kau
mengakui kekalahan? Apakah kau punya hati? Kurasa tidak. Tapi apa itu berarti
bagimu? Kuharap tidak.
satu hari dalam perantauan, penuh emosi dan rasa kecewa
(2016-2018)
Monday, 21 June 2021
zaztrawan
Semuanya
tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?
Kita
merindukan ia yang pergi
Mengenang
masa lalu dan ingin mengulanginya lagi
Merangkak
di atas setiap ingatan seperti bayi
Tertawa,
tersenyum, merenung, menangis
Semuanya
tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?
Meski
pertemuan tak akan terjadi lagi
Namun ia
mendatangimu dalam setiap mimpi
Dalam
setiap lamunan di siang hari
Dalam
setiap obrolan dengan kawan-kawan saat ini
Semuanya
tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?
Kita
berpikir ini waktunya pergi
Tidak ada
lagi nilai dalam hubungan yang terus dipertahankan
Namun dalam
sepersekian detika ia berpaling pergi
Dan
menemukan jalannya sendiri lagi
Kita
menyadari betapa kita menginginkannya sehidup semati
Tanpa
sedikitpun memerdulikan soal kemungkinan-kemungkinan
Tanpa
sedikitpun memerhatikan apakah kebersamaan ini bernilai atau tidak
Semuanya
tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?
Bahkan
dalam permusuhan paling epik dalam sejarah
Dua pihak
yang saling berhadapan hanya aka berhadapan karena dua ideologi yang saling
terikat
Terikat
dalam perbedaan yang fatal
Terikat
dalam dua hal berbeda namun slaing bertabrakan
Maka
permusuhan sejatinya adalah pertemanan
Yang
diwarnai kemarahan alih-alih kehangatan
Semuanya
tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?
Bahkan
kematian sepertinya tak benar-benar memisahkan
Jika orang
melihat kematian sebagai mimpi buruk keharmonisan
Sejatinya
kematian justru menyatukan yang terpisah
Menyatukan
yang lupa agar mengingat
Mengubah kekesalan
jadi kerinduan
Kesibukan
jadi waktu yang didedikasikan
Pertemuan
terencana
Menjadi
kehadiran tanpa jeda
Dalam hati
para pecinta
in memoriam, naqib musawa
Senin, 21/06/2021 (H+3)
Thursday, 10 June 2021
Jika mereka peduli, lalu kau apa?
Di bawah terik bulan yang membakar hati kesepian
Gelapnya malam harusnya menyelimuti para penyair dengan
hangatnya keterasingan
Namun pantulan sinar matahari yang ragu-ragu
Justru membuka ruang para serigala menerkam rasa sepi dengan
tatapan yang buas
Kita adalah anak-anak waktu yang durhaka
Melawan takdir dan maju mundur
Dari masa depan ke masa lalu
Tanpa rasa malu
Kita adalah hamba-hamba yang memberontak
Di hadapan petunjuk yang jelas kita menulis ulang setiap
aturan
Berasaskan prasangka, hitungan matematika, logika yang tak
sempurna
Lalu kepada Sang Tuan kita menghadap
Berdiri, tidak berlutut
Memandang tajam ke depan, tidak menunduk
Berjabat tangan dengan tegas seakan semuanya setara
Rerumputan tertawa melihat tingkah yang tak ada kasta
Betapa setiap otak diracuni kesombongan zaman dan peradaban
Kita budak-budak nafsu yang cemburu
Kecemburuan yang menyelimuti dirinya dengan jubah rasa
Bahwa rasa adalah anugera dan sebuah petunjuk yang agung
Tidak perlu diragukan lagi
Namun apakah setiap orang memilikinya?
Juga tak perlu diragukan bahwa jawabannya tidak
Setiap rasa menuntun kita pada jalan halus kemurnian dan wewangian
Bukan ke medan perang dan tempat pembuangan kotoran
Kotoran manusia yaitu benci, serakah, dengki, dan kesombongan
Kita anak-anak bodoh yang menolak untuk keluar dari gubuk
kecil kedunguan
Gubuk yang temboknya dianyam kata-kata manis para durjana
Durjana yang mengoreksi setiap ayat dari pesan Tuhan kepada
Nabinya
Durjana yang memenggal kepala para pecinta dengan hati yang indah
Durjana yang membungkam mulut-mulut penyair agar tak lagi
menyanyikan Nama-Nya
Durjana yang memenjarakan manusia dalam lingkaran setan
kebudayaan dan norma-norma tak berhati
Durjanana yang berdiri di atas mayat-mayat intelektual
dengan panji kebenaran parsial di tangannya
Ah… habis kata-kataku dicuri para durjana
Tak lagi aku bias membaca keadaan yang makin runyam dan
bising
Hilang sudah harapan sebuah negara yang harmonis tempat
kijang makan dengan tenang di samping serigala
Hilang sudah masa depan anak bangsa
Apa yang disebut dosa kini sebuah rekreasi
Tempat mereka yang terasing dan dibuang mendapat peluk kasih
sayang
Tuan, kalau boleh aku bertanya
Apakah dibenarkan, aku bersimpuh tanpa sepotong baju di
tubuhku?
