Monday, 4 December 2023

the absolute freedom

i lost interest in life the moment it shows me its true face
the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness
i began to see that even altruism is a selfish attribute that change its shape
no one in this life is totally free
no one born to be free
the idea of setting ourself free by worshipping God is also a form of slavery itself
but that one probably the closest state of freedom
imam Ali once said, those who understand (the nature of) human will seek peace in an isolation
guess this is it
i start to wonder about what does freedom even means?
is it a false hope?
where did it started?
what makes one have it?
why does it being craved so much through the history of human kind?
doest it only invented to keep us fighting?
or it was a beautiful lie all this time?
all philosopher and revolutioner were rotating around the idea of freedom
with a different meaning or form of it
freedom is a scam
im sorry, Syariati, but i have to disagree
we have never born free
we born with a set of social rules and best expectation or even hope bestow upon us by another human being
and we are tied with it for the sake of peaceful life
the only valid and absolute freedom at this point
is extraction and alienation from wordly desire
even the good and positive one
and the peak form of extraction and alienation
comes in a death sentence
some will argue that death is not the end of life, but the end of free will
but brother, thats the point
the loss of will is the end of desire
free from desire is the absolute freedom a human can experience

Sunday, 6 August 2023

Setangkai Kenangan

Di pelataran cinta kutancapkan setangkai kenangan. Rumput yang bergoyang santai sudah kaku membeku. Bisa apa? Realitas meruntuhkan topeng kekasih di dalam dada.

Sebuah kisah penuh suka cita adalah halusinasi yang diperjual belikan rumah produksi. Seperti muka yang lebih jadi iklan ketimbang barang pribadi. Di tangan mereka, air mata pun sebatas hiburan saja.

Gang-gang basah menggenang harapan yang sebenarnya. Bukan kesuksesan dan kerajaan, sekedar kebaikan sederhana di simpang jalan.

Kakek bersurban mengingatkanku pada aksi yang terbuang. Oleh dilema yang terlena memakan waktu mencari identitas di alam hayal. Sibuk berpikir dan berjalan dengan slogan pencarian.

Apa sebenarnya yang dicari? Sebuah ketenangan yang tak bisa kita bagi.

Berbagi. Kata yang tak lagi terucap juga tak terlihat.

Ungkapan muak dan amarah bukanlah niat untuk berbagi. Lagi-lagi sebuah ketenangan yang memabukkan.

Syair-syair itu dilemparkan ke tong sampah tatkala mata dirabunkan dari tangan teman kita.
Mawar itu kini terbakar. Oleh sinar mentari sebab air mata tak melindunginya lagi.

Yusuf dan Wanita Tua

Legenda mengatakan bahwa ketika Yusuf sedang dilelanh di Mesir, semua orang memberi tawaran yang sangat tinggi untuk membeli wajah tampan itu. Mengenai kisah ini, Fariduddin Aththar dalam bukunya, Manthiqut-thair, menceritakan keberadaan wanita tua dalam kerumunan pembeli yang cukup menarik untuk disimak:
Seorang wanita tua yang keriput dalam kerumunan:
"Hei, biar aku yang membeli pria sombong ini!"
Dengan berteriak dia berbicara para makelar itu
sementara tangannya memegang benang.
"Tubuh dan ketampanannya membuatku gila
lihat semua benang di gelondongan yang telah kugulung!
Ambillah sebagai pembayaran dan juallah dia padaku.
Dan letakkan tangannya pada tanganku, dengan lembut!"
Pedagang itu tersenyum dan berkata, "Orang bodoh,
aku telah mendapat penawaran bernilai ratusan kali;
mutiara diantara segala permata ini bukan untukmu.
Wanita tua, apa yang bisa kulakukan dengan benangmu?"
"Aku tahu aku tidak akan memperoleh karunia ini,
tapi kawan dan lawan akan membuatku senang
mengatakan pada dunia, meskipun dengan malu-malu,
setidaknya dia tidak takut berusaha!"
Dalam syair lain dari Hubba, penyair wanita Turki, wanita tua ini kembali muncul:
Setiap orang memberikan apa pun yang dimilikinya
Karena dia ingin ikut berbagi nasib.
Kamu dan wanita tua itu sama dalam hal ini:
Apa yang ditawarkannya untuk kebahagiaan Yusuf?
Dia datang dengan dua tangan penuh benang
Dengan harapan dapat membeli wajah tampan itu.

Monday, 31 July 2023

Asam Garam Yahudi Lebanon

”Bagi banyak orang, ‘Yahudi Lebanon’ tak lebih dari sebuah konsep. Namun nyatanya, Yahudi pernah hidup berdampingan dengan populasi Kristen dan Muslim—mereka bahkan berbagi kursi kekuasaan di parlemen. Beirut, Tripoli, Saida, dan Hasbaya adalah kota yang dulu mereka sebut rumah. Natal dan Idul Fitri adalah momen yang mereka rayakan bersama tetangganya.” —Nadine Mazloum, StepFeed.

Boleh dikatakan bangsa Yahudi konsisten hijrah dari ribuan tahun lalu. Kota ke kota, kerajaan ke kerajaan, negara ke negara. Hingga saat ini, tercatat ada 14 juta diaspora Yahudi di dunia—tercecer di sana-sini. Satu-dua cerita juga mengabarkan keberadaan mereka di Indonesia. Tapi mungkin sulit mendengarnya dengan suka cita di negara kita. Mengingat sudah 70 tahunan isu Yahudi agak sensitif bagi komunitas muslim kebanyakan—sejak berdirinya Israel.

Jika ditanya dari mana asal mereka, paling tidak menurut sejarah, tentu saja sekitaran Timur Tengah. Sebagai turunan Yakub atau Jacob atau Israel, setidaknya kita tahu ia pernah tinggal di Kanaan atau Palestina masa kini. Kisah-kisah mereka selama masa kenabian Muhammad saw juga tidak sedikit. Maka mereka pernah ada di bilangan Madinah.

Lebanon-pun punya kesaksiannya sendiri. Sebuah bangunan tua di kota Saida—yang kini jadi rumah bagi imigran Suriah dan Palestina—dulunya berfungsi sebagai sinagog. Termasuk sinagog tertua di dunia, yang dibangun tahun 833 M. Sinagog ini berdiri di atas reruntuhan kuil yang hancur tahun 66 sebelum masehi. Konon, Jesus pernah berceramah di sana. Jadi setidaknya kita bisa berasumsi, bahwa yahudi sudah ada di Lebanon sejauh ingatan sejarah kita tentang bangsa-nya Rostchild ini.

Namun berbeda dengan negara Arab lainnya, kita masih bisa merayakan perbedaan bersama yahudi di Lebanon. Lepas tumbangnya dinasti Ottoman, Perancis mendapat jatah Lebanon untuk diduduki. Di bawah mandatnya, Lebanon yang masih seperti kumpulan komunitas agama ingin berdaulat. Maka untuk menghindari konflik politik, Lebanon di bawah kekuasaan Perancis untuk pertama kali melakukan sensus penduduk. Sesuai hasilnya, Kristen Maronit mendapat jatah kursi presiden sebagai mayoritas utama. Kemudian Muslim Sunni dapat jatah perdana menteri, dan Muslim Syiah juru bicara parlemen. Sisanya, ada 15 sekte lagi yang terhitung sebagai bagian dari Lebanon mendapat jatah kursi di parlemen dengan jumlah berdasarkan kuantitas penganutnya. Dari situ, dikhususkan satu kursi perwakilan untuk tiga sekte ter-sedikit di Lebanon, salah satunya, sekte yahudi.

Lima tahun setelah Lebanon merdeka dari Perancis, Israel tercipta (1948). Kemarahan negara-bangsa Arab merasuki penduduk Yahudinya dengan ketakutan dan ancaman. Bangsa Yahudi untuk kesekian kalinya hijrah. Tujuan utama terpecah dua: Israel dan Eropa-Amerika. Namun ada tujuan alternatif: Lebanon. Sejak berdirinya Israel, Lebanon adalah satu-satunya negara Arab yang tercatat mengalami kenaikan populasi Yahudi di dalam perbatasannya. Buku The Jews of Beirut mencatat pada tahun 1950, kurang lebih 10.000 orang yahudi masuk ke Lebanon dari Suriah, Iraq, dan sekitarnya. Dengan menjadi satu-satunnya negara Arab yang dipimpin Kristen (Maronit), juga kenyataan bahwa dominasi politiknya tak dipegang satu golongan—boleh dikatakan, epitome Bhinneka Tunggal Ika yang sebenarnya—Lebanon jadi negara paling ramah yahudi di kawasan.

