Tuesday, 25 October 2016
Dunia memang itu-itu saja (yasalam)
Sunday, 23 October 2016
Ibadah Perokok
Dengan isyarat ia meminta sebatang rokok. Aku bertanya padanya, “Tak masalah merokok di kamar?”. Kamarku dihuni empat orang. Hanya aku dan dia yang merokok.
“Haha, masalah kawan. Tapi sudahlah, ini kamar kita.”
Kujawab dengan tawa. “Tapi aku akan tetap merokok di luar.”
“Kenapa?”
“Ada dua jenis ibadah.”
“Apa itu?”
“Horizontal dan vertikal. Vertikal adalah ibadahmu dengan tuhanmu, olehmu untuk dirimu, karena tuhan tak memerlukan apapun bukan? Dan horizontal adalah ibadahmu terhadap sesama mahluk, khususnya manusia. Olehmu, untuk mereka.
Aktifitas sosial adalah bentuk penghambaan seseorang terhadap tuhannya. Sebuah tindakan yang dimulai dari kesadaran akan ketuhanan yang esa. Bahwa siapapun dan apapun, tercipta oleh tuhan yang sama. Maka menghargai, merawat, menyenangkan, dan membantu sesama adalah penyerahan diri terhadap tuhan yang diakui menciptakan segalanya. Meng-abdi pada pencipta. Oleh karena itu disebut ibadah horizontal.
Aku menikmati rokok itu, kawan. Tapi bukan dengan merebut kenyamanan orang lain.”
Ia membalas dengan senyum. Mengambil gelas kecil, dan mematikan rokoknya.
Lantai empat bersama orang Afrika
Malming, 22 Okt 2016
Pesan Universal
Diambilnya kertas dan pulpen. Menulis kata demi kata dari lagu Iwan Fals: Ethiopia. Dan diterjemahkannya ke dalam bahasa nasional negeri orang.
Sebabnya adalah seorang teman, asal Ethiopia. Dalam sebuah percakapan singkat ia teringat lagu dari seniman besar negerinya. Kawannya itu terkejut antusias. Dan membuatnya berjanji akan menunjukkannya esok hari.
Seminggu ia bersusah payah mencari kata yang tepat demi setiap kata di lagu tersebut. Dan rampunglah sudah.
Dengan semangat ia pergi menuju kamar temannya, membawa surat untuk Ethiopia dari Indonesia.
Didengarkan, lalu dijelaskan.
Setetes haru merubah suasana saat itu. “Tak terbayang olehku akan ada yang meneriakkan nama kami di luar sana,” ucap sahabat.
“Kemanusiaan adalah pesan universal, kawan. Sepasang bola mata hanya dapat melihat kata, namun manusia yang membaca akan memahami derita sesamanya.” jawabnya.
Haret Hreik
Malming, 22 Okt 2016
Wednesday, 12 October 2016
Kamfret
Setiap perpisahan selalu diwarnai dengan keraguan atau keyakinan. Antara kemungkinan dan kepastian. Apakah jumpa atau dadah selamanya. Antara sosok dan memori yang mencolok.
Perputaran dunia dikata tak abadi namun tak ada yang tahu pasti, kapan ia berhenti?
Sang Maestro memang telah berfilosofi dengan bumi yang bundar, dan hidup pun bagai roda yang berputar.
Air mata akan tergantikan dengan tawa, juga sebaliknya.
Hidup penuh dengan tanda tanya, namun apalagi pilihan selain menikmatinya?
Kita adalah tinta di atas kanvas, tunduk pada kemauan pemegang kuas. Menari dan kenali diri, lalu jadilah diri sendiri.
Maha karya yang penuh dengan warna.
Amarah, senang, benci dan cinta dalam gradasi waktu yang kaku.
Cukup sampai disini.
Genggam erat tanganku, mendekat dan tempelkan pinggulmu.
Pejamkan mata dan biarkan jiwa merekam segalanya.
Secangkir susu jahe untuk si bangsat.
Selasa, 11/10 dini hari.
@LesehanSejarahRI
Membaca Penulis
Sejak manusia kuno menggambar perburuannya di goa, para penulis berusaha merekam pengalaman diri--fisik atau jiwa--lewat karya. Ada yang sekedar menceritakan, ada yang juga menafsirkan.
Mereka yang memiliki pertanyaan dalam hidupnya berusaha mengajak kita ikut bertanya lewat tulisannya. Atau bahkan tak jarang penulis hanya ingin curhat. Bagaimanapun, penyelaman pertanyaan dalam tulisan itu sering kali malah menuntunnya atau kita pada jawaban itu sendiri.
Gelombang seperti ini tak pernah berhenti sejak gambar di goa itu, tapi berkembang.
Entah sampai kapan dan pertanyaan apa lagi yang akan dilontarkan peradaban.
Tugas? Lucu juga manusia yang gila sekolah sampai hidup dianggap sebuah instansi pendidikan. Cukuplah untuk jujur pada diri sendiri akan pertanyaan-pertanyaan yang pasti berdatangan. Bahkan tanpa mengikuti arus kegalauan penulis, kita akan bertemu dengan pertanyaan dan jawaban kita sendiri.
Jangan berpikir dulu, tapi perhatikan. Dengarkan lalu pikirkan. Setelah itu, rasakan.
Barayaku tercintah.
H-2 DOH.
Selasa sendu, 11 Oct 2016
Saturday, 8 October 2016
Bebas
Orang menyebutnya kematian
Aku melihat kebebasan
Memilih sering dianggap kemewahan
Namun sadarkah kau bahwa itu tanggung jawab yang dibebankan?
Sayang sekali ketika dibebaskan
Tapi mati tidak termasuk dalam pilihan
Beban apa?
Benar atau pun salah kita memilih, pasti ada konsekuensinya
Dan setiap jalan yang dipilih, selalu ada pilihan lagi didepannya
Pilihan akan selalu menghantui sebelum mati
Tanggung jawab adalah pasung bagi siapapun yang memilih
Bebas?
Tidak ada yang bebas
Bahkan untuk bebas memilih
Tak diberi kesempatan untuk tidak terjun dalam arena pemilihan
"Aku beruntung!" Katanya di mimbar sejarah
Hanya kematian kebebasan yang sesungguhnya
Ketika kita bebas dari pilihan
Thursday, 6 October 2016
Ketika Semesta Mengehingkan Cipta
the absolute freedom
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
Setiap perpisahan selalu diwarnai dengan keraguan atau keyakinan. Antara kemungkinan dan kepastian. Apakah jumpa atau dadah selamanya. Antar...
-
Sejak manusia kuno menggambar perburuannya di goa, para penulis berusaha merekam pengalaman diri--fisik atau jiwa--lewat karya. Ada yang sek...