Sebab semua hak milikku dirampas mereka yang peduli padaku
Jika kepedulian mereka berwujud perampasan
Maka apa sebutan yang tepat bagi aksimu
Yang sejak awal memberikan semuanya?
//10/06/2021
Saturday, 1 May 2021
Aku tak paham bahasamu
Tubuh ini
rata bagai aspal. Aku berbaring dan diratakan oleh tekanan yang yang tak
terlihat, seperti sedang ngecat tembok saja. Di atasnya dua bola kecil yang
terhubung ssebuah garis solid berputar, mengingatkanku pada atom.
Dengan perasaan
visual itu, aku terpejam dan tak ada energi selain di kepala. Daya di sekujur
tubuh berlari perlahan dari bawah ke atas, dan berkumpul di kepala, otak. Tidak
ada pusing yang terasa, hanya denyut energi yang jelas terasa menggumpal di
pusat kepala.
Dengan sensai
visual itu, aku merasa telanjang. Telanjang dan lemah. Anehnya, meski nyatanya
dalam keadaan berpakaian rapi, aku merasa telanjang. Namun meski perasaan itu
lebih nyata dari pakaian yang secara sadar masih kupakai dan terasa menyentuh
kulit, aku tak malu. Mungkin, masih mungkin, karena saat itu ketelanjangan ini
hanya aku hadapkan pada Tuhan yang kutahu tak bermata. Di saat itu, ketelanjangan
ini tak membuatku malu, hanya membuatku lebih jujur pada-Nya.
Momen seperti
itu sering muncul namun baru pertama kali aku merasakannya senyata malam ini. Seperti
biasa, dunia dan kehidupan adalah pemantiknya. Tapi bukan sekedar karena aku ada
di dunia dan masih hidup, tapi lebih karena aku benar-benar tertarik gravitasi segala
yang ada di dalamnya sampai tercipta jarak antara aku dan Dia yang Entah Siapa.
Dalam keadaan
telentang, dan perasaan telanjang dan gepeng, aku berkeluh kesah. Meminta maaf
dan marah. Menuntut dan pasrah.
“Aku tak
paham bahasa sholat, bahasa ibadah. Aku tak paham bahasa yang digunakan setiap
orang disekitarku. Yang kutahu, sekarang kau mendengarku. Apakah ini hukuman? Apakah
ini tanda bahwa kau telah berpaling dariku?”
Aku berusaha
yakin kau mendengarkan namun tak mendapat kepastian. Untuk membuktikan aku tak
mampu. Apakah keyakinan harus dibuktikan? Mungkin tidak perlu. Lalu bagaimana
dengan kesadaran bahwa “aku tidak tahu” yang bersanding sejajar dengan
keyakinan di hatiku?
Tuesday, 16 March 2021
Anak-anak Prasangka
Api kemarahan selalu gagal menghanguskan kesadaranku. Sebagai
keturunan Ibrahim aku melangkah di atas kayu bakar sambil menguap. Kulewati amarah
yang menatapku gusar, menuju selimut tempat perdamaian bersemayam.
Seperempat abad sudah api itu menikmati damainya kehidupan. Tak
menyulutku menjadi abu. Jika kau ingin melihat kekuatan yang ia simpan, silakan
nyalakan. Di hadapan dunia, kehidupan yang memuakkan, tak kutemukan selain
tatapan yang menjijikan. Tak peduli berubah seperti apapun ia, ribuan kali akan
kupalingkan muka, dan meniggalkannya dengan perasaan remeh.
Kita adalah anak-anak prasangka. Dari prasangka kita temukan
harapan. Pikiran kita semua dipenuhi utopia yang berbeda-beda, namun sama-sama
kita berjalan ke arahnya—setidaknya berusaha ke sana. Agama, filsafat hidup,
mimpi, semua bertumpu di pundak harapan. Dari sana Tuhan menunjukkan wajah-Nya
yang paling optimis—kadang ambisius, kadang ramah.
