Entah pernah terjadi atau tidak itu perdebatan soal keindahan. Tapi jutaan opini manusia tak pernah berhenti muncul berusaha menjelaskannya. Dari yang paling formal dan resmi seperti tesis para filsuf atau bahkan sekedar gambar sebait puisi di akun sosmed yang ditulis entah siapa.
Aku pun tak luput dari meramaikan ajang itu. Berkelakar seakan penjabaran, pengenalan, dan pemahamannya soal keindahan adalah yang paling paten dan final.
///
Setiap pagi, siang, sore, dan malam, balkon kamarku adalah bangku VIP untuk memandang sekotak jendela tetangga.
Sunday, 28 May 2017
Antara tahu dan tidak tahu
Teringat sebuah malam di kamar berisi empat orang. Kami bertiga perokok, satu toleran sama rokok. Maksudnya bukan dari aktifis anti-rokok yang bakal bangunin teman perokoknya dengan ceramah dari mulai isu kesehatan, ekonomi, sampai agama.
Biasanya aku tegas mengambil garis perokok dan non-perokok. Penganut mazhab kondisionalis memang harus tunduk pada situasi kondisi. Bukan semau hati atau seenak akal.
Malam itu, posisi duduk, hawa, dan jiwa lagi asik menikmati satu film. Sebuah karya yang bikin mulut tak kuat pingin hisap rokok. Bagi kami para perokok, menghisap lintingan tembakau tidak melulu soal candu. Tapi sering kali soal perasaan, momen, atau bahkan penghambaan.
Biasanya aku tegas mengambil garis perokok dan non-perokok. Penganut mazhab kondisionalis memang harus tunduk pada situasi kondisi. Bukan semau hati atau seenak akal.
Malam itu, posisi duduk, hawa, dan jiwa lagi asik menikmati satu film. Sebuah karya yang bikin mulut tak kuat pingin hisap rokok. Bagi kami para perokok, menghisap lintingan tembakau tidak melulu soal candu. Tapi sering kali soal perasaan, momen, atau bahkan penghambaan.
Tuesday, 9 May 2017
Gosipin Agama sama Sains dulu, gan
“Aku tak menyembah-Mu untuk menghindari neraka, karena itu ibadah para budak. Aku tak menyembah-Mu untuk mengejar surga, sebab itu ibadah para pedagang. Aku menyembah-Mu karena Kau layak untuk disembah. Inilah ibadah orang yang bebas.”
(Ali The Commander of The Faithful)
Diatas adalah pernyataan super sombong dari seorang yang hidup ribuan tahun lalu.
Monday, 24 April 2017
Wednesday, 19 April 2017
Merangkum 5 Bulan 20 Tahun
Sebagai manusia aku pernah pecah. Jatuh ke tanah dan jadi puing berantakan.
Memang Rumi pernah bilang kalau manusia adalah pecahan cermin Tuhan. Saat itu aku terpaksa melupakannya dulu. Kalau pecahan pecah, bagaimana bisa bersatu dengan yang lain jika tidak sempurna.
Dalam pencarian puing-puing diri aku pakai mesin pencari di internet. Katanya sebuah puing menusuk turis bule di pesisir pantai mediterania. Lebih tepatnya, negeri Laban.
Memang Rumi pernah bilang kalau manusia adalah pecahan cermin Tuhan. Saat itu aku terpaksa melupakannya dulu. Kalau pecahan pecah, bagaimana bisa bersatu dengan yang lain jika tidak sempurna.
Dalam pencarian puing-puing diri aku pakai mesin pencari di internet. Katanya sebuah puing menusuk turis bule di pesisir pantai mediterania. Lebih tepatnya, negeri Laban.
Tuesday, 18 April 2017
Bawalah Gitar ke Pemakamanku, Kata Rumi
Tentu aku tak bawa gitar ke pemakaman itu. Meski pengikut garis keras Rumi, rupanya tradisi masih lebih kuat mengikat. Pemberontakan budaya itu tersisa di pakaian saja. Aku datang dengan pakaian putih.
Sudut pandang kematianku sudah berubah. Kulihat kematian sebagai pembebas yang tak berkhianat. Jika hidup berarti harus berpihak pada perang atau damai, pada kelaparan atau kerakusan, pada pencuri ayam atau koruptor, maka lebih baik berpihak pada kematian. Ia tak dikotori pilihan suci, apalagi kotor.
Sudut pandang kematianku sudah berubah. Kulihat kematian sebagai pembebas yang tak berkhianat. Jika hidup berarti harus berpihak pada perang atau damai, pada kelaparan atau kerakusan, pada pencuri ayam atau koruptor, maka lebih baik berpihak pada kematian. Ia tak dikotori pilihan suci, apalagi kotor.
Kok nuduh Takdir?
Tidak ada satupun dari kita yang memilih untuk hidup. Seandainya memilih, apakah kita akan tetap memilih hidup?
Selain itu, perkara rahim sampai nama semua bukan pilihan kita. Bahkan sampai umur satu atau dua tahun pakaian tidak kita pilih sendiri. Hanya Musa yang memilih sendiri asinya meski baru lahir.
Lambat laun kita mendewasa.
Sekolah pun dibangun demi mengisi hewan-hewan ini agar menunjukkan kemanusiaannya.
Selain itu, perkara rahim sampai nama semua bukan pilihan kita. Bahkan sampai umur satu atau dua tahun pakaian tidak kita pilih sendiri. Hanya Musa yang memilih sendiri asinya meski baru lahir.
Lambat laun kita mendewasa.
Sekolah pun dibangun demi mengisi hewan-hewan ini agar menunjukkan kemanusiaannya.
the absolute freedom
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
Setiap perpisahan selalu diwarnai dengan keraguan atau keyakinan. Antara kemungkinan dan kepastian. Apakah jumpa atau dadah selamanya. Antar...
-
Sejak manusia kuno menggambar perburuannya di goa, para penulis berusaha merekam pengalaman diri--fisik atau jiwa--lewat karya. Ada yang sek...