Beirut menampung paling banyak Yahudi pada masanya. Di samping rumah megah Perdana Menteri Saad Hariri ada kawasan yang dulu jadi pusatnya Yahudi—sebuah jalan bernama Wadi Abu Jamil. Di kawasan yang membelah pemukiman Kristen dan Muslim ini, pernah berdiri sekolah, pertokoan, juga sinagog Yahudi. Dalam film dokumenter BBC Arabic tahun 2006 berjudul Yahud Lubnani, Mokhtar Itani, penulis buku Our Beirut bercerita, “Mereka (Yahudi) dulu dianggap  bagian dari komunitas Arab Lebanon yang menganut agama Yahudi atau pengikut Musa. Sama seperti Muslim yang mengikuti Islam dan Muhammad, atau Kristen yang mengikuti Isa. Mereka bagian dari penduduk Beirut yang jadi orang-orang terdekat kita. Bahkan, mereka banyak memiliki posisi penting. Ada seorang Rabbi namanya Solomon. Dia adalah ahli sunnat paling terkenal di kalangan Muslim saat itu.” Itani juga mengingat tentang Dokter Nassim Chams, seorang Yahudi yang diberi julukan “Penyembuh Kaum Miskin” (The Healer of The Poor). Ia mendapat tempat khusus di hati masyarakat Beirut atas dedikasinya melayani orang sakit tanpa memungut biaya apapun, bagi siapapun—terlepas agama, ras, dan kebangsaannya.

Secara politik, keberagaman agama yang membangun pemerintahan Lebanon meniscayakan perlindungan setiap sekte yang terlibat dalam kekuasaan. Hal ini juga tertulis jelas di konstitusi yang tersedia di situs resmi kepresidenan: C) Lebanon adalah republik parlementer demokratis yang menghormati kebebasan publik, khususnya kebebasan pendapat dan kepercayaan, dan menjunjung keadilan sosial serta kesamaan hak dan kewajiban bagi seluruh warganegaranya tanpa diskriminasi (pembedaan).

Gelombang migrasi pertama yang membuat Lebanon sepi Yahudi adalah perang Arab-Israel tahun 1967.  Perang ini mulai mengaburkan pandangan masyarakat Lebanon atas perbedaan Yahudi dan Zionis. Di tambah merangsek masuknya pengungsi dan militan Palestina ke Beirut. Pada satu masa, penduduk Yahudi mau tak mau membagi atapnya tak hanya dengan sesama warga Lebanonnya, tapi juga Palestina. Sinagog mereka bahkan sempat menjadi pengungsian Palestina ketika perang berkecamuk. Banyak orang bersaksi bahwa terjadi penculikan sampai pembunuhan warga Yahudi oleh militan Palestina. Ketika di saat bersamaan juga banyak yang bercerita bahwa Yaser Arafat, sempat jadi pahlawan Yahudi karena menggunakan pengaruhnya menyelamatkan beberapa keluarga Yahudi dari kesalahpahaman. Namun pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa ketakutan dan ketidak-aman-an lebih nyata dari kedamaiannya. Itu sebabnya pada akhir 1975, tercatat kurang dari 1.000 Yahudi bermukim di Lebanon. Di kemudian hari, Perang Sipil dan perang dengan Israel tahun 1982 membuat makin banyak yang meninggalkan Lebanon—yang jumlahnya kini masih diperdebatkan antara 200 sampai 40 orang.

Orientasi Zionis

Seniman New York asal Lebanon, Rola Khayyat, membuat dokumenter berjudul From Brooklyn to Beirut, yang menceritakan kisah-kisah diaspora Yahudi di negarannya. Dalam wawancara dengan StepFeed, menurutnya komunitas Yahudi Lebanon di Brooklyn cukup mencolok ketimbang minoritas lain di sekitarnya. “Mereka selalu menolak membaur sepenuhnya. Cukup keras kepala memelihara identitas, budaya, dan nilai-nilai Timur Tengah yang mereka dapat di Lebanon.”

Ketika ditanya soal bagaimana mereka melihat hubunganya dengan Lebanon, salah satu narasumber berkata, “Lebanon adalah sebuah kebudayaan. Yahudi adalah sebuah agama. Tak ada kontradiksi bagi keduanya.” Rola juga mengatakan semua narasumbernya berbicara bahasa Arab sefasih dirinya.

Di permulaan abad 20, komunitas Yahudi Lebanon kurang aktif dalam politik dan tak melibatkan diri di perseteruan antara komunitas agama lainnya. Secara umum, komunitas ini cenderung mendukung Nasionalisme Lebanon, dan menempel pada penguasa Perancis. Ketika di saat bersamaan, Perancis pada masa itu tidak simpatik pada ide berdirinya negara Yahudi yang dicanangkan rivalnya, Kerajaan Inggris. Komunitas ini juga apatis terhadap ide tersebut. Memang ada segelintir pemuka komunitasnya yang antusias menyuarakan Zionisme, dengan beberapa dukungan di sana-sini. Sekolah Yahudi terbesar di Beirut, yang didirikan Alliance IsraĆ©lite Universelle asal Paris juga dengan aktif bicara soal Zionisme. Namun catatan Jewish Agency, organisasi internasional yang menghubungkan Yahudi di dunia menyesali kurangnya “gairah nasional” dari sejawatnya di Lebanon. Lebanon juga tidak mengirim delegasi ke World Zionist Congress.

Dilema Maghen Abraham

Selesai dibangun tahun 1925, Sinagog Maghen Abraham jadi semacam masjid agung bagi penganut Yahudi di Beirut dan sekitarnya. Terletak di Wadi Abu Jamil, sinagog ini terseret badai perang sipil tahun 1975. Dan ketika Israel memburu Palestine Liberation Organization (PLO) sampai ke Beirut, ironisnya, bombardir udara itu juga menghancurkan Maghen Abraham yang sudah kosong waktu itu. Pasalnya, ada kabar bahwa PLO memelindungi kawasan tersebut.

Tahun 2009, gagasan untuk merenovasi Maghen Abraham jadi perbincangan hangat. Isaac Arazi, perwakilan komunitas Yahudi setempat mulai menggalang dana dari diaspora Yahudi Lebanon di Eropa-Amerika. Yang menarik, dukungan datang dari hampir seluruh komponen politik—bahkan Hizbullah sebagai musuh bebuyutan Israel mengeluarkan press release mengenai hal ini. “Ini (Maghen Abraham) adalah tempat ibadaha, dan kami menyambut pemugarannya,” kata Sekjen Hizbullah, Hasan Nasrallah.

Bloomberg melansir Perdana Menteri Fouad Siniora mengatakan, “Kami menghormati agama Yahudi seperti menghormati agama Kristen. Satu-satunya masalah kami adalah dengan Israel.”

Namun sepuluh tahun pasca renovasi, lampu Maghen Abraham belum juga dinyalakan. Pagarnya terkunci dengan penjagaan ketat militer di sekitarnya. Seorang muslim, Bassam al-Hout, pengacara komunitas Yahudi Lebanon mengatakan hanya ada dua rabbi di Lebanon dan membantah adanya rencana Maghen Abraham beroperasi kembali.

The Israelite Community—begitu dokumen negara menyebutnya, nama yang sudah bertahun-tahun dilobi untuk diganti sebagai upaya menjaraki diri mereka dengan negara Israel—kini hidup dalam bayang-bayang sejarah Lebanon. Sulitnya memastikan keberadaan mereka, dan mundurnya komunitas ini dari aktifitas politik seperti parlemen membuat ingatan atasnya perlahan pudar. Sejak awal berdiri Israel mendeklarasikan diri sebagai Negara Yahudi. Dan fakta ini membuat makin kaburnya batas pembeda antara penganut Yahudi dan luka yang disebabkan Israel pada penduduk Lebanon. Selain itu, kondisi politik dan keamanan yang belum stabil menghantui tak hanya komunitas Yahudi, namun seluruh komponen masyarakat. Sehingga aktifitas sekte yang cukup besar seperti eksis kembalinya penganut Yahudi berpotensi meledakkan tensi yang lama dijaga. Dan pernyataan resmi di atas kertas tak lebih dari sekedar pernyataan—tak berpengaruh di jalanan.

Kini media dan masyarakat Lebanon mulai menggunakan kalimat-kalimat nostalgia ketika berbicara soal tetangga Yahudinya. “Alain Abadi biasa duduk di teras, memainkan gitarnya dan bernyanyi. Dia akrab dengan tetangganya, dan sangat sembrono,” kata Berthe Mamo, mantan penduduk Wadi Abu Jamil, mengenang tetangga Yahudinya.

