Monday, 31 July 2023

Cinta Lokasi Para Militan

Ketika audisi, Atris tertawa sinis dan berkata berkata, “Baiklah, jika anda bersikeras ingin saya bermain peran, saya ikuti. Tapi jika akhirnya saya hajar habis mereka, jangan mengeluh.”

Atris adalah seorang pemuda dari Bab el-Tebbaneh, sebuah kawasan yang didominasi Muslim Sunni, di kota Tripoli, Lebanon Utara. Atris bersama puluhan pemuda lainnya mendapat tawaran untuk bermain peran dalam sebuah teater komedi gelap berjudul “Love and War on the Rooftop”, versi parodi dari legenda Romeo Juliet, 2011 silam.

Pentas drama ini diinisiasi oleh Lea Baroudi dan timnya—sebuah Lembaga Sosial Masyarakat di bidang perdamaian dan pembangunan bernama MARCH.

Pemuda lain yang dipaksa menjadi aktor adalah Ali. Ia berasal dari Jabal Mohsen—tetangga Bab el-Tebbaneh—yang didominasi Alawi. Ketika audisi, Ali menaruh pistolnya di meja juri dan berkata, “Ok, sekarang anda harus jelaskan apa yang sedang anda lakukan di sini sebab saya sama sekali tak terpikirkan bisa menjadi seorang aktor.” Lea yang saat itu ikut jadi juri pun tertawa dan membalas, “Saya pikir anda bisa.”

Bab el-Tebbaneh dan Jabal Mohsen sudah saling tembak sejak perang sipil di Lebanon puluhan tahun lalu. Konflik berlatar sekte ini belakangan makin panas sejak perang di Suriah. Pemuda seperti  Atris dan Ali sudah mengenal senjata sejak umur 15—bahkan lebih muda. Lupakan dulu soal sekolah dan memiliki rumah, Atris saja bisa dikatakan tak bernegara. Orang tuanya tak mampu mengurus administrasi kelahiran akibat kemiskinan—dan ia bukan satu-satunya. Jalan yang membelah dua kawasan ini (ironisnya) bernama “Syria Street”—adalah medan baku hantam yang paling akrab sebagai tempat mereka tumbuh.

Atris dan Ali—dua dari 100 pemuda yang ‘dipaksa’ mengikuti audisi—adalah juga veteran perang. Selain melawan tetangga sektenya, banyak dari mereka pernah ke Suriah baik bertarung bersama pemerintah maupun oposisi Suriah. Mereka kembali ke Lebanon karena satu dan lain hal. Namun jalan hidup sektarian yang keras sudah menjadi satu-satunya jalan hidup yang pernah mereka lalui—sampai MARCH datang menawarkan sebuah panggung.



image source: www.marchlebanon.org

“Semua pada awalnya berpartisipasi murni didorong rasa penasaran,” kata Lea di TEDxSciencesPo, Perancis. “Siapa sih orang-orang Beirut ini yang ingin orang sepertiku bermain peran?” tambahnya mengutip salah satu partisipan.

Menurut pengakuan Lea, tahap awal audisi adalah yang paling sulit. Terlambat dan harus disusul ke rumahnya bahkan secara harfiah ditarik dari tempat tidur, tensi antar partisipan yang masih sangat terasa—mengingat mereka sudah lahir bermusuhan, sampai pengecekan badan untuk mencegah masuknya senjata di pintu masuk. 16 aktor mantan-veteran yang lolos audisi lalu berlatih bersama selama tujuh bulan—dibimbing oleh beberapa profesional yang disewa MARCH. Setelah pentas yang dihadiri warga sekitar usai dan diabadikan dalam sebuah film dokumenter, efek positif mulai terasa dan muncul dorongan dari para aktor untuk tak hanya berdamai di atas paggung, namun dalam keseharian dan melibatkan lebih banyak orang lagi.