Cobaan, katanya datang dari atas. Sebuah upaya pemurnian. Semacam
sekolah militer. Halah, aku terbiasa dengan harapan. Kupikir itu hal yang
diperlukan. Tapi boleh lah kita sedikit rendah diri, dan menyadari kesalahan
sendiri. Tak ada cobaan tanpa sebab. Tak peduli sesuci apapun kau pikir jiwamu
sehingga tak mungkin musibah datang darinya, Tuhan jauh lebih suci dan tinggi. Cobaan,
sakit kepala, sesak di dada itu hanyalah akibat dari sebab yang hubungan timbal
baliknya sudah dituliskan-Nya. Kita adalah tamu yang membuka pintu dan mau-tak-mau
menerima jamuan apapun di dalamnya. Jamuan seperti apa yang ada di setiap pintu
itu terserah Penerima Tamu. Pintu mana yang kau buka, itu sepenuhnya pilihanmu.
Itu sebabnya ilmu tentang diri sangat diperlukan. Itu sebabnya
pelajaran logika—tentang bagaiama cara berpikir dengan struktur dan pradigma
yang tepat—sangat diperlukan. Karena pengenalan tentang diri menyelamatkan kita
dari saling-tuding atas suatu masalah—yang kadang berakhir pada telunjuk jari
menghadap langit dan menyalahkan Tuhan.
Pada puncak pencapaiannya, pengenalan diri tetap akan
mengantarkan air mata jatuh ke bumi. Tak apa, rasa sedih, senang, geram adalah
hal yang manusiawi. Barangkali, itulah bekal yang Tuhan berikan agar hidup tak
begitu hambar. Sudah banyak yang bersaksi bahwa rasa sakit justru membuatnya
merasa hidup. Itukan Cuma perkara sudut pandang. Mengenal diri memberikan salah
satu buah kebebasan paling penting dalam hidup: hilangnya penyesalan. Akhirnya aku
paham maksud Seorang Sufi yang bilang, “Rasa sesal melumpuhkan. Lempar dosa-dosamu
ke dalam ampunannya dan jangan berpikir kembali lagi.”
Memang apa yang lebih menyenangkan untuk dilihat Tuhan
sebagai pemberi kehidupan, selain para hamba yang merayakan setiap nafas dengan
rasa syukur dan gembira?
Jangan bawa para Rasul ke sini. Karena di majlis ini kita
hanya menyediakan secangkir kopi susu dan berbatang-batang rokok sebagai
hiburan. Kita tawarkan pun mereka takkan mau. Bagi para raja yang melepaskan
mahkotanya, pengabdian adalah segalanya. Merekalah yang berpuasa dari nikmatnya
bercengkrama, agar mereka yang bisu tak merasa kesepian.
Seandainya ada kesempatan untuk mengulang waktu, mungkin
akan kuambil. Tapi aku berharap saat itu malu hadir dan menatapku lamat-lamat.
Thursday, 9 May 2019
Tiga Ribu Tahun Perasaan
Yang memancarkan kekecewaan
Sejauh tiga ribu tahun aku punya perasaan
Ia duduk tepat di atas dadaku
Menghisap rokok dan meminum kopi
Tanpa peduli seberapa rapuh hati yang di dudukinya
Suatu hari aku meminta bos memberiku perintah
Dan senjata
Karena sejak hati itu hancur
Tak ada lagi lagu dan film
Yang bisa membuatku merasa
Hari itu tidak ada lagi yang berharga
Teman, keluarga, dan jalan-jalan sempit di Hamra
Aku sudah relakan semuanya
Tinggal tunggu hari tanpa dosa
Untuk melepas pelatuk di setiap kepala
Apa arti hidup?
Mungkin kalian tahu jawabannya
Tapi jujur saja, aku sudah bosan mendengar pertanyaan itu
Di hadapan cermin aku bertanya
Tidakkah kau marah?
Ketika diberi tanpa kau pinta
Lalu dituntut untuk menjaga
Aku tahu ini soal ujian anak-anak Adam
Sejak masa ketiadaan nabi yang mencerahkan
Sebuah masa transisi dari kesatuan,
Menuju kemajemukkan
Aku percaya itu adalah sejarah yang hilang
Aku memiliki bintang penyesalan
Memancarkan kekecewaan
Sampai jarak tiga ribu tahun perasaan
Ia duduk di atas dadaku menghisap rokok
Dan meminum kopi
///
Dan kepada Tuhan aku memohon
Tarik aku dari arus kuat keinginan
Yang tak berujung kecuali pada penyesalan
Reality Bites
Empat Mei 2019
Tuesday, 7 May 2019
Gawat
Ia tidak berdetak dengan irama
Sebagaimana harusnya
Iya, angin musim semi itu dingin
Menusuk sampai menggigil
Ini awal fajar, gigilanku tak wajar
Namun tak selalu
Bisa saja tenang dan nyaman
Seperti merasakan kehangatan
Tebak! Tebak kenapa begitu! Harusnya kau tahu!
