Saturday, 4 May 2019

Tafsir One Piece Ch. 597

Apa itu One Piece? Tak ada yang mengetahui isinya kecuali Roger dan krunya. Yang diketahui semua orang hanyalah banyaknya mereka yang mengincarnya--termasuk Luffy. Zoro bahkan Luffy pun sama-sama tak tahu apa itu One Piece. Namun Zoro tahu, bahwa Luffy sangat menginginkannya.

Di mata Luffy, One Piece sebagai tahta Raja Bajak Laut adalah puncak kebebasan. Luffy kecil mendengar Raja Bajak Laut pertama menyambut kematian dengan senyum dan kebanggaan. Tak ada penyesalan dan beban yang ditinggalkan dalam setiap kisahnya. Hanya satu yang dapat dipahami sebagai alasan ringannya menyambut kematian: ia telah bebas dari keinginannya. Itu, yang Luffy lihat dan dikejarnya. Karena menjadi Raja Bajak Laut membuat Roger terlihat puas dan cukup akan kehidupan, tatkala setiap anak seperti Luffy masih harus berurusan dengan sekat kelas bangsawan yang kaku, sampai ketakutan yang membatasi.



Zoro pada awalnya hanya melihat kilatan semangat anak kecil mengejar mimpinya yang belum tentu nyata. Namun persinggungan nasib dan pertukaran kalimat membuat mereka saling mengenal. Pulau demi pulau dilewati. Dan Luffy sebagai pemimpin mulai dikenali. Zoro melihat setiap tantangan Luffy terhadap ketidak-adilan dan penindasan. Dimana ia tak hanya mempedulikan kebebasannya seorang, tapi mengajak seluruh orang di sekitarnya jujur pada nurani dan melawan pemasung diri. Pembebasan dari sekat-sekat dunia demi kehidupan yang lebih tinggi (luhur). Dan menjadi rekan Raja Bajak Laut tentu meniscayakan tercapainya mimpi yang ia kejar. Pengakuan atas kemampuan, memaksimalkan potensi, dan janji pada kawan di masa lalu. Baginya, Pendekar Pedang terkuat di dunia. Karena perahu itu tidak hanya mengantarkan seorang penumpang ketika mencapai tujuannya, tapi seluruh penumpang yang ada di atasnya.

Ini perlahan membangun kepercayaan dan keterikatan pada sang kapten di hati setiap kawannya.



Tabir dunia yang rusak perlahan tersingkap. Dan satu-satunya yang dirasa mampu menandingi singgasana arogansi dunia adalah Raja Bajak Laut. Kepercayaan terhadap kapabilitas Luffy juga kesadaran akan pentingnya revolusi pun bertemu di persimpangan. Maka setiap kru--termasuk Zoro mulai memutuskan penemuan One Piece demi Luffy menjadi Raja Bajak Laut semakin mendesak. "Luffy adalah orang yang akan menjadi Raja Bajak Laut. Jika melindungi ambisi kaptenku saja tak bisa, semua ambisiku tak akan berarti."

Pengabdian pun dimulai. Pengorbanan. Diri ditiadakan. Ambisi pribadi dikesampingkan. Untuknya, yang pantas didahulukan. Cinta.

#tafsironepiece #roronoazoro #mihawk

Wednesday, 1 May 2019

debatable

Tuhan.

Menurut Karen Armstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan, Ia adalah fenomena atau konsep atau keyakinan yang diciptakan (atau ditemukan?) manusia sejak jaman pra sejarah untuk memahami kejadian-kejadian disekitarnya. Tuhan dalam berbagai bentuk dan namanya sudah diciptakan (atau dikenal?) oleh manusia meski Ia hadir sebagai kesimpulan semata; dalam arti, buah pikiran, bukan Ia yang secara eksistensi sudah ada dan dirasakan dalam bentuk aslinya sebelum diketahui namanya dan bentuknya atau sifa-sifatnya. Dan terlepas perbedaan prasangka nama dan bentuk Tuhan, semuanya menyatu dalam keyakinan (atau kesepakatan) yang sama: bahwa Ia lah awal, atau sebab (dari apapun itu yang sedang kita berusaha pahami).

