Friday, 16 December 2016

Budi Kecil

Getar tubuh itu menggambarkan tipisnya suhu udara yang menyelimuti kolong jembatan.

Tidak ada gerakan tangan bocah menarik selimut seperti yang kita lihat di kamar adik. Lengan kasar Budi tidak pernah mengingat ada lembaran kain lebih yang menghangatinya tiap malam. Tepukan refleks dari hinggapnya nyamuk adalah satu-satunya yang bisa kau lihat dari keluguan bocah ini.

Anehnya, dia lelap. Tak mengigau, sejauh kulihat. Apalah yang ingin di-igaukan? Aktifitas di sepanjang jalan protokol ibu kota tak menyisakan waktu untuk berpikir banyak hal. Hanya kelelahan yang akan ia hitung menjelang malam, bukan dongeng si pitung sebelum tidur.

Aku terus melihatnya, meski dalam mimpiku sendiri. Seonggok tubuh calon fisikawan yang tak bermimpi, tapi mengusik mimpi pejabat dalam tidurnya selepas rapat. Mungkin itu sebab aparat getol melakukan pembersihan trotoar dengan tongkat.

Budi lelap, mungkin sebab ia hidup dengan cukup. Cukup sibuk mencari makan meski tak sampai setengah nampan. Paling tidak lapar hilang, dan bisa lanjutkan perjalanan--cari makan. Lalu apa yang membuat pejabat kehilangan tidurnya di mer-c selain sirine motor yang mengawalnya? Mungkin pencarian yang tak kunjung henti sebab ia tinggalkan apa yang seharusnya jadi akhir pencarian. Budi dan Intan yang tak berkesempatan mengetuk kaca mobil menawarkan berita tentang dirinya di selembar koran.

Aku beranjak pergi ingin mengakhiri mimpi indah ini. Mimpi indah tentang tuhan yang berhasil menaruh segala pada tempatnya. Kelaparan yang menjadi mimpi, bukan lagi kesuksesan yang buat mulut berseri.

Satu dua langkah membelakanginya, sebuah kata terdengar lemah. Budi mengigau. Kaget akan sisa pikiran yang ada membuat anak ini mengigau, kuberhenti dan mendengar dengan seksama.

"Si budi murung.. menghitung laba.."

Hah, kukenal lagu ini. Suara seniman rupanya mengisi harinya alih-alih merangkai cita-cita. Sebuah lagu yang mendendangkan namanya mungkin adalah favoritnya. Memang kapan lagi bocah di bawah tugu pancoran menjadi terkenal selain diiringi alunan gitar? Cuman seniman yang bisa lakukan. Terima kasih Bang Iwan.

Kamis  15/12
Balkon mencapai 10°

Sunday, 20 November 2016

Abstraksi saat ini

Hidup selàlu menghadapkan kita pada pilihan. Dan selalu, pilihan itu terlihat rumit di muka. Meski setelah terlewat, pada akhirnya hanya ada dua jalan: antara yang benar dan salah, atau yang paling benar dan paling salah.

Seorang anak muda berusia 20 tahun melihat hidupnya penuh disesaki urusan. Mulai dari urusan kemanusiaan, keluarga, persahabatan, masa depan, sampai urusan kehambaan, bahkan urusannya dengan diri sendiri.

Sering diantara 365 malam ia mendesah, betapa ia sudah salah melangkah. Ia merasa hidupnya sudah cukup jauh, dan kesalahan tak bisa dibayar seutuhnya.

Penglihatannya kabur, seperti lukisan abstrak tapi bernilai ratusan juta. Itu yang membuat ia terus memandangan pikirannya yang abstrak, karena ia tahu, ini bernilai sangat besar.

Ia sering membuat kesimpulan hasil olah pikiran. Entah dari percakapan, bahkan dari film layar lebar. Namun lebih sering lagi ia membiarkan kesimpulannya terpajang rapi di lorong waktu. Tinggal sebuah memori akan pencapaian pikirannya.