Kafe Budaya

Berawal dari bangunan terbengkalai yang penuh dengan lubang peluru tepat di atas Syria Street, MARCH bersama para veteran muda dari dua kawasan yang bermusuhan membangun sebuah kafe—yang sangat lekat dengan gaya hidup masyarakat Lebanon secara keseluruhan. Namannya “Kahwetna: Cafe bi Kaffak” (Kopi kita: kafe di genggamanmu).



image source: www.marchlebanon.org

Kafe ini selain menyambungkan kedua kawasan yang lama bermusuhan, juga mempekerjakan pemuda dari keuda belah pihak. Para aktor drama dan pemuda lain menemukan ruang kreatif untuk menyalurkan minat dan bakat mereka. Dari kafe ini, para alumni pentas drama yang lalu bersama MARCH mewadahi aktifitias berkarya dari mulai melukis, dansa, band sampai pembuatan video klipnya. Turnamen sepak bola juga pernah diadakan oleh Kahwetna, bahkan sampai menarik turun Lebanese Army (Angkatan Bersenjata Lebanon)—dalam upaya memperkecil jurang pemisah di antara mereka.

Sering menjadi bahan candaan juga di antara pengunjung dan pekerja, soal fakta bahwa mereka yang biasanya saling lempar peluru, kini saling lempar espresso.

Gerbang Emas

Setelah sekian bulan Kahwetna mengadakan berbagai pertunjukan seni dan budaya, tercetuslah proyek yang lebih besar lagi: refitalisasi Bab el-Dahab (Gerbang Emas).

image source: www.marchlebanon.org

Usut punya usut, Jabal Mohsen dan Bab el-Tebbaneh sebelum perang sipil tahun 70-an adalah satu kawasan bernama Bab el-Dahab. Disebut begitu, karena potensi ekonominya yang menjanjikan. Maka berkaca pada sejarahnya, warga sekitar yang sudah terjamah ide-ide perdamaian MARCH ingin kembali menyatukan dua kawasan ini.

Sejak 2016 sampai sekarang, proyek ini sudah berhasil menghidupkan kembali 200 pertokoan dengan bantuan 230 pekerja lokal di bilangan Syria Street dan Muhajareen Street. Mereka yang berpartisipasi dalam pembangunan banyak menerima bimbingan softskill dari Kahwetna. Efeknya pun mulai terlihat dari banyaknya toko yang menggunakan nama “el-Dahab” di atas pintunya.

Atris dan Ali masih terus berkarya dan memperluas cakupan perdamaian yang mereka rasakan di atas panggung. Berbagai macam pentas seni dan proyek terus berjalan sampai sekarang dan tersebar ke seluruh Lebanon. Sampai awal tahun ini, Lea Baroudi sebagai pendiri MARCH mendapat medali kehormatan Britania dari Ratu Elizabeth II. Sebuah penghargaan tahunan bagi mereka yang berkontribusi secara positif dan masif bagi masyarakat dalam berbagai bidang.


Toleransi: Penghinaan, Perbedaan, Kebiasaan

Orang tak dikenal membakar habis perpustaakaan milik Pendeta Kristen Ortodox di utara Lebanon, Tripoli. Pendeta Sarrouj dituduh telah melecehkan Islam, setelah ada yang menemukan artikel ‘sensitif’ dalam sebuah buku di perpustakaannya. Satu penjaga perpustakaan tertembak. Dan sekitar 50.000 buku lenyap setelah melayani kebutuhan publik sejak 1972.

Kejadian itu terjadi Januari 2014 silam. Di Tripoli yang punya populasi 80% muslim. Sebelumnya Pendeta sudah menemui para petinggi muslim setempat untuk klarifikasi. Dan akhirnya demonstrasi yang direncanakan, dibatalkan. Pasca pembakaran, aparat mengatakan Pendeta Sarrouj tak melakukan kesalahan apapun—bahwa artikel tersebut, tak ada hubungannya dengan pendeta. Saat konferensi pers, aparat berjanji “siapapun yang ingin menyulut perselisihan di Tripoli ditakdirkan masuk penjara, sebagaimana yang akan menimpa mereka para pembakar (perpustakaan pendeta)”.

Agustus 2018 seorang muslim ditemukan mati terpotong-potong di pinggir jalan kota Danniyeh, Lebanon Utara. Korban—Muhammed al-Dhaibi, awalnya terlibat adu mulut dengan penjaga toko kelontong soal kenaikan harga, kata saudaranya pada media. Muhammed secara spontan menyebut Tuhan dalam makiannya pada penjaga toko. Seorang Syeikh (Kyai), mendengar ucapan Muhammed dan menegurnya. Dan Syeikh-pun ikut terlibat perdebatan dengan Muhammed.

