Tuesday, 18 April 2017

Kok nuduh Takdir?

Tidak ada satupun dari kita yang memilih untuk hidup. Seandainya memilih, apakah kita akan tetap memilih hidup?

Selain itu, perkara rahim sampai nama semua bukan pilihan kita. Bahkan sampai umur satu atau dua tahun pakaian tidak kita pilih sendiri. Hanya Musa yang memilih sendiri asinya meski baru lahir.

Lambat laun kita mendewasa.

Sekolah pun dibangun demi mengisi hewan-hewan ini agar menunjukkan kemanusiaannya.

Monday, 17 April 2017

Surat Tjinta

Aku tak pernah menulis surat yang diuntukkan seseorang, apalagi surat cinta. Tapi izinkan aku memulai surat ini padamu, di luar semua kaidah surat cinta, dengan: aku benci padamu.

Jika ukuran kebencian saat ini adalah 1 sampai Joffrey Baratheon, maka posisimu setelah bang Joffrey.

Aku benci padamu, apalagi ketika rasa takut mengalahkan logika. Tidak, kau bilang takut itu berlandaskan pikiran logis. Tapi kau mengabaikan begitu saja kelogisan kemungkinan yang tak ada rasa takut di dalamnya. Kau takut jatuh, iya. Takut gagal, takut tercela, takut membayangkan tatapan rendah dan remeh dari orang yang tak ada urusannya. Kau penakut, takut pada ilusi yang kau ciptakan sendiri dan belum tentu terjadi.

Aku benci padamu, yang tak pernah bisa fokus. Cita-citamu tinggi, pandanganmu cukup luas dan melewati batas waktu. Namun di balik kutukan terhadap arogansi dunia, kau menikmati arusnya. Kau menonton sesuatu, membaca sesuatu, dan memperhatikan sesuatu lalu tercerahkan. Semangatmu menggebu mengajakku merubah segala yang salah. Namun dua langkah, kau ajak aku kembali untuk cari inspirasi dari sumber-sumber lain lagi. Inspirasi baru, semangat baru, dan sebuah pekerjaan dan mimpi baru, yang kapan tercapai kita takkan pernah tahu.

Aku benci padamu. Kau munafik kecil. Kau menyadari segala kebenaran tentang dirimu. Kau tahu obat apa yang mampu mengembalikan air mata itu. Tapi kau memilih menikmati kesengsaraan itu. Kau dengar rontaan gadis kecil dalam hatimu. Kekeringan kasih sayang dan kesejukkan air mata yang buat tenang. Tapi kau duduk sendirian berfatwa bahwa kita harus punya rasa untuk menikmatinya. Kau tak suka, tapi kau terlena.

Aku benci padamu, yang membuatku tak tahan lagi menuliskan kebencianku. Tapi cinta dan benci nyatanya sama. Gradasi alasan yang menjarakinya. Mungkin kau akan bertanya, apa arti semua ini. Aku adalah sahabatmu, juga kekasihmu, begitulah pikirmu. Tapi lihatlah, sebelum kau tanya, setiap benciku beralasan dan punya sebabnya sendiri. Beginilah ketika cinta menemukan banyak alasan, ia terdegradasi ke level benci.

Aku terus melihatmu dari jauh dan dekat, dan ingin menamparmu dengan perkataan yang dapat membuatmu hidup dengan kenikmatan sesungguhnya. Sebab sakitmu adalah sakitku. Dan apa yang aku sebut cinta ini, yang membuatku dapat mengurai segala kebencian ini.

Yang tersayang, Diriku
Dari,
Aku.

Wednesday, 22 March 2017

Imanku bernama Ketakutan

Kebenaran agama saat ini lebih banyak 'dibuktikan' ketakutan.

Advokasi oleh akal di hadapan pengadilan realitas mulai miskin proyek. Ketakutan menyuap realita sampai pelaku pemikiran sehingga tak berani menuntut kebebasannya.

///

Tidak ada satupun dari kita yang sanggup memilih keluarga tempat dilahirkan. Dan ketika sudah terjadi, semua sudut pandang pikiran akan ditentukan tempat kita dibesarkan. Agama, menjadi salah satu budaya doktrin turun-temurum yang sangat populer sejak berabad-abad lalu.

Saturday, 11 March 2017

Baca ini, Waktu

Oo mentariku di malam hari, kuadukan padamu waktu yang tak tulus bersekutu

Aku terkagum oleh proyeksi masa depannya

Dan kebingungan atas kehampaan eksistensi saat ini

Lalu kecewa melihat kebelakang dalam kubangan kesia-siaan

Jangankan kita bicara soal dunia yang penuh tanda tanya

Juga keadilan yang terus dinantikan kedatangannya

Semua pisau waktu lengkap menusuk punggung dan dadaku

Bagaimanapun tubuh ini adalah duniaku

Yang terperangkap dalam dunia-mu

Monday, 6 March 2017

Ingin tidak ingin, kita adalah Centipide

Lewat kacamata penciptaan, kita menjadi diri kita yang saat ini berdasarkan kesiapan, bukan potensi. Begitu pikirku sebagaimana doktrin yang masih kuamini, bahwa tuhan memberi potensi dan pencapaian adalah pilihan.

Keinginan-keinginan besar dalam hatiku selalu menyeret diri pada pengadilan akal. Kenapa kau belum juga merilis buku? Kenapa kau tidak memiliki pasangan? Kenapa kau tidak menjadi revolusioner meski dalam lingkaran yang terkecil?

Dalam perenungan diri yang sering terjadi--entah dengan congkak atau tidak--aku selalu mengakui bahwa kapasitasku melebihi segala keinginan yang belum tercapai.

Friday, 3 February 2017

Prematur Cinta

Apa yang kita tahu soal cinta selain pengorbanan dan kelemahan?

Jatuh cinta menjadi sebuah kebodohan yang perlahan disadari korbannya. Setidaknya itulah yang kita dapatkan dari beragam pengalaman yang terdengar dan terlihat.

“Dalam cinta terdapat hasrat, sedangkan persahabatan hanya mengenal kedamaian”

Monday, 23 January 2017

Ketika tak bisa beli rokok

Uang adalah kekuatan. Pemikiran ini selain bepengaruh pada dunia perpolitikan manusia sampai ranah terkecil, tapi juga dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Merasa miskin adalah mimpi buruk bagi hampir seluruh manusia. Apalagi ketika seorang perokok tidak punya sepeser pun untuk beli sebatang rokok. Itu adalah parameter bagi dirinya atas kemiskinan. Tak peduli bahwa pada realitasnya, ketiadaan uang itu takkan membuatnya mati kelaparan sebab ia tinggal di rumah orang tua, atau saudara, atau asrama, atau sedang bersama teman-temannya. Pada titik ini bisa dilihat bahwa miskin dirasakan ketika kita tak punya lagi kekuatan—dalam bentuk uang—untuk melakukan kebebasannya, baikpun kebebasan merusak diri atau melawan norma.

the absolute freedom

i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...