Hal paling dasar yang membuat munculnya hipotesa-hipotesa berbeda, berkembang, saling tikam dan membunuh satu sama lain soal Tuhan adalah: keber-ada-annya yang tak dapat ditangkap lima indera kita. Sebab semua hal dalam alam materi atau fisik ini sudah atau bisa dinamai dan didefinisi berdasarkan kadarnya atau realitasnya sendiri. Batu adalah sekumpul tanah yang mengeras, air adalah benda cair bening dan membuat basah, angin adalah dorongan di ruang kosong dan cenderung dingin, kuda adalah sesuatu yang hidup berkaki empat terlihat ringan berlari dan bisa ditunggangi, manusia adalah hewan berakal atau kita, dst. Tak satupun komponen yang bisa ditangkap lima indera kita mungkin untuk disebut Tuhan. Sebab mereka sudah ada atau bisa didefinisikan sendiri berdasarkan kapasitasnya, yang ujung-ujungnya ketawan dan bisa disepakati, sama sekali tidak cocok dengan bayang-bayang Tuhan dalam benak manusia.

Namun kepastian yang diberikan Indera bahwa tak satupun di alam materi ini adalah Tuhan tidak membuat satupun peradaban manusia berhenti mengatakan Tuhan itu ada. Seperti yang gue katakan di atas, ide-ide tentang Tuhan terus bergerak, berkembang bahkan sampai tahap membunuh satu sama lain. Hei, perang “Atas Nama Tuhan” tak hanya terjadi di atas tanah dan berjilid-jilid menumpahkan darah. Perang yang sedang kita (termasuk saya) lakukan sekarang adalah yang paling sadis, tak tahu diri, tak kenal lelah, belum selesai, dan tak akan pernah selesai. Kita sedang bertempur di alam ide. Pertumpahan darah itu hanya pernak-pernik sejarah. Kita lah yang palling punya andil dalam terjadinya perang-perang fisik serupa sekarang atau di masa depan (kalau itu masih jadi trend. Semoga tidak).

///

Dalam membicarakan Tuhan, tidak adil jika gue langsung membahasnya begitu saja. Karena tak peduli sebanyak apapun referensi dan pembanding yang saya gunakan, ujung-ujungnya pasti jadi opini, atau, subjektif. Karena ya tadi itu, Tuhan tak dapat ditemukan Indera (atau tak memiliki keistimewaan material yang dapat didefinisikan, sebagaimana yang jadi objek penelitian sains). Jadi tak ada batas pastinya sehingga tak pernah bisa dibilang objektif. Dan menurut sudut pandang sains, tak bisa dibuktikan, atau hipotesa semata (opini yang terstruktur).

///

Dalam membicarakan Tuhan, baik untuk memahaminya atau membedah kepastian nasibnya, baik ingin membuka wacana baru apalagi membahas wacana yang sudah ada, tak bisa kita lewatkan begitu saja ide-ide yang sudah lahir tentang Tuhan.

Oke, kata Nietzsche Tuhan telah mati, atau yang kini lebih populer, “Tuhan sudah dibunuh”. Tapi ide tentangnya masih ada dan akan terus ada. Karena jika menulis itu untuk abadi (kata Pram), dengan cara menjadikan eksistensi kita nir-ruang dan waktu, maka selama Tuhan masih disebut dalam tesis-tesis dan thread kaskus, ia pun masih ada.

Tidak mengabaikan ide-ide soal Tuhan yang ada. Maksudnya begini, tak ada yang bisa membuktikan keberadaan Tuhan, sama juga tak ada yang bisa membuktikan ketidak beradaannya. Semua masih ngawang di tahap duga-duga, hipotesa. Dengan kata lain, keberadaan atau ketiadaan Tuhan masih pada tahap kemungkinan. Dan membahasnya dari segi apapun tak akan mengurangi atau menambahkan kadar kemungkinan itu sendiri.

Argumen di atas, dengan Cuma-Cuma akan dibantah oleh teolog Islam. Sebab bersandar pada logika sederhana (sebab-akibat), semesta yang super menawan dan teratur ini tak mungkin rasanya muncul begitu saja. Sebab itu harus ada pemulainya. Ia yang berdiri paling awal dan punya kemampuan setara untuk menciptakan dunia yang belum dipahami sains secara keseluruhan ini. Ia yang memulai tapi tak dimulai sebab jika ia dimulai maka akan terjadi rantai penciptaan yang tak berujung—hal yang sukar diterima akal. Logika sederhana ini menamakan Tuhan sebagai keberadaan yang wajib (ada). Tuhan dengan segala kedigdayaan, kesempurnaan, kemampuan, kecerdasan, dan keabsolutannya bisa dikatakan adalah konsekuensi logis atas keberadaan kita. Namun, bagaimanapun, seperti yang penulis katakan, logika ini masih tetap sebuah pemikiran. Yang pembuktiannya adalah susunan logika itu sendiri. Bukan Tuhan sebagai objek yang dapat dirujuk di luar kesimpulan pemikiran. Dengan itu, masih bisa dibilang hipotesa.

