Dalam sebuah pertemuan dengan orang-orang baru, dapat dipastikan setiap orang memiliki stigma tertentu yang dilekatkan kepada orang tersebut. Adapun faktor-faktor yang melandasi adanya stigma itu ialah mulai dari gaya berpakaian dan berbicara, pola pikir, posisi dalam jabatan tertentu, dan sebagainya. Rentetan pengalaman kehidupan setiap individu melahirkan berbagai macam tafsir mengenai yang lain darinya (orang baru), sehingga mau tak mau secara sadar atau tak sadar sebuah persepsi mulai terbentuk ketika menemukan beberapa kesamaan orang satu dengan yang lainnya. Seperti pernyataan Levinas: “Relasi saya dengan orang lain sebagai sesama (manusia) memberikan makna pada relasi saya dengan semua orang lain lagi” (Being for the Other, Is It Righteous to Be?, hal 116). Hal inilah yang penulis rasakan –dengan situasi serta nuansa baru- ketika pertama kali mengikuti kegiatan magang perkuliahan di Dewan Perwakilan Rakyat.
Thursday, 21 December 2017
Thursday, 30 November 2017
Melihat tanpa objek
Terbesit dalam sebuah diskusi lintas sekte tentang betapa kompleksnya manusia. Ini semua di sebabkan keterbatasan kita. Jika para ahli, yang mengecap pendidikan sedemikian panjang dan dalam saja masih berbeda pendapat satu sama lain, kita yang masih otw S1 dan masih bertaqlid dan mengambil pendapat ulama sana-sini bisa apa? Keterbatasan kita dalam mengambil pendapat yang ada dicampur keterbatasan memahami pendapat yang kita pilih ditambah keterbatasan pembuat atau pendapat itu sendiri. Keterbatasan x keterbatasan x keterbatasan = unlimited limitation.
Seringkali dalam sebuah perbincangan, gue berusaha menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan keyakinan dan konsep-konsepnya.
Itu hal yang lazim sebenernya, dan menurut gue perlu. Setiap orang harus punya landasan (logis) dalam keyakinannya. Maka dari itu keyakinan harus dihajar pertanyaan, untuk kemudian dilakukan pencarian jawaban dari keyakinan tsb. Tapi, jika tanpa pencarian, kita berusaha menjawab, itu jawaban datang dari mana?
Pun seandainya akhirnya jawaban (hasil perenungan) yang keluar cukup memuaskan, dan masuk akal, pada akhirnya tanpa melakukan pencarian kembali pada sumber-sumber dasar keyakinan tsb, nilai jawaban itu terbatas pada interpretasi pribadi, sebuah pembenaran (yang sebenar dan klik apapun itu, tetap) subjektif. Kemungkinan bahwa jawaban tsb berbeda dengan jawaban keyakinan itu sebenernya tetep ada. Dan bisa jadi bertolak belakang. Dan ketika hal ini terjadi, atau ditemukan, keyakinan kita pastinya melenceng dari label yang kita bawa. Dan jatuhnya, kita adalah plagiator, atau pembajak hak cipta sang pencipta keyakinan.
Jadi yang mau diutarakan itu opini tentang ideologi atau opini ideologi itu sendiri?
Seringkali dalam sebuah perbincangan, gue berusaha menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan keyakinan dan konsep-konsepnya.
Itu hal yang lazim sebenernya, dan menurut gue perlu. Setiap orang harus punya landasan (logis) dalam keyakinannya. Maka dari itu keyakinan harus dihajar pertanyaan, untuk kemudian dilakukan pencarian jawaban dari keyakinan tsb. Tapi, jika tanpa pencarian, kita berusaha menjawab, itu jawaban datang dari mana?
Pun seandainya akhirnya jawaban (hasil perenungan) yang keluar cukup memuaskan, dan masuk akal, pada akhirnya tanpa melakukan pencarian kembali pada sumber-sumber dasar keyakinan tsb, nilai jawaban itu terbatas pada interpretasi pribadi, sebuah pembenaran (yang sebenar dan klik apapun itu, tetap) subjektif. Kemungkinan bahwa jawaban tsb berbeda dengan jawaban keyakinan itu sebenernya tetep ada. Dan bisa jadi bertolak belakang. Dan ketika hal ini terjadi, atau ditemukan, keyakinan kita pastinya melenceng dari label yang kita bawa. Dan jatuhnya, kita adalah plagiator, atau pembajak hak cipta sang pencipta keyakinan.
Jadi yang mau diutarakan itu opini tentang ideologi atau opini ideologi itu sendiri?
Yang mungkin tentang pendidikan; tanpa riset
Bayangkan jika seorang guru tak diwajibkan menulis angka di lembar ujian murid-muridnya. Jika ia tak diminta menyerahkan daftar angka untuk disematkan dalam rapot atau pengumuman hasil ujian yang akan ditempel di mading sekolah. Mereka hanya diminta menyerahkan laporan dan catatan akan pehamaman atau kelayakan lulus siswanya, yang itu pun takkan diserahkan pada orang tua. Tak ada banding-membandingkan.
