Thursday, 19 January 2017

Merokok adalah Berpuisi

Tulisan tentang penggusuran tak harus ditulis di tkp, bisa aja di angkot pas pulangnya. Begitu juga tulisan tentang gejolak rindu perokok, belum tentu ditulis saat merokok, belum tentu dia perokok, juga belum tentu dihujam rindu!

Sendu itu ketika perokok sendirian di pinggir jalan atau balkon asrama. Tengah malam mengolah rasa menjadi karya. Namun, ditengah tengah malam menjepit rokok di bibirnya tanpa korek yang sanggup menyala. Semua tidur, dan tak ada yang bisa digunakan mengganti api.

Panjang Umur Nasi Goreng

Seorang Kanada pernah berkata bahwa Indonesia lebih bebas daripada negara sekaliber Amerika. Eksistensi kita dipinggir jalan dengan modal dan ijasah pas-pasan cukup untuk menghidupi keluarga.

Kita bisa menyebrang dimanapun diinginkan. Merokok dimanapun. Dan olah tanah jadi apapun asal mampu.

Ini warna negara yang mau saya bilang terbaik atau tidak, nyatanya cuma soal lebih terbiasa atau tidak.

Nama Seorang Tas

Setelah dua tahun berpisah, akhirnya dua sahabat bertemu kembali.

Di satu kamar yang sesak oleh asap rokok:

“Gue kenal kayaknya tas itu”, temannya yang baru pulang merantau tak mengganti tas selama tiga tahun. Dan dia ingat itu.

“Oiya? Siapa namanya bro?”

“Asep”, becandaan itu diladeni.

“Bukan bego. Gausah sok kenal. Namanya Nuh”

Seekor Manusia

Sesekali aku ingin melihat mereka yang berjalan sebagai manusia. Ketika mereka tersenyum saat berpapasan, memalingkan pandangan seperti tak ada apa-apa, mengucap maaf tanpa memperlambat langkahnya, atau sekedar memandang penuh arti sampai tak bisa saling melihat lagi.

Mereka pasti lebih dari sekedar itu. Ada cerita, perasaan, pergulatan pikiran dalam kemarin yang mereka lalui.

Manusia Pembolak-balik Hati

Apakah kita benar-benar punya kuasa atas hati?

Satu malam seseorang tak tahan emosinya dan berniat memaki anak muda yang memecah keheningan malam dengan suara motor yang bising. Sampai di pelataran rumah, abg itu langsung teridentifikasi. Ia perhatikan, sambil mengumpulkan semua kosakata yang pantas diterimanya.

Sampai pada titik dimana abg ini tiba-tiba berhenti di sebelah mobil dan parkir begitu saja. Ia perhatikan, dan tahan makian. Waktunya gak pas. Abg itu terlihat asik dan akrab dari cipika-cipikinya dengan pemilik mobil di kursi depan. Dan ber-ulah menahan pintu mobil ketika pengemudi itu mau keluar. Tawa pun pecah menggantikan bising motor beberapa saat tadi.

Selinting Persahabatan

Untuk apa merokok?

Itu pertanyaan lucu buatku. Karena ketimbang menjawabnya, aku selalu tertawa.

Untuk apa keliling pasar ber-ac untuk memilih warna dan merk pakaian? Untuk apa bercermin lama-lama? Untuk apa menghabiskan uang banyak makan di warung ber-ac ketika ibu juga memasak? Untuk apa memasang alarm tengah malam untuk kuota malam? Untuk apa membeli waktu berlari di atas mesin ketika bisa berlari di lapangan atau komplek sekitar? Untuk apa bermain game ketika berbincang dengan sesama lebih berkesan?

Bayi Dewasa



Aku akan berpura-pura menjadi bayi.

Untuk memberi gambaran sesuatu yang murni. Tanpa prasangka hanya rasa penasaran dan ketertarikan yang luar biasa. Untuk mengenal, baru belajar sesuatu darinya.

Untuk mengajari kita menjadi diri sendiri. Sebagai cermin yang menunjukkan betapa kita pernah menjadi calon ilmuwan segala bidang. 

the absolute freedom

i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...