///

Seorang dengan sudut pandang materialis akan memandang kisah Muhammad yang hampir bunuh diri pada malam pertama wahyu adalah sebuah kewajaran manusiawi. Sunni pun begitu. Sebab kenyataan bahwa Muhammad adalah manusia seperti kita tak bisa dibantah. Dan berpegang pada fakta ini semata cukup bagi mereka memegang teguh kemungkinan benar kisah itu—selain karena termaktub dalam kitab-kitab terpenting dan terpercaya kepercayaannya.

Seorang yang mengamini Tuhan sampai Islam dan punya sudut pandang seperti syiah, akan melihat kisah itu sebagai sebuah propaganda sejarah. Sebab dalam tradisi Islam sejarah kenabian diwariskan secara turun temurun, dan dikumpulkan lalu diuji oleh para perawi perihal kebenarannya. Sebab dalam sejarah perpisahan pola pikir syiah dan sunni memang sarat dengan politik. Sehingga kabar tentang pemalsuan riwayat (sebagai bibit sejarah) adalah wajar. Sebagai syiah, secara umum, tidak mempercayai Muhammad yang kebingungan menerima wahyu. Muhammad adalah manusia, namun istimewa—khusus. Perbedaan fundamental dalam meletakkan Muhammad sebagai (ke)manusia(an) di antara manusia lainnya adalah salah satu ciri syiah dalam teologinya. Kesempurnaan Muhammad sebagai manusia termasuk bebas dari kesalahan-kesalahan manusiawi. Itu kata mereka.

Seorang yang tidak mempercayai Tuhan dengan sudut pandang materialis, menerima kabar itu tentu tidak berarti apa-apa. Bahkan bisa jadi akan menjadi dalil penguat akan ketidak percayaannya pada Tuhan. Sebab hal yang disebut bisikan Tuhan kepada Muhammad, tak lebih dari ucapan Muhammad ketika “gilanya” sedang kambuh. Islamofobia pun begitu. Juga para muslim yang punya agenda khusus akan mengamini kisah ini sebagai nyata dengan tujuan merendahakn Nabi umat Islam—golongan ini yang disebut propagandis oleh syiah.

Penulis bergelut dengan kegalauan dalam hal ini: sebab kisahnya sama, namun bisa diinterpretasikan berbeda dengan argumen-argumennya masing-masing yang tak kalah kuat, baik dengan tujuan negatif maupun positif.

Bagi saya, yang fakta adalah Muhammad di atas gunung, dalam gua itu. Apa yang dirasakan dan bagaimana Muhammad merespon pengalamannya memiliki banyak versi. Yang, meski kelihatannya hanya permasalahan kecil, namun setiap versi yang bertentangan ini menjadi sangat fundamen pada gilirannya.

Melihat fenomena penginterpretasian sejarah ini, saya melihat satu hal yang pasti di luar eksistensi Muhammad dalam sejarah: keyakinan menentukan sudut pandang.

Setiap sudut pandang punya klaim kebenarannya masing-masing yang tak bisa dibantah—kecuali ketika hasil dari sudut pandang itu diklaim sebagai gambaran keseluruhan. Rumi sudah menjelaskan ini dengan apik lewat analogi gajahnya.

Dilema ini menguat sampai pada tahap keraguan dalam membaca sejarah. Sebab versi yang hanya segitu-segitu saja sekarang sudah diwarnai oleh pembedahan-pembedahan akademis seiring perkembangan ilmu pengetahuan. Argumen-argumen setiap sudut pandang dalam mengklaim kebenaran kejadiannya makin keren dan sulit untuk dibantah begitu saja. Jika dulu satu-satunya sumber sejarah adalah riwayat, kini analisis sejarah yang sudah tertulis dan tercetak beribu-ribu judul itu seakan membuat perujukan ke sumber asli (setiap versi) adalah ketidak-dewasaan pembaca. Kenapa seakan? Karena sebenarnya metode konservatif itu adalah logis. Namun analisa sejarah yang membantu memahami kejadian lewat beragam aspek pendekatan berdasarkan kemampuan peradaban kekinian pun bertumpu pada logika-logika yang masuk akal.

Dalam menyikapinya sulit untuk menemukan jalan tengah apalagi mengambil satu jalan saja. Sebab itu adalah ketidak adilan sejak dalam berpikir.

Lesley Hazelton berkata “Doubt is essential to faith”, penulis ingin merubahnya sedikit dalam konteks ini: faith is essential to read. Keyakinan/kepercayaan (baca: sudut pandang) sangat penting dalam membaca.