Ia hidup sudah 20 tahun menginjak tanah. Tapi sejauh ingatannya, tak satupun hari pikiran meninggalkan ruang kerjanya. Hidupnya habis dalam pikiran, dan itu membuat semua seakan terlambat.

Ketika berhasil membuat semua terlihat sederhana, semangat untuk melangkah muncul. Ada tapi nya, sekali lagi pikiran berkata jangan terburu-buru. Dan akhirnya ia duduk dan menunggu, lagi.

Ketika pantat mulai panas, ia berdiri dan mengulangi hal yang sama, lagi.

Banyak hal yang ingin ia lakukan dan terus bertambah. Tak ada gunanya diurai karena kita hanya akan fokus pada tujuan dan keinginan masing-masing. Tapi ada baiknya untuk terus membaca, sebab saya yakin, pengalaman bocah itu adalah masalah klasik.

Pada akhirnya, ada pada akhirnya yang selanjutnya. Tak hanya ketika pilihan diambil dan rupanya semua terlihat sederhana dari depan. Tapi juga soal waktu. Terburu-buru dan terlambat adalah kerja waktu.

Pada akhirnya, semua belum tentu terlambat dan belum tentu terlalu cepat. Setelah sesuatu berhasil dikenali lewat kacamata pilihan yang sebenarnya, antara benar dan salah, waktu akan membuka tangannya. Seakan berkata, majulah, waktumu telah tiba.

Karena manusia bukan bulan, yang sudah meneken kontrak bersinar pada matahari. Sehingga ia berputar dalam lingkaran waktu yang kaku.

Tak ada yang terlambat, karena kita yang memutuskan kapan akan berangkat. Tak ada yang terburu-buru, karena waktu selalu tampil sebagai guru.

Hidup dalam mimpi untuk meraih mimpi
Throwback Siberian Education
Minggu dini hari

Sunday, 6 November 2016

Iman dan kemanusiaan

Iman bagiku terlihat seperti cinta. Karena mereka yang terjangkit penyakit ini tak ubahnya melakukan penyerahan diri pada yang diimani; dicintai.

Ketika tuhan memasuki ranah iman, maka kemanusiaan menjadi output yang kuukur. Karena mencintai tuhan berarti menjadi pelayannya. Mencintai tuhan akan menyambungkan kita dengan kecintaan-Nya pada manusia.

***

Perut lapar, menjadi yatim perang, peluh mencari nafkah keluarga; semua menyayat hati kemanusiaan yang sadar bahwa tempat manusia sudah seharusnya lebih baik dari itu.

Membenci kemiskinan adalah fitrah kemuliaan manusia.

Dunia dengan segala sistemnya membuat tuhan seakan menciptakan bumi dalam keadaan serba kurang. Kalau ia maha kaya dan menggambar benua dengan kekayaan sedemikian rupa, kenapa masih ada yang menadah receh di simpang perempatan? Dan pemangku kekuasaan spiritual masyarakat berbusa mengajak doa meminta sabar akan perut yang lapar. Ya, perut kenyang memang buat kita malas dan bodoh.

Disini pembelaan tuhan kulontarkan. Bahwa manusia terbawa arus babi pemakan segala. Sehingga banyak rerumputan, buah-buahan, bahkan tai yang bukan miliknya ikut dimakan. Semua sudah cukup jika politik tak digunakan untuk membabikan diri.

Ada yang tak beres di dunia sehingga Luna harus menyisihkan waktu mainnya untuk berjual tisu di mesjid megah universitas.

Berbekal hati, terendus sendawa babi memakan iman dengan agamanya.

Kujadikan air mata ini sebagai tolak ukur keimanan
Malming, Haret Hreik

Friday, 4 November 2016

Ceramah di warung kopi

Teringat sebuah obrolan sore di sebuah warung kopi. Bersama saudara di persimpangan stasiun Pasar Minggu.