Sudah kutenggak dan aku kembung
Senyum-Mu dalam secangkir bening
Rasa-ku tumpul
Sampai cemberut, pun ku-minum!
Raut wajah-Mu akan kurebut cuma-cuma
Jangan takut! Pasang harga setinggi-tingginya!
Rendah pun, kubeli dengan harga diri!
Kau bukan barang yang bisa dibeli
Namun nyatanya begini,
Ku-rogoh kocek
Dan lemparkan air mata
Lengkung bibir itu
Terlihat bekasnya
Di dinding hatiku
Hati ini keras seperti batu
Kau seniman yang memahat
Nama-nama di mukanya
Bukan nama-ku, nama-Mu, nama-Nya
Tapi Anjing, Babi, Sempak
Kata penuh rasa
Pembebas prasangka
Tuhan! (Sebagai Satu-Satunya Telinga)
Jangan kasih dia bahagia!
Agar terbiasa dengan bahaya
Karena dunia-Mu itu fana
Dan kalimat-ku nyata
Venus Cleopatra dan Layla
Minggir kau semua!
Sang Nona mau lewat!
Bersepatu kalimat
Bergaun hakikat
Bermahkota anti karat
Bertabur pujian tanpa syarat!
2018
Venus
Putri Malu yang berkata
Dan bermaksud lain
Kata-kata-Nya abadi bersama waktu
Makna-makna lahir bergenerasi
Bukti
Pikiran-Nya disembahkan
Untuk seluruh ruang dan waktu
Wujud-Nya dipuji-puji
Malu-Nya membuatku terus mengaji
"Puji-lah Aku
Sebab itu untukmu"
Seorang penyair
Mengorbankan dirinya
Dalam kata-kata
Mengangkat dan menyelamatkan
Kekasihnya
Di hadapan pendengar
Yang memuja pengorbanan
Ia tersenyum
Dalam kenikmatan Cinta.
2018
Sunday, 5 May 2019
Lana Yang Ikhlas

Lana tersenyum di atas ranjang. Ia berbaring, tak menunjukan keinginan untuk terbangun.
/
Sementara itu, Raef berdiri, berjalan kesana kemari, berbicara pada Lana dengan kesal sejak 15 menitan yang lalu. Raef ingin Lana mengerti dan mengeluarkan tenaganya untuk bangun. Namun Lana seperti enggan, meski ia tahu ia bisa. Dan bukan sifat Raef untuk membuat seseorang melakukan sesuatu yang bukan dari kehendaknya. Ia hanya bisa mengomel.
/
"Raef, terlalu banyak waktu kuhabiskan sudah tanpa menemukan jawaban atas pertanyaanku. Sekarang aku tahu waktuku akan habis. Dan anehnya, aku tak menyesali pertanyaan yang menggantung itu. Akhirnya aku menemukan kepastian dari akhir semua ini. Terjawab atau pun tidak, aku takkan memiliki pertanyaan lagi -- setelah ini. Dan terima kasih, telah menghabiskan waktumu bersamaku. Setidaknya untuk pertama dan terakhir, aku diperlakukan secara normal dan layak. Kau tak bertambah pintar karena itu, kau tahu? Jadi lanjutkan sekolahmu."
/
Raef melihat sorot mata Lana, dan ia tahu bahwa ini saatnya untuk menyerah. Percuma. Tapi saat itu, adalah senyum paling bahagia yang pernah ia lihat dari wajah sahabatnya.
/
"Aku tak tahu siapa yang gila saat ini," benak Raef.
/
This is the Last Supper. The last thing that make you feel that you're alive. Make you realize that you are you this whole time. You are Him at the same time. You're right to say, "See you next time."
/
Its not the end. Nothing, is the end.
Oktober2018
Senyum Neli

Gambar ini pertama kali dibuat berbulan-bulan silam. Berawal dari iseng, siapa sangka akan sangat mahal harganya.
/
Namanya Neli. Ia seorang anak bos restoran yang tak pernah makan di restorannya sendiri. Bangsat memang pengusaha itu. Dia tahu apa yang dimasukkan ke dalam bumbu rahasianya. Aku tak tahu. Jadi tak bisa cerita.
/
Neli anak yang baik... Suka menolong dan rajin menabung. Dia terlahir dengan takdir jatah warisan sekian M totalnya. Dan dia jadi lebih kaya lagi karena jarang menghambur-hamburkan uang ketika mau lebaran -- untuk beli baju misalnya. Ia humble, begitu bahasa mahasiswa-nya.