Memahami ini pun belum membantu kita untuk membaca dan menemukan kebenaran. Karena meskipun kita memutuskan untuk membaca semuanya yang ada—semua dengan segala sudut pandang yang ditawarkan dan argumen-argumennya—bagaimanapun, versi-versi berbeda tak akan muncul jika apa yang ingin diceritakan adalah kejadian dan pengalaman yang sama. Mereka sudah berbeda sejak kandungan.

Dalam pembahasan sunni dan syiah pun menjadi sangat rancu untuk mengatakan bahwa satu benar dan yang kedua hasil manipulasi. Sebab penghukuman itu lahir dari satu sudut pandang untuk melihat sudut pandang yang lainnya.

Beginilah jadinya jika ingin memahami Manusia—yang kompleks. Bahkan untuk sekedar membaca satu kejadiannya saja.

///

Mungkin, alternatif mendatangi Tuhan sebagai objek untuk membuktikannya adalah dengan ‘mengalami-Nya’. Mengalaminya dalam artian merasakan efek langsung dari keberadaan sebuah kesadaran dan keinginan diluar alam materi. Divine conciousness.

Sebagai contoh, sebuah interaksi non-verbal yang tak kita sangka-sangka akan mendapat respon entah dari mana, yang juga non-verbal.

Sebuah kisah sederhana dari teman saya, yang menderita insomnia selama setahun penuh tanpa ia berhasil ketahui sebabnya. Awalnya ia merasa pada puncak keimanannya sampai satu saat merasa sombong dengan membatin: cobaan seperti apapun, aku pasti kuat.

Bagai ketimpa durian montok langsung tidak berselang cukup lama cobaan itu datang. Ia tak bisa tidur sama sekali. Harus nunggu tubuh sangat lelah bukan pada waktunya yang membuat tidur jadi terpaksa dan setengah hati. Semua itu membuatnya frustasi sebab segala cara yang mungkin ditempuh untuk melawan insomnia ini sudah ditempuh, dan tak menghasilkan apa-apa. Akihrnya, ia menyerah untuk berusaha dan meredam emosinya yang sudah memuncak dan tak terkontrol akibat usaha yang tak membuahkan hasil, lalu berpaling pada Tuhan dan memohon bantuan dengan kesadarannya yang pasrah. Tak lama, jadwal tidurnya kembali normal—juga tanpa sebab yang ia usahakan sendiri.

Mungkin dengan asumsi bahwa Tuhan sering hadir dengan kondisi-kondisi serupa, untuk menyadarinya itu bukan perkara yang cukup remeh. Perlu sebuah kerendahan hati bahwa kita berada di bawah entitas yang jauh lebih tinggi dan pada hakikatnya, tak punya kuasa apapun. Baru saat itu, campur tangan Tuhan dalam sejarah kita bisa terlihat dengan jelas dan diingat sebagai pengalaman langsung berinteraksi dengan Tuhan.

Kerelaan. Di situ kata kuncinya.

 

Pdf Sejarah Tuhan di internet cuma setengah


April 2018

Betah Terjepit

“Apa ada yang punya kata bijak buat orang yang lagi kejepit di antara dua tebing besar?”

Itu adalah pertanyaannya. Teman-teman di sekitar tertawa. Apa maksudnya? Benak mereka.

“Pertanyaanmu aneh seperti biasanya. Kita tak punya jawaban, juga seperti biasanya.”

Tongkrongan langsung mengalir ke arah pembicaraan lain. Seperti biasanya.

///

Pandanganku berubah. Aku tak lagi melihat banyak hal asik seperti biasanya. Sejak awal keputusan terbang ke Lebanon diambil tiba-tiba, aku mengenal perasaan itu. Sama seperti ketika aku tiba-tiba disuruh pergi ke Jogja oleh ayah. Untuk mengamati dan mengambil pelajaran dari kawannya yang membangun kampung filsafat. Tanpa tuntutan pencapaian yang jelas, ayahku menyuruhku pergi kesana membawa beberapa kawan. Aku bergetar, dan serasa ringan untuk bergerak. Seperti ketika kita bangun hari Sabtu setelah Senin sampai Jumat rutin olah raga di gym. Ya, seperti itu.

Ayahku tiba-tiba datang ke kamar di satu sore minggu tenang sebelum UAS semester empat. “Bagaimana kalau kau ke Lebanon tahun ini?”

“Bagaimana dengan kuliah?”

“Ya, di skip dulu. Kalo bisa cuti ya ambil cuti. Kalau tidak, ya tinggal saja, tak apa kan?” ia benar-benar tahu anaknya. Aku benci sekolah.