“Apa aku berharap kembali ke Beirut? Tentu saja! Di Facebook, aku selalu bicara soal Lebanon. Aku masih punya teman di sana dan tak bisa melupakan mereka. Aku hidup 35 tahun di sana!” kata Alain Abadi, yang kini tinggal di Tel Aviv mengikuti kemauan ibunya, ketika diwawancara BBC.

‎23-27 ‎April ‎2019

Berkenalan Dengan Druze

Sebagai salah satu kelompok agama yang resmi diakui negara, Druze mendapat jatah delapan kursi dari total 128 kursi di parlemen. Juga dengan perkiraan jumlah penganut 5,2 persen total penduduk Lebanon, Kepala Staff Umum (Chief of General Staff—kepemimpinan militer) harus dari komunitas Druze.

Druze adalah gerakan keagamaan yang lahir di Mesir pada masa Kekhalifahan Mamluk (Fatimiyah) awal abad ke-11. Ahli mistik Ismaili (denominasi Syiah), Hamzah bin Ali dan Muhammad Ad-Darazi datang dari Persia dan memulai sebuah majlis eksklusif untuk kalangan bangsawan dan intelektual dengan dukungan Khalifah Al-Hakim. Majlis ini terbentuk dari sebuah ambisi menyatukan seluruh agama dan manusia dalam sebuah ajaran tauhid yang paripurna (unitarian, muwahhid). Tiga nilai utama yang jadi fokus adalah monoteisme (tauhid), tunduk pada Tuhan, dan keadilan sosial.

Pada masa ini, terjadi perpecahan antara Hamzah dan Darazi. Pemikiran Darazi berkembang dari misi universal sampai beranggapan bahwa Tuhan telah memanifestasikan diri-Nya dalam bentuk manusia, khususnya Ali bin Abi Thalib dan keturunannnya (termasuk Khalifah Al-Hakim), serta dirinya adalah “Pedang Keimanan”. Hamzah marah, dan menulis pernyataan bahwa Darazi telah sesat, dan menolak penggunaan pedang untuk menyebarkan agama.

Tahun 1016, Darazi membuka dan mengenalkan pemikirannya pada masyarakat. Namun gerakan Darazi ditolak dan menyulut protes keras dari berbagai kalangan di Kairo. Darazi kemudian diusir dan dilarang berceramah selama satu tahun. Tahun 1018, Darazi dibunuh karena ajarannya, namun ada sumber yang mengatakan bahwa ia dieksekusi oleh khalifah.

Setahun setelah protes, giliran Hamzah yang mendakwahkan doktrinnya. Kini gerakan ini mendapat dukungan penuh dari khalifah yang langsung mengeluarkan dekrit kebebasan beragama. Dengan dukungan ini, gerakan Hamzah (seterusnya akan disebut komunitas Druze) tersebar ke seantero negeri.

Beberapa tahun kemudian, Al-Hakim menghilang dalam sebuah perjalanan dan dipercaya oleh komunitas Druze telah moksa bersama Hamzah dan tiga petinggi komunitas ke-haribaan-Nya. Namun ada dugaan bahwa ia dibunuh oleh kakak perempuannya, Sitt Al-Mulk. Anak Al-Hakim yang masih di bawah umur, Zahir menggantikan posisi ayahnya dan menjadikan Sitt sebagai walinya. Sementara kepemimpinan Druze dipegang orang yang telah ditunjuk Hamzah, Muqtana Bahauddin.

Komunitas Druze mengakui Zahir sebagai khalifah, dan memandang Hamzah sebagai Imam (pemegang otoritas agama Islam tertinggi yang meneruskan ajaran Nabi Muhammad). Tapi Zahir ingin komunitas Druze juga menerimanya sebagai Imam. Banyak mata-mata dan propagandis dari sisa pengikut Darazi lalu memasuki komunitas Druze dengan tujuan memecah dan menjatuhkan reputasi komunitas ini. Penolakan permintaan khalifah dan aksi spionase pengikut Darazi berujung pada baku hantam antara penguasa dan komunitas Druze. Yang paling parah terjadi di Antioch di mana 5.000 pemimpin Druze tewas di tangan militer. Persekusi ini berlangsung selama tujuh tahun, dan perlahan komunitas Druze menutupi indentitasnya. Mereka yang selamat kebanyakan berpusat di Lebanon Selatan dan Suriah.

Dua tahun pasca kematian Zahir (1036), komunitas Druze baru bisa bernapas kembali dan bergerak secara terbuka—karena khalifah yang baru punya hubungan erat dengan salah satu pemuka komunitas Druze. Lalu pada tahun 1043, Bahauddin mendeklarasikan ‘penutupan ajaran’. Setelah 27 tahun mengajak manusia pada ajaran monoteisnya, mereka melihat sudah tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyatukan manusia. Maka Druze pun tak lagi mengajarkan pahamnya dan tak lagi menerima pengikut baru, pun keluarnya pengikut—yang sampai saat ini masih berlaku.

Saat ini di Lebanon, komunitas Druze berpusat di Mount Lebanon dan beberapa bagian Lebanon Selatan. Jumlahnya ditaksir sekitar 200.000 manusia. Tidak ada yang bisa menjadi Druze kecuali lahir dari dua orang tua Druze. Secara tradisi, komunitas ini melarang anggotanya menikah dengan komunitas luar.

Sesi ‘peribadatan’ mereka berlangsung sangat rahasia. Khusus untuk keturunan Druze yang mendeklarasikan penyerahan diri pada agama—dengan mengambil kelas khusus selama tiga bulan, dan membuktikan bahwa ia jauh dari ‘tujuh dosa besar’. Sesi rahasia ini berlangsung pada malam Jumat di hilwah (semacam masjid), di mana para kyai (mereka yang sudah menyerahkan dirinya pada agama) bergumul dengan kitab ajarannya yang bernama Al-Hikma.

Bagi Druze, reinkarnasi adalah bentuk dari keadilan Tuhan. Sebagai kesempatan kedua bagi jiwa (khususnya yang mati muda) untuk kembali ke dunia dan menyempurnakan dirinya sebelum benar-benar menyatu dengan Tuhan.

Meski mengamini beberapa dogma Kristiani, dan mengandung banyak pemikiran filsuf Yunani, sebagian besar sumber paham Druze masih berasal dari Alquran dan hadis Nabi Muhammad (sebagaimana akarnya dari Islam Ismaili). Hanya saja, mereka berusaha memperluas cakupan firman dalam Alquran dengan melakukan tafsiran yang lebih universal—hal ini bisa dipahami dari upaya pencetusnya menyatukan beragam aliran keagamaan dalam kesepakatan ketuhanan yang satu. Sementara untuk kewajiban-kewajiban seperti solat, puasa, dan zakat mereka melihatnya sebagai aktifitas jiwa dan sosial ketimbang ritual simbolik. Akibatnya, banyak perdebatan di kalangan ulama Muslim soal status ke-muslim-an anggota Druze. Namun konstitusi Lebanon tetap memasukkan Druze dalam daftar pecahan Islam.

Komunitas Druze sendiri lebih senang menyebut dirinya “Muwahhiduun” (Para Monoteis) ketimbang Muslim. Sementara nama ‘Druze’ awal kali digunakan sejarawan dalam kaitan komunitas dengan Muhammad Darazi—yang dalam teks-teks komunitas Druze kini disebut seorang bidah dan sesat.

Druze menganggap dirinya sebagai evolusi dari pergerakan Yahudi, Kristen, kemudian Islam. Sebuah gerakan yang tak lain melayani keinginan Tuhan yang rindu pada dirinya sendiri. Dan peleburan batas-batas praktis antar ajaran dilihat sebagai konsekuensi logis dari mimpi menyatukan manusia di bawah payung ketuhanan Yang Maha Esa. Ritual tak boleh memisahkan satu jiwa dengan yang lainnya karena ia bukan tujuan tapi jalan. Melihat semua ini, tak heran ketika sejarawan Perancis, Gerard de Nerval menyebut Druze dengan nama: Islam Freemason.

13-‎23 ‎June ‎2019

Cinta Lokasi Para Militan

Ketika audisi, Atris tertawa sinis dan berkata berkata, “Baiklah, jika anda bersikeras ingin saya bermain peran, saya ikuti. Tapi jika akhirnya saya hajar habis mereka, jangan mengeluh.”