Kami duduk dan berbincang perihal permasalahan keluarga besar tanpa tendensi. Namun suasana berubah ketika seorang di sebelah kami bertanya pada kawannya lewat telpon, “Le, ikut demo 4 November ra? Kapan sampai? Kabar-kabari yo le wes di stasiun.”

Aku dan dia tahu, kami beda kubu. Bukan kubu jokowi dan prabowo, tapi lebih besar dari itu. Ia bersarung aku celana jeans. Dia berbaju takwa putih aku kemeja flanel. Rambutnya rapih cepak ditutup peci putih aku gondrong bentar lagi bisa diikat buntut kuda. Itu adalah pelabelan berdasar penampilan. Bukan contoh yang layak ditiru, tapi sengaja saya pakai untuk menjelaskan sesuatu tanpa perlu eksplisit. Karena saya tahu hampir seluruh rakyat kita akrab dengan labeling ini.

Singkat cerita, dia tahu aku akan di jakarta sampai 7 November, lantas bertanya, “Mat, ente ikut demo nanti?”

“Gak jal,” kuseruput kopi dengan jawaban seperlunya. Sejak aku mendengar percakapan pria tadi, hati sudah malas dan tak nyaman. Tak ingin isu perbedaan pandangan ini merusak keharmonisan kami sore itu. Tidak merusak sih, mencanggungkan suasana.

“Hahaha, kenape mat?”

“Panas jal. Jauh juga dari depok.” Masih kujawab sesingkat mungkin. Dan aku memang selalu nginap di depok.

Ia terkekeh. “Jadi lebih penting adem daripada bela agama allah ye?” masih diburu aku dengan pertanyaan. Shit.

Untuk menghargai ‘sarkasme’nya aku tertawa. “Manusiawi jal, gue bukan nabi yang diikutin awan.”

“Yeyeye, moga yang nista agama jadinya di penjara deh biar jakarta lebi adem.” Jawabnya tanpa pertanyaan.

“Amin.” Jawabku lega. Kami seruput kopi bersama.

“Jadi ente sepakat ahok nista agama?” Aduuuuh, pake nanya lagi nih si sempak.

“Oya jal!” kujawab dengan nada tinggi namun gestur tetap cool. Supaya keliatan lebih meyakinkan meski aku masih heran dengan jawaban sendiri.

“Yaudedeh, kenape gaikut demo? Masa panas doang ciut?” yap, pertanyaan lagi yang bikin gue hilang kendali. Lets do this man.

“Gue iyain ahok gapunya ahlak mulutnya. Bener. Dan kalo emang indonesia sebagai negara hukum punya kebijakan tentang hal begini gue dukung total. Gue dukung sepenuh tindakan ahok diproses hukum setelah penistaan lain yang lebih besar kelar diurus.”

“Lah ini alquran, kurang besar apa?” dipotong gue.

“Tunggu dulu! Gue belum kelar. Gue melihat penistaan agama islam dimana-mana. Hal yang bikin gue muak dan hampir bikin apatis sama kondisi manusia pada umumnya. Pengabaian pengungsi sampang, perusakan citra kasih sayang nabi oleh muslim yang orasi dan hujat sana-sini, pencitraan keagamaan oleh politikus yang kampanye, macem-macem! Banyak hal jal yang patut difokusin umat muslim dalam konteks membela agama ketimbang sekedar menuntut maaf orang yang seenak kentang ngutip quran kite. Pas uda minta maaf, masih dituntut untuk dipenjara. Astaga, gue sekarang malah ngeliat demo itu juga penistaan agama islam.”

“Weet... ati-ati kalo ngomong mat.”