“Hahaha,” aku tahu mengapa aku tertawa saat itu. Tapi kalau kau tanya, aku tak tahu jawabannya. “Yah, tanya ibu dulu.” Kubilang. Aku tak ingin mengambil keputusan besar tanpa pertimbangannya.

Tak terbayang ibuku langsung sepakat. Ia lebih senang aku pergi jauh bertahun-tahun mempelajari ilmu yang ia percaya bermanfaat bagiku di masa depan—sampai hari pertemuan dengan Tuhan. Karena sejak SMA, aku sudah meminta agar diberi jalan merantau ke Timur Tengah untuk mengambil jurusan Islamic Science. Bukan karena aku punya minat di sana. Sebenarnya, karena aku butuh ruang untuk berpikir, dan hidup. Hidup yang aku tak tahu untuk apa. Makanya aku memikirkannya. Dan lari ribuan kilometer dari lingkungan sosial yang sudah mengenal apa kesukaanku, jadi sangat esensial. Sebab jika tidak, waktuku akan habis dimintai tolong menulis ini-itu atau membantu mengerjakan proyek-proyek media.

Dengan tawaranku untuk merantau mengambil Islamic Science ke Lebanon, orang tuaku senang. Sebab itulah dunia mereka. Maka ibuku langsung setuju tanpa pikir panjang. Bayangan airport sudah muncul di kepalaku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi disana. Seperti apa sekolahku sebenarnya. Apa saja potensi yang bisa aku gali disana. Siapa temanku nanti. Sore itu, aku sudah lupa dengan masa lalu dan masa itu. Pikiranku terbang jauh ke masa depan dengan segala kemungkinan yang muncul di pikiran. Benar-benar asik.

///

Sekarang sudah dua tahun aku di Lebanon. Tahun pertama habis untuk observasi. Uang beasiswaku selalu habis sebelum waktunya karena kupakai jalan-jalan. Ku jamah Lebanon dari selatan sampai utara. Memanfaatkan mahasiswa-mahasiwa yang berceceran di berbagai kampus, dan juga tentu saja, Google dan Maps.

Tahun pertama itu juga banyak terjadi perubahan dalam pikiranku. Karena sebagaimana tujuan awal, yang aku kejar di sini adalah ruang untuk berpikir. Di mana aku bisa berbicara seenaknya tanpa orang pahami, membaca apapun tanpa dituduh PKI, minum kopi sebanyak apapun karena aktifitas hanya ke kampus dan ke asrama. Tak ada kewajiban-kewajiban harian lain seperti mengantar ibu ke pasar, menjemput adik di sekolah, atau kewajiban luhur sebagai bagian dari sebuah lingkungan sosial semacam dakwah digital sampai gotong royong membersihkan masjid. Di Lebanon ini, terasing dari orag-orang yang mengenalku sejak lahir, benar-benar hanya ada aku, dan diriku. Mereka yang tak paham anjing atau jancuk berlalu-lalang di hadapanku bagai melihat orang gila. Hanya lewat sambil geleng-geleng kepala. Tak apa, keterasingan ini membuatku bebas mencari tahu apapun itu.

///

Tahun kedua fokusku sudah mulai mengerucut. Dulu, hal-hal baru selalu membuatku merinding dan tak kuat diam duduk. Aku harus langsung berdiri dan tak sabar merasakan pengalaman baru itu. Biasanya, saking senangnya, aku akan tidur dan berharap bangung di saat pengalaman baru itu akan dimulai. Walau lebih sering gairah itu malah membuat jantung berdetak lebih cepat, dan akhirnya tak bisa tidur.

Fokusku mengerucut. Ya, meski setahun aku sibuk menambah file foto di berbagai tempat-tempat baru, tahun ini, tak sebanyak tahun lalu. Seiring berjalannya petualanganku kesana kemari, dua hal terjadi yang tak aku sadari—dan merubah segalanya di tahun ini. Hal itu adalah: satu, hubunganku dengan kampus yang mulai retak. Aku rupanya terlalu sombong dengan keahlianku di bidang agama. Sudah dua puluh tahun aku mendapat pelajaran agama yang sama dan terus meningkat dari ayahku yang seorang ustad. Sebab itu aku tak terlalu memusingkan sekolah dan cenderung meremehkannya. Sialnya, aku tak menyangka bahwa belenggu bea siswa itu rupanya sangat mengerikan. Nanti kuceritakan.

