Friday, 2 March 2018

Keluh Jiwa yang Kecil

Getar kertas di tangan pujangga
Gugup dan geram penyebabnya
Karya adalah anak tanpa malam pertama
Ungkapan rasa yang berbahaya
Hak cipta memasung sastra
Mengikis ruang gerak pesan yang bercita-cita
Apa masalahnya?
Peradaban mendukung perubahan lewat rekening BCA
Tak lagi ada gelora
Sebab semangat dan rasa
Kini terhitung dalam lembaran uang semata
Kita tak lagi mengenal ketulusan yang menghina
Menghina perendahan, pemerkosaan, dan ke-congkak-an penjajah budaya
Puisi kita tak lagi sanggup untuk dibaca
Buku hanyalah nama x harga pasar di Gramedia.

__________

Entah kapan

Tentang Dia

Di scene-scene film Bollywood, kita bisa melihat seorang pria tanpa payung. Berjalan tenang dengan satu pandangan yang menentukan arahnya. Tentu para piguran, entah bisa jadi ayah, ibu, saudara, teman, paman, bibi, sepupu yang patah hati; semuanya dari keluarga wanita. Mereka kaget melihat kehadiran pria yang di kenal. Di kenal memiliki kisahnya bersama sang wanita. Yang saat itu menangis di bawah naungan payung, merangkul anaknya, di hadapan pemakaman suaminya.

Kisah ini tidak sedramatis itu. Kalau pun hujan, si pria pasti bawa payung. Dan meskipun ia memilih waktu kemunculannya di saat pemakaman sang suami, tak mungkin ia menghampiri kekasihnya yang sedang berduka.

Monday, 19 February 2018

Valentine Bersama Martir

Hari itu valentine. ‘Entah kenapa’ aku malah mengunjungi pemakaman. Tempat tubuh para martir perang diabadikan lewat nisan dan pekarangan yang indah.


Sepi, bukan waktu ramainya memang. Berkat itu kehadiran seorang wanita muda dengan mudah mencuri perhatianku. Ia sendiri. Duduk di samping nisan, mematung dengan setangkai mawar di tangannya. Tak ada suara doa yang terdengar, bahkan mulut pun tak bergumam. Terlihat matanya memandang foto martir makam itu.



Luka Mimpi

Lubang hitam itu menjadi satu-satunya mimpi yang kurasakan. Baik dikala mata terpejam maupun melek di siang bolong.

Pasung keinginan, begitu aku terus memujinya. Pujian yang lahir dari tumpukan kutukan.

Aku ingin begini, aku ingin begitu, bernyanyi seperti lagu pembuka anime Doraemon.

Suasana Pagi Condet

Kulihat masyarakat begitu antusias pada pagi hari, berusaha bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pangan. Supir angkot dengan wajah lesunya, ibu-ibu dengan anaknya yang mungil menuju pasar, pembersih lingkungan mulai menyapu ditengah-tengah jalan, para pedagang dengan rokok terselip disela-sela jari tangan, sembari menunggu pembeli datang.

Semuanya bersama satu kesatuan, bersosialisasi sebenar-benarnya, tanpa hape tanpa media sosial. Tawa riang, kadang sampai berkeringat antar sesama pejuang. Laki dan wanita membaur tanpa mempedulikan usia, menanyakan kabar keluarga, penghasilan sebelumnya, tagihan air, listrik, dan kebutuhan lainnya. Hidup mereka hidup sebagaimana harusnya, nyata di depan mata, walau raga kadang tak berdaya, namun dipaksakan seperti sediakala.

Sunday, 18 February 2018

The Bohemian, and The Money

The Bohemian. Tulisan itu menyala dengan lampu tali berwarna kuning.

Malam akhir pekan ini bangku-bangku banyak yang kosong. Sebabnya adalah musim dingin. Orang-orang lebih suka dikelonin.

Duduk sendirian di bawah temaram lampu bohlam; agak hangat setelah menenggak segelas anggur. Beban pikiran membuatnya tertunduk sejak awal.

Thursday, 15 February 2018

Valentine-ku

The most beautiful word on the lips of mankind is the word “Mother,” and the most beautiful call is the call of “My mother.” (Lalu deskripsi menggunakan seisi dunia tentang sosok ibu) –Khalil Gibran

Dulu pernah ada tantangan. Waktu masih menjadi calon kadet wartawan, untuk menulis tentang sosok ibu. Untuk membuat pembacanya, merasa kurang membalas kebaikan ibunya; membuat yang baca ingin menelepon ibunya; membuat mereka yang merantau mendadak galau dan nangis mengingat ibunya; dan seterusnya, dan seterusnya.

Aku lupa sudah apa yang kutulis. Tapi, kami (aku tak sendirian) gagal, itu yang kuingat. Gagal maksudnya redaktur tak puas.

Bos meminta kita menulis sesuatu yang memantik rasa. Bukan deskripsi tentang ibu sedang apa, dia suka apa, dia bagaimana. “Cukup satu kalimat atau paragraf yang buat pembaca menyadari hal besar dalam sosok ibu, lewat hal-hal unnoticed darinya.” Begitulah kura-kura.

Kemarin, ketika kelas lagi-lagi gagal menjaga pikiranku, aku ingat ibu dan menulis:

Aku duduk di samping-mu. Lalu merebahkan kepalaku di pangkuan-mu yang sedang menonton TV. Saat itu, dan hanya saat itu, aku benar-benar berkata: Persetan kau dunia.

Untuk Valentine-ku, ibu.

__________

Kamis Pagi, 15 Feb

the absolute freedom

i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...