Atris adalah seorang pemuda dari Bab el-Tebbaneh, sebuah kawasan yang didominasi Muslim Sunni, di kota Tripoli, Lebanon Utara. Atris bersama puluhan pemuda lainnya mendapat tawaran untuk bermain peran dalam sebuah teater komedi gelap berjudul “Love and War on the Rooftop”, versi parodi dari legenda Romeo Juliet, 2011 silam.

Pentas drama ini diinisiasi oleh Lea Baroudi dan timnya—sebuah Lembaga Sosial Masyarakat di bidang perdamaian dan pembangunan bernama MARCH.

Pemuda lain yang dipaksa menjadi aktor adalah Ali. Ia berasal dari Jabal Mohsen—tetangga Bab el-Tebbaneh—yang didominasi Alawi. Ketika audisi, Ali menaruh pistolnya di meja juri dan berkata, “Ok, sekarang anda harus jelaskan apa yang sedang anda lakukan di sini sebab saya sama sekali tak terpikirkan bisa menjadi seorang aktor.” Lea yang saat itu ikut jadi juri pun tertawa dan membalas, “Saya pikir anda bisa.”

Bab el-Tebbaneh dan Jabal Mohsen sudah saling tembak sejak perang sipil di Lebanon puluhan tahun lalu. Konflik berlatar sekte ini belakangan makin panas sejak perang di Suriah. Pemuda seperti  Atris dan Ali sudah mengenal senjata sejak umur 15—bahkan lebih muda. Lupakan dulu soal sekolah dan memiliki rumah, Atris saja bisa dikatakan tak bernegara. Orang tuanya tak mampu mengurus administrasi kelahiran akibat kemiskinan—dan ia bukan satu-satunya. Jalan yang membelah dua kawasan ini (ironisnya) bernama “Syria Street”—adalah medan baku hantam yang paling akrab sebagai tempat mereka tumbuh.

Atris dan Ali—dua dari 100 pemuda yang ‘dipaksa’ mengikuti audisi—adalah juga veteran perang. Selain melawan tetangga sektenya, banyak dari mereka pernah ke Suriah baik bertarung bersama pemerintah maupun oposisi Suriah. Mereka kembali ke Lebanon karena satu dan lain hal. Namun jalan hidup sektarian yang keras sudah menjadi satu-satunya jalan hidup yang pernah mereka lalui—sampai MARCH datang menawarkan sebuah panggung.



image source: www.marchlebanon.org

“Semua pada awalnya berpartisipasi murni didorong rasa penasaran,” kata Lea di TEDxSciencesPo, Perancis. “Siapa sih orang-orang Beirut ini yang ingin orang sepertiku bermain peran?” tambahnya mengutip salah satu partisipan.

Menurut pengakuan Lea, tahap awal audisi adalah yang paling sulit. Terlambat dan harus disusul ke rumahnya bahkan secara harfiah ditarik dari tempat tidur, tensi antar partisipan yang masih sangat terasa—mengingat mereka sudah lahir bermusuhan, sampai pengecekan badan untuk mencegah masuknya senjata di pintu masuk. 16 aktor mantan-veteran yang lolos audisi lalu berlatih bersama selama tujuh bulan—dibimbing oleh beberapa profesional yang disewa MARCH. Setelah pentas yang dihadiri warga sekitar usai dan diabadikan dalam sebuah film dokumenter, efek positif mulai terasa dan muncul dorongan dari para aktor untuk tak hanya berdamai di atas paggung, namun dalam keseharian dan melibatkan lebih banyak orang lagi.

Kafe Budaya

Berawal dari bangunan terbengkalai yang penuh dengan lubang peluru tepat di atas Syria Street, MARCH bersama para veteran muda dari dua kawasan yang bermusuhan membangun sebuah kafe—yang sangat lekat dengan gaya hidup masyarakat Lebanon secara keseluruhan. Namannya “Kahwetna: Cafe bi Kaffak” (Kopi kita: kafe di genggamanmu).



image source: www.marchlebanon.org

Kafe ini selain menyambungkan kedua kawasan yang lama bermusuhan, juga mempekerjakan pemuda dari keuda belah pihak. Para aktor drama dan pemuda lain menemukan ruang kreatif untuk menyalurkan minat dan bakat mereka. Dari kafe ini, para alumni pentas drama yang lalu bersama MARCH mewadahi aktifitias berkarya dari mulai melukis, dansa, band sampai pembuatan video klipnya. Turnamen sepak bola juga pernah diadakan oleh Kahwetna, bahkan sampai menarik turun Lebanese Army (Angkatan Bersenjata Lebanon)—dalam upaya memperkecil jurang pemisah di antara mereka.

Sering menjadi bahan candaan juga di antara pengunjung dan pekerja, soal fakta bahwa mereka yang biasanya saling lempar peluru, kini saling lempar espresso.

Gerbang Emas

Setelah sekian bulan Kahwetna mengadakan berbagai pertunjukan seni dan budaya, tercetuslah proyek yang lebih besar lagi: refitalisasi Bab el-Dahab (Gerbang Emas).

image source: www.marchlebanon.org

Usut punya usut, Jabal Mohsen dan Bab el-Tebbaneh sebelum perang sipil tahun 70-an adalah satu kawasan bernama Bab el-Dahab. Disebut begitu, karena potensi ekonominya yang menjanjikan. Maka berkaca pada sejarahnya, warga sekitar yang sudah terjamah ide-ide perdamaian MARCH ingin kembali menyatukan dua kawasan ini.

Sejak 2016 sampai sekarang, proyek ini sudah berhasil menghidupkan kembali 200 pertokoan dengan bantuan 230 pekerja lokal di bilangan Syria Street dan Muhajareen Street. Mereka yang berpartisipasi dalam pembangunan banyak menerima bimbingan softskill dari Kahwetna. Efeknya pun mulai terlihat dari banyaknya toko yang menggunakan nama “el-Dahab” di atas pintunya.

Atris dan Ali masih terus berkarya dan memperluas cakupan perdamaian yang mereka rasakan di atas panggung. Berbagai macam pentas seni dan proyek terus berjalan sampai sekarang dan tersebar ke seluruh Lebanon. Sampai awal tahun ini, Lea Baroudi sebagai pendiri MARCH mendapat medali kehormatan Britania dari Ratu Elizabeth II. Sebuah penghargaan tahunan bagi mereka yang berkontribusi secara positif dan masif bagi masyarakat dalam berbagai bidang.


Toleransi: Penghinaan, Perbedaan, Kebiasaan

Orang tak dikenal membakar habis perpustaakaan milik Pendeta Kristen Ortodox di utara Lebanon, Tripoli. Pendeta Sarrouj dituduh telah melecehkan Islam, setelah ada yang menemukan artikel ‘sensitif’ dalam sebuah buku di perpustakaannya. Satu penjaga perpustakaan tertembak. Dan sekitar 50.000 buku lenyap setelah melayani kebutuhan publik sejak 1972.

Kejadian itu terjadi Januari 2014 silam. Di Tripoli yang punya populasi 80% muslim. Sebelumnya Pendeta sudah menemui para petinggi muslim setempat untuk klarifikasi. Dan akhirnya demonstrasi yang direncanakan, dibatalkan. Pasca pembakaran, aparat mengatakan Pendeta Sarrouj tak melakukan kesalahan apapun—bahwa artikel tersebut, tak ada hubungannya dengan pendeta. Saat konferensi pers, aparat berjanji “siapapun yang ingin menyulut perselisihan di Tripoli ditakdirkan masuk penjara, sebagaimana yang akan menimpa mereka para pembakar (perpustakaan pendeta)”.

Agustus 2018 seorang muslim ditemukan mati terpotong-potong di pinggir jalan kota Danniyeh, Lebanon Utara. Korban—Muhammed al-Dhaibi, awalnya terlibat adu mulut dengan penjaga toko kelontong soal kenaikan harga, kata saudaranya pada media. Muhammed secara spontan menyebut Tuhan dalam makiannya pada penjaga toko. Seorang Syeikh (Kyai), mendengar ucapan Muhammed dan menegurnya. Dan Syeikh-pun ikut terlibat perdebatan dengan Muhammed.

Setelah meninggalkan toko, Muhammed dicegat Syeikh bersama dua saudaranya yang langsung membunuh korban dan membuang tubuhnya di sebuah jalan. Setelah investigasi, aparat mengatakan bahwa korban “menghina Syeikh dan Tuhan”. Tak lama, Syeikh dan saudaranya menyerahkan diri sambil menyatakan kebanggaan atas tindakannya, dilansir Al-Jadeed.

