Dalam waktu singkat setelah
mengenal Syirin, sebelum wafatnya, raja Hurmuz merasa senang dengan kecerdasan
dan humor Syirin yang hidup, Syirin pun menikmati persahabatan dan perlindungan
seorang ayah. Pasca wafatnya raja, Syirin makin kesepian. Pelayan-pelaya
Khusrau yang dikirim ke rumah Syirin kurang bersahabat. Mereka yang pernah
diolok-olok pangeran memandang Syirin rendah karena berbikir bahwa pangeran
akan jatuh cinta padanya. Dibakar rasa cemburu mereka mulai berulah.
Kadang-kadang dengan air mandi yang terlalu panas atau dingin, baju yang ‘tak
sengaja’ dirobek, bahkan sampai bangkai di makanannya. Meskipun Syirin tidak
curiga dan menganggapnya besar, tapi hari-harinya mulai hancur. Perlahan ia
mulai merindukan negrinya.
Akhirnya Syirin menyesali
keputusannya lari dari rumah. Ia merasa bersalah pada bibinya. Baginya, tidak
ada alasan untuk tetap tinggal di Persia. Apalagi dengan ketiadaan sang
Pangeran. Maka dia berjanji pada diri sendiri untuk tidak lari lagi dari
negrinya, dan ketika Syapur datang menjemputnya, ia sudah lebih dari siap.





