Saturday, 8 October 2016
Bebas
Orang menyebutnya kematian
Aku melihat kebebasan
Memilih sering dianggap kemewahan
Namun sadarkah kau bahwa itu tanggung jawab yang dibebankan?
Sayang sekali ketika dibebaskan
Tapi mati tidak termasuk dalam pilihan
Beban apa?
Benar atau pun salah kita memilih, pasti ada konsekuensinya
Dan setiap jalan yang dipilih, selalu ada pilihan lagi didepannya
Pilihan akan selalu menghantui sebelum mati
Tanggung jawab adalah pasung bagi siapapun yang memilih
Bebas?
Tidak ada yang bebas
Bahkan untuk bebas memilih
Tak diberi kesempatan untuk tidak terjun dalam arena pemilihan
"Aku beruntung!" Katanya di mimbar sejarah
Hanya kematian kebebasan yang sesungguhnya
Ketika kita bebas dari pilihan
Thursday, 6 October 2016
Ketika Semesta Mengehingkan Cipta
Tuesday, 4 October 2016
Happy Ending
Tengah malam sebuah motor tanpa lampu menyala terlihat mendekati dari belakang.
Jalanan memang sepi.
Dugh!
Nyeri terasa menyengat ke otak sampai ujung kaki.
Hangat dan basah, disambut perih yang menahan ronta di belakang leher.
Lemas membuat gas dan kemudi motor jadi tak terarah, dan jatuh.
Motor terlihat terseret jauh ke depan.
Kaki tangan perlahan mati rasa, dan mata kabur.
Derap kaki dan saut-sautan tak jelas mendekat. Satu orang sekilas terlihat mendirikan motor dan membawanya pergi. Satu dua kaki membuat tubuh bergeser. Sampai nyeri membuat buta dan tak sadar setelah tendangan terakhir di bawah kepala.
Tinggal bayang-bayang soal hutang dan wajah orang tua. "Aku akan mati..." Katanya pada diri sendiri.
Sisa kesadaran sudah memvonis akhir hidupnya. Dan ragam besarnya penyesalan membantu nafas menghentikan kerjanya.
Tiba-tiba sebuah kesadaran kecil menunjukkan batang hidungnya dan berkata, "Jadi, cuma sampai sini?"
Ketakutan dan penyesalan mulai senyap.
"Jadi begini kau akhiri kisahku, Tuhan?" Tangis dan ronta pun berhenti dan rona perlahan tenang.
Kesadaran kecil itu lahir dari sugesti yang bercumbu dengan waktu. Menghasilkan alam bawah sadar yang bodoamat dan legowo. Mudah menerima kenyataan meski diawali penyesalan. Cepat menyingkirkan segala beban. Merangkul kemungkinan dan relatifitas kehidupan.
"Oke... Sampaikan maafku pada ayah dan ibu. Terima kasih." Benak berkicau meski tak tahu bahwa itu yang terakhir.
Nafas mengucap perpisahan terakhir pada senyum yang tersulam di bibir.
***
Ruang putih di depan mata dan di bawah kaki terlihat begitu dalam dan luas meski tak gelap. Jauh pandangan memandang kekosongan membuat tenang. Sampai, teringat semua ketegangan yang terkahir ia rasakan.
"Aku sudah mati." Tertunduk, dan mengenang senyumnya yang terakhir.
Pasca liburan cukup mengasyikkan. Rapat penjebolan hati seorang perempuan. Cimuncang-Gerlong.
Selasa, 4 Oktober.
Thursday, 29 September 2016
Teman Kita Bernama Dilema
Konon katanya, tatkala bimbang, tanyalah hatimu sebab ia adalah saksi yang tak menerima suap.
Namun keseimbangan adalah cara semesta mengajarkan kita hidup.
Apakah seorang guru sudah pasti benar?
Kapan kita mengikuti akal, kapan kita mengikuti hati?
Semua pasti tahu masa itu, ketika hati dan akal memilih jalannya masing-masing.
Kemana tubuh ini harus kita bawa?
Ada nilai yang dipertahankan masyarakat, ada kebahagiaan yang berusaha kita dapatkan.