/
Neli lebih suka menghabiskan waktu di luar, berjalan kaki dari satu halte Transjakarta ke halte lainnya. Ia menolak pakai mobil. Macet, katanya. Daripada macet sendirian kan mending rame-rame di bus. Kegiatan ini membuat Neli lebih mudah bergaul dengan setiap orang. Neli banyak mengobrol dengan beragam kelas masyarakat sampai ia cukup menunjukkan tanda-tanda ke-kiri-an tanpa perlu membaca Das Kapital. Bagaimana lebih detailnya tanya saja pada Neli.
/
Satu hari, Neli sedang berjalan menikmati langit Jakarta yang mendung. Trotoar sekitaran Monas kan gede tuh. Neli suka sekali jalan disitu, apalagi dalam keadaan mendung. Tapi karena sudah satu putaran, Neli mulai keringatan dan ngos-ngosan. Akhirnya ia putuskan untuk rehat sejenak di salah satu halte, sambil nyebat dulu.
/
Duduk di sebelahnya seorang berpakaian serba putih yang terlihat khusyuk. Mulutnya komat-kamit tak terdengar apa yang diucapkan. Matanya menunduk melihat ke selebaran yang dipegangnya. Neli tak tahu kenapa ia memperhatikan orang asing di sebelahnya itu. Tak lama, si orang berpakaian putih seperti sadar sedang diperhatikan dan balik menatap Neli. Tiba-tiba ia geleng-geleng kepala dan berucap, "Kamu cantik, tapi tak berkerudung. Apa artinya?" lalu pergi begitu saja. Entah apa yang merasuki pikiran Neli, pokoknya dia kaget. Tak percaya apa yang di dengarnya. Sela beberapa detik, setelah semuanha kembali terasa normal, ada yang hilang dari Neli: semangatnya. Hari itu, seorang tak dikenal baru saja geleng-geleng kepala begitu melihatnya. Sejak itu, kita semua kehilangan senyum Neli.
/
Entah bagaimana ia sekarang. Aku tak tahu di mana Neli.
Oktober2018
Saturday, 4 May 2019
Tafsir One Piece Ch. 488

Bajak laut Rumbar adalah kumpulan musisi yang hobi bersenang-senang sambil bernyanyi. Menemukan harta, pesta. Menang pertempuran, pesta. Berlabuh, bersama warga berpesta. Berhasil memasuki Grand Line dengan kapal rusak, pesta. Bangun tidur, pake pesta.
Mungkin sekilas biasa. Sebab hampir semua bajak laut berpesta. Tapi akan dikenali perbedaannya, karena ketika mau mati pun, mereka pesta.
Bajak laut dalam dunia One Piece adalah profesi yang sangat filosofis. Dimana setiap orang berlayar didorong pemaknaan terhadap hidupnya. Memang beberapa justru melakukan pencarian makna dengan berlayar.
Kebebasan menjadi bajak laut diartikan secara khusus oleh Brook, Yorki dan kawan-kawan. Bukan sekedar kebebasan fisikal, tapi spiritual. Kebebasan spiritual yang berarti tak terikat rasa takut, sedih, dan dendam.

Bagi mereka, apapun itu yang datang dalam hidup, harus disambut dengan meriah. Sebab itu, Brook menjadikan alat musik sebagai senjatanya.
Satu-satunya air mata adalah janji yang terhalang kematian. Sebuah janji untuk kembali pada kawan dan menyanyikan lagu kesukaannya.
Ibarat kata Rumi, bahwa tak ada tempat bagi kesedihan di perjamuan tuhan, Yorki sebagai kapten meminta sebuah lagu dinyanyikan di pintu kematiannya. Lagu favorit yang jadi soundtrack mereka sehari-hari.
Dan begitupun Rumbar Pirates dikenal sebagai, "Who can make crying child laugh cry."
Going to deliver Binks' Sake
Lets all sing out with a Don,
A song of the waves
Doesnt matter who you are,
Someday you'll just be bones
Never-ending, ever wand'ring
Or funny trav'ling tale
Yohoho yohoho
~Binks' Sake, Rumbar's favorite song

#tafsironepiece #onepiece #brook #rumbar
the absolute freedom
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
Setiap perpisahan selalu diwarnai dengan keraguan atau keyakinan. Antara kemungkinan dan kepastian. Apakah jumpa atau dadah selamanya. Antar...
-
Sejak manusia kuno menggambar perburuannya di goa, para penulis berusaha merekam pengalaman diri--fisik atau jiwa--lewat karya. Ada yang sek...