Setelah meninggalkan toko, Muhammed dicegat Syeikh bersama dua saudaranya yang langsung membunuh korban dan membuang tubuhnya di sebuah jalan. Setelah investigasi, aparat mengatakan bahwa korban “menghina Syeikh dan Tuhan”. Tak lama, Syeikh dan saudaranya menyerahkan diri sambil menyatakan kebanggaan atas tindakannya, dilansir Al-Jadeed.

Akhir tahun kemarin, Hakim Jocelyne Matta lewat pengadilan Tripoli memvonis dua pemuda muslim untuk mempelajari Alquran. Sepuluh hari sebelumnya, dua anak ini memasuki sebuah gereja, menjatuhkan patung Mary di dalamnya, mencium patung tersebut dengan pose tidak senonoh. Mereka merekam aksi tersebut lalu menyebarkannya via WhatsApp.

Seperti Indonesia, Lebanon juga punya pasal penghinaan agama. Dalam Pasal 437 Hukum Pidana Lebanon menyatakan hukuman maksimal satu tahun penjara, bagi siapapun yang “menghina Tuhan di muka umum”. Namun sampai sekarang, belum ada satupun laporan yang mengatakan seseorang terjerat pasal tersebut.

Menurut survey Gallup, masyarakat Lebanon secara umum masih lebih toleran daripada Britania dan Jerman—jangan tanya negara Arab lainnya. Dalam merespon “Saya tidak keberatan seorang dari agama lain pindah ke sebelah rumah saya”, 76% responden menyatakan “sangat setuju”. Sementara Britania dan Jerman hanya 57%.

Selain itu, di saat bersamaan, untuk membayangkan tingkat relijiusitas masyarakat Lebanon, 82% responden muslim dan 86% responden kristen sepakat bahwa agama sangat penting dalam keseharian hidup mereka.

Sebagai contohnya kita bisa melihat paduan suara yatim-piatu muslim dari Imam Sadr Foundation, yang menyanyikan lagu natal di Gereja Saint Elie, Beirut, 2017 silam.




Atau Syeikh Khaled Yamout yang melantunkan azan dan kutipan Surat Maryam dalam sebuah acara untuk Perawan Mary di Gereja Médaille Miraculeuse, Beirut.

Meskipun perang sipil pernah menghancurkan Paris-nya Timur Tengah, Lebanon masih dikenal sebagai ruang bernapas pluralisme—khususnya pasca Musim Semi Arab. Selain memberi jatah kursi politik pada 18 sekte berbeda, pemerintah menjamin kebebasan melakukan ritual agama dan pembangunan rumah ibadah, selama tidak mengganggu ketertiban publik. Sampai sekarang, juga tidak ada laporan mengenai kekerasan atau diskriminasi yang berkaitan dengan keyakinan atau praktik keagamaan.

Mungkin itu sebabnya, puluhan warga dan pelajar Tripoli ikut membantu proses pembersihan lalu mengumpulkan bantuan untuk membangun perpustakan bersejarah Pendeta Sarrouj “lebih baik dari sebelumnya”.

“Saya meminta polisi menangkap mereka yang mengeluarkan fatwa dan memerintahkan penyerangan (perpustakaan), ketimbang fokus pada mereka yang melakukan penyerangan”, kata Syeikh Salem al-Rafei kepada media.


Bhinneka Tinggal di Neraka

Sebagai satu-satunya negara bangsa Arab di Timur Tengah yang memiliki presiden Kristen, Lebanon memang layak disebut “ruang bernapas pluralisme” bagi kawasan. Berawal dari pelabuhan Beirut yang menjadi pusat masuknya segala hal dari Eropa pada jaman Ottoman—termasuk agama, budaya, dan pencampuran ras. Pada abad 17-an, kawasan yang kini kita sebut Lebanon dikuasai seorang pangeran Druze, yang sempat diasingkan khalifah ke Italia, dan ikut menyaksikan perkembangan Renaisans. Kepulangannya ke Lebanon yang kembali berkuasa membawa sekaligus revolusi budaya dan intelektual tersebut. Selain mengenalkan mesin percetakan pertama di kawasan, ia juga mendukung para Jesuit Katolik membuka sekolah di seantero negeri. Ini adalah salah satu faktor yang mendasari kuatnya pondasi Kristiani di Lebanon kini.

