“Dokter, tolong simpan ini untuk kita berdua. Jangan kabarkan yang sebenarnya bahkan pada kepala sekolah. Saya bukan orang pertama yang anda vonis kan? Anda sudah melihat beragam ekspresi mendapat vonis ini. Saya yakin anda ikut merasakan sakit karenanya. Maka saya mohon, sekali ini, untuk saya, biarkan saya yang megurus semuanya. Tolong.”
[Dokter bingung, berpikir dengan berat]
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Saya punya banyak mimpi. Sekolah gratis, rumah sakit gratis, organisasi yang membantu pengembangan ekonomi rakyat kecil, saya mau menyenangkan orang tua bukan dengan kemewahan, tapi kesukesesan. Ya tentu, dengan waktu yang saya punya, dan pencapaian saya sejauh ini, sulit mencapai semua itu. Tapi dua tahun ini membuat saya jadi merasa harus bergerak lebih cepat. Walau hanya pondasi yang bisa saya bangun, setidaknya saya sudah beberapa langkah lebih dekat dengan mimpi itu ketimbang hasil selama dua puluh tahun ini. Dan meski umur saya pendek di tubuh ini, setidaknya umur saya bisa lebih panjang dalam tubuh dan pikiran orang lain. Tapi rupanya umur kata lebih panjang dari manusia. Saya akan menulis. Semoga jadi buku. Sebab itu juga salah satu impian saya."
the absolute freedom
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
Sejak manusia kuno menggambar perburuannya di goa, para penulis berusaha merekam pengalaman diri--fisik atau jiwa--lewat karya. Ada yang sek...
-
Setiap perpisahan selalu diwarnai dengan keraguan atau keyakinan. Antara kemungkinan dan kepastian. Apakah jumpa atau dadah selamanya. Antar...
-
Mungkin untuk orang Indonesia, punya luka bekas peluru adalah sesuatu yang jarang. Wajar jika dibanggakan, negeri kita adem-ayem sejak 98. M...
No comments:
Post a Comment