Pastinya, setiap guru akan membuka mata dan telinga lebih lebar terhadap muridnya. Pastinya ia akan lebih perhatian pada apa yang didengar dan dilihat muridnya. Ia harus paham betul jalur keluar masuk ilmu ke setiap otak muridnya. Sebab untuk setiap anak, ia bertanggung jawab pada eskalasi intelejensia dan pengetahuan otak mereka. Seorang guru, pasti akan berperilaku lebih seperti orang tua dari pada sekedar kasir minimarket. Tukang hitung yang melihat angka sebagai nilai barang waktu dan informasi yang diserahkannya pada murid a.k.a pembeli.
Anak-anak akan lebih perhatian pada guru sebab guru memberi perhatian yang khusus bagi setiap mereka. Mereka tak malu, tak ada persaingan, tak perlu saling berbohong. Tak ada social sin yang memaksa mereka menghalalkan berbagai cara untuk merasa selamat atau sukses. Mereka akan hadir di kelas dan mendengarkan, menjawab segala pertanyaan yang diberikan dengan sepahamnya. Sebab beda pemahaman tak membuat mereka berada di bawah yang lainnya secara hirarki. Kalo pun ada daftar demikian, berdasarkan kadar pemahaman, mereka tak melihatnya di dinding sekolah dengan daftar berurut dari 1-20. Tak ada alasan untuk malu, bodoh-tak bodoh, tak ada alat ukurnya.
Mereka akan benyak bertanya sebab mereka tak merasakan rasa malu atas ketidak-tahuan. Memangnya datang dari mana rasa malu ketika tidak tahu? Ketika orang tua tak merasa bangga bahkan kecewa ketika melihat anaknya berada di peringkat bawah. Yang diartikan bahwa dia tidak tahu atau tak paham atas apa yang diajarkan gurunya.
Sistem kecil ini; soal penilaian, berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan, kecerdasan, dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Sebab pendidikan, membentuk setiap orang yang hidup disana. Dan masyarakat, atau negara, ditentukan manusia di dalamnya. Dan sistem yang mengatur jalannya hari, memberi batas fokus pikiran dan gerakan; yang pada gilirannya, menentukan tingkat tekanan pada pikiran.
Pastinya, setiap guru akan membuka mata dan telinga lebih lebar terhadap muridnya. Pastinya ia akan lebih perhatian pada apa yang didengar dan dilihat muridnya. Ia harus paham betul jalur keluar masuk ilmu ke setiap otak muridnya. Sebab untuk setiap anak, ia bertanggung jawab pada eskalasi intelejensia dan pengetahuan otak mereka. Seorang guru, pasti akan berperilaku lebih seperti orang tua dari pada sekedar kasir minimarket. Tukang hitung yang melihat angka sebagai nilai barang waktu dan informasi yang diserahkannya pada murid a.k.a pembeli.
Anak-anak akan lebih perhatian pada guru sebab guru memberi perhatian yang khusus bagi setiap mereka. Mereka tak malu, tak ada persaingan, tak perlu saling berbohong. Tak ada social sin yang memaksa mereka menghalalkan berbagai cara untuk merasa selamat atau sukses. Mereka akan hadir di kelas dan mendengarkan, menjawab segala pertanyaan yang diberikan dengan sepahamnya. Sebab beda pemahaman tak membuat mereka berada di bawah yang lainnya secara hirarki. Kalo pun ada daftar demikian, berdasarkan kadar pemahaman, mereka tak melihatnya di dinding sekolah dengan daftar berurut dari 1-20. Tak ada alasan untuk malu, bodoh-tak bodoh, tak ada alat ukurnya.
Mereka akan benyak bertanya sebab mereka tak merasakan rasa malu atas ketidak-tahuan. Memangnya datang dari mana rasa malu ketika tidak tahu? Ketika orang tua tak merasa bangga bahkan kecewa ketika melihat anaknya berada di peringkat bawah. Yang diartikan bahwa dia tidak tahu atau tak paham atas apa yang diajarkan gurunya.
Sistem kecil ini; soal penilaian, berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan, kecerdasan, dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Sebab pendidikan, membentuk setiap orang yang hidup disana. Dan masyarakat, atau negara, ditentukan manusia di dalamnya. Dan sistem yang mengatur jalannya hari, memberi batas fokus pikiran dan gerakan; yang pada gilirannya, menentukan tingkat tekanan pada pikiran.
Tuesday, 5 September 2017
Ingin Jadi Teroris
Seorang guru berkata: anak itu tak mungkin jadi teroris.
Lucu. Bahkan teroris tak mau jadi sepertinya.