“Lo ati-ati kalo mau ikut demo. Islam, gak, muslim yang katanya diwakili fpi dan konconya jadi kelihatan kekanak-kanakan. Kritik merendahkan dimana-mana. Jangan bilang kalo ini rintangan kebenaran. Karena kebenaran ketika ditinjau dari segala aspek tetap benar, tidak menimbulkan pertentangan kecuali dari musuhnya. Malah sangat mungkin musuhnya mengakui kebenaran itu dan dikendalikan nafsu ketika melawannya. Soal ahok, penistaan agama, sangat kompleks dan sarat agenda politik. Dan banyak kiyai-ulama top yang mengatakan demo ini terlalu dibesarkan juga tak perlu. Mereka sadar kalau perjuangan islam sekarang punya prioritas. Dibaca dulu situasi indonesia begimana. Apa ancaman jangka pendek dan panjang. Apa aja efeknya, dan sebagainya. Seandainya islam sudah bener-bener bersinar di indonesia, sampe dunia gak lagi merujuk islam kepada isis dan kekacauan timur tengah tapi ke keharmonisan negara kita tercinta ini, baru demo deh tuh yang sembarangan ngutip alquran tanpa ilmu. Ketua NU sendiri juga ngakuin kok kalo ahok bicara diluar koridornya. Udahlah, besok pasti sudah jakarta makin panas, mau ahok dipenjara atogak.” Gue sampe ceramah sambil merengut.

“Kenape?” dia terlihat sudah memaklumi perbedaan kami.

“Sekarang mendung. Si otong baju pramukanya baru dicuci emak dan besok harus kering. Udah pasti si emak doa! Doa ibu neh!” gue bicara kaya orang marah sambil angkat satu tangan ke udara.


Sejauh Beirut tetap paling enak itu Iwan Fals
Kamis, 3 November 2016
Foto: @aikecil

Tuesday, 25 October 2016

Leyeh leyeh

Kepak sayap merpati terlihat di antara kepulan asap. Asap yang menandakan pengangguran di negeri orang. Orang bilang ambisi akan mengangkat semangat. Semangat juang perubahan dan pergerakan. Pergerakan yang biasa menggulingkan kursi kini hanya menggulingkan bantal. Bantalan kemalasan yang asik mendengar suara kipas. Kipas memori mengingatkan kehangatan rumah. Rumah tempat semua bermula walau belum tentu berakhir. Berakhir sudah masa keemasan yang tinggal kenangan. Kenangan yang hanya dipakai untuk menghibur bukan mendorong. Mendorong hati dan pikiran untuk terjun ke realitas dalam mimpi. Mimpi yang telah dibentuk sedemikian hingga sejarah patut mengenang. Mengenang keberhasilan atas jerih payah yang entah kapan. Kapan keluhan berhenti aku tak tahu. Tahu pasti bahwa besok bisa sekarang. Sekarang pun hanya sanggup menulis tanpa berbuat. Berbuat sesuatu yang pantas ditulis. Ditulis lah note ini. Ini agar aku ingat bahwa semangat pernah muncul disini.

Beit El Kil
Selasa malas, sore

Dunia memang itu-itu saja (yasalam)

Banyak yang terbang melintasi zona waktu demi mengais ilmu—yang mungkin sangat melimpah di rumahnya sendiri. Walau ada juga di antaranya yang terdorong mimpi orang tua, bosan menganggur, atau sekedar ingin naik pesawat.

Pada akhirnya, setiap tujuan itu tak berarti di hadapan waktu: mereka semua tergilas rutinitas dan mau tak mau membentuk diri dengan cetakan yang sama di sekolahnya.

Terlintas pertanyaan, untuk apa orang-orang ini menghabiskan waktu mempelajari agama. Sebagian mereka sudah mempelajarinya di rumah, di kelas, atau bahkan di majlis keagamaan. Sebagian lagi bahkan sudah pernah masuk ke instansi pendidikan yang persis sama hanya negara berbeda. Mempelajari hukum-hukum agama, konsep, kisah, dan praktek keagamaan yang sama dimana-mana, bertahun-tahun, untuk apa?