Akhir tahun kemarin, Hakim Jocelyne Matta lewat pengadilan Tripoli memvonis dua pemuda muslim untuk mempelajari Alquran. Sepuluh hari sebelumnya, dua anak ini memasuki sebuah gereja, menjatuhkan patung Mary di dalamnya, mencium patung tersebut dengan pose tidak senonoh. Mereka merekam aksi tersebut lalu menyebarkannya via WhatsApp.

Seperti Indonesia, Lebanon juga punya pasal penghinaan agama. Dalam Pasal 437 Hukum Pidana Lebanon menyatakan hukuman maksimal satu tahun penjara, bagi siapapun yang “menghina Tuhan di muka umum”. Namun sampai sekarang, belum ada satupun laporan yang mengatakan seseorang terjerat pasal tersebut.

Menurut survey Gallup, masyarakat Lebanon secara umum masih lebih toleran daripada Britania dan Jerman—jangan tanya negara Arab lainnya. Dalam merespon “Saya tidak keberatan seorang dari agama lain pindah ke sebelah rumah saya”, 76% responden menyatakan “sangat setuju”. Sementara Britania dan Jerman hanya 57%.

Selain itu, di saat bersamaan, untuk membayangkan tingkat relijiusitas masyarakat Lebanon, 82% responden muslim dan 86% responden kristen sepakat bahwa agama sangat penting dalam keseharian hidup mereka.

Sebagai contohnya kita bisa melihat paduan suara yatim-piatu muslim dari Imam Sadr Foundation, yang menyanyikan lagu natal di Gereja Saint Elie, Beirut, 2017 silam.




Atau Syeikh Khaled Yamout yang melantunkan azan dan kutipan Surat Maryam dalam sebuah acara untuk Perawan Mary di Gereja MƩdaille Miraculeuse, Beirut.

Meskipun perang sipil pernah menghancurkan Paris-nya Timur Tengah, Lebanon masih dikenal sebagai ruang bernapas pluralisme—khususnya pasca Musim Semi Arab. Selain memberi jatah kursi politik pada 18 sekte berbeda, pemerintah menjamin kebebasan melakukan ritual agama dan pembangunan rumah ibadah, selama tidak mengganggu ketertiban publik. Sampai sekarang, juga tidak ada laporan mengenai kekerasan atau diskriminasi yang berkaitan dengan keyakinan atau praktik keagamaan.

Mungkin itu sebabnya, puluhan warga dan pelajar Tripoli ikut membantu proses pembersihan lalu mengumpulkan bantuan untuk membangun perpustakan bersejarah Pendeta Sarrouj “lebih baik dari sebelumnya”.

“Saya meminta polisi menangkap mereka yang mengeluarkan fatwa dan memerintahkan penyerangan (perpustakaan), ketimbang fokus pada mereka yang melakukan penyerangan”, kata Syeikh Salem al-Rafei kepada media.


Bhinneka Tinggal di Neraka

Sebagai satu-satunya negara bangsa Arab di Timur Tengah yang memiliki presiden Kristen, Lebanon memang layak disebut “ruang bernapas pluralisme” bagi kawasan. Berawal dari pelabuhan Beirut yang menjadi pusat masuknya segala hal dari Eropa pada jaman Ottoman—termasuk agama, budaya, dan pencampuran ras. Pada abad 17-an, kawasan yang kini kita sebut Lebanon dikuasai seorang pangeran Druze, yang sempat diasingkan khalifah ke Italia, dan ikut menyaksikan perkembangan Renaisans. Kepulangannya ke Lebanon yang kembali berkuasa membawa sekaligus revolusi budaya dan intelektual tersebut. Selain mengenalkan mesin percetakan pertama di kawasan, ia juga mendukung para Jesuit Katolik membuka sekolah di seantero negeri. Ini adalah salah satu faktor yang mendasari kuatnya pondasi Kristiani di Lebanon kini.

Seiring berjalannya waktu, Perancis jadi semacam ibu asuh Lebanon pasca kejatuhan Ottoman. Keterikatan Perancis dengan Lebanon juga didasari hubungan politik mereka dengan populasi Kristen yang besar di sini. Sampai ketika beragam suku yang terpolarisasi agama di Lebanon menuntut kemerdekaannya, kubu Kristen Maronit yang cinta pada Perancis jelas tak ingin dirinya merdeka. Sementara dari kubu non-Kristen, lebih cenderung berpihak pada arabisme Suriah. Mereka ingin bergabung dengan Suriah. Resolusi atas konflik ini berakhir dengan kemerdekaan Lebanon sebagai negara independen.

Resolusi itu bernama National Pact. Kesepakatan ini tidak tertulis, namun dipahami, disepakati, dan dipegang teguh secara serius oleh seluruh lapisan masyarakat. Isinya, kesepakatan pemberian kursi presiden pada partai dari agama Kristen Maronit; perdana menteri untuk partai dari Islam Sunni; ketua parlemen untuk partai Islam Syiah; staf umum militer untuk partai Druze; dalam kesepakatan juga termasuk kerelaan partai Muslim melepaskan mimpi persatuannya dengan Suriah, dan penerimaan partai Kristen atas identitas Lebanon sebagai negara bangsa Arab. Dalam konstitusi yang lahir setelahnya, tercatut bahwa Lebanon dibentuk dengan persatuan 18 sekte (12 sekte Kristen, empat Muslim, Druze, dan Yahudi). Dari sini, jatah pembagian 128 kursi parlemen dibagi antara kubu Kristen dan Islam dengan perbandingan 6:5. Menjadikan identitas Lebanon sebagai negara dengan pembagian kekuasaan berdasarkan kelompok agama.

Kesepakatan ini mengukuhkan citra Lebanon sebagai negara yang plural dan toleran. Tak butuh waktu lama, Lebanon mentransformasikan dirinya sebagai ikon utama pluralisme di Timur Tengah. Menjadi kiblat liberalisme dunia Arab dan pelarian bagi warga tetangga yang terlalu mendapat banyak aturan di negara asalnya. Dibalik semua keberagaman itu semua Lebanon juga memiliki kekuatan ekonomi yang sangat stabil, menjadikan Lebanon tempat yang menjajikan untuk mengadu nasib bagi siapapun.

Namun, tak berlangsung lama. Pada dekade 60-an, kubu Muslim mulai tak puas dengan alokasi kekuasaan di parlemen. Tingginya angka kelahiran Muslim dan tingginya angka imigrasi dari penduduk Kristen harusnya membalik keadaan. Ditambah lahirnya Israel yang menempel di perbatasan selatan Lebanon yang membakar tak hanya situasi politik di Lebanon, tapi seantero Arab. Pengungsi dari Palestina membludak sampai ke Beirut, dan akhirnya memicu perang sipil pada tahun 1975—yang berakhir tahun 1990. Perang berakhir dalam satu perjanjian yang disebut Taif – nama kota tempat perjanjian ini ditandatangani di KSA.

Pasca perang yang berlangsung hampir 20 tahun, yang sebenarnya murni konflik politik antar partai, para pihak yang bertikai bersepakat satu sama lain. Mereka yang sering disebut sendiri oleh masyarakat lebanon sebagai mafia perang  melangkahkan kakinya menuju pemerintahan dan memulai dominasi politiknya. Mereka yang sebelumnya menggunakan seragam milter kini duduk nyaman mengenakan jas di pemerintahan.

Ketika tampuk kekuasaan di tangan mereka, para elite politik ini mulai mengambil keuntungan dari sekte agama yang mengangkat mereka ke meja pemerintahan sebagai wakil, dan tidak banyak yang memiliki nyali untuk membicarakan atau mengkritiknya. Para elite sepakat untuk membagi setiap sektor yang ada di Lebanon guna dimonopoli, mendominasi industri tertentu tanpa persaingan. Pada akhirnya korupsi meluas, perpecahan di dalam dan di luar tubuh pemerintahan, ketegangan sekterian, ekonomi semakin merosot, fasilitas publik tidak efisien, dan pertengkaran elit politk dalam membuat keputusan tentang isu-isu yang tidak ada hubungannya dengan kebutuhan warga Lebanon sama sekali.

Singkatnya, keberagaman sekterian yang dibenturkan dengan kepentingan politik adalah kanker yang terus merambat dalam tubuh Lebanon.  


Tuesday, 4 July 2023

international women's day?