Yang kedua, adalah terbentuknya sebuah lingkungan  sosial baru, yang mulai mengenalku berdasarkan interaksi kami. Baik di kafe-kafe ketika diskusi, di majlis doa KBRI ketika acara bulanan, bahkan di grup whatsapp perhimpunan yang formal. Aku, yang ingin menyembunyikan diri dari pandangan orang lain dan hidup dalam bayangan rutinitas, akhirnya terciduk. Dan mulailah datang beragam kewajiban-kewajiban sosial yang dijatuhkan oleh ikatan pertemanan sampai hutang moral. Sungguh tak terbayang ini akan terjadi.

///

Saat ini aku dipaksa untuk memilih diantara dua pilihan, karena keduanya bertentangan. Hal yang selama ini kulakukan bersamaan, rupanya makin jauh makin beda arah. Apakah aku harus mengikuti keinginanku dan meyelamatkan sekolah dengan rutinitas padat yang menggilas, ataukah kubiarkan sekolah ini hancur dan berjalan dengan diriku sendiri yang selalu bebas tanpa rencana?

Dua pilihan ini membuat pikiranku sibuk sedemikian rupa sampai dada besar wanita Lebanon gagal megalihkan pikiranku seperti dulu. Meski tetap, sampai sekarang pun, tak kusangkal, demi Tuhan, mereka indah. Nuansa bangunan kuning dan jalanan dari susuan batu bata, dipadu romantisme Timur Tengah yang sangat sayu dalam hubungan sosial biasanya membuatku tak ingin pulang. Tapi kini, setiap panggilan habibi dan pesona para lentik bulu mata dan mancung yang hidup itu seperti angin lewat saja. Tak lagi menarik. Orang bilang aku sudah terbiasa. Oh tidak, cobalah datang sendiri.

Aku tak lagi sebergairah dulu. Tulisanku tak lagi berbicara padaku sebab aku sibuk mendikte setiap kata agar tulisan itu dapat diterima media dan menghasilkan uang, untuk membayar hutang. Buku-buku itu tak lagi bercerita padaku sebab aku sibuk menghabiskannya agar buku baru dapat kumulai untuk mengejar ketertinggalan pelajaran di kelas. Klasik.

Apapun pilihan jalan yanng kuambil, akan menjadi akhir dari perjalanan lainnya. Itu, adalah ketegangan yang nyata dalam setiap pilihan dalam hidup kita.

///

“Tadi pertanyaanmu apa? Kata bijak untuk orang yang terjepit?” Ali memecah lamunanku. Entah apa yang mereka bicarakan untuk kembali ke pertanyaanku barusan.

“Ya. Ada?” aku masih terperangkap dalam renunganku barusan.

“Gak ada, bung.” Kata Ali langsung. “Keluar kau dari jepitan itu.”

“Bagaimana? Aku tak tahu. Makanya cari kata bijak.”

“Kata bijak itu tak membantumu. Kau hanya akan terdiam lama di sana asik memikirkannya.”

Aku diam.

“Kalau terjepit, jangan berpikir, tapi melawan. Hancurkan tebing itu, atau bergerak sekuat tenaga untuk keluar.”

Yah, setidaknya, itupun bisa disebut kata bijak.

 

April, 2018

Tepat Sekali

Tepat sekali
Ya
Terima kasih
Di masa penuh amarah dan susah
Ini
Saat aku terjepit
Di antara dua tebing
Terima kasih
Telah memberikan pepatah bijak
Telah menyuruhku untuk bersabar!

Ketika bom itu tinggal dua detik
Terima kasih
Menyarankanku rehat
Sejenak
Ya
Terimakasih
Memang benar-benar saat yang tepat
Untuk tidak meledak!

Malam Minggu, H-3 Seminar Gibran


KBRI, Lebanon

Ledakan

Aku sedang di lantai dua ketika terdengar gemuruh dan rusuh ratusan kilometer jauhnya. Dari balkon, setelah lapangan luas yang biasa dipakai sepak bola terlihat orang-orang berlarian di sela-sela bangunan. Kadang-kadang muncul api seperti ledakan dari balik bangunan-bangunan tersebut. Makin lama ledakan-ledakan api itu terlihat makin besar. Rupanya ia mendekat. Aku sudah ingin keluar ketika menyadarinya. Namun kawanku menahan, “Jangan! Ledakan itu dari bom waktu kecil yang ditanamkan musuh di bawah tanah. Bangunan ini tak akan runtuh hanya karenanya. Lebih baik jangan ada yang keluar karena potensi korban akan makin banyak.” Akhirnya aku menahan diri. Dari balkon itu aku menyaksikan ledakan beruntun yang makin mendekat. Lapangan bola yang kosong, tiba-tiba hancur lebur. Dan sampai gilirannya bangunanku yanng bergetar hebat. Benar rupanya, ledakan itu tak cukup kuat mengahancurkan bangunan ini. Ketegangan mereda. Tapi tidak untukku. Sampai kabar bahwa keluargaku ada di lantai satu, di bawah. Aku langsung kebawah dan menemukan ibu dan adik-adikku yang tak terluka, hanya ketakutan. Namun ayahku berdiri gemetar di depan pintu. Ia berdiri tepat diatas bom dan ledakan di bawahnya mengguncang seluruh tubuhnya. Saat aku berusaha menuntunnya untuk duduk, ia meringis kesakitan. “Tak apa,” katanya. Ia masih meringis ketika bergerak. Organ dalamnya terluka parah. Aku menangis mendengar rintihannya. Namun ia berhasil menyanndarkan diri sambil duduk. Desahan di sela setiap nafas itu menggambarkan seberapa besar sakit yang dirasakan.