Seiring berjalannya waktu, Perancis jadi semacam ibu asuh Lebanon pasca kejatuhan Ottoman. Keterikatan Perancis dengan Lebanon juga didasari hubungan politik mereka dengan populasi Kristen yang besar di sini. Sampai ketika beragam suku yang terpolarisasi agama di Lebanon menuntut kemerdekaannya, kubu Kristen Maronit yang cinta pada Perancis jelas tak ingin dirinya merdeka. Sementara dari kubu non-Kristen, lebih cenderung berpihak pada arabisme Suriah. Mereka ingin bergabung dengan Suriah. Resolusi atas konflik ini berakhir dengan kemerdekaan Lebanon sebagai negara independen.

Resolusi itu bernama National Pact. Kesepakatan ini tidak tertulis, namun dipahami, disepakati, dan dipegang teguh secara serius oleh seluruh lapisan masyarakat. Isinya, kesepakatan pemberian kursi presiden pada partai dari agama Kristen Maronit; perdana menteri untuk partai dari Islam Sunni; ketua parlemen untuk partai Islam Syiah; staf umum militer untuk partai Druze; dalam kesepakatan juga termasuk kerelaan partai Muslim melepaskan mimpi persatuannya dengan Suriah, dan penerimaan partai Kristen atas identitas Lebanon sebagai negara bangsa Arab. Dalam konstitusi yang lahir setelahnya, tercatut bahwa Lebanon dibentuk dengan persatuan 18 sekte (12 sekte Kristen, empat Muslim, Druze, dan Yahudi). Dari sini, jatah pembagian 128 kursi parlemen dibagi antara kubu Kristen dan Islam dengan perbandingan 6:5. Menjadikan identitas Lebanon sebagai negara dengan pembagian kekuasaan berdasarkan kelompok agama.

Kesepakatan ini mengukuhkan citra Lebanon sebagai negara yang plural dan toleran. Tak butuh waktu lama, Lebanon mentransformasikan dirinya sebagai ikon utama pluralisme di Timur Tengah. Menjadi kiblat liberalisme dunia Arab dan pelarian bagi warga tetangga yang terlalu mendapat banyak aturan di negara asalnya. Dibalik semua keberagaman itu semua Lebanon juga memiliki kekuatan ekonomi yang sangat stabil, menjadikan Lebanon tempat yang menjajikan untuk mengadu nasib bagi siapapun.

Namun, tak berlangsung lama. Pada dekade 60-an, kubu Muslim mulai tak puas dengan alokasi kekuasaan di parlemen. Tingginya angka kelahiran Muslim dan tingginya angka imigrasi dari penduduk Kristen harusnya membalik keadaan. Ditambah lahirnya Israel yang menempel di perbatasan selatan Lebanon yang membakar tak hanya situasi politik di Lebanon, tapi seantero Arab. Pengungsi dari Palestina membludak sampai ke Beirut, dan akhirnya memicu perang sipil pada tahun 1975—yang berakhir tahun 1990. Perang berakhir dalam satu perjanjian yang disebut Taif – nama kota tempat perjanjian ini ditandatangani di KSA.

Pasca perang yang berlangsung hampir 20 tahun, yang sebenarnya murni konflik politik antar partai, para pihak yang bertikai bersepakat satu sama lain. Mereka yang sering disebut sendiri oleh masyarakat lebanon sebagai mafia perang  melangkahkan kakinya menuju pemerintahan dan memulai dominasi politiknya. Mereka yang sebelumnya menggunakan seragam milter kini duduk nyaman mengenakan jas di pemerintahan.

Ketika tampuk kekuasaan di tangan mereka, para elite politik ini mulai mengambil keuntungan dari sekte agama yang mengangkat mereka ke meja pemerintahan sebagai wakil, dan tidak banyak yang memiliki nyali untuk membicarakan atau mengkritiknya. Para elite sepakat untuk membagi setiap sektor yang ada di Lebanon guna dimonopoli, mendominasi industri tertentu tanpa persaingan. Pada akhirnya korupsi meluas, perpecahan di dalam dan di luar tubuh pemerintahan, ketegangan sekterian, ekonomi semakin merosot, fasilitas publik tidak efisien, dan pertengkaran elit politk dalam membuat keputusan tentang isu-isu yang tidak ada hubungannya dengan kebutuhan warga Lebanon sama sekali.

Singkatnya, keberagaman sekterian yang dibenturkan dengan kepentingan politik adalah kanker yang terus merambat dalam tubuh Lebanon.  