Dalam keseharian kita mengenal tragedi pelecehan dan perendahan. Tak dinyana, inilah dunia yang dihasilkannya: penuh dendam, haus akan kompetisi, tak akan merasa cukup atas apa yang dimiliki. Perang berkecamuk bagai hilir mudik pelanggan Jumat Hitam. Sementara jiwa yang lembut meringkuk, menghindari udara yang mencekik, berlindung di balik bayang-bayang ibu-nya.

Sosok wanita, tanpa perlu dikenal akan selalu menopang apapun yang akhirnya kita kenal. Dalam puncak tahtanya sebagai ibu, "Bagaimana bisa, wahai ibu, aku menjadi ayah namun tak pernah dewasa," seru Nizar dalam suratnya. Wanita itu, hanya dengan keberadaannya yang jauh, mampu membuat rokok-pun membosankan bagi sang pujangga.

Mendengar Nizar, Qais mengganti nama, lalu pergi ke hutan meratapi kegagalannya menjadi waras. Baginya, ia adalah pecundang yang bahkan gagal memahami dalamnya makna ibu yang ia lihat dalam diri Layla. Layla berusaha menghiburnya namun terus diusir Majnun. Hanya kematian Layla yang mampu menarik Majnun dari kegilaannya, lalu merangkak memeluk batu nisan, dan mengundang malaikat kematian. "Bangkitkan aku dalam pengasingan dari dunia ini."

Nizami memerhatikan Majnun dari jauh, dan tertawa. Akhirnya ia belajar, bahwa meski semua cerita disampaikan dari lisan Majnun, namun intinya adalah Layla. Maka ia taruh nama wanita mendahului nama pria. Karena memang begitu adanya.

Wanita-wanita tidak menjadikan cv sebagai riwayat hidupnya, di atas sejarah kemanusiaan-lah mereka meninggalkan jejak kakinya.

Terkutuklah jiwa yang lupa. Ia yang kehilangan kasih sayang wanita, mengalami patah tulang punggung yang parah. Jiwanya meronta bagai seorang anak di samping kuburan ibunya. Tak ada gagak yang mampu menandingi perih suara teriakkannya.

Ingatkan aku, tanpa menyebut nama Tuhan, bahwa wanitalah bumi ini; wanitalah senyum ini; wanitalah hati ini.

Saturday, 21 May 2022

Surat Bocah yang Marah

Kepada Tuhan kutulis tantangan ini. Kutunggu Kau di medan perang, meski kita sudah berhadapan. Penolakanku pada penghambaanmu adalah hasrat bebas yang kau berikan – tapi kubebaskan. Aku mempertanyakan segala suruhan agar aku menjalaninya dengan keinginan: dengan bebas.

Orang bilang ini adalah nafsu yang berlebihan. Tapi di mataku ini adalah jalan terang kebenaran. Tanpa keinginan untuk bebas, bagaimana cara kita maju dan berkembang?

Harapanku satu: bahwa siapapun yang menang dalam pertempuran ini, akan mengakui kekalahan dengan kehormatan. Mungkin sulit bagiku. Ego masih besar, kau tahu itu.

Tapi perang yang terlihat Panjang mengurangi kekhawatiran. Aku punya waktu untuk mengksatriakan diri. Bagaimana denganmu? Cukup beranikah kau mengakui kekalahan? Apakah kau punya hati? Kurasa tidak. Tapi apa itu berarti bagimu? Kuharap tidak.


satu hari dalam perantauan, penuh emosi dan rasa kecewa

(2016-2018)

Monday, 21 June 2021

zaztrawan

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Kita merindukan ia yang pergi

Mengenang masa lalu dan ingin mengulanginya lagi

Merangkak di atas setiap ingatan seperti bayi

Tertawa, tersenyum, merenung, menangis

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Meski pertemuan tak akan terjadi lagi

Namun ia mendatangimu dalam setiap mimpi

Dalam setiap lamunan di siang hari

Dalam setiap obrolan dengan kawan-kawan saat ini

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Kita berpikir ini waktunya pergi

Tidak ada lagi nilai dalam hubungan yang terus dipertahankan

Namun dalam sepersekian detika ia berpaling pergi

Dan menemukan jalannya sendiri lagi

Kita menyadari betapa kita menginginkannya sehidup semati

Tanpa sedikitpun memerdulikan soal kemungkinan-kemungkinan

Tanpa sedikitpun memerhatikan apakah kebersamaan ini bernilai atau tidak

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Bahkan dalam permusuhan paling epik dalam sejarah

Dua pihak yang saling berhadapan hanya aka berhadapan karena dua ideologi yang saling terikat

Terikat dalam perbedaan yang fatal

Terikat dalam dua hal berbeda namun slaing bertabrakan

Maka permusuhan sejatinya adalah pertemanan

Yang diwarnai kemarahan alih-alih kehangatan

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Bahkan kematian sepertinya tak benar-benar memisahkan

Jika orang melihat kematian sebagai mimpi buruk keharmonisan

Sejatinya kematian justru menyatukan yang terpisah

Menyatukan yang lupa agar mengingat

Mengubah kekesalan jadi kerinduan

Kesibukan jadi waktu yang didedikasikan

Pertemuan terencana

Menjadi kehadiran tanpa jeda

Dalam hati para pecinta

 

in memoriam, naqib musawa

Senin, 21/06/2021 (H+3)

Thursday, 10 June 2021

Jika mereka peduli, lalu kau apa?

Di bawah terik bulan yang membakar hati kesepian

Gelapnya malam harusnya menyelimuti para penyair dengan hangatnya keterasingan

Namun pantulan sinar matahari yang ragu-ragu

Justru membuka ruang para serigala menerkam rasa sepi dengan tatapan yang buas

 

Kita adalah anak-anak waktu yang durhaka

Melawan takdir dan maju mundur

Dari masa depan ke masa lalu

Tanpa rasa malu

 

Kita adalah hamba-hamba yang memberontak

Di hadapan petunjuk yang jelas kita menulis ulang setiap aturan

Berasaskan prasangka, hitungan matematika, logika yang tak sempurna

Lalu kepada Sang Tuan kita menghadap

Berdiri, tidak berlutut

Memandang tajam ke depan, tidak menunduk

Berjabat tangan dengan tegas seakan semuanya setara

Rerumputan tertawa melihat tingkah yang tak ada kasta

Betapa setiap otak diracuni kesombongan zaman dan peradaban

 

Kita budak-budak nafsu yang cemburu

Kecemburuan yang menyelimuti dirinya dengan jubah rasa

Bahwa rasa adalah anugera dan sebuah petunjuk yang agung

Tidak perlu diragukan lagi

Namun apakah setiap orang memilikinya?

Juga tak perlu diragukan bahwa jawabannya tidak

Setiap rasa menuntun kita pada jalan halus kemurnian dan wewangian

Bukan ke medan perang dan tempat pembuangan kotoran

Kotoran manusia yaitu benci, serakah, dengki, dan kesombongan

 

Kita anak-anak bodoh yang menolak untuk keluar dari gubuk kecil kedunguan

Gubuk yang temboknya dianyam kata-kata manis para durjana

Durjana yang mengoreksi setiap ayat dari pesan Tuhan kepada Nabinya

Durjana yang memenggal kepala para pecinta dengan  hati yang indah

Durjana yang membungkam mulut-mulut penyair agar tak lagi menyanyikan Nama-Nya

Durjana yang memenjarakan manusia dalam lingkaran setan kebudayaan dan norma-norma tak berhati

Durjanana yang berdiri di atas mayat-mayat intelektual dengan panji kebenaran parsial di tangannya

Ah… habis kata-kataku dicuri para durjana

 

Tak lagi aku bias membaca keadaan yang makin runyam dan bising

Hilang sudah harapan sebuah negara yang harmonis tempat kijang makan dengan tenang di samping serigala

Hilang sudah masa depan anak bangsa

Apa yang disebut dosa kini sebuah rekreasi

Tempat mereka yang terasing dan dibuang mendapat peluk kasih sayang


Tuan, kalau boleh aku bertanya

Apakah dibenarkan, aku bersimpuh tanpa sepotong baju di tubuhku?

Sebab semua hak milikku dirampas mereka yang peduli padaku

Jika kepedulian mereka berwujud perampasan

Maka apa sebutan yang tepat bagi aksimu

Yang sejak awal memberikan semuanya?

 

//10/06/2021

Saturday, 1 May 2021

Aku tak paham bahasamu

Tubuh ini rata bagai aspal. Aku berbaring dan diratakan oleh tekanan yang yang tak terlihat, seperti sedang ngecat tembok saja. Di atasnya dua bola kecil yang terhubung ssebuah garis solid berputar, mengingatkanku pada atom.

