Thursday, 19 January 2017
Selinting Persahabatan
Itu pertanyaan lucu buatku. Karena ketimbang menjawabnya, aku selalu tertawa.
Untuk apa keliling pasar ber-ac untuk memilih warna dan merk pakaian? Untuk apa bercermin lama-lama? Untuk apa menghabiskan uang banyak makan di warung ber-ac ketika ibu juga memasak? Untuk apa memasang alarm tengah malam untuk kuota malam? Untuk apa membeli waktu berlari di atas mesin ketika bisa berlari di lapangan atau komplek sekitar? Untuk apa bermain game ketika berbincang dengan sesama lebih berkesan?
Bayi Dewasa
Aku akan berpura-pura menjadi bayi.
Untuk memberi gambaran sesuatu yang murni. Tanpa prasangka hanya rasa penasaran dan ketertarikan yang luar biasa. Untuk mengenal, baru belajar sesuatu darinya.
Untuk mengajari kita menjadi diri sendiri. Sebagai cermin yang menunjukkan betapa kita pernah menjadi calon ilmuwan segala bidang.
Friday, 16 December 2016
Budi Kecil
Getar tubuh itu menggambarkan tipisnya suhu udara yang menyelimuti kolong jembatan.
Tidak ada gerakan tangan bocah menarik selimut seperti yang kita lihat di kamar adik. Lengan kasar Budi tidak pernah mengingat ada lembaran kain lebih yang menghangatinya tiap malam. Tepukan refleks dari hinggapnya nyamuk adalah satu-satunya yang bisa kau lihat dari keluguan bocah ini.
Anehnya, dia lelap. Tak mengigau, sejauh kulihat. Apalah yang ingin di-igaukan? Aktifitas di sepanjang jalan protokol ibu kota tak menyisakan waktu untuk berpikir banyak hal. Hanya kelelahan yang akan ia hitung menjelang malam, bukan dongeng si pitung sebelum tidur.
Aku terus melihatnya, meski dalam mimpiku sendiri. Seonggok tubuh calon fisikawan yang tak bermimpi, tapi mengusik mimpi pejabat dalam tidurnya selepas rapat. Mungkin itu sebab aparat getol melakukan pembersihan trotoar dengan tongkat.
Budi lelap, mungkin sebab ia hidup dengan cukup. Cukup sibuk mencari makan meski tak sampai setengah nampan. Paling tidak lapar hilang, dan bisa lanjutkan perjalanan--cari makan. Lalu apa yang membuat pejabat kehilangan tidurnya di mer-c selain sirine motor yang mengawalnya? Mungkin pencarian yang tak kunjung henti sebab ia tinggalkan apa yang seharusnya jadi akhir pencarian. Budi dan Intan yang tak berkesempatan mengetuk kaca mobil menawarkan berita tentang dirinya di selembar koran.
Aku beranjak pergi ingin mengakhiri mimpi indah ini. Mimpi indah tentang tuhan yang berhasil menaruh segala pada tempatnya. Kelaparan yang menjadi mimpi, bukan lagi kesuksesan yang buat mulut berseri.
Satu dua langkah membelakanginya, sebuah kata terdengar lemah. Budi mengigau. Kaget akan sisa pikiran yang ada membuat anak ini mengigau, kuberhenti dan mendengar dengan seksama.
"Si budi murung.. menghitung laba.."
Hah, kukenal lagu ini. Suara seniman rupanya mengisi harinya alih-alih merangkai cita-cita. Sebuah lagu yang mendendangkan namanya mungkin adalah favoritnya. Memang kapan lagi bocah di bawah tugu pancoran menjadi terkenal selain diiringi alunan gitar? Cuman seniman yang bisa lakukan. Terima kasih Bang Iwan.
Kamis 15/12
Balkon mencapai 10°
Sunday, 20 November 2016
Abstraksi saat ini
Hidup selàlu menghadapkan kita pada pilihan. Dan selalu, pilihan itu terlihat rumit di muka. Meski setelah terlewat, pada akhirnya hanya ada dua jalan: antara yang benar dan salah, atau yang paling benar dan paling salah.
Seorang anak muda berusia 20 tahun melihat hidupnya penuh disesaki urusan. Mulai dari urusan kemanusiaan, keluarga, persahabatan, masa depan, sampai urusan kehambaan, bahkan urusannya dengan diri sendiri.
Sering diantara 365 malam ia mendesah, betapa ia sudah salah melangkah. Ia merasa hidupnya sudah cukup jauh, dan kesalahan tak bisa dibayar seutuhnya.
Penglihatannya kabur, seperti lukisan abstrak tapi bernilai ratusan juta. Itu yang membuat ia terus memandangan pikirannya yang abstrak, karena ia tahu, ini bernilai sangat besar.
Ia sering membuat kesimpulan hasil olah pikiran. Entah dari percakapan, bahkan dari film layar lebar. Namun lebih sering lagi ia membiarkan kesimpulannya terpajang rapi di lorong waktu. Tinggal sebuah memori akan pencapaian pikirannya.
Ia hidup sudah 20 tahun menginjak tanah. Tapi sejauh ingatannya, tak satupun hari pikiran meninggalkan ruang kerjanya. Hidupnya habis dalam pikiran, dan itu membuat semua seakan terlambat.