Tuesday, 4 July 2023

international women's day?

Dalam keseharian kita mengenal tragedi pelecehan dan perendahan. Tak dinyana, inilah dunia yang dihasilkannya: penuh dendam, haus akan kompetisi, tak akan merasa cukup atas apa yang dimiliki. Perang berkecamuk bagai hilir mudik pelanggan Jumat Hitam. Sementara jiwa yang lembut meringkuk, menghindari udara yang mencekik, berlindung di balik bayang-bayang ibu-nya.

Sosok wanita, tanpa perlu dikenal akan selalu menopang apapun yang akhirnya kita kenal. Dalam puncak tahtanya sebagai ibu, "Bagaimana bisa, wahai ibu, aku menjadi ayah namun tak pernah dewasa," seru Nizar dalam suratnya. Wanita itu, hanya dengan keberadaannya yang jauh, mampu membuat rokok-pun membosankan bagi sang pujangga.

Mendengar Nizar, Qais mengganti nama, lalu pergi ke hutan meratapi kegagalannya menjadi waras. Baginya, ia adalah pecundang yang bahkan gagal memahami dalamnya makna ibu yang ia lihat dalam diri Layla. Layla berusaha menghiburnya namun terus diusir Majnun. Hanya kematian Layla yang mampu menarik Majnun dari kegilaannya, lalu merangkak memeluk batu nisan, dan mengundang malaikat kematian. "Bangkitkan aku dalam pengasingan dari dunia ini."

Nizami memerhatikan Majnun dari jauh, dan tertawa. Akhirnya ia belajar, bahwa meski semua cerita disampaikan dari lisan Majnun, namun intinya adalah Layla. Maka ia taruh nama wanita mendahului nama pria. Karena memang begitu adanya.

Wanita-wanita tidak menjadikan cv sebagai riwayat hidupnya, di atas sejarah kemanusiaan-lah mereka meninggalkan jejak kakinya.

Terkutuklah jiwa yang lupa. Ia yang kehilangan kasih sayang wanita, mengalami patah tulang punggung yang parah. Jiwanya meronta bagai seorang anak di samping kuburan ibunya. Tak ada gagak yang mampu menandingi perih suara teriakkannya.

Ingatkan aku, tanpa menyebut nama Tuhan, bahwa wanitalah bumi ini; wanitalah senyum ini; wanitalah hati ini.

Saturday, 21 May 2022

Surat Bocah yang Marah

Kepada Tuhan kutulis tantangan ini. Kutunggu Kau di medan perang, meski kita sudah berhadapan. Penolakanku pada penghambaanmu adalah hasrat bebas yang kau berikan – tapi kubebaskan. Aku mempertanyakan segala suruhan agar aku menjalaninya dengan keinginan: dengan bebas.

Orang bilang ini adalah nafsu yang berlebihan. Tapi di mataku ini adalah jalan terang kebenaran. Tanpa keinginan untuk bebas, bagaimana cara kita maju dan berkembang?

Harapanku satu: bahwa siapapun yang menang dalam pertempuran ini, akan mengakui kekalahan dengan kehormatan. Mungkin sulit bagiku. Ego masih besar, kau tahu itu.

Tapi perang yang terlihat Panjang mengurangi kekhawatiran. Aku punya waktu untuk mengksatriakan diri. Bagaimana denganmu? Cukup beranikah kau mengakui kekalahan? Apakah kau punya hati? Kurasa tidak. Tapi apa itu berarti bagimu? Kuharap tidak.


satu hari dalam perantauan, penuh emosi dan rasa kecewa

(2016-2018)

Monday, 21 June 2021

zaztrawan

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Kita merindukan ia yang pergi

Mengenang masa lalu dan ingin mengulanginya lagi

Merangkak di atas setiap ingatan seperti bayi

Tertawa, tersenyum, merenung, menangis

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Meski pertemuan tak akan terjadi lagi

Namun ia mendatangimu dalam setiap mimpi

Dalam setiap lamunan di siang hari

Dalam setiap obrolan dengan kawan-kawan saat ini

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Kita berpikir ini waktunya pergi