Setiap berita menunjukkan hasrat yang berbeda. Bahkan untuk penjagal berbaju hitam, hasrat mereka ada. Hanya berbeda.
Adakah teroris yang bernyanyi dengan senyap setiap malamnya? Berusaha menangis namun tak pernah bisa.
Mungkin ia terlalu sibuk membunuh dirinya. Hingga tak cukup waktu membunuh manusia tak berdosa.
Anak itu sehari becerita lewat pena-pena. Bahwa ia tak yakin, mana benar mana salah.
Berita-berita hanyalah mengabarkan hal-hal pasti. Pasti benar pasti salah. Dan dia diantaranya.
Baginya itu bukan pujian maupun kutukan. Hanya semilir angin yang tak berbobot sama seperti hari lainnya.
Satu hari ia pernah memuji para teroris bengis. Bahkan iri, akunya.
Hidup yang berwaktu setidaknya punya makna untuk dikejar. Namun hari-harinya hanya duduk diam depan meja belajar.
Tak pernah ada meja kantor yang terisi meski tak satupun absen walau sehari.
Sebab duduk orang-orang adalah terbang. Dan tidur para pekerja adalah mimpi.
Setidaknya, setiap insan punya sesuatu untuk dikejar.
Dan anak itu, hanya diam tak mendengarkan.
Lucu. Bahkan teroris tak mau jadi sepertinya.
Setiap berita menunjukkan hasrat yang berbeda. Bahkan untuk penjagal berbaju hitam, hasrat mereka ada. Hanya berbeda.
Adakah teroris yang bernyanyi dengan senyap setiap malamnya? Berusaha menangis namun tak pernah bisa.
Mungkin ia terlalu sibuk membunuh dirinya. Hingga tak cukup waktu membunuh manusia tak berdosa.
Anak itu sehari becerita lewat pena-pena. Bahwa ia tak yakin, mana benar mana salah.
Berita-berita hanyalah mengabarkan hal-hal pasti. Pasti benar pasti salah. Dan dia diantaranya.
Baginya itu bukan pujian maupun kutukan. Hanya semilir angin yang tak berbobot sama seperti hari lainnya.
Satu hari ia pernah memuji para teroris bengis. Bahkan iri, akunya.
Hidup yang berwaktu setidaknya punya makna untuk dikejar. Namun hari-harinya hanya duduk diam depan meja belajar.
Tak pernah ada meja kantor yang terisi meski tak satupun absen walau sehari.
Sebab duduk orang-orang adalah terbang. Dan tidur para pekerja adalah mimpi.
Setidaknya, setiap insan punya sesuatu untuk dikejar.
Dan anak itu, hanya diam tak mendengarkan.
Saturday, 22 July 2017
Kepengen
Aku ingin
Aku ingin bangun di pagi cerah
Dengan suara ayam dan ciutan burung di pohon samping rumah
Aku ingin bangun dengan sadar
Sadar bahwa hari ini akan mengasyikkan
Aku ingin bangun
Dengan saluran berita tanpa kabar-kabar kpk
Aku ingin menikmati sarapan itu dengan tenang dan senang
Tenang tanpa berita pemulung yang dirazia
Aku ingin bangun di pagi cerah
Dengan suara ayam dan ciutan burung di pohon samping rumah
Aku ingin bangun dengan sadar
Sadar bahwa hari ini akan mengasyikkan
Aku ingin bangun
Dengan saluran berita tanpa kabar-kabar kpk
Aku ingin menikmati sarapan itu dengan tenang dan senang
Tenang tanpa berita pemulung yang dirazia
Monday, 5 June 2017
Nilai Selewat Percakapan
Awal Juni, ketika matahari sedang terik-teriknya. Libur musim panas memindahkan kesibukan dari jalan raya ke pojok-pojok kota.
Anak itu berjalan menyisir pantai. Dengan tas selempang berisi buku catatan dan kelakar Zarathustra. Kalau tak salah ia mencari pohon kelapa atau apapun untuk duduk berteduh.
Semilir angin berdansa
Di tengah manusia
Lupa asa
Anak itu berjalan menyisir pantai. Dengan tas selempang berisi buku catatan dan kelakar Zarathustra. Kalau tak salah ia mencari pohon kelapa atau apapun untuk duduk berteduh.
Menyendiri lah bersama orang-orang
Yang menyendiri
Ucap sahabat di pagi hari
the absolute freedom
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
i lost interest in life the moment it shows me its true face the face of audacity, the face of arrogance, the face of human selfishness i be...
-
Setiap perpisahan selalu diwarnai dengan keraguan atau keyakinan. Antara kemungkinan dan kepastian. Apakah jumpa atau dadah selamanya. Antar...
-
Sejak manusia kuno menggambar perburuannya di goa, para penulis berusaha merekam pengalaman diri--fisik atau jiwa--lewat karya. Ada yang sek...