Tengah April 2018, ngambil casan laptop di Musyarofie

Empati

Menonton ayah dan anak duel basket di tonton seluruh tetangga. Ayahnya bodoh dalam bermain dan semua tahu betapa hebatnya adik-kakak ini. Sampai ketika si putra bungsu mencetak tiga angka dalam satu lemparan bola, sang ayah bertanya di tengah gemuruh tepuk tangan, “Bagaimana kau bisa sehebat ini?”

Sang anak yang masih seumuran enam tahun menjawab getir, “Seperti yang ayah tahu dulu aku tak bisa apa-apa. Namun aku ditekan oleh dukungan dan tuntutanmu dan orang-orang disekitarmu. Aku bukan orang yang bisa, sampai aku harus bisa agar dukunganmu tak sia-sia.” Ia mengeluarkan jawaban yang membuat semua orang terdiam. Membuat ayahnya memandang penuh cemas dan bersalah. Dan kakak perempuannya yang sama jagonya pun hanya menunduk sesal.

//

Adik kakak sudah dewasa. Yang tua perempuan. Datang dan dengan beberapa luka membuat kami penasaran sebab mereka baru saja dikabarkan melewati daerah yang berbahaya. “Bagaimana kau lolos dari sana?”

Kami dibawa ke kejadian itu. “Kami tak menyerah dan memohon ampun, hanya minta pertandingan yang adil. Dan yang mereka tawarkan adalah basket. Ketika mereka menantang basket, aku bertanya, ‘seriously?’ Adikku tak kuijinkan bermain. Kalian tahu lah seperti apa permainanku. Para gerombolan bandit koboi ini tak sedikitpun punya bayangan bahwa mereka akan kalah.”

“Yang mereka mau dari kalian apa?”

“Tentu saja vaginaku.”

Permainan dilanjutkan. Dan bandit-bandit itu kalah telak oleh seorang wanita. Meski ketika mereka kalah, ada satu orang yang berusaha merobek persetujuan. Ia tetap memaksa ingin menikmati wanita beramput coklat panjang gelombang ini. Namun kawan-kawannya yang lain menghargai kekalahan mereka dan menahan kawannya. Lalu membiarkan kakak beradik kembali ke tempat kami.

//

Aku lapar. Umar beli kebab iran. Nawarin gue, gue terima. Katanya, “Nanti aja gue lagi masak nasi Iran. Makannya pake itu.”

Sebelumya, begitu bangun tidur, gue di dapur liat air panas ingin buat minuman. Ada susu kental manis putih. Aku buat susu itu tapi pas di dapur cangkir itu keliatan normal, pas dibawa ke tempat duduk anak-anak, cangkirnya jadi bentuk balon panjang dan aku biasa saja. Malah sibuk ke susunya yang kelihatan seperti diseduh pakai air yanng kurang panas.

Beberapa hari sebelum puasa, di Musyarofieh menunggu acara munggahan di KBRI
Mei 2018

Pejalan kaki dan pejalan mimpi

Ada dua tipe manusia di dunia ini: mereka yang ingin mendengar cerita sebanyak-banyaknya, berinteraksi dengan sebanyak-banyaknya manusia, ingin melihat perbedaan dan perubahan tiada henti, terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, seakan mati adalah diam di satu tempat, dan ingin melihat dunia dari luar dirinya. Dan mereka yang ingin memiliki dan dimiliki oleh sebuah cerita, yang kesederhanaan dan kebiasaan adalah rumahnya, ketenangan adalah adrenalinnya, kegelisahan adalah kematiannya, dan ingin melihat dunia dari dalam dirinya, dari ceritanya sendiri.