Tidak ada lagi nilai dalam hubungan yang terus dipertahankan

Namun dalam sepersekian detika ia berpaling pergi

Dan menemukan jalannya sendiri lagi

Kita menyadari betapa kita menginginkannya sehidup semati

Tanpa sedikitpun memerdulikan soal kemungkinan-kemungkinan

Tanpa sedikitpun memerhatikan apakah kebersamaan ini bernilai atau tidak

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Bahkan dalam permusuhan paling epik dalam sejarah

Dua pihak yang saling berhadapan hanya aka berhadapan karena dua ideologi yang saling terikat

Terikat dalam perbedaan yang fatal

Terikat dalam dua hal berbeda namun slaing bertabrakan

Maka permusuhan sejatinya adalah pertemanan

Yang diwarnai kemarahan alih-alih kehangatan

 

Semuanya tidak ada yang benar-benar berpisah, kan?

Bahkan kematian sepertinya tak benar-benar memisahkan

Jika orang melihat kematian sebagai mimpi buruk keharmonisan

Sejatinya kematian justru menyatukan yang terpisah

Menyatukan yang lupa agar mengingat

Mengubah kekesalan jadi kerinduan

Kesibukan jadi waktu yang didedikasikan

Pertemuan terencana

Menjadi kehadiran tanpa jeda

Dalam hati para pecinta

 

in memoriam, naqib musawa

Senin, 21/06/2021 (H+3)

Thursday, 10 June 2021

Jika mereka peduli, lalu kau apa?

Di bawah terik bulan yang membakar hati kesepian

Gelapnya malam harusnya menyelimuti para penyair dengan hangatnya keterasingan

Namun pantulan sinar matahari yang ragu-ragu

Justru membuka ruang para serigala menerkam rasa sepi dengan tatapan yang buas

 

Kita adalah anak-anak waktu yang durhaka

Melawan takdir dan maju mundur

Dari masa depan ke masa lalu

Tanpa rasa malu

 

Kita adalah hamba-hamba yang memberontak

Di hadapan petunjuk yang jelas kita menulis ulang setiap aturan

Berasaskan prasangka, hitungan matematika, logika yang tak sempurna

Lalu kepada Sang Tuan kita menghadap

Berdiri, tidak berlutut

Memandang tajam ke depan, tidak menunduk

Berjabat tangan dengan tegas seakan semuanya setara

Rerumputan tertawa melihat tingkah yang tak ada kasta

Betapa setiap otak diracuni kesombongan zaman dan peradaban

 

Kita budak-budak nafsu yang cemburu

Kecemburuan yang menyelimuti dirinya dengan jubah rasa

Bahwa rasa adalah anugera dan sebuah petunjuk yang agung

Tidak perlu diragukan lagi

Namun apakah setiap orang memilikinya?

Juga tak perlu diragukan bahwa jawabannya tidak

Setiap rasa menuntun kita pada jalan halus kemurnian dan wewangian

Bukan ke medan perang dan tempat pembuangan kotoran

Kotoran manusia yaitu benci, serakah, dengki, dan kesombongan

 

Kita anak-anak bodoh yang menolak untuk keluar dari gubuk kecil kedunguan

Gubuk yang temboknya dianyam kata-kata manis para durjana

Durjana yang mengoreksi setiap ayat dari pesan Tuhan kepada Nabinya

Durjana yang memenggal kepala para pecinta dengan  hati yang indah

Durjana yang membungkam mulut-mulut penyair agar tak lagi menyanyikan Nama-Nya

Durjana yang memenjarakan manusia dalam lingkaran setan kebudayaan dan norma-norma tak berhati

Durjanana yang berdiri di atas mayat-mayat intelektual dengan panji kebenaran parsial di tangannya

Ah… habis kata-kataku dicuri para durjana

 

Tak lagi aku bias membaca keadaan yang makin runyam dan bising

Hilang sudah harapan sebuah negara yang harmonis tempat kijang makan dengan tenang di samping serigala

Hilang sudah masa depan anak bangsa

Apa yang disebut dosa kini sebuah rekreasi

Tempat mereka yang terasing dan dibuang mendapat peluk kasih sayang


Tuan, kalau boleh aku bertanya

Apakah dibenarkan, aku bersimpuh tanpa sepotong baju di tubuhku?

Sebab semua hak milikku dirampas mereka yang peduli padaku

Jika kepedulian mereka berwujud perampasan

Maka apa sebutan yang tepat bagi aksimu

Yang sejak awal memberikan semuanya?

 

//10/06/2021

the absolute freedom

i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...