Tentu, tak selalu sehitam putih itu. Tenang saja, bu.
Ada kalanya kabut menyelimuti sehingga hati terlihat seperti ego, dan akal adalah sebuah kelicikan untuk mendominasi. Ego dengan nama lain.
Ketika mengikuti hati, ada diri yang dibuat berseri. Namun jika akal diikuti, ada banyak orang yang bisa kita ajak naik kapal. Mempertahankan nilai, itu intinya.
Aku jujur tak paham kerja hati. Namun jika sedikit melihat akal dari sini... Cukup jelas apa pakaian yang dikenakannya.
Ia menari dengan perhitungan untung rugi. Untung rugi bagi siapa? Tentu diri sendiri.
Haha, mari kita sederhanakan. Gunakan analogi.
Dalam sebuah keluarga yang dipasung bisnis, terdapat banyak masalah. Jika si bungsu tak menikahi anak calon kolega, perusahaan akan mengganti namanya. Jika si bungsu tak menikahi kekasihnya, penat tinggal yang menemani sampai mati. Orang tua pun bingung, antara masa depan perabot, atau tawa di rumah anaknya nanti.
Dalam setiap pilihan, akan ada pengorbanan. Kita mengenalnya dengan pilihan; ambil satu dari dan buang yang kedua.
Membahagiakan diri, atau menyenangkan yang lain.
Kadang hati terdengar benar, begitu kata akal... "Tapi kadang juga salah," hmm.
Nah, kapan hati bisa menjadi penentu? Ketika akal bimbang? Kapan ia bimbang? Bahkan dalama ketegangan pilihan-pilihan yang saling bertentangan semua jelas dimatanya; jelas sampai ujung konsekuensinya.
Posisi si bungsu sangat tertekan. Kunikahi dia agar orang tua senang. Kunikahi dia karena cinta bersifat menyatukan.
Kuikuti orang tua karena mereka segalanya. Kugapai tangannya sejak ia adalah segalanya. Yang mana? Yang manaaaaa???
Kutanya hati, ia pun mendua. Dan sejak awal, akal juga mendua.
Pada akhirnya, pengorbanan adalah jawaban paling tepat sasaran.
Dan di tengah ruang dansa kini terlihat akal dan hati berpelukan, harmonis oleh keterbukaan. Hah! Sejak awal mereka ada untuk saling melengkapi.
Pengobanan adalah akibat pilihan.
Dan perbedaan latar pilihan membuat berat pengorbanan tak mungkin sama.
Di situlah keputusan di tanda tangan. "Pengorbanan paling ringan"
Akal dan hati tersenyum berpandangan.
Dil Dhadakne Do
24 September 2016
Monday, 20 June 2016
Ceritanya Ngeluh
Sejak lama aku ingin menulis buku. Bukan buku tulis, tapi tulisan yang dibukukan.
Tapi kenapa ya Tuhan, kok menulis sekarang se-menegang-kan ini ya? Sejak media sosial jadi lapak baru industri perang. Jual ide jual isu, kemanusiaan mati di depan layar.
Teman gue kena bully karena kritik artis medsos. Keluarga pecah belah dijatuhkan persoalan politik pemilu. Tukang nasi jadi bulan-bulanan opini sampai 170 juta di tangan tak bisa sembuhkan pusingnya. "Gak terima komentar apa-apa. Pusing!" Katanya sambil tutup warung. Puasa tinggal syair dan hikmah di situs yang kejar popularitas. Tinggal perdebatan perda yang katanya syariah barokah di mulut-mulut pengangguran.
Aku ingin menulis, tapi budaya literasi Indonesia sudah jauh dari semangat seni yang merakyat. Ketika sastra adalah cara pendahulu menorehkan sejarah yang patut dikenang dan penuh semangat kemanusiaan. Kok sekarang kalau main ke toko buku, ramai sekali rak-rak itu dengan suara tembakan meriam kata yang menghujam kertas-kertas lain.
Jadi pembaharu? Sesatlah aku seperti Mirza Gulam Ahmad nanti.