Dengan perasaan visual itu, aku terpejam dan tak ada energi selain di kepala. Daya di sekujur tubuh berlari perlahan dari bawah ke atas, dan berkumpul di kepala, otak. Tidak ada pusing yang terasa, hanya denyut energi yang jelas terasa menggumpal di pusat kepala.

Dengan sensai visual itu, aku merasa telanjang. Telanjang dan lemah. Anehnya, meski nyatanya dalam keadaan berpakaian rapi, aku merasa telanjang. Namun meski perasaan itu lebih nyata dari pakaian yang secara sadar masih kupakai dan terasa menyentuh kulit, aku tak malu. Mungkin, masih mungkin, karena saat itu ketelanjangan ini hanya aku hadapkan pada Tuhan yang kutahu tak bermata. Di saat itu, ketelanjangan ini tak membuatku malu, hanya membuatku lebih jujur pada-Nya.

Momen seperti itu sering muncul namun baru pertama kali aku merasakannya senyata malam ini. Seperti biasa, dunia dan kehidupan adalah pemantiknya. Tapi bukan sekedar karena aku ada di dunia dan masih hidup, tapi lebih karena aku benar-benar tertarik gravitasi segala yang ada di dalamnya sampai tercipta jarak antara aku dan Dia yang Entah Siapa.

Dalam keadaan telentang, dan perasaan telanjang dan gepeng, aku berkeluh kesah. Meminta maaf dan marah. Menuntut dan pasrah.

“Aku tak paham bahasa sholat, bahasa ibadah. Aku tak paham bahasa yang digunakan setiap orang disekitarku. Yang kutahu, sekarang kau mendengarku. Apakah ini hukuman? Apakah ini tanda bahwa kau telah berpaling dariku?”

Aku berusaha yakin kau mendengarkan namun tak mendapat kepastian. Untuk membuktikan aku tak mampu. Apakah keyakinan harus dibuktikan? Mungkin tidak perlu. Lalu bagaimana dengan kesadaran bahwa “aku tidak tahu” yang bersanding sejajar dengan keyakinan di hatiku?

Tuesday, 16 March 2021

Anak-anak Prasangka


Api kemarahan selalu gagal menghanguskan kesadaranku. Sebagai keturunan Ibrahim aku melangkah di atas kayu bakar sambil menguap. Kulewati amarah yang menatapku gusar, menuju selimut tempat perdamaian bersemayam.

Seperempat abad sudah api itu menikmati damainya kehidupan. Tak menyulutku menjadi abu. Jika kau ingin melihat kekuatan yang ia simpan, silakan nyalakan. Di hadapan dunia, kehidupan yang memuakkan, tak kutemukan selain tatapan yang menjijikan. Tak peduli berubah seperti apapun ia, ribuan kali akan kupalingkan muka, dan meniggalkannya dengan perasaan remeh.

Kita adalah anak-anak prasangka. Dari prasangka kita temukan harapan. Pikiran kita semua dipenuhi utopia yang berbeda-beda, namun sama-sama kita berjalan ke arahnya—setidaknya berusaha ke sana. Agama, filsafat hidup, mimpi, semua bertumpu di pundak harapan. Dari sana Tuhan menunjukkan wajah-Nya yang paling optimis—kadang ambisius, kadang ramah.

Cobaan, katanya datang dari atas. Sebuah upaya pemurnian. Semacam sekolah militer. Halah, aku terbiasa dengan harapan. Kupikir itu hal yang diperlukan. Tapi boleh lah kita sedikit rendah diri, dan menyadari kesalahan sendiri. Tak ada cobaan tanpa sebab. Tak peduli sesuci apapun kau pikir jiwamu sehingga tak mungkin musibah datang darinya, Tuhan jauh lebih suci dan tinggi. Cobaan, sakit kepala, sesak di dada itu hanyalah akibat dari sebab yang hubungan timbal baliknya sudah dituliskan-Nya. Kita adalah tamu yang membuka pintu dan mau-tak-mau menerima jamuan apapun di dalamnya. Jamuan seperti apa yang ada di setiap pintu itu terserah Penerima Tamu. Pintu mana yang kau buka, itu sepenuhnya pilihanmu.

Itu sebabnya ilmu tentang diri sangat diperlukan. Itu sebabnya pelajaran logika—tentang bagaiama cara berpikir dengan struktur dan pradigma yang tepat—sangat diperlukan. Karena pengenalan tentang diri menyelamatkan kita dari saling-tuding atas suatu masalah—yang kadang berakhir pada telunjuk jari menghadap langit dan menyalahkan Tuhan.

Pada puncak pencapaiannya, pengenalan diri tetap akan mengantarkan air mata jatuh ke bumi. Tak apa, rasa sedih, senang, geram adalah hal yang manusiawi. Barangkali, itulah bekal yang Tuhan berikan agar hidup tak begitu hambar. Sudah banyak yang bersaksi bahwa rasa sakit justru membuatnya merasa hidup. Itukan Cuma perkara sudut pandang. Mengenal diri memberikan salah satu buah kebebasan paling penting dalam hidup: hilangnya penyesalan. Akhirnya aku paham maksud Seorang Sufi yang bilang, “Rasa sesal melumpuhkan. Lempar dosa-dosamu ke dalam ampunannya dan jangan berpikir kembali lagi.”

Memang apa yang lebih menyenangkan untuk dilihat Tuhan sebagai pemberi kehidupan, selain para hamba yang merayakan setiap nafas dengan rasa syukur dan gembira?

Jangan bawa para Rasul ke sini. Karena di majlis ini kita hanya menyediakan secangkir kopi susu dan berbatang-batang rokok sebagai hiburan. Kita tawarkan pun mereka takkan mau. Bagi para raja yang melepaskan mahkotanya, pengabdian adalah segalanya. Merekalah yang berpuasa dari nikmatnya bercengkrama, agar mereka yang bisu tak merasa kesepian.

Seandainya ada kesempatan untuk mengulang waktu, mungkin akan kuambil. Tapi aku berharap saat itu malu hadir dan menatapku lamat-lamat.

16/03/2021

Thursday, 9 May 2019

Tiga Ribu Tahun Perasaan

Aku memiliki sebuah bintang penyesalan
Yang memancarkan kekecewaan
Sejauh tiga ribu tahun aku punya perasaan
Ia duduk tepat di atas dadaku
Menghisap rokok dan meminum kopi
Tanpa peduli seberapa rapuh hati yang di dudukinya

Suatu hari aku meminta bos memberiku perintah
Dan senjata
Karena sejak hati itu hancur
Tak ada lagi lagu dan film
Yang bisa membuatku merasa

Hari itu tidak ada lagi yang berharga
Teman, keluarga, dan jalan-jalan sempit di Hamra
Aku sudah relakan semuanya
Tinggal tunggu hari tanpa dosa
Untuk melepas pelatuk di setiap kepala

Apa arti hidup?
Mungkin kalian tahu jawabannya
Tapi jujur saja, aku sudah bosan mendengar pertanyaan itu
Di hadapan cermin aku bertanya
Tidakkah kau marah?
Ketika diberi tanpa kau pinta
Lalu dituntut untuk menjaga

Aku tahu ini soal ujian anak-anak Adam
Sejak masa ketiadaan nabi yang mencerahkan
Sebuah masa transisi dari kesatuan,
Menuju kemajemukkan
Aku percaya itu adalah sejarah yang hilang

Aku memiliki bintang penyesalan
Memancarkan kekecewaan
Sampai jarak tiga ribu tahun perasaan
Ia duduk di atas dadaku menghisap rokok
Dan meminum kopi

///

Dan kepada Tuhan aku memohon
Tarik aku dari arus kuat keinginan
Yang tak berujung kecuali pada penyesalan

Reality Bites
Empat Mei 2019

Tuesday, 7 May 2019

Gawat

Gila, jantungku menggila
Ia tidak berdetak dengan irama
Sebagaimana harusnya

Iya, angin musim semi itu dingin
Menusuk sampai menggigil
Ini awal fajar, gigilanku tak wajar

Namun tak selalu
Bisa saja tenang dan nyaman
Seperti merasakan kehangatan
Tebak! Tebak kenapa begitu! Harusnya kau tahu!

Sudah kutenggak dan aku kembung
Senyum-Mu dalam secangkir bening
Rasa-ku tumpul
Sampai cemberut, pun ku-minum!

Raut wajah-Mu akan kurebut cuma-cuma
Jangan takut! Pasang harga setinggi-tingginya!
Rendah pun, kubeli dengan harga diri!