Pulang dengan selembar ilmu yang sama seperti kawannya. Sebagian mendapat kesempatan mengajarkan ingatannya pada mereka yang lebih muda bahkan tua. Yang muda dan bersemangat, nantinya akan dikirim ke tempatnya belajar untuk mempelajari pelajaran dan buku yang juga sama, hanya guru berbeda—mungkin temannya. Untuk apa?

Sebagian pelajar agama disini dengan antusias memamerkan api semangat keagamaan di matanya. Ini lain cerita. Setiap ilmu dan buku yang dilahap adalah untuk kepuasan dan pencapaiannya sendiri. Meski beberapa pencapaian itu mungkin berhubungan dan berpengaruh terhadap orang disekitarnya—itu pun mungkin. Tak ada pertanyaan untuk yang satu ini. Layaknya orang gila, ia punya dunianya sendiri—alasannya sendiri. Yang seandainya ia jelaskan pun, takkan kupahami.

Ada lagi yang lebih mengerikan: bersekolah demi sebuah kontrak kerja. Fenomena perburuhan ini mudah sekali ditemukan di universitas pada umumnya. Dimana pemilihan jurusan bahkan kampus berorientasi ngantor atau potensi gaji yang aduhay. Mereka bermimpi akan bekerja setelah kuliah, menabung dan beli rumah, lalu menikah. Beranak dan berharap keturunannya mendapat kehidupan yang minimal lebih baik darinya walau tak sesuai keinginan si anak. Dan terulang entah sampai generasi keberapa.

Aku memang layaknya sih bersyukur. Dunia yang memang sudah tak menarik rupanya jadi sebab kakek-bapak-anak-cucuk mengulang pikiran yang sama meski aplikasinya berbeda. Tak ada gejolak, tak ada tuntutan mendesak untuk melakukan sesuatu yang baru dalam waktu dekat. Kedamaian ini membuat kreatifitas manusia tumpul. Ya, ini semua berkat kedamaian yang lama sudah tercapai.

Dunia akhirnya memang itu-itu saja dan pantas rasanya tuhan mengakhiri pertunjukkan dramanya. Rupa-rupanya manusia lebih kreatif sehingga skenario tuhan pun hilang arah. Perdamaian yang keburu dicapai sebelum waktunya membuat rentang waktu tuhan membuat cerita membosankan. Malah, berkat kebosanan itu sebuah pertanyaan jadi sempat dilontarkan: tuhan, apa arti pertunjukkan ini?

Entah kenapa tuhan tersenyum.

Seminggu tanpa kelas
Beirut, Mon 24 Okt

Sunday, 23 October 2016

Ibadah Perokok

Dengan isyarat ia meminta sebatang rokok. Aku bertanya padanya, “Tak masalah merokok di kamar?”. Kamarku dihuni empat orang. Hanya aku dan dia yang merokok.

“Haha, masalah kawan. Tapi sudahlah, ini kamar kita.”

Kujawab dengan tawa. “Tapi aku akan tetap merokok di luar.”

“Kenapa?”

“Ada dua jenis ibadah.”

“Apa itu?”

“Horizontal dan vertikal. Vertikal adalah ibadahmu dengan tuhanmu, olehmu untuk dirimu, karena tuhan tak memerlukan apapun bukan? Dan horizontal adalah ibadahmu terhadap sesama mahluk, khususnya manusia. Olehmu, untuk mereka.

Aktifitas sosial adalah bentuk penghambaan seseorang terhadap tuhannya. Sebuah tindakan yang dimulai dari kesadaran akan ketuhanan yang esa. Bahwa siapapun dan apapun, tercipta oleh tuhan yang sama. Maka menghargai, merawat, menyenangkan, dan membantu sesama adalah penyerahan diri terhadap tuhan yang diakui menciptakan segalanya. Meng-abdi pada pencipta. Oleh karena itu disebut ibadah horizontal.

Aku menikmati rokok itu, kawan. Tapi bukan dengan merebut kenyamanan orang lain.”