Kebebasan? Bebas hanyalah kata sederhana yang tak punya makna tunggal. Setiap pengalaman dan perasaan manusia punya definisinya sendiri akan kebebasan. Orang pertama di atas akan menemukan kebebasan dalam perjalanannya di sebuah van menuju Suriah. Orang kedua justru menemukan kebebasannya dalam keamanan dan kenyamanan pelukan keluarga di rumahnya.

Ini yang sedang dipikirkan Albert di atap apartemen asramanya malam ini. Ia sedang merasakan kegelisahan yang mungkin sama dengan setiap manusia yang sudah mengenali posisinya saat ini—satu di antara dua tipe manusia.

Ia sudah hidup selama 22 tahun menjadi manusia tipe kedua. Hidupnya mudah, begitu kata temannya. Meski ia lebih suka menggunakan kata beruntung. Dari satu pijakan ke pijakan lain, dari nasib ke nasib yang lain, semua datang tak diduga. Tentu, semua kesempatan yang datang tak diundang itu tak jauh ia dapat dari jerih payah orang tuanya yang tak kaya—namun punya nama. Ayahnya yang terpandang dalam komunitasnya yang cukup besar memudahkan Albert untuk mendapat jaringan luas, yang pada gilirannya berubah menjadi tawaran-tawaran pengalaman yang kebanyakan orang perlu usaha lebih keras untuk mendapatkannya. Bahkan kini, ia hidup ratusan ribu kilometer dari rumahnya, dengan beasiswa penuh dan tanpa perlu melewati tes, pun karena jaringan orang tuanya di negeri ini.

Albert melihat dirinya sebagai petualang. Itu sebabnya ia merasa tersiksa dengan realitas yang dihadapinya kini. Sebab seorang pengemban beasiswa tentu tak bisa dengan leluasa begitu saja cabut dari kelas untuk menginap di satu kota asing beberapa hari dan kembali belajar tanpa dapat ancaman akan dikeluarkan atau dikirim pulang ke rumahnya. Gambaran yang ia bangun soal dirinya sendiri sejak beberapa tahun lalu justru adalah sosok yang paling asing bagi dunianya saat ini—sekolahnya. Ini, yang membuat Albert pergi ke atap di tengah malam akhir bulan Mei, menikmati sepoi angin malam musim panas dan diam menatap gemerlap kota. Ia sedang berdebat dengan moralnya sendiri, untuk memutuskan langkah apa yang akan dia ambil nanti pagi, ketika pintu asrama mulai dibuka. Apakah ia akan membawa tas dan berjalan lurus langsung menuju kampus seperti tadi pagi, atau dengan tas yang lebih berisi dari biasanya langsung belok ke kiri, menuju jalan raya tempat supir taksi menawarkan jasanya pada ia yang tak tahu mau kemana? Malam ini, bulan sabit yang ia pandangi akan menjadi saksi atas keputusannya.

//

Kadang aku berpikir kenapa harus memikirkan hal-hal magis seperti itu? Kenapa tidak memikirkan yang realistis saja seperti anak seusiaku kebanyakan. Misal bagaimana caranya aku bisa menggerakkan otot alis secara terpisah. Seperti Emilia Clarke yang dijuluki Eyebrows Queen. Dimana titik gerak otot alisnya ada tiga. Kanan, tengah, dan kiri. Sehingga ekspresi yang bisa ditunjukkan wajahnya akan jauh lebih berwarna dan kuat setiap warnanya.

Atau produk mana yang lebih menjanjikan dalam menumbuhkan bulu-bulu halus dari pipi sampai daguku ini? Minoxidil atau Wak Doyok? Testimoni online makin banyak makin rancu sebab tak pernah jelas mana yang lebih baik dari kedua produk itu untuk membuatku seperti Adam Levine.

Atau bagaimana caranya aku bisa mengontrol asap hasil hisapan vape—rokok elektronik itu. Lihat saja kawan-kawanku yang sangat profesional dalam seni menciptakan bentuk-bentuk asap itu. Sementara aku sudah bangga bisa membuat O dari kretek bangsa saja. Padahal waktuku banyak sekali terbuang memikirkan masalah sikologis adikku dan membangun pondasi filosofis dalam karya-karya tulisku yang bisa aku lakukan berlatih lebih keratif daripada sekadar menghembuskan asap tak berbentuk dari rokok.

Atau postingan instagram. Kenapa aku tidak pernah menyibukkan diri mencari tempat-tempat bersejarah atau bermakna dan mencari sudut pandangnya yang bagus agar akunku lebih banyak dikunjungi orang dan bisa cepat-cepat buka jasa endorse.

Sial, terlalu banyak waktuku terbuang memikirkan yang tidak-tidak.

Mei 2018

the absolute freedom

i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...