Judgement. Ya akhirnya aku pun ikut terseret arus kurang kerjaan. Jika hakim dalam tulisan ini semena-mena ketok palu soal citra pembaca, monggo demo dan gulingkan. Mungkin memang sudah saatnya jalanan sepi mahasiswa demo dengan pengeras suara. Sekarang eranya duduk di indomaret ketika bulan puasa, selinting tembakau dan kopi kotakan jadi penyemangat demonstrasi media sosial. Duduk di samping pemilik akun yang didebat, tanpa kenal wajah kenal nama.
Yah, sekarang eranya Luffy dan worst generation gonjang-ganjing lautan. Eranya pertempuran dua anak haram dari House of Stark and Bolton. Komik dan film sudah mencapai garis finish ceritanya, begitu pun dunia kita.
Senin, 20 Juni
Wednesday, 23 March 2016
Putih dan Coklat
Tuesday, 22 March 2016
Aku Gampang, Ibu Senang
Aku kasih tau ya, aku sama tedi sudah berkawan sejak sd. Kami dua sejoli yang gak pernah tidur bareng. Biar gak keliatan homo soalnya. Dan kami beda sekolah. Dia anak yang kaya tapi gak punya uang. Iya, kaya. Gapernah keliatan susah soalnya, tapi aku tahu sendiri uangnya selalu pas dan gayanya tidak beda denganku. Hapenya juga biasa saja. Pokoknya gak beda jauh sama semua penduduk kampung ini. Si tedi ini miring orangnya. Pundak sama kepalanya suka miring ke kiri. Sekarang kita lagi libur persiapan un buat sma. Lalu dia tanya aku.
"Jon, kamu abis sma mau ngapain?"
"Kuliah men, gue pengen mendalami teknik fisika"
"Hmm"
"Emang kamu ngapain ted?"
"Aku mau keliling dunia."
"Widih, tapi gimana caranya?"
"Naik pesawat lah, masa sepeda. Seribu jalan menuju roma. Nanti kalau waktunya tiba juga bakal kepikiran caranya yekan? Sekarang masih belum, karena jam segini waktunya aku minum kopi disini sama kamu. Bu, biasa ya."
Bu aking itu orang baik. Dia gapernah marahin kami walau omongan kami kadang gak pantas. Ya bayangin aja sendiri ya gimana omongan gak pantas dua pria di bangku sma.
Begitu kopi tedi jadi, aku teringat ibu. Gatau kenapa.
"Ted, gue pengen nyenening emak. Tar gue kuliah terus jadi inventor. Dapet penghargaan noble, dan memenuhi semua keinginan emak. Hahahaha hayal ye. Bodo amat deh. Pokoknya gue harus beliin emak hape baru sama ajak dia jalan-jalan ke luar negeri. Doi sering banget muji-muji alam gitu, subhanallah katanya. Gue pengen dia liat kebesaran tuhannya dengan mata kepala sendiri."
"Sama, emak gue juga gitu"
"Terus nanti kalau jadi keliling dunia, lo sendiri?"
"Iyalah. Sendiri aja kan belum kebayang caranya gimana, apalgi berdua, bertiga, berempat? Hayal tau diri cuk"
Si tedi pernah smp di jawa timur. Dia bosen di kampung katanya, pengen merantau kaya anak minang.
Kopi belum habis tiba-tiba hape tedi bunyi. Dia baca, aku seruput kopi. Udah mulai oranye langitnya, mungkin udah mau jam 6. Tiba-tiba tedi bayar kopinya ke bu aking.
"Ini bu sama punya si jon."
"Loh, mau kemana lo? Belum azan kan."
"Emak gue minta dibeliin gula di pak ato. Mau buka puasa gula buat tehnya abis. Emak gue pasti seneng kalo gue respon cepat permintaannya. Gue duluan jon!"
Melangkah pergi tedi bersama azan yang mulai berkumandang.
Supir taxi bersitegang. 22 maret 2016.
the absolute freedom
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
Setiap perpisahan selalu diwarnai dengan keraguan atau keyakinan. Antara kemungkinan dan kepastian. Apakah jumpa atau dadah selamanya. Antar...
-
Sejak manusia kuno menggambar perburuannya di goa, para penulis berusaha merekam pengalaman diri--fisik atau jiwa--lewat karya. Ada yang sek...