Ketika berhasil membuat semua terlihat sederhana, semangat untuk melangkah muncul. Ada tapi nya, sekali lagi pikiran berkata jangan terburu-buru. Dan akhirnya ia duduk dan menunggu, lagi.
Ketika pantat mulai panas, ia berdiri dan mengulangi hal yang sama, lagi.
Banyak hal yang ingin ia lakukan dan terus bertambah. Tak ada gunanya diurai karena kita hanya akan fokus pada tujuan dan keinginan masing-masing. Tapi ada baiknya untuk terus membaca, sebab saya yakin, pengalaman bocah itu adalah masalah klasik.
Pada akhirnya, ada pada akhirnya yang selanjutnya. Tak hanya ketika pilihan diambil dan rupanya semua terlihat sederhana dari depan. Tapi juga soal waktu. Terburu-buru dan terlambat adalah kerja waktu.
Pada akhirnya, semua belum tentu terlambat dan belum tentu terlalu cepat. Setelah sesuatu berhasil dikenali lewat kacamata pilihan yang sebenarnya, antara benar dan salah, waktu akan membuka tangannya. Seakan berkata, majulah, waktumu telah tiba.
Karena manusia bukan bulan, yang sudah meneken kontrak bersinar pada matahari. Sehingga ia berputar dalam lingkaran waktu yang kaku.
Tak ada yang terlambat, karena kita yang memutuskan kapan akan berangkat. Tak ada yang terburu-buru, karena waktu selalu tampil sebagai guru.
Hidup dalam mimpi untuk meraih mimpi
Throwback Siberian Education
Minggu dini hari
Sunday, 6 November 2016
Iman dan kemanusiaan
Iman bagiku terlihat seperti cinta. Karena mereka yang terjangkit penyakit ini tak ubahnya melakukan penyerahan diri pada yang diimani; dicintai.
Ketika tuhan memasuki ranah iman, maka kemanusiaan menjadi output yang kuukur. Karena mencintai tuhan berarti menjadi pelayannya. Mencintai tuhan akan menyambungkan kita dengan kecintaan-Nya pada manusia.
***
Perut lapar, menjadi yatim perang, peluh mencari nafkah keluarga; semua menyayat hati kemanusiaan yang sadar bahwa tempat manusia sudah seharusnya lebih baik dari itu.
Membenci kemiskinan adalah fitrah kemuliaan manusia.
Dunia dengan segala sistemnya membuat tuhan seakan menciptakan bumi dalam keadaan serba kurang. Kalau ia maha kaya dan menggambar benua dengan kekayaan sedemikian rupa, kenapa masih ada yang menadah receh di simpang perempatan? Dan pemangku kekuasaan spiritual masyarakat berbusa mengajak doa meminta sabar akan perut yang lapar. Ya, perut kenyang memang buat kita malas dan bodoh.
Disini pembelaan tuhan kulontarkan. Bahwa manusia terbawa arus babi pemakan segala. Sehingga banyak rerumputan, buah-buahan, bahkan tai yang bukan miliknya ikut dimakan. Semua sudah cukup jika politik tak digunakan untuk membabikan diri.
Ada yang tak beres di dunia sehingga Luna harus menyisihkan waktu mainnya untuk berjual tisu di mesjid megah universitas.
Berbekal hati, terendus sendawa babi memakan iman dengan agamanya.
Kujadikan air mata ini sebagai tolak ukur keimanan
Malming, Haret Hreik
Friday, 4 November 2016
Ceramah di warung kopi
Sejauh Beirut tetap paling enak itu Iwan Fals
Tuesday, 25 October 2016
Leyeh leyeh
Kepak sayap merpati terlihat di antara kepulan asap. Asap yang menandakan pengangguran di negeri orang. Orang bilang ambisi akan mengangkat semangat. Semangat juang perubahan dan pergerakan. Pergerakan yang biasa menggulingkan kursi kini hanya menggulingkan bantal. Bantalan kemalasan yang asik mendengar suara kipas. Kipas memori mengingatkan kehangatan rumah. Rumah tempat semua bermula walau belum tentu berakhir. Berakhir sudah masa keemasan yang tinggal kenangan. Kenangan yang hanya dipakai untuk menghibur bukan mendorong. Mendorong hati dan pikiran untuk terjun ke realitas dalam mimpi. Mimpi yang telah dibentuk sedemikian hingga sejarah patut mengenang. Mengenang keberhasilan atas jerih payah yang entah kapan. Kapan keluhan berhenti aku tak tahu. Tahu pasti bahwa besok bisa sekarang. Sekarang pun hanya sanggup menulis tanpa berbuat. Berbuat sesuatu yang pantas ditulis. Ditulis lah note ini. Ini agar aku ingat bahwa semangat pernah muncul disini.
Beit El Kil
Selasa malas, sore
the absolute freedom
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
Setiap perpisahan selalu diwarnai dengan keraguan atau keyakinan. Antara kemungkinan dan kepastian. Apakah jumpa atau dadah selamanya. Antar...
-
Sejak manusia kuno menggambar perburuannya di goa, para penulis berusaha merekam pengalaman diri--fisik atau jiwa--lewat karya. Ada yang sek...