Ia membalas dengan senyum. Mengambil gelas kecil, dan mematikan rokoknya.

Lantai empat bersama orang Afrika
Malming, 22 Okt 2016

Pesan Universal

Diambilnya kertas dan pulpen. Menulis kata demi kata dari lagu Iwan Fals: Ethiopia. Dan diterjemahkannya ke dalam bahasa nasional negeri orang.

Sebabnya adalah seorang teman, asal Ethiopia. Dalam sebuah percakapan singkat ia teringat lagu dari seniman besar negerinya. Kawannya itu terkejut antusias. Dan membuatnya berjanji akan menunjukkannya esok hari.

Seminggu ia bersusah payah mencari kata yang tepat demi setiap kata di lagu tersebut. Dan rampunglah sudah.

Dengan semangat ia pergi menuju kamar temannya, membawa surat untuk Ethiopia dari Indonesia.

Didengarkan, lalu dijelaskan.

Setetes haru merubah suasana saat itu. “Tak terbayang olehku akan ada yang meneriakkan nama kami di luar sana,” ucap sahabat.

“Kemanusiaan adalah pesan universal, kawan. Sepasang bola mata hanya dapat melihat kata, namun manusia yang membaca akan memahami derita sesamanya.” jawabnya.

Haret Hreik
Malming, 22 Okt 2016

Wednesday, 12 October 2016

Kamfret

Setiap perpisahan selalu diwarnai dengan keraguan atau keyakinan. Antara kemungkinan dan kepastian. Apakah jumpa atau dadah selamanya. Antara sosok dan memori yang mencolok.

Perputaran dunia dikata tak abadi namun tak ada yang tahu pasti, kapan ia berhenti?

Sang Maestro memang telah berfilosofi dengan bumi yang bundar, dan hidup pun bagai roda yang berputar.

Air mata akan tergantikan dengan tawa, juga sebaliknya.

Hidup penuh dengan tanda tanya, namun apalagi pilihan selain menikmatinya?

Kita adalah tinta di atas kanvas, tunduk pada kemauan pemegang kuas. Menari dan kenali diri, lalu jadilah diri sendiri.

Maha karya yang penuh dengan warna.

Amarah, senang, benci dan cinta dalam gradasi waktu yang kaku.

Cukup sampai disini.

Genggam erat tanganku, mendekat dan tempelkan pinggulmu.

Pejamkan mata dan biarkan jiwa merekam segalanya.


Secangkir susu jahe untuk si bangsat.
Selasa, 11/10 dini hari.
@LesehanSejarahRI

Membaca Penulis

Sejak manusia kuno menggambar perburuannya di goa, para penulis berusaha merekam pengalaman diri--fisik atau jiwa--lewat karya. Ada yang sekedar menceritakan, ada yang juga menafsirkan.

Mereka yang memiliki pertanyaan dalam hidupnya berusaha mengajak kita ikut bertanya lewat tulisannya. Atau bahkan tak jarang penulis hanya ingin curhat. Bagaimanapun, penyelaman pertanyaan dalam tulisan itu sering kali malah menuntunnya atau kita pada jawaban itu sendiri.

Gelombang seperti ini tak pernah berhenti sejak gambar di goa itu, tapi berkembang.
Entah sampai kapan dan pertanyaan apa lagi yang akan dilontarkan peradaban.

Tugas? Lucu juga manusia yang gila sekolah sampai hidup dianggap sebuah instansi pendidikan. Cukuplah untuk jujur pada diri sendiri akan pertanyaan-pertanyaan yang pasti berdatangan. Bahkan tanpa mengikuti arus kegalauan penulis, kita akan bertemu dengan pertanyaan dan jawaban kita sendiri.

Jangan berpikir dulu, tapi perhatikan. Dengarkan lalu pikirkan. Setelah itu, rasakan.


Barayaku tercintah.
H-2 DOH.
Selasa sendu, 11 Oct 2016