Kau bukan barang yang bisa dibeli
Namun nyatanya begini,
Ku-rogoh kocek
Dan lemparkan air mata

Lengkung bibir itu
Terlihat bekasnya
Di dinding hatiku

Hati ini keras seperti batu
Kau seniman yang memahat
Nama-nama di mukanya
Bukan nama-ku, nama-Mu, nama-Nya

Tapi Anjing, Babi, Sempak
Kata penuh rasa
Pembebas prasangka

Tuhan! (Sebagai Satu-Satunya Telinga)
Jangan kasih dia bahagia!
Agar terbiasa dengan bahaya
Karena dunia-Mu itu fana
Dan kalimat-ku nyata

Venus Cleopatra dan Layla
Minggir kau semua!
Sang Nona mau lewat!
Bersepatu kalimat
Bergaun hakikat
Bermahkota anti karat
Bertabur pujian tanpa syarat!

2018

Venus

Venus
Putri Malu yang berkata
Dan bermaksud lain
Kata-kata-Nya abadi bersama waktu
Makna-makna lahir bergenerasi
Bukti
Pikiran-Nya disembahkan
Untuk seluruh ruang dan waktu

Wujud-Nya dipuji-puji
Malu-Nya membuatku terus mengaji

"Puji-lah Aku
Sebab itu untukmu"

Seorang penyair
Mengorbankan dirinya
Dalam kata-kata
Mengangkat dan menyelamatkan
Kekasihnya

Di hadapan pendengar
Yang memuja pengorbanan
Ia tersenyum
Dalam kenikmatan Cinta.

2018

Sunday, 5 May 2019

Lana Yang Ikhlas



Lana tersenyum di atas ranjang. Ia berbaring, tak menunjukan keinginan untuk terbangun.
/
Sementara itu, Raef berdiri, berjalan kesana kemari, berbicara pada Lana dengan kesal sejak 15 menitan yang lalu. Raef ingin Lana mengerti dan mengeluarkan tenaganya untuk bangun. Namun Lana seperti enggan, meski ia tahu ia bisa. Dan bukan sifat Raef untuk membuat seseorang melakukan sesuatu yang bukan dari kehendaknya. Ia hanya bisa mengomel.
/
"Raef, terlalu banyak waktu kuhabiskan sudah tanpa menemukan jawaban atas pertanyaanku. Sekarang aku tahu waktuku akan habis. Dan anehnya, aku tak menyesali pertanyaan yang menggantung itu. Akhirnya aku menemukan kepastian dari akhir semua ini. Terjawab atau pun tidak, aku takkan memiliki pertanyaan lagi -- setelah ini. Dan terima kasih, telah menghabiskan waktumu bersamaku. Setidaknya untuk pertama dan terakhir, aku diperlakukan secara normal dan layak. Kau tak bertambah pintar karena itu, kau tahu? Jadi lanjutkan sekolahmu."
/
Raef melihat sorot mata Lana, dan ia tahu bahwa ini saatnya untuk menyerah. Percuma. Tapi saat itu, adalah senyum paling bahagia yang pernah ia lihat dari wajah sahabatnya.
/
"Aku tak tahu siapa yang gila saat ini," benak Raef.
/
This is the Last Supper. The last thing that make you feel that you're alive. Make you realize that you are you this whole time. You are Him at the same time. You're right to say, "See you next time."
/
Its not the end. Nothing, is the end.

Oktober2018

Senyum Neli



Gambar ini pertama kali dibuat berbulan-bulan silam. Berawal dari iseng, siapa sangka akan sangat mahal harganya.
/
Namanya Neli. Ia seorang anak bos restoran yang tak pernah makan di restorannya sendiri. Bangsat memang pengusaha itu. Dia tahu apa yang dimasukkan ke dalam bumbu rahasianya. Aku tak tahu. Jadi tak bisa cerita.
/
Neli anak yang baik... Suka menolong dan rajin menabung. Dia terlahir dengan takdir jatah warisan sekian M totalnya. Dan dia jadi lebih kaya lagi karena jarang menghambur-hamburkan uang ketika mau lebaran -- untuk beli baju misalnya. Ia humble, begitu bahasa mahasiswa-nya.
/
Neli lebih suka menghabiskan waktu di luar, berjalan kaki dari satu halte Transjakarta ke halte lainnya. Ia menolak pakai mobil. Macet, katanya. Daripada macet sendirian kan mending rame-rame di bus. Kegiatan ini membuat Neli lebih mudah bergaul dengan setiap orang. Neli banyak mengobrol dengan beragam kelas masyarakat sampai ia cukup menunjukkan tanda-tanda ke-kiri-an tanpa perlu membaca Das Kapital. Bagaimana lebih detailnya tanya saja pada Neli.
/
Satu hari, Neli sedang berjalan menikmati langit Jakarta yang mendung. Trotoar sekitaran Monas kan gede tuh. Neli suka sekali jalan disitu, apalagi dalam keadaan mendung. Tapi karena sudah satu putaran, Neli mulai keringatan dan ngos-ngosan. Akhirnya ia putuskan untuk rehat sejenak di salah satu halte, sambil nyebat dulu.

/
Duduk di sebelahnya seorang berpakaian serba putih yang terlihat khusyuk. Mulutnya komat-kamit tak terdengar apa yang diucapkan. Matanya menunduk melihat ke selebaran yang dipegangnya. Neli tak tahu kenapa ia memperhatikan orang asing di sebelahnya itu. Tak lama, si orang berpakaian putih seperti sadar sedang diperhatikan dan balik menatap Neli. Tiba-tiba ia geleng-geleng kepala dan berucap, "Kamu cantik, tapi tak berkerudung. Apa artinya?" lalu pergi begitu saja. Entah apa yang merasuki pikiran Neli, pokoknya dia kaget. Tak percaya apa yang di dengarnya. Sela beberapa detik, setelah semuanha kembali terasa normal, ada yang hilang dari Neli: semangatnya. Hari itu, seorang tak dikenal baru saja geleng-geleng kepala begitu melihatnya. Sejak itu, kita semua kehilangan senyum Neli.
/
Entah bagaimana ia sekarang. Aku tak tahu di mana Neli.

Oktober2018

Saturday, 4 May 2019

Tafsir One Piece Ch. 488

Setiap kapal dengan bendera tengkorak berlayar dengan idealismenya masing-masing. Dan yang akan bertahan melawan kerasnya lautan adalah mereka yang kuat idealismenya.



Bajak laut Rumbar adalah kumpulan musisi yang hobi bersenang-senang sambil bernyanyi. Menemukan harta, pesta. Menang pertempuran, pesta. Berlabuh, bersama warga berpesta. Berhasil memasuki Grand Line dengan kapal rusak, pesta. Bangun tidur, pake pesta.

Mungkin sekilas biasa. Sebab hampir semua bajak laut berpesta. Tapi akan dikenali perbedaannya, karena ketika mau mati pun, mereka pesta.

Bajak laut dalam dunia One Piece adalah profesi yang sangat filosofis. Dimana setiap orang berlayar didorong pemaknaan terhadap hidupnya. Memang beberapa justru melakukan pencarian makna dengan berlayar.

Kebebasan menjadi bajak laut diartikan secara khusus oleh Brook, Yorki dan kawan-kawan. Bukan sekedar kebebasan fisikal, tapi spiritual. Kebebasan spiritual yang berarti tak terikat rasa takut, sedih, dan dendam.



Bagi mereka, apapun itu yang datang dalam hidup, harus disambut dengan meriah. Sebab itu, Brook menjadikan alat musik sebagai senjatanya.

Satu-satunya air mata adalah janji yang terhalang kematian. Sebuah janji untuk kembali pada kawan dan menyanyikan lagu kesukaannya.

Ibarat kata Rumi, bahwa tak ada tempat bagi kesedihan di perjamuan tuhan, Yorki sebagai kapten meminta sebuah lagu dinyanyikan di pintu kematiannya. Lagu favorit yang jadi soundtrack mereka sehari-hari.

Dan begitupun Rumbar Pirates dikenal sebagai, "Who can make crying child laugh cry."

Going to deliver Binks' Sake
Lets all sing out with a Don,
A song of the waves
Doesnt matter who you are,
Someday you'll just be bones
Never-ending, ever wand'ring
Or funny trav'ling tale
Yohoho yohoho
~Binks' Sake, Rumbar's favorite song



#tafsironepiece #onepiece #brook #rumbar

the absolute freedom

i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...